Catatan Semester 6

Duhai jiwa, saksikanlah betapa diri ini menyesali dan masih berupaya mensyukuri catatan perjalanan akademis perkuliahan 6 bulan ini..

Duhai jiwa, saksikanlah betapa terkejutnya diri ini menerima buah usaha perkuliahan semester ini..

Maka ingatlah, akan hari ketika kita menerima catatan perjalanan yang lebih panjang.

Maka ingatlah, akan hari ketika banyak manusia terkaget dengan catatan akhir yang ia terima.

Tak ada lagi waktu bernegosiasi, tak ada lagi waktu merevisi..

Angkat dagumu, jangan larut dalam kesedihan. Jangan bersedih di bulan penuh ampunan. Karena kebahagiaan tertinggi bukan disini

Sungguh indah nasihat ust Oemar Mita:

“Karena dunia hanyalah tempat untuk meninggal, bukan tempat untuk tinggal”

🙂

Surabaya, 20 Juni 2016 ~ 15 Ramadan 1437

3 Babak Ramadan

Jika diibaratkan perjalanan, ada 3 kondisi dengan 3 bekal penting yang harus disiapkan oleh seorang anak adam di bulan Ramadan

Di babak awal, seseorang paling membutuhkan semangat dan kemauan‎

Karena kemauan dan semangat yang mendorong setiap jiwa untuk melangkah, merealisasikan perubahan. Bukankah langkah pertama adalah langkah terberat dalam sebuah perjalanan?

Di babak pertengahan, seseorang paling membutuhkan keteguhan

Karena dengan keteguhan, ia akan mampu untuk konsisten melangkah bahkan mempercepat setiap langkahnya. Bukankah kejemuan dan rasa lelah adalah keniscayaan?

Di babak terakhir, seseorang paling membutuhkan pengorbanan

Karena dengan pengorbanan, seseorang baru bisa mendapatkan setiap perkara yang memiliki nilai dan harga. Bukankah suatu hal disebut berharga karena ia memiliki harga? ‎

Dan itu semua hanya akan terwujud dengan pertolongan Allah. Bapaknya ahli tafsir, Imam Atthobari, menafsirkan ayat:

‘Iyyaka na’budu’ adalah tujuan. Hanya kepada-Mu kami menyembah dan ‘iyyaka nasta’in’ adalah sarana/cara/jembatanya. Hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan.

Artinya, kita tidak bisa beribadah kecuali dengan pertolongan Allah

Semoga Allah menanamkan semangat pada diri kita, menjaga keteguhan hati kita, dan menguatkan jiwaraga kita di babak penghabisan di akhir ramadan kelak. Aamiin

Depok, 1 Ramadan 1437 H

3 Fakta Bekam #EvidenceBased

Bekam merupakan pemain sepak bola tampan yang di tim nasional Inggris bernomor punggung 7.. Oh bukan. Itu Bek(h)am. Salah

Bekam, cupping, Alhijamah, pada dasarnya merupakan pengobatan dengan cara mengambil sebagian darah dari tubuh melalui luka kecil yang dibuat dengan sengaja. Ini definisi berdasarkan pengalaman pribadi ya. Definisi lebih akurat bisa tanya mas-mas ahli bekamnya langsung.

Sebelum ke inti tulisan, aku mau jelasin bagian tanda pagar #EvidenceBased. Ini bermula dari pertanyaan sahabat SMA-ku yang sekarang menjadi ketua BEM di FK Unair. Awalnya, aku hanya bertanya ‘ada yang tau info tempat bekam di Surabaya?’ di sebuah grup Whatsapp. Setelah salah satu penghuni grup menjawab pertanyaanku, patnerku dalam membuat tandu di lomba PMR itu menyambut dengan pertanyaan baru: ‘Emang bekam itu evidence based ya?’

Hmm. Menarik. Katanya masih banyak pengobatan di tengah masyarakat Indonesia tidak evidence based. Seperti luka bakar diberi odol. Hmm.. Bingung juga ya

Daan.. apakah bekam masuk evidence based? Jawabannya bisa dicek di sini

Sebetulnya, tulisan ini sebatas berbagi fakta yang baru aku ketahui setelah kemarin merasakan langsung seru dan nikmatnya berbekam. Jadi, tentang evidence based.. Kapan-kapan saja lah ya dibahasnya.

Okay! 3 Fakta yang aku dapati setelah berbekam adalah sebagai berikut:

#1 Bekam ternyata hanya sebentar

Ketika aku datang, aku sangat ingat saat itu jam menunjukkan pukul 14.07 WIB. Aku menengok ke jam analog sesaat sebelum berbaring di kasur. Rangkaian treatment yang diberikan secara urut adalah badan diolesi minyak, dipijat, lalu beberapa titik (saat itu 8 di punggung dan 4 di kaki) di-cupping. Cupping pertama ini dilakukan sebelum punggung kita ditusuk oleh jarum. Diantara efeknya adalah megeluarkan angin (masuk angin) dan.. entah. Supaya mati rasa? Entah

Lalu bagian yang sudah di-cupping selama 1 hingga 2 menit itu mulai ditusuk-tusuk dengan jarum steril. Ditusuknya berkali-kali lho. Tapi di tempat yang berbeda pada satu area cupping. Rasanya lucu. Ada geli, sakit dikit, ya begitulah. Hanya berselang sekian detik setelah ditusuk, area tersebut langsung di-cupping lagi. Sekarang, darah keluar.

Setelah 3 menit, cupping dilepas dan punggung dibersihkan dengan tisu. Setelah dengan tisu, masih dibersihkan ulang dengan alkohol -oh ya, sebelum ditusuk tadi area bekam juga dibersihkan dengan alkohol. Setelah merasa cukup enak, aku baru bangun dari tempat tidur -oh ya, momen-momen di bekam sungguh enak buat tidur. Sebagaimana nikmatnya tidur saat punggung kita dipijat. Haha

Setelah melalui seluruh rangkaian tersebut, ternyata.. Jam analog menunjukkan waktu masih 14.30 WIB!! Cepat bukan? Awalnya aku mengira akan memakan waktu 60 hingga 90 menit sehingga aku bisa menamatkan beberapa bab buku bacaan atau tidur siang. Tapi ternyata, tidak sampai 30 menit.

Mungkin, ini juga dipengaruhi jumlah titik yang dibekam ya? Jadi, titik bekam-ku kemarin 8 di punggung dan 4 di kaki. But the point is.. Bekam nggak terlalu lama. Cocok lah kalau kita bosen nunggu kakak atau adik belanja di supermarket. Yang penting bukan kakak-adik zone aja. #lah

#2 Darahnya kental

Awalnya, aku mengira saat cupping bekam dilepas, darah akan tumpah ke sekujur tubuh. Punggung akan  bersimbah darah. Lebay ya? Tapi awalnya emang mikir begitu. Ya gimana, ada 8 titik bekam, tiap titik ditusuk berkali-kali, lalu darahnya ditarik dengan sengaja. Wew

Ternyata, anggapan ini salah. Karena, darah pada bekam pertama secara relatif belum keluar banyak. Meskipun keluar, darah ini ternyata cepat membeku (dalam hal ini mengental). Kata mas-mas bekamnya, darah kotor lebih cepat menggumpal -gatau juga ini pernyataan ilmiah apa nggak.

Intinya, darah tidak mengucur sebagaimana air mancur. Darahnya menempel di dinding cupping bekam. Sehingga, no need to worry badan akan bersimbah darah.

#3 Awas masuk angin setelah bekam

Sebelum pulang, aku tanya ke mas-mas bekam ‘mas, bekam ada pantangannya ga? Sesudah atau sebelum gitu’.

Katanya ‘Jangan mandi mas abis bekam. 3 sampe 4 jam ini jangan mandi dulu’.

Aku langsung nyeletuk ‘lah kenapa?’. Si Mas menjawab ‘ya kan pori-porinya habis terbuka mas. Kalau mandi nanti masuk angin’. ‘Oh iya’ jawabku dalam hati.

Ternyata, apa yang dikatakan mas-mas bekam benar. Ketika adikku menyetir pulang, kami berdua yang sama-sama bekam menyadari kebenaran perkataan si Mas Bekam. Kami mules, bersendawa, dan smoke bomb tak terelakkan. Beruntung, di mobil hanya kami berdua. Tidak ada rasa sungkan, yang ada hanya gelak tawa. Haha

Bahkan, ketika sampai rumah, aku m3ncret. Dan memang benar, dalam rentang 3 jam setelah bekam, aku gampang mules masuk angin. Jadi, pilihlah waktu bekam secara bijak. Karena rentang waktu itu kita tidak bisa langsung mandi

Sebetulnya, ada satu bagian yang lebih epic dari cerita bekam Sabtu kemarin..

Orang bilang bahwa bekam membuat badan kita terasa enteng. Namun, itu dengan asumsi kita tidak mengonsumsi hal-hal seperti di bawah ini

2014-05-28-20-00-12

fat: unknown gram

Yoi. Setelah bekam, ternyata adik malah ngajak makan kesini. Haha..

Bekam mungkin membuat badanmu terasa enteng. Tapi setelah makan itu tadi, kita tahu badan hanya ‘terasa’ enteng. Nyatanya… Haha. Tau sendiri lah ya


gambar makan enak dari sini

Bidadari Dunia

sky-colors-hd-high-1420324

Kamu mungkin bukan bidadari dunia
Karena Allah ciptakanmu dari tanah dan rusuk yang bengkok

Tapi kamu tanah, yang mampu padamkan api amarah
Dan itulah yang lahirkan dalam sebuah rumah tangga, rasa sakinah
Tapi kamu tulang rusuk, yang mampu lindungi jantung dan hati
Dan itulah yang pastikan raga senantiasa prima

Kamu mungkin bukan bidadari dunia
Karena bidadari sejatinya di surga

Tapi kamu manusia, yang berpijak di tanah dunia
Dan itulah, sosok yang temani tokoh berpanggilan aku, yang juga manusia

Tapi kamu manusia, yang dengan segala kelebihan dan kekurangannya
Dan itulah, yang mengajarkanku rasa syukur dan teguhnya bersabar‎

Kamu mungkin bukan bidadari dunia
Karena kamu adalah manusia biasa, sebagaimana manusia lain di dunia

Kamu mungkin bukan bidadari dunia
Namun aku percaya bahwa engkau adalah wanita dunia

yang kelak menjadi bidadari untukku di surga

Dunia bernama Surabaya,
5 Mei 2016‎


langit dari sini

Rumah Sekolah

Kamu tahu, apa yang membuatku tertarik dengan konsep homeschooling?

Karena menurutku, rumah adalah tempat paling nyaman untuk melakukan semua aktivitas, termasuk belajar

Karena di rumah, ada sekolah. Karena di rumah, ada madrasah

Itu kalau sekolahnya di rumah. Itu kalau madrasahnya di rumah

Memang si, sekolah gak harus di rumah. saya hanya ingin mengatakan, betapa bahagianya belajar di rumah. Betapa bahagianya jika kita bisa senantiasa sekolah di rumah.

Entah rumah disulap menjadi sekolah,
atau madrasahnya yang berada di rumah

Oh iya, kalau tidak salah, ibu itu madrasah pertama anak kan ya?

Kalau tidak salah..

ibu-sekolah-utama-bagi-anak


gambar dari sini

CTS: Berbakti tanpa Syarat

1. Adab dapat diibaratkan bingkai atau kemasan. Dia bertugas memperindah penyampaian maupun pola interaksi kepada objek interaksi.

Adab sendiri memiliki tingkatan dan prioritas:
Pertama, adab kepada Allah
Kedua, adab kepada Rasulullah
Ketiga, adab kepada Kitabullah (Alquran)
Keempat, adab kepada sesama makhluk.

Prioritas utama dalam menggapai keridoan adalah keridoan Khaliq (pencipta), baru kemudian keridoan makhluk. Adapun keridoan makhluk, dimulai prioritasnya dari orang tua.

Dalam hadis yang terkenal, ketika seorang pemuda meminta ikut berjihad, Rasul shalallahu alaihi wa sallam memerintahkannya untuk berjihad dengan berbakti kepada keduanya. Padahal, bisa saja pemuda tersebut berbakti kepada orang tuanya setelah pulang dari jihad. Namun, tatkala disandingkan antara amalan jihad dan amalan berbakti, Rasul shalallahu alaihi wa sallam dahulukan berbakti. Ini menunjukkan keutamaan berbakti, bahkan diatas amalan yang teramat agung, jihad di jalan Allah.

2. Hasan Al Bashri rahimahullah pernah ditanya seorang laki-laki “Ayahku telah berumur lanjut, dan dia menderita sakit. Setiap hari, ketika ia buang hajat, aku memindahkan kotoran dari tubuhnya dengan tanganku dan aku tidak merasa jijik. Aku juga yang membersihkan seluruh tubuhnya. Apakah itu belum cukup untuk membalas kebaikannya padaku?”

Hasan Al Bashri rahimahullah menjawab “Belum” Laki-laki tersebut kaget dan bertanya “Bagaimana mungkin??”

Beliau rahimahullah mengatakan,

“Dahulu, ayahmu membersihkan kotoranmu dan berharap agar kelak engkau menjadi orang yang mulia di tengah-tengah masyarakat. Sedangkan hari ini, engkau membersihkan kotoran ayahmu dan berharap agar ayahmu segera wafat dan engkau tidak lagi direpotkan olehnya”

3.

Tugas kita adalah berbakti kepada orang tua, bukan menilai keduanya. Kendati keduanya memiliki kekurangan, memiliki aib, bahkan berbuat kezaliman pada diri kita, tugas kita adalah berbakti.

Bahkan, meskipun ayah kandung kita pergi meninggalkan atau ibu kita membuang kita semenjak kita lahir, kita tetap wajib berbakti kepada beliau. Kenapa? Karena peran keduanya dalam menumpahkan sperma dan mengandung kita saja sudah lebih dari cukup untuk menjadikan kita bisa lahir dan hidup hingga hari ini. Kalau yang meninggalkan kita saja tetap Allah perintahkan berbakti, apalagi jika orang tua kita membesarkan kita dengan curahan cinta, harta, waktu, dan segala yang ia miliki?

Ingatlah sabda nabi shalallahu alaihi wa sallam

“Kamu dan hartamu milik ayahmu” [HR Abu Daud dalam Al-Buyu 3530]


Pemateri: DR Khalid Basalamah
Kitab rujukan: Minhajul Muslim
Penulis kitab: Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairy

Masjid Nurullah, Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan
19 April 2016

Ketika Cinta

al-quran-islam-macro-wallpaper-photograpy

Ketika engkau mencintai Alquran

Engkau jadikan ia aset terbesar dalam hidupmu

Ketika engkau mencintai Alquran

Engkau jadikan ia timbangan dalam menakar cost and benefit dalam tiap keputusanmu

Ketika engkau mencintai Alquran

Engkau jadikan ia kacamata dalam memandang setiap kejadian

Ketika engkau mencintai Alquran

Engkau prioritaskan ia ketika mengurutkan skala kepentinganmu

Ia meneguhkanmu dan meyakinkanmu, bahwa seorang haamilat Quran lebih utama daripada seorang pemilik harta/kecantikan/keturunan. Kendati engkau harus bersabar atas luas hartanya, indah parasnya, atau garis keturunannya yang mulia‎

 

Bumi Allah, 19 April 2016


Gambar Mushaf Alquran dari sini

Mengais

berwudhu

“Nggak ah. Gue nggak nyambung sama bapaknya. Ngajarnya gak enak, matkulnya juga ga seberapa gue suka”

Saudaraku, sebanyak apapun nasihat dan kucuran ilmu yang diberikan, kalau tidak ada keinginan dan upaya dari kita untuk mengais ilmu tersebut, tidak akan pernah ada ilmu yang kita dapatkan.

Sebagaimana kita berdiri di bawah air terjun. Sebanyak dan sederas apapun air yang jatuh menghujani kita, takkan ada yang bisa kita bawa selama kita tidak mau menyatukan telapak tangan dan membukanya ke arah langit

Sebaliknya, sedikit dan serumit apapun nasihat dan curahan ilmu yang diberikan, kalau kita berusaha dan serius untuk mengais faedah yang ada, pasti ada hikmah yang kita peroleh walau ia hanya setitik air di tengah luasnya samudera pengetahuan.

Sebagaimana kita menanti tetesan air dari keran untuk berwudlu. Mungkin kita tetap tidak bisa berwudlu hanya dengan satu dua tetes tersebut. Tapi sadarilah, engkau telah mengais beberapa tetes dari elemen kehidupan.

Jika kita tidak memiliki air untuk bersuci, kita punya tanah untuk ber-tayammum. Demikian pula dalam menuntut ilmu. Jika kita tak mendapati tetesan air dari para ahli ilmu, maka datangilah tanah-tanah yang suci itu dari perpustakaan kampus. Bertanyalah pada penduduk bumi dimana sumber air yang lain.

Karena Allah menjadikan bumi itu luas. Bertebaranlah kamu ke seluruh penjuru dunia

Depok, 15 April 2016


gambar mengais dari sini

Tentang Ilmu

6bwkg6mvua

“Ilmu ini dipakenya kapan si? Dipake buat apa? Emang berguna?”

Pertanyaan ini muncul sebagai konsekueni karena kita sudah memilih fokus menghabiskan waktu untuk memelajari suatu ilmu. Di perkuliahan, ada banyak disiplin ilmu. Ini direpresentasikan dalam fakultas. Di UI saja, ada 14 fakultas. FMIPA, FH, FEB, FK, FKM, FPsi, FT, dan lainnya.

Kadang, ketika merasa belajarnya sudah sangat susah, tentu kita akan berpikir buat apa si belajar atau berpikir sesusah itu? Manfaatnya apa? Efeknya apa? Kalau bahasa FE nya: benefitnya apa? Returnnya apa?

Sedihnya, setelah mengarungi jungkir balik perjuangan untuk memenangkan, atau sekadar melewati, atau bahkan bertahan di disiplin ilmu itu.. Kita gak menemukan apa manfaatnya. Apa kegunaannya, kapan ilmu ini akan bermanfaat bagi kita.

Terkadang, aku merasa sangat sedih ketika melihat teman yang berjuang keras di suatu disiplin ilmu, tapi ternyata dia sendiri tidak tau kapan atau untuk apa ilmu tersebut digunakan. Ya, buat kita yang cuma bisa melihat kerasnya perjuangan tanpa tau buahnya, melihat dia berjuang saja sudah membuat kita nggak tega. Apalagi sampai dianya yang mengeluh “Ini ilmu buat apa si? Emang guna di dunia kerja? Teori sih iya. Tapi nggak aplikatif!”

Sejenak, aku bersandar di kursi dan mengangkat kepala. Seperti biasa, melihat biru langit membantuku berpikir lebih leluasa. Sejenak, aku ikut berpikir “Iya ya. Doi belajar susah-susah konsep dan teori ini-itu, menghitung rumus yang entah ada ujungnya atau nggak, itu semua buat apa coba? Emang di dunia kerja bakal terpakai? Emang berguna?”

Aku menarik nafas panjang dan membuangnya sesuka diri. Seketika memunculkan sebuah pernyataan “Entah ya, apa manfaatnya. Tapi dia dulu memilih jurusan ini juga pasti ada alasannya. Ada yang mau didapatkan” Tidak berselang, aku lanjut bertanya “Tapi apa ya? Ngapain sih belajar beginian? Emang manfaatnya dimananya, mau dipakai pas kapan?”

Tiba-tiba telpon genggamku bergetar. Ada pesan dari ibu “Adik sama ibu naik kereta ke Jogja ya. Sekolah adik libur beberapa hari setelah UTS. Doakan nak ya”. Seketika aku bergumam dalam hati “Enak sekali ya adik. Bisa liburan begini”. Kututup pesan ibu dan kumasukkan telponku ke saku celana. Back to topic

Ternyata, justru pesan singkat ibu itu lah yang menjadi titik awal pencerahan. Menanggapi gumam keluhku tadi, aku jadi berpikir. “Iya ya, capek juga kalau hidup cuma bekerja. Ada istirahatnya lah. Ada aspek-aspek lain dalam hidup selain bekerja”

Disanalah aku mulai berpikir bahwa bisa jadi ilmu yang dipelajarinya memang tidak akan digunakan di lapangan kerja. Bahkan, manfaat ilmu tersebut memang tidak digunakan untuk bekerja. Bisa saja dia memelajari ilmu tersebut untuk sekadar menghabiskan waktu. Bisa saja baginya, memelajari suatu ilmu adalah caranya refreshing atau menghilangkan kepenatan dari rutinitas hidupnya. Bisa jadi, seseorang memelajari ilmu untuk memerbaiki aspek lain dalam kehidupan sehari-harinya.

Aku jadi teringat pada salah satu dialog yang tertulis di buku belajar bahasa arabku. Disana, disebutkan bahwa di universitas yang memelajari agama islam (Universitas Islam daerah X), ada fakultas khusus yang memelajari adab dan akhlak. Tentu kita akan berpikir, “Ngapain menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan uang untuk memelajari adab? Tidak akan menghasilkan duit!”

Well, sebetulnya aku tidak sepakat dengan pernyataan bahwa dia tidak berkaitan dengan duit. Tapi poin yang lebih penting untuk kita sadari adalah memelajari adab bukan hanya bicara tentang uang. Bahkan, memang mungkin tidak akan kita kaitkan dengan mencari uang -meski kita tahu bahwa ada kaitannya. Memelajari adab itu untuk memerbaiki perilaku kita sebagai manusia. Memelajari adab adalah untuk memerbaiki kualitas hidup. Dia memang tidak dipelajari untuk diimplementasi di dunia kerja, tapi justru lebih dari itu, dia akan bermanfaat untuk seluruh aspek kehidupan.

Aku percaya bahwa saat ini, sebagian dari pembaca telah memilih untuk ilmu apa waktunya dihabiskan. Tapi, yang perlu kita sadari kembali adalah untuk apa kita memelajarinya, dan apa manfaat yang ingin kita peroleh dari memelajari ilmu tersebut.

Karena, kita sebagaimana di ilmu ekonomi kita belajar konsep kelangkaan. We have limited time. But we see that branch of science is unlimited. Karenanya,

Pelajarilah ilmu-ilmu yang paling penting.
Umur kita terlalu pendek untuk menguasai seluruh ilmu yang ada di bumi.

Pelajarilah ilmu yang dengannya kamu akan selamat di bumi dan mengantarmu ke kebahagiaan abadi

Di balik jendela, di bawah langit Depok

26 Maret 2016


kampus UI dari sini

Why So Serious?

Hidup kadang tidak berjalan mudah. Bahkan, seringnya memang tak mudah. Ada yang pernah bilang padaku ‘Jalani saja hidup layaknya alir mengalir. Niscaya hidupmu akan tenang’. Dalam hati aku berkata “Iya, nanti pas masuk selokan ya masuk ke selokan beneran”.

Hidup kadang tidak berjalan mudah. Apalagi anak kuliahan. Apalagi anak FE(B) UI. Apalagi anak FE yang rantau. Apalagi anak FE yang rantau yang lalala ya semuanya aja ngerasa hidup itu emang ga mudah

Ada kalanya, kita terbawa suasana lingkungan sekitar. Adanya tuntutan sosial untuk bisa melakukan ini dan itu, untuk menyelesaikan ini dan itu, ekspektasi terhadap diri sendiri, ambisi pribadi, dan berbagai macam hal yang akhirnya membuat kita menarik nafas dalam-dalam seraya berkata lirih “Ya Allah… bantu aku…”

Suatu hari, ketika aku berada di posisi itu, tiba-tiba aku teringat perkataan ayahku

“Yaudalah Wan. Dibawa santai aja. Gausa terlalu dipikirin. Hidup kok serius amat”

Begitulah tutur ayah ketika dulu aku menceritakan potongan kegiatanku semasa SMA dahulu. Masa muda ayah tak lebih santai dan ringan dari masa mudaku. Tapi, beliau menceritakan kejadian-kejadian keren dalam hidupnya seakan berlalu begitu saja. Kejadian-kejadian yang jika aku berada di posisinya, aku akan berpikir beberapa kali sebelum mengambil keputusan.Kok bisa ayah sesantai itu? 

Akupun mencoba berpikir terbalik. Itu ayah yang terlalu santai, atau akunya yang terlalu ambil pusing. Lantas aku mencoba berpikir lebih dalam.. Kenapa ya harus dipikir dalam-dalam? Impactnya di kehidupanku apa sih? Emang hidup ini mau dibuat seperti apa?

Seketika aku teringat sebuah potongan ayat..

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ

“Dan tidaklah kehidupan dunia kecuali hanyalah permainan dan senda gurau belaka”

Bukankah dunia tempat bermain dan bersenda gurau? Apakah perlu kita sampai pusing, bingung, dan stres memikirkan urusan-urusan?

Pada ayat tersebut, Allah menyampaikan secara blak-blakan kepada kita seperti apa hakikat dunia. Ya, dunia tempat kita belajar, bekerja, dan bersenang-senang setiap hari ini adalah tempat bermain. Jangan tertipu oleh imajinasi serius dan khayalan pikiran kita. Ini adalah tempat bersenda gurau.

Bukankah sepatutnya kita menikmati permainan yang kita mainkan? Bukankah kita sepatutnya menikmati tawa saat menghadiri acara panggung sandiwara? Ayolah, tentu saja iya. Tak usa jatah bermain 60 tahun di dunia ini dibawa terlalu serius, dibawa terlalu pusing. Tak enak nanti hidup ini, sempit rasanya dunia ini.

Di saat yang sama, Allah juga sudah menyampaikan kehidupan yang mana yang disebut kehidupan abadi

وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Apakah kalian tidak mau berpikir?”

Mari kita perhatikan sejenak. Dua potongan ayat di atas sebetulnya berasal dari satu ayat yang sama, Al-An’am ayat 32. Dalam satu ayat, Allah menyampaikan dua hal yang berkebalikan secara bersamaan. Apa hakikat dunia, lalu apa hakikat akhirat. Dua pernyataan itu disambung dengan pertanyaan yang menggugah para pembaca Alquran, para pemikir -karena membaca pasti berpikir: Apakah kalian tidak mau berpikir?

Jika dunia merupakan tempat bermain dan bercanda, akhirat merupakan tempat yang harus kita sikapi secara serius dan sungguh-sungguh. Jangan sampai kita terlena dan justru bermain-main dengan perkara-perkara yang abadi. Jangan sampai kita lalai dalam setiap perkara yang bermuara pada hidup yang sesungguhnya.

Jika kita menjalani gladi bersih atau simulasi hari-H sebuah acara, tentu kita akan serius menjalankannya bukan? Tak ada lagi main-main, aksi-aksi ceroboh, semua langkah dihitung secara matang dan dilaksanakan dengan hati-hati. Jika untuk sebuah acara yang mungkin hanya berlangsung sekali seumur hidup itu kita memersiapkan sedemikian serius, tentu untuk urusan yang berlangsung atau berdampak abadi kita akan mempersiapkan jauh lebih serius dibanding apapun. Maka, untuk setiap perkara yang itu berkaitan dengan akhirat, perlakukanlah dengan lebih serius.

Ya, pertanyaan mendasarnya masih mau dibawa seperti apa hidup ini? Mau dibawa kemana hidup ini? Jika kita percaya bahwa ada kehidupan yang abadi, maka kita akan serius dalam memersiapkan dan berfokus pada semua hal yang berkaitan dengannya. Adapun untuk kehidupan yang sementara, kehidupan yang isinya bermain dan bersandiwara, kita akan memerlakukannya sedemikian rupa: bermain dan bersenda gurau saja.

Jadi, akar pemikirannya adalah bagaimana kita mempersepsikan sebuah perkara. Percayakah kita pada konsep kehidupan abadi dan kehidupan penuh sandiwara? Dengan kehidupan yang mana tindakan kita akan berkaitan, hidup abadi atau hidup sandiwara atau keduanya? Jika kita sudah menentukannya..

Just do it. Relax. Why so serious?