Pertemanan

Pertemanan itu berkembang

Ada tipe pertemanan yang kalo mau kumpul nunggu sekali setahun, pas buka bersama
Ada pula yang kalo kumpul, bilang ‘mau bahas apa ni? time limit jam berapa? poinnya apa aja?’
Ada juga, tipe peer grup yang kalo mau kumpul tinggal chat grup ‘lagi kosong gak? makan yuk’
ada kok, yang kalo mau kumpul gak nemu jamnya ‘jangan jam segitu, kepagian. jangan jam segitu, kemalaman’

Tapi, yang ini…
“Yauda, jam 12 malam aja ya? sampe subuh”

Berasa mau ketemu di Rengasdengklok
Iya si, emang mau ngomongin masyarakat
Iya si, emang mau ngomongin bangsa
Iya si, emang mau ngomongin mimpi dan rencana besar di masa depan

Tapi gak nyangka aja. Awalnya temen-temen ngobrol di teras masjid. Palingan cuma 15 menit setiap setelah pulang sekolah
Eh, 3 tahun berikutnya jadinya kayak gini. haha

Advertisements

Determination – Death Note

 

L-Lawliet-death-note-35697885-894-500

“That’s why i threw away my own life..

I also required Mr. Yagami’s cooperation in this plan. Being the level-minded person he is, he disapproved. However, I tell him that I had already written my own name in the Death Note. This seemed to convince him of my determination. He then give his cooperation in this plan”  (L – Death Note)

Sebagaimana L memegang teguh keyakinannya. Meyakini kebenarannya dan memerjuangkannya. Keyakinan akan keharusannya menyelesaikan tanggung jawabnya,  yakni menyelesaikan kasus; dan kebenaran bahwa Light adalah Kira sang pembunuh.

Kadang, pengorbanan dibutuhkan. Bahkan mengorbankan diri sendiri, untuk memegang teguh keyakinan. Meyakini kebenaran dan memerjuangkannya.
 
Dan kembali kita bertanya..
Keyakinan apa yang kau pegang teguh?
Kebenaran apa yang kau yakini?
Bagaimana engkau memerjuangkannya?
 

Perjumpaan dan Penyiksaan

Entah siapa yang salah

atau adakah yang harus dipersalahkan?

Entah siapa yang bertanggung jawab

atas hadirnya luka mengiringi derap kaki tanda saatnya pergi

Entah siapa yang salah

kurasa bukan perjumpaan

ia berikan harapan. kabar manis di hati, senyum indah menghiasi dunia

Ku rasa bukan pula perpisahan

yang telah tumbuh sebagai janin, sejak hadirnya perjumpaan

entah siapa yang harus dipersalahkan

ini bukan masalah hati, pikirku

tentu ini masalah hati, batinku

Bukan salahmu pula yang membuat dadaku sesak setengah mati

5 Tahun yang Lalu (?)

5 tahun yang lalu

Aku tak mengerti apa yang ayah dan paman bicarakan tentang ekonomi Indonesia yang -katanya akan tumbuh

Yang ku mengerti adalah harga CD Playstation 2 naik seribu lima ratus rupiah

Kini, kuratapi grafik penawaran-permintaan pasar uang hampir setiap hari

5 tahun yang lalu

Dengan lugunya aku mengenakan kaos bertuliskan “Vote me for president” yang ayah belikan untukku

Yang ku mengerti adalah betapa kerennya diriku, berdiri dan berpidato di Istana negara

Kini ku mengerti konsekuensi dan hukum seseorang yang meminta untuk dipilih

5 tahun yang lalu

Ayah mengelus kepalaku dan berkata “Kalau ada rezeki dibagi ya nak. Masih banyak orang yang kesusahan di sekitar kita”

Kukira ayah bicara tentang seorang pengemis berkaki satu yang setiap hari kulewati ketika berangkat sekolah

Kini ku temui beberapa keluarga yang tinggal di bangunan bekas kebakaran toko dengan lantai tergenang karena atap yang bocor

5 tahun yang lalu

Aku tak mengerti ketika ayah bercanda “Biru dan Kuning ya tahun ini. Merah belum waktunya”

Yang ku lihat hanya merahbiru, dan kuning akan bersatu dengan pink dan hitam lalu berkata “Let’s go Rangers!”

Kini kumaknai setiap warna yang terpasang di sudut jalan raya

5 tahun yang lalu. Cerita ayah begitu sederhana di telingaku. Entah karena memang ceritanya yang sedemikian rupa, atau tokoh-tokoh masa kini telah membuat cerita lebih menarik untuk disimak? Satu hal yang kupahami, aku dahulu adalah pendengar yang baik. Diam tanpa suara, tak suka bertanya dan tak ingin menyela. Karena tak tahu beliau bicara apa, atau tak peduli beliau sedang bicara apa?

Kini sebagian temanku berkata “Suarakan pilihanmu, 5 tahun kedepan ada di pilihanmu”

Dan kini, aku membuka mata atas segala warna yang hadir menghiasi seluruh pandangan. Mendengar segala suara yang permisi mampir ke pendengaran.

Tapi, entah kenapa, ada satu pertanyaan yang terus terngiang di pikiranku…

“5 tahun kedepan, aku sendiri mau menjadi apa?”

Publish My Writing?

Hari ini, aku mengunjungi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI). Aku datang ke sana untuk mengikuti sebuah seminar berjudul “How to Publish Your Writing”. Seminar ini diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan.

Aku mengetahui adanya acara ini dari broadcast message yang dikirim oleh temanku dari FIB. Pada saat itu, aku barusan bangun tidur. Aku hanya membaca serangkaian kata terdiri dari how, your, dan writing. Sekilas, aku menangkap bahwa FIB UI akan mengadakan sebuah seminar yang bertujuan meningkatkan kemampuan menulis mahasiswa. Mengetahui hal itu, aku langsung merasa sangat bersemangat untuk mengikutinya. Bahkan, aku rela datang terlambat (hampir bolos bahkan) ke kelas mata kuliah Pengantar Bisnis yang notabenenya mata kuliah yang amat kusukai.

Akan tetapi, semangatku yang terburu-buru membuatku tidak teliti. Ternyata, disitu terdapat kata publish yang artinya adalah memublikasikan. Aku salah dalam menangkap pesan yang ada. Ternyata, itu adalah seminar tentang cara mempublikasikan karya/tulisan kita. Alhasil aku datang ke sebuah seminar dimana mayoritas pesertanya adalah mahasiswa yang aktif menulis. Bahkan, diantara mereka ada yang sudah diterbitkan tulisannya. Aku merasa paling newbie (baca: amatir) di tempat itu. Tapi, mau bagaimana lagi. Aku sudah terlanjur sms dosenku pada jam 7 pagi ini, kalau aku akan terlambat datang ke kelas karena ingin mengikuti seminar. Dosenku pun telah mengizinkan. “Masa mau balik lagi?” pikirku. Akhirnya kuputuskan untuk mengikuti isi seminar tersebut. Untung, aku mengajak teman dekatku. Aku pun tidak merasa kesepian disana. Meski disana banyak manusia, tanpa kawan bicara dunia terasa hampa *uhuk.

Seminar tersebut mengundang tiga pembicara. Pertama Bapak Arief Ash Shidiq, seorang editor dari Plot Point (penerbit buku remaja). Kedua Kak Dwitasari, seorang mahasiswa FIB UI angkatan 2012 yang beberapa tulisannya sudah diterbitkan. Pembicara ketiga adalah Kak Sheva, penulis buku Blue Romance.

Seperti yang telah aku kira, ternyata bukan tips maupun pelajaran tentang cara menulis yang aku dapatkan. Tapi cerita dan curhatan mengenai cara memublikasikan tulisan. Awalnya aku merasa jenuh, karena pembicaranya relatif monoton dan tema yang dibicarakan kurang cocok dengan minatku. “Menulis saja aku belum bisa, gimana ceritanya mau di publish” pikirku.

Tapi keputusanku tetap duduk ternyata tidak salah. Meski aku tidak mendapat tips maupun penjelasan mengenai tehnik menulis, aku mendapat banyak inspirasi. Pandanganku tentang dunia menulis juga menjadi lebih luas. Terutama dari Kak Arief yang di awal seminar gaya bicaranya cukup membosankan. Banyak kata-katanya yang menggugah semangatku untuk menulis. Meski bukan menulis novel, tapi aku ingin menulis. Entah cerpen, artikel, sekadar diary, atau apapun. Kenapa?

Karena apa yang terlintas di benak kita, bisa jadi merupakan solusi bagi masalah di kehidupan orang lain. Bisa jadi, Tuhan sengaja menitipkan jalan keluar bagi masalah hidup orang lain di dalam pikiran kita.

Maka dari itu, aku sadar bahwa aku harus menulis. Kita semua harus menulis. Karena percayalah

“Bukan hanya kamu yang menghadapi masalah ini. Ada sebagian bahkan banyak orang diluar sana yang juga menghadapinya. Kalau kamu punya solusi, bagi !” kata Kak Arief.

Ya, pada intinya aku ingin berbagi. Memang untuk memberi solusi butuh studi dan pengetahuan yang cukup. Tapi apa salahnya berbagi pengalaman. Toh publik bukan orang yang tidak bisa memilah mana bacaan yang bagus dan mana yang tidak. Cerita Tuhan juga terlalu indah untuk dinikmati sendiri.

Jadi kawan.. khususnya untukmu yang masih merasa malu untuk berbagi, cobalah renungkan lagi. Tulisanmu bisa menjadi sebuah harapan dan jalan keluar bagi kehidupan orang lain, tapi juga bisa kau sembunyikan dan hilang kau bawa hingga mati.

Menengok Masa Lalu

Kadang aku bertanya-tanya, mana pribadi yang lama. Kadang aku merasa rindu akan masa lalu yang ada. Bukan manusia bertopeng ataupun manusia tanpa kulit. Ya, manusia dengan topi akal dan hati manusianya. Kadang aku merasa, semua ini begitu tak nyata. Tuntutan kehidupan yang mengubah diri menjadi pribadi ini dan itu. Menggeser pendirian dari satu pijakan ke pijakan yang lain. Ya, menjadi manusia seutuhnya. Menjadi manusia dengan pribadi khasnya. Bukan berubah demi tuntutan wajah laksana pangeran, kekuatan seperti baja, kebaikan milik penderma, kecerdasan layaknya profesor, bukan! Bukan itu.. Menjadi pribadi yang dididik oleh masa lalu. Hidup berdampingan dengan pengetahuan yang tersebar di segala sisi. Budi pekerti yang diajarkan di setiap sudut kehidupan. Pelajaran kehidupan.

Kembali pada masa lalu bukanlah dosa. Berguru pada jejak kehidupan bukan aib penuntut ilmu. Justru, kesombongan bagi yang tidak mau belajar dari bayangannya. Keangkuhan bagi yang hanya ingin menerima dari yang di atas. Ya, kembali pada masa lalu. Bercermin pada setiap langkah yang sudah dilewati. Mengikuti lagi jejak dan ritme pijakan yang telah terukir di bumi. Mengenakan kembali pakaian kebaikan meski ia telah berdebu tergantung di dalam lemari. Saatnya perbaiki diri. Menengok masa lalu demi menatap masa depan. Menghidupkan masa lalu demi kehidupan yang akan datang.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam”

Diriwayatkan Imam Bukhori dalam kitab Shahihnya no. 6475

Angin yang Berjalan

Haruskah turun hujan jika guntur dapat tenang dibelai angin?

Ya… Angin..

Bukan belaian melainkan tiupan

Hembusan kecil sekian kali

Angin kencang beberapa hitungan

Terbang…

 Lihat awan yang membiru

Bisu dalam bahasanya

Menyapa lembut memberikan makna

 Ah.. Angin harus berjalan

Memberikan sentuhan dan sapa

Sahabat angin disana

Bersama awan ia berkawan

Menemani perjalanan

Menjelajah hamparan langit

Ah… Ia bebas….

Selamat jalan

Sampai jumpa

Kuharap ada satu kali jumpa

Walau mata membuta tapi hati merasa

Menjadi Supir mungkin Menyenangkan

Siang ini aku salat jumat di masjid yang tak jauh dari rumahku. Sudah berulang kali aku salat disana, baik salat jumat maupun salat 5 waktu setiap harinya.

Pada khotbah jumat kali ini, aku merasa tema yang diangkat begitu tepat dengan isu-isu yang mulai menguap, yakni amanah. Khotib memberikan beberapa nasihat dan ditutup dengan salah satu kisah yang terjadi pada kepemimpinan khalifah Umar ibnu Khattab.

Selesai salat jumat aku langsung meninggalkan masjid karena ingin menyelesaikan beberapa urusan. Tapi langkahku terhenti sejenak ketika aku bertemu dengan seorang kenalanku. Ia berusia jauh lebih tua daripada usiaku. Sudah lama ia berprofesi sebagai supir pribadi. Kami hanya sempat saling memberi salam karena ia sedang bertugas. Ia pun langsung meluncur bersama seorang berpakaian rapi yang duduk menggenggam telpon di kursi belakangnya.

Setelah beberapa langkah dari tempatku berdiri tadi, pikiranku berpetualang. “Pak ini kesehariannya ngapain ya? Nganter tuannya ke tempat tujuan, terus nunggu tenguk-tenguk. Mungkin tidur, ndengerin hape atau radio, baca koran, tidur lagi, gitu terus sampai tuannya selesai dengan keperluannya. Baru pulang ke rumah. Di rumah kalau masih jam kerja tenguk-tenguk juga kali ya? Sampai diminta mengantarkan lagi k tempat lain. Tiap hari kayak gitu kali ya?” Awalnya aku mengira akan sangat membosankan dan tidak produktif jika hidupku harus diisi kegiatan rutin seperti itu.

Tapi setelah aku naik kendaraan, kini pikiran lainku angkat bicara. “Tapi kalau dipikir-pikir, sebenernya ya nggak buruk juga. Toh tinggal nganter bos ke tempat kerja, uda selesai. Kita mau ngapain aja setelah itu terserah kita kan? Asal pas bos butuh kita ada.  Berarti entah kita mau baca buku, ndengerin radio, hafalan Alquran, internetan (sempet mikir main saham. Tapi ada gak ya supir yang main saham?) , terserah kita. Bahkan, kita punya banyak waktu luang ! Sambil melakukan kegiatan yang kita inginkan, jam kerja (baca: gaji) tetap jalan. Kerja nggak banyak mikir, usaha nggak banyak tenaga”. Itu pikirku singkat. Kesimpulan awal,  jadi supir juga nggak buruk-buruk amat. Bahkan mungkin menyenangkan !

Kemudian timbul pertanyaan “Terus kenapa ya kok nggak banyak yang jadi supir aja?” Setelah beberapa saat berpikir, kudapatkan beberapa hal. Pertama gengsi. Ini yang sepertinya sulit dilobi oleh banyak orang -mungkin termasuk diriku. Dikira jadi supir nggak prestise? Mungkin bagi sebagian memang tidak. Tapi coba dipikir lagi, kerja buat apa sih. Cari penghidupan kan? Menurutku that’s the point. Asalkan tidak melanggar aturan agama, sah-sah saja. Bahkan sejatinya bekerja itu diniatkan ibadah, seharusnya begitu kan? Kedua masalah pendapatan. Tidak dipungkiri bahwa hal ini juga yang dipertimbangkan ketika memilih profesi bekerja. Tapi kalau sekiranya dengan menjadi supir kita bisa dapat penghasilan yang perbulannya cukup untuk membeli motor, masa ya nggak mau? Hehe -kebetulan kenalanku tadi mengantar tuannya dengan kendaraan sedan kelas satu di tipenya. Kalau keseharian pas mengantar pak SBY? Mungkin aja kan? Hehe

Di tengah perjalanan, aku mengumpulkan dan menata buah pemikiranku tadi. Bekerja apapun sejatinya tidak mengapa asal tidak melanggar rambu-rambu agama. Semua pekerjaan mulia ketika diniatkan ibadah dan halal caranya. Sejatinya ladang mencari nafkah yang halal itu banyak. Tapi yang sering menjadikan sedikit adalah gengsi dan keserakahan.

Aku tidak mengingkari hati. Aku ingin memiliki pekerjaan yang lebih dari layak dan mampu menghidupi serta memberi yang terbaik bagi keluargaku. Aku pun ingin memanjakan kedua orang tuaku kelak. Tapi tetap dengan cara yang sudah digariskan oleh pemilik langit dan bumi. Tetap tidak melupakan hakikat berusaha/bekerja itu tadi. Tidak melupakan hakikat kehidupan ini.

”  وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ ”

Kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya ?

Al-An’âm/6 ayat 32

Bangunlah dari Mimpi, Wahai Pemalas !

Imam Syafi’i rahimahullah berkata :

Ketinggian diraih berdasarkan ukuran kerja keras…

Barang siapa yang ingin meraih
puncak maka dia akan begadang

Barang siapa yang mengharap
ketinggian/ kemuliaan tanpa rasa letih… Maka sesungguhnya ia hanya menghabiskan usianya untuk meraih sesuatu yang mustahil…

Engkau mengharapkan kejayaan tetapi di malam hari engkau hanya tidur??

Orang yang mencari mutiara harus menyelam ke dasar lautan…

Diantara kita ada yang berangan-angan dan berkata :

“Saya ingin bisa menjadi dermawan seperti pak ini…”,

“Saya ingin sukses seperti pak itu…”

“Saya ingin terampil seperti bu ini…..”

“Saya ingin bisa menghafalkan Al-Quran seperti dia …”,

“Saya ingin berilmu seperti syaikh/ustadz fulan…”,

Namun, jika hanya berkata dan berangan-angan tanpa usaha, anak kecil berusia 3 atau 4 tahun pun bisa ! Kalau hanya mimpi siapapun bisa…

Yang tidak semua orang bisa adalah mewujudkan angan-angan dengan usaha maksimal serta semangat yang tinggi !!!

Tentunya setelah disertai doa kepadaNya dan taufiq dariNya…

Oleh : Ust. Firanda Andirja حفظه الله تعالى *dengan sedikit perubahan

— ~ ~ ~ ⌣̊┈̥-̶̯͡┈̥-̶̯͡⌣̊ ~ ~ ~ —

Kecerdikan Seorang Pemuda yang Ikhlas

Yang menyaksikan kisah ini berkata :

Suatu hari aku di Mekah di salah satu supermarket. Setelah aku selesai memilih barang-barang yang hendak aku beli dan aku masukan ke kereta barang maka akupun menuju tempat salah satu kasir untuk ngantri membayar.

Didepanku ada seorang wanita bersama dua putri kecilnya, dan sebelum mereka ada seorang pemuda yang persis di hadapanku di posisi antrian. Aku perhatikan ternyata setelah menghitung lalu sang kasir mengatakan, “Totalnya 145 real”. Lalu sang wanitapun memasukan tangannya ke tas kecilnya untuk mencari-cari uang, ternyata ia hanya mendapatkan pecahan 50 realan dan beberapa lembar pecahan sepuluhan realan. Aku juga melihat kedua putrinya juga sibuk mengumpulkan uang pecahan realan miliki mereka berdua hingga akhirnya terkumpulah uang mereka 125 real. Maka nampaklah ibu mereka berdua kebingungan dan mulailah sang ibu mengembalikan sebagian barang-barang yang telah dibelinya. Salah seorang putrinya berkata, “Bu.., yang ini kami tidak jadi beli, tidak penting bu..”.

Tiba-tiba aku melihat sang pemuda yang berdiri persis di belakang mereka melemparkan selembar uang 50 realan di samping sang wanita dengan sembunyi-sembunyi dan cepat. Lalu sang pemuda tersebut segera berbicara kepada sang wanita dengan penuh kesopanan dan ketenangan seraya berkata, “Ukhti, perhatikan, mungkin uang 50 realan ini jatuh dari tas kecilmu…”.

Lalu sang pemuda menunduk dan mengambil uang 50 realan teresbut dari lantai lalu ia berikan kepada sang wanita. Sang wanitapun berterima kasih kepadanya lalu melanjutkan pembayaran barang ke kashir, kemudian wanita itupun pergi.

Setelah sang pemuda menyelesaikan pembayaran barang belanjaannya di kasir iapun segera pergi tanpa melirik ke belakang seakan-akan ia kabur melarikan diri. Akupun segera menyusulnya lalu …..

Akupun segera menyusulnya lalu aku berkata, “Akhi…sebentar dulu…!, aku ingin berbicara denganmu sebentar”. Lalu aku bertanya kepadanya, “Demi Allah, bagaimana kau punya ide yang cepat dan cemerlang seperti tadi?”
Tentunya pada mulanya sang pemuda berusaha mengingkari apa yang telah ia lakukan, akan tetapi setelah aku kabarkan kepadanya bahwa aku telah menyaksikan semuanya, dan aku menenangkannya dan menjelaskan bahwasanya aku bukanlah penduduk Mekah, aku hanya menunaikan ibadah umroh dan aku akan segera kembali ke negeriku, dan kemungkinan besar aku tidak akan melihatnya lagi. Lalu iapun berkata, “Saudaraku, demi Allah aku tadi bingung juga, apa yang harus aku lakukan, selama dua menit tatkala sang wanita dan kedua putrinya berusaha mengumpulkan uang mereka untuk membayar kashir…, akan tetapi Robmu Allah subhaanahu wa ta’aala mengilhamkan kepadaku apa yang telah aku lakukan tadi, agar aku tidak menjadikan sang wanita malu dihadapan kedua putrinya… Demi Allah, saya mohon agar engkau tidak bertanya-tanya lagi dan biarkan aku pergi”.
Aku berkata kepadanya, “Wahai saudaraku, aku berharap engkau termasuk dari orang-orang yang Allah berfirman tentang mereka :

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (٥) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (٦) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (٧)

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah” (QS Al-Lail 5-7)
Lalu sang pemuda itupun menangis, lalu meminta izin kepadaku dan berjalan menuju mobilnya sambil menutup wajahnya.

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈