3 Fakta Bekam #EvidenceBased

Bekam merupakan pemain sepak bola tampan yang di tim nasional Inggris bernomor punggung 7.. Oh bukan. Itu Bek(h)am. Salah

Bekam, cupping, Alhijamah, pada dasarnya merupakan pengobatan dengan cara mengambil sebagian darah dari tubuh melalui luka kecil yang dibuat dengan sengaja. Ini definisi berdasarkan pengalaman pribadi ya. Definisi lebih akurat bisa tanya mas-mas ahli bekamnya langsung.

Sebelum ke inti tulisan, aku mau jelasin bagian tanda pagar #EvidenceBased. Ini bermula dari pertanyaan sahabat SMA-ku yang sekarang menjadi ketua BEM di FK Unair. Awalnya, aku hanya bertanya ‘ada yang tau info tempat bekam di Surabaya?’ di sebuah grup Whatsapp. Setelah salah satu penghuni grup menjawab pertanyaanku, patnerku dalam membuat tandu di lomba PMR itu menyambut dengan pertanyaan baru: ‘Emang bekam itu evidence based ya?’

Hmm. Menarik. Katanya masih banyak pengobatan di tengah masyarakat Indonesia tidak evidence based. Seperti luka bakar diberi odol. Hmm.. Bingung juga ya

Daan.. apakah bekam masuk evidence based? Jawabannya bisa dicek di sini

Sebetulnya, tulisan ini sebatas berbagi fakta yang baru aku ketahui setelah kemarin merasakan langsung seru dan nikmatnya berbekam. Jadi, tentang evidence based.. Kapan-kapan saja lah ya dibahasnya.

Okay! 3 Fakta yang aku dapati setelah berbekam adalah sebagai berikut:

#1 Bekam ternyata hanya sebentar

Ketika aku datang, aku sangat ingat saat itu jam menunjukkan pukul 14.07 WIB. Aku menengok ke jam analog sesaat sebelum berbaring di kasur. Rangkaian treatment yang diberikan secara urut adalah badan diolesi minyak, dipijat, lalu beberapa titik (saat itu 8 di punggung dan 4 di kaki) di-cupping. Cupping pertama ini dilakukan sebelum punggung kita ditusuk oleh jarum. Diantara efeknya adalah megeluarkan angin (masuk angin) dan.. entah. Supaya mati rasa? Entah

Lalu bagian yang sudah di-cupping selama 1 hingga 2 menit itu mulai ditusuk-tusuk dengan jarum steril. Ditusuknya berkali-kali lho. Tapi di tempat yang berbeda pada satu area cupping. Rasanya lucu. Ada geli, sakit dikit, ya begitulah. Hanya berselang sekian detik setelah ditusuk, area tersebut langsung di-cupping lagi. Sekarang, darah keluar.

Setelah 3 menit, cupping dilepas dan punggung dibersihkan dengan tisu. Setelah dengan tisu, masih dibersihkan ulang dengan alkohol -oh ya, sebelum ditusuk tadi area bekam juga dibersihkan dengan alkohol. Setelah merasa cukup enak, aku baru bangun dari tempat tidur -oh ya, momen-momen di bekam sungguh enak buat tidur. Sebagaimana nikmatnya tidur saat punggung kita dipijat. Haha

Setelah melalui seluruh rangkaian tersebut, ternyata.. Jam analog menunjukkan waktu masih 14.30 WIB!! Cepat bukan? Awalnya aku mengira akan memakan waktu 60 hingga 90 menit sehingga aku bisa menamatkan beberapa bab buku bacaan atau tidur siang. Tapi ternyata, tidak sampai 30 menit.

Mungkin, ini juga dipengaruhi jumlah titik yang dibekam ya? Jadi, titik bekam-ku kemarin 8 di punggung dan 4 di kaki. But the point is.. Bekam nggak terlalu lama. Cocok lah kalau kita bosen nunggu kakak atau adik belanja di supermarket. Yang penting bukan kakak-adik zone aja. #lah

#2 Darahnya kental

Awalnya, aku mengira saat cupping bekam dilepas, darah akan tumpah ke sekujur tubuh. Punggung akan  bersimbah darah. Lebay ya? Tapi awalnya emang mikir begitu. Ya gimana, ada 8 titik bekam, tiap titik ditusuk berkali-kali, lalu darahnya ditarik dengan sengaja. Wew

Ternyata, anggapan ini salah. Karena, darah pada bekam pertama secara relatif belum keluar banyak. Meskipun keluar, darah ini ternyata cepat membeku (dalam hal ini mengental). Kata mas-mas bekamnya, darah kotor lebih cepat menggumpal -gatau juga ini pernyataan ilmiah apa nggak.

Intinya, darah tidak mengucur sebagaimana air mancur. Darahnya menempel di dinding cupping bekam. Sehingga, no need to worry badan akan bersimbah darah.

#3 Awas masuk angin setelah bekam

Sebelum pulang, aku tanya ke mas-mas bekam ‘mas, bekam ada pantangannya ga? Sesudah atau sebelum gitu’.

Katanya ‘Jangan mandi mas abis bekam. 3 sampe 4 jam ini jangan mandi dulu’.

Aku langsung nyeletuk ‘lah kenapa?’. Si Mas menjawab ‘ya kan pori-porinya habis terbuka mas. Kalau mandi nanti masuk angin’. ‘Oh iya’ jawabku dalam hati.

Ternyata, apa yang dikatakan mas-mas bekam benar. Ketika adikku menyetir pulang, kami berdua yang sama-sama bekam menyadari kebenaran perkataan si Mas Bekam. Kami mules, bersendawa, dan smoke bomb tak terelakkan. Beruntung, di mobil hanya kami berdua. Tidak ada rasa sungkan, yang ada hanya gelak tawa. Haha

Bahkan, ketika sampai rumah, aku m3ncret. Dan memang benar, dalam rentang 3 jam setelah bekam, aku gampang mules masuk angin. Jadi, pilihlah waktu bekam secara bijak. Karena rentang waktu itu kita tidak bisa langsung mandi

Sebetulnya, ada satu bagian yang lebih epic dari cerita bekam Sabtu kemarin..

Orang bilang bahwa bekam membuat badan kita terasa enteng. Namun, itu dengan asumsi kita tidak mengonsumsi hal-hal seperti di bawah ini

2014-05-28-20-00-12

fat: unknown gram

Yoi. Setelah bekam, ternyata adik malah ngajak makan kesini. Haha..

Bekam mungkin membuat badanmu terasa enteng. Tapi setelah makan itu tadi, kita tahu badan hanya ‘terasa’ enteng. Nyatanya… Haha. Tau sendiri lah ya


gambar makan enak dari sini

Advertisements

Mengais

berwudhu

“Nggak ah. Gue nggak nyambung sama bapaknya. Ngajarnya gak enak, matkulnya juga ga seberapa gue suka”

Saudaraku, sebanyak apapun nasihat dan kucuran ilmu yang diberikan, kalau tidak ada keinginan dan upaya dari kita untuk mengais ilmu tersebut, tidak akan pernah ada ilmu yang kita dapatkan.

Sebagaimana kita berdiri di bawah air terjun. Sebanyak dan sederas apapun air yang jatuh menghujani kita, takkan ada yang bisa kita bawa selama kita tidak mau menyatukan telapak tangan dan membukanya ke arah langit

Sebaliknya, sedikit dan serumit apapun nasihat dan curahan ilmu yang diberikan, kalau kita berusaha dan serius untuk mengais faedah yang ada, pasti ada hikmah yang kita peroleh walau ia hanya setitik air di tengah luasnya samudera pengetahuan.

Sebagaimana kita menanti tetesan air dari keran untuk berwudlu. Mungkin kita tetap tidak bisa berwudlu hanya dengan satu dua tetes tersebut. Tapi sadarilah, engkau telah mengais beberapa tetes dari elemen kehidupan.

Jika kita tidak memiliki air untuk bersuci, kita punya tanah untuk ber-tayammum. Demikian pula dalam menuntut ilmu. Jika kita tak mendapati tetesan air dari para ahli ilmu, maka datangilah tanah-tanah yang suci itu dari perpustakaan kampus. Bertanyalah pada penduduk bumi dimana sumber air yang lain.

Karena Allah menjadikan bumi itu luas. Bertebaranlah kamu ke seluruh penjuru dunia

Depok, 15 April 2016


gambar mengais dari sini

Why So Serious?

Hidup kadang tidak berjalan mudah. Bahkan, seringnya memang tak mudah. Ada yang pernah bilang padaku ‘Jalani saja hidup layaknya alir mengalir. Niscaya hidupmu akan tenang’. Dalam hati aku berkata “Iya, nanti pas masuk selokan ya masuk ke selokan beneran”.

Hidup kadang tidak berjalan mudah. Apalagi anak kuliahan. Apalagi anak FE(B) UI. Apalagi anak FE yang rantau. Apalagi anak FE yang rantau yang lalala ya semuanya aja ngerasa hidup itu emang ga mudah

Ada kalanya, kita terbawa suasana lingkungan sekitar. Adanya tuntutan sosial untuk bisa melakukan ini dan itu, untuk menyelesaikan ini dan itu, ekspektasi terhadap diri sendiri, ambisi pribadi, dan berbagai macam hal yang akhirnya membuat kita menarik nafas dalam-dalam seraya berkata lirih “Ya Allah… bantu aku…”

Suatu hari, ketika aku berada di posisi itu, tiba-tiba aku teringat perkataan ayahku

“Yaudalah Wan. Dibawa santai aja. Gausa terlalu dipikirin. Hidup kok serius amat”

Begitulah tutur ayah ketika dulu aku menceritakan potongan kegiatanku semasa SMA dahulu. Masa muda ayah tak lebih santai dan ringan dari masa mudaku. Tapi, beliau menceritakan kejadian-kejadian keren dalam hidupnya seakan berlalu begitu saja. Kejadian-kejadian yang jika aku berada di posisinya, aku akan berpikir beberapa kali sebelum mengambil keputusan.Kok bisa ayah sesantai itu? 

Akupun mencoba berpikir terbalik. Itu ayah yang terlalu santai, atau akunya yang terlalu ambil pusing. Lantas aku mencoba berpikir lebih dalam.. Kenapa ya harus dipikir dalam-dalam? Impactnya di kehidupanku apa sih? Emang hidup ini mau dibuat seperti apa?

Seketika aku teringat sebuah potongan ayat..

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ

“Dan tidaklah kehidupan dunia kecuali hanyalah permainan dan senda gurau belaka”

Bukankah dunia tempat bermain dan bersenda gurau? Apakah perlu kita sampai pusing, bingung, dan stres memikirkan urusan-urusan?

Pada ayat tersebut, Allah menyampaikan secara blak-blakan kepada kita seperti apa hakikat dunia. Ya, dunia tempat kita belajar, bekerja, dan bersenang-senang setiap hari ini adalah tempat bermain. Jangan tertipu oleh imajinasi serius dan khayalan pikiran kita. Ini adalah tempat bersenda gurau.

Bukankah sepatutnya kita menikmati permainan yang kita mainkan? Bukankah kita sepatutnya menikmati tawa saat menghadiri acara panggung sandiwara? Ayolah, tentu saja iya. Tak usa jatah bermain 60 tahun di dunia ini dibawa terlalu serius, dibawa terlalu pusing. Tak enak nanti hidup ini, sempit rasanya dunia ini.

Di saat yang sama, Allah juga sudah menyampaikan kehidupan yang mana yang disebut kehidupan abadi

وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Apakah kalian tidak mau berpikir?”

Mari kita perhatikan sejenak. Dua potongan ayat di atas sebetulnya berasal dari satu ayat yang sama, Al-An’am ayat 32. Dalam satu ayat, Allah menyampaikan dua hal yang berkebalikan secara bersamaan. Apa hakikat dunia, lalu apa hakikat akhirat. Dua pernyataan itu disambung dengan pertanyaan yang menggugah para pembaca Alquran, para pemikir -karena membaca pasti berpikir: Apakah kalian tidak mau berpikir?

Jika dunia merupakan tempat bermain dan bercanda, akhirat merupakan tempat yang harus kita sikapi secara serius dan sungguh-sungguh. Jangan sampai kita terlena dan justru bermain-main dengan perkara-perkara yang abadi. Jangan sampai kita lalai dalam setiap perkara yang bermuara pada hidup yang sesungguhnya.

Jika kita menjalani gladi bersih atau simulasi hari-H sebuah acara, tentu kita akan serius menjalankannya bukan? Tak ada lagi main-main, aksi-aksi ceroboh, semua langkah dihitung secara matang dan dilaksanakan dengan hati-hati. Jika untuk sebuah acara yang mungkin hanya berlangsung sekali seumur hidup itu kita memersiapkan sedemikian serius, tentu untuk urusan yang berlangsung atau berdampak abadi kita akan mempersiapkan jauh lebih serius dibanding apapun. Maka, untuk setiap perkara yang itu berkaitan dengan akhirat, perlakukanlah dengan lebih serius.

Ya, pertanyaan mendasarnya masih mau dibawa seperti apa hidup ini? Mau dibawa kemana hidup ini? Jika kita percaya bahwa ada kehidupan yang abadi, maka kita akan serius dalam memersiapkan dan berfokus pada semua hal yang berkaitan dengannya. Adapun untuk kehidupan yang sementara, kehidupan yang isinya bermain dan bersandiwara, kita akan memerlakukannya sedemikian rupa: bermain dan bersenda gurau saja.

Jadi, akar pemikirannya adalah bagaimana kita mempersepsikan sebuah perkara. Percayakah kita pada konsep kehidupan abadi dan kehidupan penuh sandiwara? Dengan kehidupan yang mana tindakan kita akan berkaitan, hidup abadi atau hidup sandiwara atau keduanya? Jika kita sudah menentukannya..

Just do it. Relax. Why so serious?

 

Mafa-Mifa

116663

Roti bakar resep rumah

Awalnya, aku mengira bahwa jawabannya adalah ‘nasi goreng’. Dulu, ketika dia masih SD, sarapannya selalu nasi goreng. Tadi pagi ketika aku bertemu dengannya di kamar, di meja komputernya ada piring berminyak bekas nasi goreng. “Sudah tentu jawabannya nasi goreng”, batinku.

Tapi, siang ini sepulang kami dari salat zuhur di masjid, aku iseng menanyakan pertanyaan itu ke adikku

“Dim, makanan favoritmu apa?”

“Hmm.. Roti, Mie” jawabnya sambil memegang kemudi mobil

“Ooh.. roti yang kayak gimana? Mie sebagai bahan baku atau mie yang dimasak?” Aku melanjutkan pertanyaanku

Aku sendiri tak tahu apakah pertanyaan lanjutanku itu bentuk menyembunyikan ekspresi kagetku atau memang aku penasaran dengan detail makanan favorit adikku. Tapi di saat yang sama, aku berkata pada diriku:

“15 tahun dia jadi adikku, dan aku salah menebak makanan favoritnya. Wow”

Memang sih, 3 tahun terakhir kami sangat jarang bertemu. 3 tahun terakhir, dua per tiga hidupku kuhabiskan di Depok. Kami hanya bertemu jika aku yang ke Surabaya karena ada hal insidental, atau libur semester yang jarang bisa betul-betul kunikmati karena selalu ada agenda sampingan yang kukerjakan di Kota Pahlawan ini. Dan dalam 3 tahun itu, tentu sudah banyak hal yang terjadi. Banyak pula perubahan yang terjadi pada diriku dan adikku.

Pertanyaan tadi sebetulnya juga betul-betul diluar dugaanku. Aku sering berbincang dengan adikku tentang berbagai macam hal. Sering, aku menanyakan tentang kabarnya hari ini. Shalatnya bagaimana, baca Alqurannya, prestasi sekolahnya, pertemanannya, kegiatan atau hobinya. Tapi pertanyaan yang ini menanyakan sesuatu yang sifatnya sangat.. ‘apa banget?’ bagi sebagian orang, mungkin. Pertanyaan itu juga hanya sekilas terlintas di benakku

Well, makanan favorit atau mafa itu istilah yang sering kita dengar ketika kita SD (mungkin SD di Surabaya saja kali ya. Atau SD kamu juga?). Kita menulis istilah ini di kertas binder yang berisi biodata teman-teman sekelas. Kertas yang jumlah barisnya mencapai 20 lebih, kesemuanya diisi dengan kolom keterangan identitas. Mulai dari nama, TTL (tempat tanggal lahir), alamat, cita-cita, sampai hal yang sangat personal dan dulu terkesan gak penting semacam mafa-mifa (makanan favorit minuman favorit), artis favorit, kartun favorit, olahraga favorit, ustad/zah favorit -dulu aku SD di SD Islam yang berbudaya memanggil guru dengan ustad/ustadzah. Dan diakhiri dengan tanda tangan kita. Wah, dulu bangga sekali kalau kelas 3 SD sudah punya atau bisa bikin tanda tangan. Nggak semua anak lho kelas 3 sudah bisa nulis tanda tangan. Hehe, norak banget ya?

Tapi, sadar atau tidak, pertanyaan-pertanyaan itu sebetulnya bisa membantu kita mengukur seberapa dekat kita dengan seseorang. Berapa banyak hal personal yang kita ketahui dari seseorang, entah dari mengamati, berdialog dengannya, mendengar tentang dirinya, atau yang lain? Coba bayangkan engkau sedang membicarakan orang terdekatmu, entah keluarga atau sahabatmu, lalu jawab pertanyaan di bawah ini:

Apa makanan dan minuman favoritnya?

Apa genre buku atau film favoritnya?

Apa yang dilakukannya ketika waktu liburan datang?

Mana tempat di bumi ini yang paling ingin ia kunjungi?

Pelajaran apa yang paling disukainya semasa sekolah?

Ya, kita mungkin sering menghabiskan waktu bersama seseorang. Tapi itu tidak memastikan bahwa kita mengenal dirinya dengan baik. Mengenal dan menikmati/menghabiskan waktu memang dua hal yang berbeda. Bisa jadi, selama ini kita menghabiskan waktu bersama seseorang atau melakukan sesuatu hal tapi hal tersebut tak membuat kita sedikitpun mengenalnya.

Ada si yang kita ketahui tentangnya dari kegiatan menghabiskan waktu bersama tersebut, tapi kalau mau mengenal ya harus serius dalam upaya mengenalinya. Mengobrol, mengamati, atau menghabiskan waktu memang harus difokuskan untuk mengenal. Tanpa niat dan tujuan fokus mengenalinya, kegiatan kita hanya akan menghabiskan waktu dengan sedikit informasi yang didapat -bahkan tanpa sedikitpun membuatmu mengenalnya.

Dan sebaliknya, bisa jadi kita tidak membutuhkan waktu banyak untuk mengenalinya. Sepekan bersama keluarga di rumah dengan quality time yang baik bisa sangat membantu kita mengenali apa kabar mereka hari ini?

Bisa jadi, selama ini kita tertawa bersama dengannya, tapi hal itu tak membuat kita mengenal dirinya seutuhnya.

Kalau dirimu ingin mengenal seseorang, cobalah serius dan fokus untuk ‘berkenalan’ dengannya. Luangkan waktumu, suaramu, ragamu, dan yang terpenting.. Pikiranmu, untuk betul-betul mencari tahu tentangnya dan fokus padanya. Tanyakan hal-hal yang ‘tak penting’ yang mungkin dengannya, kau bisa memahami gerak-gerik tubuhnya. Yang dengannya, kau bisa memahami makna tutur katanya. Yang dengannya, kau bisa memahami alasan cara berpakaiannya.  Yang dengannya.. kau bisa memahami, pesan di balik senyum yang disembunyikannya

Karena mengenal dan menghabiskan waktu itu dua hal yang berbeda. Jangan karena sering menghabiskan waktu bersama, kau mencukupkan diri untuk mengenal dirinya. Jangan karena 19 kali sujud setiap harinya, dirimu merasa telah dekat dan mengenal diri-Nya. Pelajari asma wa sifaat (nama-nama dan sifat-sifat)-Nya, cobalah cari penjelasan tentang-Nya melalui firman-Nya.

Kadang kita tak bisa menghargai, menikmati, dan mensyukuri suatu hal karena kita tak mengenal (mengerti) nilainya.

Aku, Ibu, dan Hari Ibu

academic_calendarlanding

Menurutku, standar ganda itu dibutuhkan pada beberapa kesempatan. Contoh standar ganda itu kita menerapkan (mengharapkan) rendah untuk orang lain, tapi tinggi untuk kita. Salah satu momen menerapkan itu adalah hari ini, 22 Desember, yang sebagian orang menyebutnya hari ibu

Aku paham dengan orang yang berusaha menjadikan hari ini sebagai momentum ia membahagiakan, memuliakan, atau mengekspresikan kecintaan ibunya. Ibumu jelas berhak atas hal itu. Dan ia berhak untuk mendapatkan lebih dari apa pun yang kau lakukan hari ini.

Abu Burdah mengatakan bahwa ia melihat Ibnu Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang yaman itu bersenandung,

إِنِّي لَهَا بَعِيْرُهَا الْمُـذِلَّلُ – إِنْ أُذْعِرْتُ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ

Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh.

Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.

Orang itu lalu bertanya kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab,

“Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.” [Adabul Mufrad no. 11]

Itu adalah Abdullah bin umar bin al-khattab. Itu adalah standarnya untuk ibunya. Ada pula yang menjadikan hari ini sebagai momentumnya. Silahkan, semua punya timbangan masing-masing.

Tapi, aku tak bisa menerapkan standar itu. Aku tak bisa memaksakan diri di hari ini untuk mengetik puisi indah untuk ibu, membuat origami cantik, atau mengirim kue tart bertulis nama ibu pada hari ini, entah aku tak bisa.

Entah, aku merasa malu. Aku merasa malu padamu ibu, merasa tak tahu diri, merasa tak tahu sopan santun, tak bisa berterima kasih, tak bisa menghargai… Aku merasa tak berbakti, kalau sampai aku mengakui, bahwa satu hari ini adalah momen spesial bagiku untuk berbakti padamu.

Jika aku memperlakukanmu spesial hari ini, itu berarti aku mengakui ada hal yang tidak kulakukan di hari lain. Padahal keutamaanmu sebagai pintu surgaku, berlaku selalu hingga kelak datang waktu Itu.

Jika aku menghususkan untuk memberi bakti terbaikku hari ini, itu berarti di hari-hari yang lain aku hanya berbakti dengan baik padamu. Sungguh dirimu berhak mendapat yang terbaik dariku, sepanjang waktu.

Duhai celakanya aku, kalau engkau cemburu di 364 hari yang lain, karena aku tak bisa berbakti sebagaimana aku berbakti hari ini.

Ya, standar ganda itu perlu

Kalau memang hari ini, 22 Desember ini, menjadi hari bagi kita untuk MULAI memuliakan, membahagiakan, dan memberikan bakti TERBAIK pada ibu di SETIAP WAKTU.. Maka mulailah

Karena kita tak tahu, apa 22 Desember di tahun depan masih ada orang yang akan kita ucapkan selamat hari ibu

Karena kita tak tahu, apa sepulang kita dari sekolah, kampus, atau tempat kita kerja sore ini, kita masih bisa melawak dan membuat ibu sebatas tersenyum teduh

 

780 km dari sisi Ibu, 22 Desember 2015

Anak tengahmu, Ibnu Rosyid


kalendar dari sini

Dua Hati Kita

“Mungkin, aku terlalu takut kehilangan orang yang aku sayangi”

Kau benar. Ada kegelapan bernama ketakutan yang menyelimuti, tatkala malam bernama perpisahan itu datang. Ada keresahan yang mencoba menguasai hati, ketika awan keraguan memenuhi pemandangan kehidupan.

Namun, aku percaya bahwa hati kita sejatinya patuh. Patuh di atas ketetapannya, patuh di atas keinginan-Nya. Dialah yang membolak-balikkan hati.

Tatkala aku memutuskan untuk meninggalkanmu, muncul keraguan. Tatkala aku memutuskan untuk mengakhiri perbincangan itu, ada kekhawatiran. Ada kekhawatiran akan berpalingnya hatimu dariku. Pudar dan hilang namaku dari hatimu selama masa-masa itu, masa-masa yang kita sebut ‘kesabaran dua orang yang menanti’. Ada keyakinan, bahwa Ia mampu melepaskan diriku dari seonggok daging kecil bernama hati milikmu.

Namun, aku juga yakin. Aku yakin bahwa kelak Ia juga dapat mengizinkanku untuk masuk kembali dan tinggal menetap di jantung hatimu. Bahwa Ia mampu balikkan lagi hatimu untukku. Bahwa ia mampu kembalikan tulang rusuk yang terpisah dari tulang punggungnya ketika tiba saatnya. Ketika ia membuktikan janjinya bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, dan perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik.

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Rabb-mu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” Surat Huud ayat 123

Karena aku yakin, kepunyaan-Nya lah semua yang di langit dan bumi.  Miliknya lah hati ini: hatiku, hatimu, dua hati kita. Ia tegaskan bahwa Ia lah pemilik segalanya. Lalu Ia beri tahu pada para pencari kehidupan bagaimana cara memeroleh kebutuhannya dari sang pemilik: Sembahlah Dia dan bertawakkallah pada-Nya.

Sembahlah Dia. Karena dengan menyembahnya, keridoan-Nya kan kau terima. Karena dengan keridoan-Nya, semua yang Ia miliki dapat ia berikan untukmu. Hati ini: hatiku, hatimu, dua hati kita, dapat kita memilikinya atas restu-Nya.

Tak perlu tenggelam dalam ketakutan, dalam samudra bernama prasangka. Masa depan memang abu-abu, tapi janji Allah adalah pasti. Pegang janji Allah untuk menghadapi awan kelabu itu. Sembahlah Dia, bertawakkal pada-Nya, dan persiapkan segala hal hingga saat itu tiba. Persiapkan dan tunjukkan bahwa kita siap, layak, dan pantas untuk menerima karunia-Nya.

Perbaiki cinta kita agar senantiasa tulus karena-Nya dan diridhoi-Nya. Karena cinta itulah yang akan memertemukan, menghidupkan, dan mengabadikan hati ini: hatiku, hatimu, dua hati kita.

“Jika memang aku mencintaimu karna Allah, izinkanlah aku mencintaimu dengan cara yang dicintai-Nya” MR

Mueang Pattaya, 21 Juli 2015

Malam Pengumuman dan Ujian Keyakinan

Dulu, ketika saya gak keterima snmptn, saya gabisa tidur.

Dan ketika sbmptn saya belum keterima UI, saya baru bisa tidur di penghujung malam..

Adakah diantara adik2 yang juga merasakannya saat ini? 🙂

Untuk adik2 yang sudah keterima,

Singkat aja, selamat. Sadarilah bahwa ini adalah rizki Allah untukmu. Perbanyaklah rasa syukur. Kini, Anda sudah bisa beristirahat dengan nyenyak. Tapi kalau saya boleh beri masukan, nikmati malam ini dan sisa malam Ramadan ini untuk bersyukur pada-Nya

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” Surat Ibrahim ayat 7

Untuk adik2 yang belum keterima,

Dua nasihat saya: Bersabarlah dan perbanyak istighfar.

Bersabarlah atas ketetapan Allah dan harapkanlah pahala dari berlapangnya dadamu menerima ketetapan-Nya. Percayalah, yakinlah, berimanlah bahwa Allah sudah menyiapkan semua yang kamu butuhkan untuk jadi the best of you in the future. Not only for 4 years, but for your future. Allah telah menyiapkan semua yang kamu butuhkan, termasuk terjatuh pada saat ini. Have faith 🙂

Perbanyaklah istighfar. Bisa jadi kita diuji seperti ini karena maksiat yang kita lakukan. Atau bahkan, maksiat yang kita biasakan. Adakah larangan Allah yang tak kunjung kita tinggalkan? Atau adakah ketaatan pada Allah yang tak kunjung kita jalankan, sehingga kita diuji seperti ini? Bertaubatlah dan perbanyaklah istighfar

“Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu” Surat Nuh ayat 10-12

Untuk adik2, terlepas apapun suasana hatimu saat ini. perbanyak syukur dan istighfar kepada Allah. inilah seutama-utamanya malam. Inilah saat untuk menggapai keridoan Allah. panjatkanlah doa.

Jika Iblis, yang mengingkari Allah dan dilaknat masuk neraka, saja dikabulkan doanya -tatkala meminta umur tangguh, apalagi seorang mukmin yang merendah, menengadahkan tangan, dan berlinangkan air mata sambil mengemis kepada Rabb-Nya di malam-malam yang amat utama!

Yakinlah bahwa Allah akan mengabulkan doamu. Kita memang lemah, tapi Allah mahakuat. Kita memang bodoh, tapi Allah maha mengetahui. Milik-Nya lah yang ada di langit dan ada di bumi. Jika mengatur peredaran planet-planet dalam tata surya saja ia mampu, apalagi hanya sebatas mengabulkan dan mengatur jalan hidup satu orang hamba-Nya. Berdoalah, yakinlah 🙂

“Berdo’alah kepada Allah dalam keadaan engkau merasa yakin akan dikabulkannya do’a” (HR Tirmidzi, hasan oleh Syaikh Albani)

Homoromantic, Homoseksual, dan Sang Pencipta

Homoromantik, Homoseksual, dan Sang Pencipta

Oleh Forum Studi Islam (FSI) FEB UI 2015

Pekan lalu, Mahkamah Agung Amerika Serikat mengambil sebuah keputusan yang menghebohkan masyarakat di berbagai penjuru dunia. Kini, pernikahan sesama jenis telah dilegalkan secara hukum di seluruh negara bagian negeri Paman Sam. Berbagai tanggapan dari berbagai kalangan muncul terkait keputusan besar ini. Sebagian ada yang mendukung, namun tak sedikit pula yang menyesali dan menghujat keputusan ini. Keputusan ini meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai fenomena LGBT atau Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Lantas, bagaimana sikap kita terhadap isu ini?

Pada tulisan ini, saya tidak membahas aspek legalitas maupun unsur politis kebijakan pernikahan sesama jenis. Pembahasan tulisan ini lebih berfokus pada homoseksual, homoromantik, dan perspektif Islam terhadap keduanya.

Pada tulisan ini, saya membedakan penggunaan istilah homoromantic dengan homoseksual. Homoromantic bermakna ketertarikan sesama jenis (kelamin) yang bersifat emosional khususnya romantisme, sedangkan homoseksual berarti keterkarikan sesama jenis yang bersifat (aktivitas) seksual[1]. Mengapa dibedakan?

Alasan pertama, karena dalam kesehariannya, masyarakat sering menggunakan kedua hal ini dalam satu konteks. Padahal, kedua hal ini sejatinya dua hal yang berbeda. Kedua, untuk mengurai akar permasalahan dan menjawab pernyataan sekaligus pertanyaan yang kerap muncul di berbagai permbahasan homoseksual, “Sekiranya seseorang tidak melakukan perbuatan seksual sesama jenis, apakah sebatas ketertarikan itu menjadi masalah?”

Dengan membedakan dan memahami kedua konteks ini, diharapkan pembaca dapat memahami lebih dalam problematika yang ada dan bagaimana Islam membahasnya.

Homoromantik dan sebuah perspektif

Banyak perspektif yang dapat digunakan dalam memandang homoromantic. Studi kedokteran, psikologi, sosiologi, ilmu budaya, filsafat, dan berbagai macam bidang studi dapat digunakan dalam mengkaji dan memahami hal ini. Namun, perspektif manakah yang patut digunakan dalam memandang dan menyikapi hal ini?

Jawaban dari pertanyaan di atas sejatinya amat sederhana: Yang paling mengenal dan mengerti tentang sebuah objek. Tentu saja. Kita tak mungkin mengkaji atau menganalisis alasan pelemahan rupiah menggunakan ilmu kedokteran. Tak mungkin pula mendiagnosa dan mengoperasi pasien gagal jantung menggunakan ilmu sastra. Ilmu yang paling mengerti dan mengenal objeknyalah yang digunakan dalam menganalisis, memahami, dan menyikapi sebuah perkara. Lantas, ilmu apa kah yang digunakan? Ilmu Sang Pencipta lah yang kita gunakan.

Mengapa Ilmu Sang Pencipta? Karena pencipta adalah pihak yang paling mengenal, mengerti, dan memahami ciptaannya. Seorang juru masak adalah orang yang paling mengerti apa yang ia masak. Ia tahu apa saja bahan dasarnya, cara memasaknya, proses yang akan terjadi selama pemasakan dan penyajian, hal-hal yang dapat merusak masakannya, cara memerindah sajian masakannya, dan lain sebagainya. Demikianlah seorang pencipta mengenal ciptaannya.

Dan bagi seorang muslim, syahadat yang ia baca pada setiap salatnya mempersaksikan bahwa Allah lah yang menciptakan manusia, dan seluruh makhluk-Nya yang lain. Dan dengan keislamannya, ia yakin bahwa Allah lah yang paling mengenal hamba-Nya. Karena ia beriman pada sifat keesaan Allah dalam hal rububiyah/penciptaan. Ia meyakini bahwa Allah lah satu-satunya khaalik (Pencipta). Segala sesuatu selain pencipta berarti makhluk (ciptaan), termasuk diantaranya manusia.

Maka, seorang muslim meyakini bahwa perspektif yang digunakan dalam memandang, memahami, dan menyikapi hal ini, homoromantic, adalah perspektif Allah yang dituangkan dalam firman-Nya (Alquran) dan dijelaskan utusan-Nya (Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam). Kedua hal ini menjadi sumber agama Islam.

Bagaimana Islam memandang homoromantic?

 Allah telah menetapkan bagi seluruh makhluknya, standar dan batasan-batasan yang menjadi indikator normal seseorang/sebuah makhluk. Lantas, apa indikator normal Allah bagi manusia? Allah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 1

“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan dari jiwa yang satu itu Dia menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Dia memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak”

Ayat ini menceritakan penciptaan Hawa yang berasal dari tulang rusuk Adam. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas tentang penciptaan Hawa tatkala Adam merasa tidak tentram di surga sendiri. Sehingga, Allah ciptakan Hawa untuk menentramkannya.

Dalam ayat yang lain, surat Ali Imron ayat 14, Allah berfirman,

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak”

Para ulama menggunakan ayat ini sebagai dalil pembahasan bahwa mencintai dunia termasuk fitrah manusia. Dalam ayat ini, disebutkan bahwa seseorang (laki-laki) memiliki kecenderungan terhadap wanita.

Rasul shalallahu ‘alahi wa sallam, seorang rasul namun tetap berstatus hamba, merupakan manusia yang Ia utus sebagai teladan seluruh umat manusia. Entah ia laki-laki, perempuan, orang Arab, beragama Islam, beragama selain Islam, terlepas dari itu semua, Ia adalah teladan bagi seluruh manusia. Perhatikanlah apa yang ia shalallahu ‘alaihi wa sallam ceritakan tentang sisi kemanusiaannya,

“Diberi rasa cinta padaku dari dunia yaitu wanita dan wangi-wangian dan dijadikan penyejuk mataku dalam shalat”[2]

Demikianlah Allah menciptakan manusianya. Allah tetapkan standar kewajaran, kelaziman, kenormalan, manusia adalah mencintai lawan jenisnya. Seorang laki-laki sepatutnya mencintai perempuan, dan seorang perempuan mencintai laki-laki. Bila ada manusia yang berada di luar standar tersebut, artinya ia berada pada kondisi tidak wajar, tidak lazim, tidak normal.

Maka, homoromantic dalam perspektif Islam, perspektif Allah, perspektif Sang Pencipta, merupakan sebuah kondisi yang tidak normal bagi seorang manusia.

Mengapa ‘keunikan’ ini dipermasalahkan?

Pertanyaan di atas merupakan poin kritis dari pembahasan di berbagai forum tentang bahaya homoseksual. “Selama seorang tidak melakukan homoseksual, kenapa itu (homoromantic) harus dilarang?”

Pada beberapa pembahasan LGBT, kerap disebut sebuah istilah aseksual. Aseksual merupakan orang yang tidak tertarik atau tidak memiliki ketertarikan terhadap kegiatan seksual[3]. Ada sebagian yang berpendapat bahwa seorang homoromantic bisa jadi aseksual, sehingga muncullah pertanyaan –atau pernyataan seperti di atas.

Memang, pertanyaan di atas mengandung poin kebenaran. Karena yang menjadi permasalahan adalah homoseksualnya –in syaa Allah kami bahas pula homoseksual nanti. Tetapi, perlu diperhatikan dan ditinjau kembali, apakah kondisi yang demikian (homoromantic yang aseksual) menjadi kepastian bahwa homoseksual tidak mungkin terjadi? Apa yang menjamin bahwa ia tidak akan terjerumus dalam perbuatan dosa homoseksual? Padahal Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan

Sesungguhnya Hati dinamai ‘al-Qalb’ karena mudah berbolak-balik, dan sesungguhnya perumpamaan hati itu seperti bulu yang berada di tanah lapang, menempel di batang pohon, yang dibolak-balikkan oleh angin”[4]

dalam sabdanya yang lain

Sungguh, hati anak Adam (manusia) itu sangat (mudah) berbolak-balik daripada bejana apabila ia telah penuh dalam keadaan mendidih.”[5]

Jika ada yang merasakan gejala homoromantic selama sekian tahun dan ia merasa aman dari timbulnya dorongan homoseksual, perlu kiranya kita mengingat pelajaran dari sebuah kisah di zaman bani israil (kisah israilyat) tentang Barshisha, sang ahli ibadah[6].

Singkatnya, Barshisha adalah seorang ahli ibadah yang dititipkan seorang gadis oleh tiga saudaranya untuk sebuah keperluan. Sebagian riwayat mengatakan bahwa ia sudah berada dalam ketaatan ibadahnya selama puluhan tahun. Awalnya, barshisha amat tegas dalam menjaga interaksinya dengan sang gadis. Ia menjaga jarak, pandangan, dan segala bentuk interaksi terhadap sang gadis. Namun, iblis dengan pengalamannya ribuan tahun memiliki tipu daya yang tak kalah maut. Selangkah demi selangkah, keteguhan iman dan sikap Barshisha luluh. Ia melonggarkan batasan dirinya, yang berujung pada sebuah dosa besar, perzinaan, dengan sang gadis. Gadis itu pun hamil. Kemudian, Barshisha pun membunuh anak dan sang gadis. Terakhir, ia menutup hidupnya dengan bersujud kepada setan ketika meminta pertolongan agar diselamatkan dari hukuman mati penguasa setempat.

Demikianlah Barshisha, seorang ahli ibadah yang terperdaya oleh tipu daya iblis. Renungan berikutnya adalah siapakah kita sehingga kita yakin dan merasa aman? Apakah kita ahli ibadah sehingga aman dari tipu dayanya? Barshisha dan pengalamannya telah merespon jawaban kita. Apakah kita ahli ilmu agama yang juga senantiasa jernih pikirannya? Siapa yang menjamin bahwa kita mampu menjaga diri dari tipu daya iblis?

Sekiranya ini merupakan kekhawatiran yang berlebihan, maka perlu kita sadari bahwa kekhawatiran terhadap kebaikan lebih baik daripada merasa aman dari keburukan. Kita lebih patut merasa khawatir terhadap keimanan kita daripada merasa aman dari tipu daya iblis. Mengapa? Karena orang yang merasa khawatir akan senantiasa menjaga diri, sedangkan orang yang merasa aman akan melonggarkan pertahanan dirinya.

Maka selayaknya kita berhati-hati terhadap peringatan nabi dan mengambil pelajaran dari umat-umat sebelum kita. Sudah selayaknya kita berhati-hati terhadap hal-hal yang menggiring kita menuju dosa besar tersebut. Sudah sepatutnya kita tidak meremehkan perkara ini, ketidak-laziman meski sebatas ‘preferensi’.

Bagaimana dengan homoseksual?

Homoseks merupakan sebuah dosa yang tidak diragukan keharamannya. Logika paling sederhana dalam perbuatan ini adalah zina –meski keduanya berbeda dan akan dijelaskan lebih lanjut. Karena, hubungan intim yang dihalalkan dalam Islam hanya ada karena dua sebab: menikahinya atau memilikinya sebagai budak. Allah berfirman dalam surat Al-Mukminun ayat 5 dan 6,

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela”

Sedangkan, Islam tidak mengatur syariat pernikahan sesama jenis. Maka bagaimana bisa perbuatan ini menjadi halal ketika perantara untuk menghalalkannya tidak pernah ada? Bahkan, para ulama mengatakan bahwa homoseks lebih keji dibandingkan berzina. Karena, meskipun zina menyelisihi syariat Allah, zina tidaklah menyelisihi tabiat manusia (fitrah yang ditetapkan Allah sebagaimana disebutkan di atas). Sedangkan homoseks menyelisihi syariat sekaligus tabiat manusia.

Allah menyampaikan melalui lisan Rasul-Nya bahwa Ia subhanahu wa ta’ala melaknat perbuatan ini. Dari ibnu abbas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

“Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth”[7]

Beliau menekankan perkara ini dengan mengatakan sebanyak tiga kali.

Allah menjelaskan apa yang diperbuat oleh kaum nabi Luth dalam firman-Nya surat Alaraf ayat 80 hingga 81:

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya. ‘Mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah (keji) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian? ‘Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampui batas”

Ayat di atas juga menjawab jika ada yang bertanya “Jika tidak bisa menikahinya, apakah boleh melakukannya (hubungan seksual sesama jenis) sekiranya memiliki budak?”. Jawabannya tidak sebagaimana dilarangnya perbuatan Luth. Ayat-ayat di atas juga menjadi dalil bahwa perbuatannya sendiri telah terlarang, terlepas apapun kondisinya.

Para Sahabat dan para muridnya mencela dan menggambarkan betapa buruknya perbuatan ini.

Mujahid berkata : “Orang yang melakukan perbuatan homoseksual meskipun dia mandi dengan setiap tetesan air dari langit dan bumi masih tetap najis”.

Fudhail Ibnu Iyadh berkata : “Andaikan pelaku homoseksual mandi dengan setiap tetesan air langit maka dia akan menjumpai Allah dalam keadaan tidak suci”.

Artinya, air tersebut tidak bisa menghilangkan dosa homoseksual yang sangat besar yang menjauhkan antara dia dengan Rabbnya. Hal ini menunjukkan betapa mengerikannya dosa perbuatan tersebut.

Konsekuensi homoseksual

Konsekuensi dari perbuatan dosa ini amatlah besar dan tidak main-main. Diriwayatkan oleh Ahlus sunan dan disahihkan oleh Ibnu Hibban, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

“Siapa saja di antara kalian mendapati seseorang yang melakukan perbuatan kaum Luth maka bunuhlah pelakunya beserta pasangannya”

Pada saat menjadi Amirul Mukminin (pemimpin umat muslim), Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu pernah menerima sebuah surat dari seorang di daerah Arab yang mengaku melakukan perbuatan Liwath (disetubuhi dari dubur) atau homoseks. Kemudian, Abu Bakar meminta nasihat kepada para shahabat. Maka yang paling keras perkataannya dari mereka ialah Ali bin Abi Thalib yang berkata

“Tidaklah ada satu umat pun dari umat-umat (terdahulu) yang melakukan perbuataan ini, kecuali hanya satu umat (yaitu kaum Luth) dan sungguh kalian telah mengetahui apa yang Allah Subhaanahu wa ta’ala perbuat atas mereka[8], aku berpendapat agar ia dibakar dengan api.”

Lalu, Abu Bakar menulis kepada Khalid bin Walid untuk membakar lelaki itu. Sementara Ibnu Abbas mengatakan,

“Lihat tempat yang paling tinggi di kampung itu. Lalu pelaku homo dileparkan dalam kondisi terjungkir. Kemudian langsung disusul dengan dilempari batu”.

Sebuah nasihat

Allah telah memberikan batasan-batasan kepada makhluk-Nya agar mereka dapat hidup secara bahagia, sehat, aman, dan dengan seluruh kebaikan yang Ia siapkan. Ia tetapkan aturan berupa perintah dan larangan beserta balasan bagi orang-orang yang menjalankan maupun melanggarnya.

Demikianlah Allah telah melarang perbuatan homoseksual. Ia ta’ala juga telah menyebutkan konsekuensi dan hukuman bagi orang-orang yang melanggar ketetapan yang telah ia tetapkan. Hukuman di dunia yang demikian tegas dan azab pedih di akhirat kelak telah menanti orang-orang yang melanggar dosa besar ini.
Sudah sepatutnya kita merasa takut dan khawatir atas hal-hal yang dapat menggiring kita menuju lubang kebinasaan itu. Termasuk diantaranya adalah menyimpan perasaan atau hasrat yang dapat membuncah sewaktu-waktu. Maka, kami menasihatkan kepada seluruh saudara kami untuk tidak memelihara, dan membuang perasaan atau preferensi ‘berbeda’ itu. Bahkan, cobalah untuk mulai mencintai lawan jenis anda sesuai fitrah manusia namun tetap dalam koridor syariat Allah. Cobalah untuk mengikuti ketetapan standar yang telah Ia tetapkan. Cobalah untuk mengikuti dan masuk ke dalam batas normal yang Ia tetapkan bagi hamba-Nya.

Tetaplah tersenyum, duhai saudaraku 🙂

Kolom ini saya khususkan untuk Anda, saudara seimanku yang sedang berjuang dan berusaha mengikuti fitrahnya agar memerbanyak ketaatan pada Allah seperti menikah dan memiliki keturunan yang salih atau salihah.

Sebagian di antara saudara mungkin pernah bertanya “Mengapa Allah menciptakanku dalam kondisi seperti ini?

 Saudaraku, ingatlah firman Allah dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”

Sejatinya, segala kondisi yang Allah ciptakan bagi hambanya adalah untuk menguji keimanan dan kesabaran seorang hamba. Pertanyaan di atas senada dengan pertanyaan “Mengapa Allah menciptakan keburukan, kemiskinan, kejahatan?”. Semua adalah untuk menjadi ujian bagi hambanya.

Ketahuilah, bahwa setiap orang pasti Allah uji. Setiap orang, duhai saudaraku. Tak satupun ada yang tidak diuji.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”[9]

Hanya saja, bentuk ujian setiap orang berbeda. Ada orang yang diuji melalui penyakit/kecacatan fisik, penyakit hati, kemiskinan, akal yang pendek, keluarga yang tidak harmonis, emosi yang tak stabil, karir yang kandas, dan lainnya. Setiap orang diuji, namun dalam bentuk yang berbeda-beda. Dan ketika Allah mengujimu dengan ujian ini, tidak dengan ujian-ujian lain, artinya Allah tahu dirimu mampu bersabar dan melampauinya. Ingatlah pernyataan Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 286

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya”

Dirimu tidak sendiri. Percayalah, banyak orang yang merasakan ujian seperti dirimu. Dan banyak pula yang berjuang dan mencoba mengobati penyakit ini. Ada sebagian yang menyerah dan berkata “Be proud of yourself! Be yourself”. Maka saya katakan “Be proud of your DECISION! Be what you decide to be!”. Allah memang menciptakan kita dalam kondisi yang terbaik untuk kita. Namun, bukan berarti sempurna. Banyak hal yang harus kita perbaiki. Dan memutuskan serta berjuang untuk memerbaiki diri adalah pilihan Anda! Anda ingin menikah dan menyempurnakan setengah dari agama, memiliki anak cucu dan menikmati harmonisnya berkeluarga, menghabiskan usia tua sambil mendengarkan curhatan dan gelak tawa mereka, itu semua pilihan Anda!

Bersemangatlah! Ingatlah janji Allah melalui rasul-Nya, bahwa semua penyakit ada obatnya. Sebagaimana sabdanya shalallahu ‘alaihi wa sallam,

Untuk setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat tersebut sesuai dengan penyakitnya, penyakit tersebut akan sembuh dengan seizin Allah[10].

Hanya perkara waktu, obat tersebut ditemukan ataukah belum. Bersujud cairan, makanan, terapi, atau yang lainnya. Hanya perkara waktu, anda dapat merasakan nikmatnya sehat.

Untukmu, ‘Aktivis fitrah’

Terakhir, ingin saya sampaikan kepada beberapa teman, penulis, atau penggiat yang penuh semangat ‘menyeru pada fitrah’. Saya menyebut mereka ‘Aktivis fitrah’

Untukmu, teman-temanku aktivis fitrah.

Ingatlah bahwa Allah memerintahkan kita untuk bersikap adil kepada siapapun. Janganlah kebencian kita terhadap sebuah dosa membuat kita bersikap tidak adil dan menzalimi pelaku dosa. Jangan pula sebuah dosa membuat kita mengambil hak seseorang diluar ketetapan Allah. Karena sungguh, kezaliman itu akan menjadi kegelapan di hari kiamat kelak. Sebagaimana peringatan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam

Hati-hatilah kalian dari kezaliman karena sesungguhnya kezaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat.” [11]

Saudaraku, tanggung jawab kita adalah menyeru secara bijak dan indah. Adapun menghisab dan menghakimi, itu adalah hak Allah. Nasihati ia secara lembut. Janganlah mencela, melaknat, menghardik, tanpa terlebih dahulu mencari tahu dan memahami secara utuh sebuah permasalahan beserta tinjauan syariatnya. Ingatlah nasihat Rasul shalallahu ‘alaihi wa salam yang disampaikan oleh ummul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha

“Sesungguhnya kelembutan itu, tidaklah terdapat pada sesuatu kecuali ia akan membaguskannya, dan tidaklah ia dihilangkan dari sesuatu kecuali ia akan menjelekkannya.”[12]

Untukmu, teman-temanku ‘aktivis fitrah’.

Berupayalah untuk konsisten dan konsekuen terhadap perkataan dan perbuatanmu. Jika dirimu membenci sebuah dosa, pelakunya, dan orang-orang yang mendukungnya, maka konsistenlah dengan sikapmu dan ketetapan Allah tanpa membeda-bedakan suatu dosa. Jangan Anda tak terima dengan seorang artis yang mendukung homoseksual, tapi membiarkan atau membedakan sikap ketika ada orang lain yang mendukung perbuatan dosa yang lain. Apalagi, jika ada orang lain yang mengatakan dan merayakan perbuatan kufur seperti kelahiran anak Tuhan. Sungguh, kesyirikan lebih patut untuk kita takuti dan benci. Tak sepatutnya kita ikut memeriahkannya sebuah perbuatan yang tidak diampuni Allah.

Kita memang bukan malaikat yang tak memiliki nafsu berbuat dosa. Bukan pula bersikap ‘sok malaikat’ dengan mendukung dan mengapresiasi setiap perbedaan. Tapi bukan berarti harus ikut-ikutan setan dengan mendukung sebuah kemungkaran.

Nasihati ia dengan bijak dan halus. Sekali lagi, karena tugas kita adalah untuk mengingatkan dan menyampaikan, bukan menghakimi.

Semoga Allah memberikan kita kekuatan dan keteguhan untuk senantiasa melakukan perbaikan dan konsisten di atasnya, menjaga kita dari makar setan dan tipu daya iblis, menjaga kita dari pedih dan abadinya siksa neraka, serta memertemukan kita di kebahagiaan yang abadi, surga. Aamiin

Apabila ada kebaikan itu dari Allah, adapun kesalahan murni dari saya dan setan.

Wallahu A’lam bis showab

Oleh: Masandi Rachman Rosyid,

Kepala Departemen Syiar dan Kajian Islam Strategis (SKIS) FSI FEB UI 2015

Referensi:

www.urbandictionary.com diakses Senin, 29 Juni 2015, pukul 21.00 WIB

http://almanhaj.or.id/content/2107/slash/0/gay-lesbian-homoseksual/ diakses Senin, 29 Juni 2015 pukul 21.05 WIB

http://www.konsultasisyariah.com/orientasi-seksual-homo-harus-dihargai-menjawab-suara-jil/ diakses 2 Juli 2015 pukul 06.30 WIB

http://kisahmuslim.com/kisah-nabi-adam-alaihis-salam/ diakses Rabu, 2 Juli 2015 pukul 10.00 WIB

http://rumaysho.com/keluarga/bersetubuh-yang-halal-1788.html diakses Jumat, 3 Juli 2015 pukul 21.06 WIB


Catatan kaki:

[1] http://www.urbandictionary.com

[2] Hadis riwayat. An Nasai no. 3939 ,dinilai hasan shahih oleh Al-Albani

[3] http://www.urbandictionary.com

[4] Hadis riwayat Ahmad, dalam Shahihul Jami’, no. 2365

[5] Hadis riwayat Ahmad, no. 24317

[6] Ibnu Katsir dalam tafsirnya dan al-Bidayah wa Nihayah Juz II

[7] Hadis riwayat Nasa’i no. 7337, dalam As-Sunan Al-Kubra IV/322

[8] Alquran surat Hud ayat 82-83 ”Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke awah (Kami balikkan) dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu. Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim”

[9] Alquran Al Ankabut ayat 2

[10] Hadis riwayat Muslim

[11] Hadis riwayat Muslim

[12] Hadis riwayat Muslim, no. 2578

Cinta, Kanvas, Pelangi

Jika dunia itu ibarat kanvas, aku katakan cinta adalah salah satu warnanya

Jika duniamu hanya diwarnai oleh cinta, sungguh kelak matamu akan lelah melihat kejemuan

Kau punya banyak warna untuk mengkreasikannya. Kau bahkan punya banyak kuas untuk mewarnainya. Kaupun bahkan bisa memilih bagaimana cara mewarnainya berdasar teknik memolesnya.

Kurasa, tak ada seniman yang mewarnai kanvasnya hanya dengan satu jingga, atau satu merah, atau satu kelabu. Hanya seniman berdarah dewa yang mengerti keindahan satu warna. Hanya mereka yang memilih satu warna. Tapi diriku manusia, yang dengan batasan logika dan cintanya berusaha mengerti -dan menikmati warna dalam dunia.

Kadang biru terasa membebaskan. Kadang merah terasa berani. Kadang putih terasa suci. Kadang kelabu terasa ragu. Entah warna itu yang dengan senang hati bercerita, atau hati kita yang dengan egois menginterpretasi?

Satu warna di satu senja, begitu menggoda: merah

Satu warna di satu fajar, begitu bercahaya; putih

Ada kala, satu warna terasa begitu sempurna. Ada kala, kita menyadari bahwa dunia tengah menanti. Menanti sang pelukis melengkapi baris-baris yang kosong. Ruang-ruang itu menanti, warna lain melengkapi pelangi.

Kanvasmu masih bersih, ayo kita warnai lagi. Kanvasmu seakan menanti, menanti semburat pelangi


gambar dari sini.

Pendidikan, Penting kah?

Ini kesekian kalinya aku memutuskan untuk menghabiskan sarapan minggu pagiku bersama orang asing. Bagiku, menjadi sebuah kebahagiaan bisa bertemu dan berbincang tentang hal baru bersama orang baru. Pagi ini, aku sarapan di sebuah kos-kosan yang garasi rumahnya disulap menjadi warung makan.

Sebenarnya, beliau bukan orang yang asing-asing amat. Sudah kesekian kali aku makan dan bertemu dengannya disana. Tapi, belum sekalipun kami bertukar nama untuk saling mengenal. Meminjam istilah anak psikologi, aku menyebut beliau sebagai familiar stranger. Orang yang kita kenali ciri-ciri mereka -bisa dari beberapa aktivitas tapi sejatinya kita tidak mengenal mereka. Beliau adalah Pak Kosim. Entah tulisannya Qosim atau Kosim, aku tak menanyakannya. Aku tahu namanya pun dari gerombolan anak yang memanggil beliau “Pak Qosim, mau bayar”. Ya, beliau adalah pemilik tempat makan tersebut.

Bisa dikatakan sebenarnya aku makan seorang diri. Beberapa pembeli yang sempat singgah akhirnya pulang dengan satu kata yang sama “Yaah” setelah tahu nasi uduk andalan Pak Qosim sudah habis terjual. Akhirnya, aku menikmati suap demi suap lontong sayur bersama keheningan.

Tapi, bukan menjadi kebiasaanku untuk duduk berdiam diri. Selalu ada rasa gatal untuk bisa mengenal dan berinteraksi dengan orang, terutama orang yang belum aku kenal. Alhasil, aku pun membuka pembicaraan. Tak ku ingat dengan pasti awal pembicaraan kami seperti apa. Dimulai dari basa-basi tentang warung makannya, daerah asal Pak Qosim, rencana liburan akhir tahun ini, hingga akhirnya merambah ke pendidikan.

“Dulu saya di Pekalongan cuma sampai kelas 3 SD mas. Terus sudah ikut orang ke Jakarta” katanya

“Ooh, iya pak. Saya juga pernah dengar kalau jaman dulu itu SD aja sudah termasuk hebat pak ya?” tanyaku

“Wah iya mas. Dulu orang nggak kepikiran buat sekolah. ‘Ngapain sekolah? mending bantu orang tua cangkul ke sawah’ gitu kata ayah saya. Lagian, dulu mengurus padi harus benar-benar mas mengurusnya. Kan panen cuma 2 kali setahun. Jadi kadang kalau padi bermasalah, kita bisa sehari makan sehari nggak” Kata Pak Qosim.

Saat itu, aku mulai memikirkan tentang pentingnya dan urgensi pendidikan. Tak salah juga jika orang tuanya mengarahkan Pak Qosim untuk membantunya mencangkul. Kalau padinya tak terurus, bisa-bisa mereka tak makan? Ini urusan bisa merambat ke hidup-mati nih

Aku mencoba menggali kenapa dorongan untuk melanjutkan pendidikan di zaman ini begitu besar jika dibandingkan tahun 1965 -Pak Qosim melewati masa SD nya pada masa-masa Gestapu. Hingga akhirnya, aku menemukan sedikitnya ada dua alasan:

Pertama, karena tidak ada dukungan maupun tuntutan dari orang tua. Orang tua merupakan sosok yang paling berwenang mengatur -juga mengarahkan tentunya kehidupan kita semasa kecil. Pada tahun 1965, tidak semua orang tua mengenyam pendidikan. Tak heran jika tidak semua orang tua menekankan pentingnya pendidikan. Sebagian tidak merasakan dampak/benefit dari pendidikan, karena mereka sendiri tidak merasakan pendidikan. Ditambah, mereka sudah memiliki tuntutan hidup yang memakan masa-masa tersebut. Mereka sudah merasakan secara nyata benefit dari hidup mencangkul. Maka, hilanglah sudah angan-angan untuk ‘mengeksperimenkan’ anaknya dan mencari tahu apa itu pendidikan.

Kedua, adanya perubahan tuntutan kehidupan. Kehidupan dari masa ke masa memiliki tantangan dan kebutuhan yang berbeda, termasuk pendidikan. Di tahun ini (abad 20), pendidikan merupakan tuntutan sosial. Pendidikan sudah menjadi salah satu indikator status sosial masyarakat. Zaman dahulu, orang merasa biasa ketika tidak menamatkan atau mengenyam bangku sekolah. Ada yang lebih ‘nyata buahnya’ daripada belajar di bangku sekolah. Tapi, hal itu tidak berlaku lagi di masa kini. Orang tua akan merasa malu jika tetangganya mengetahui anaknya tidak sekolah. Sang anak pun merasa bangga jika dia punya prestasi di sekolah. Bahkan, tak sedikit yang menjadikan sekolah sebagai indikator kekerenan atau gengsi pribadinya.

Gelar sarjana juga menjadi persyaratan minimum untuk bisa memeroleh pekerjaan. Terlepas dari perbedaan jumlah kesempatan kerja antara abad 19 dan abad 20, pendidikan sudah menjadi salah satu tolak ukur untuk melihat kapasitas seseorang. Orang yang punya keterampilan takkan punya kesempatan untuk menunjukkan kebolehannya pada interviewer jika mereka tidak lolos tahap initial selection (Organizational Behavior Fifteenth edition, 2013)

Pendidikan memang sudah menduduki tempat penting dalam kehidupan sosial di zaman sekarang. Semua orang sepakat tentang pentingnya dan keharusanan anak-anak untuk mengenyam pendidikan -terlepas dari ada yang memutuskan anaknya jadi untuk bersekolah atau tidak.

Akan tetapi, pernah kah kita menanyakan pada diri kita bahwa mungkinkah selama ini kita menyempitkan pandangan kita bahwa pendidikan semata-mata adalah sekolah? Adakah terbesit di pikiran kita bahwa mendidik anak tidak (hanya) melalui sekolah, atau bahkan tanpa sekolah?

Kalau memang pendidikan adalah sekolah -dan hanya sekolah, kira-kira sekolah seperti apa ya yang harus ditempuh oleh anak-anak kita nanti? Di tahun 2014 ini saja, sarjana strata 1 sudah diobral kemana-mana. Maka, gelar seperti apa yang harus anak-anak kita koleksi untuk bisa ‘survive‘ dan ‘diakui’ di tengah masyarakat?

Sebelum kutemukan jawaban itu, kusadari telpon genggamku berbunyi. Pesan singkat temanku mengingatkanku pada laporan akhir semester yang harus kucetak siang ini. Aku pun menutup obrolan pagi itu dengan berterima kasih dan berpamitan dengan Pak Qosim.