Catatan Semester 6

Duhai jiwa, saksikanlah betapa diri ini menyesali dan masih berupaya mensyukuri catatan perjalanan akademis perkuliahan 6 bulan ini..

Duhai jiwa, saksikanlah betapa terkejutnya diri ini menerima buah usaha perkuliahan semester ini..

Maka ingatlah, akan hari ketika kita menerima catatan perjalanan yang lebih panjang.

Maka ingatlah, akan hari ketika banyak manusia terkaget dengan catatan akhir yang ia terima.

Tak ada lagi waktu bernegosiasi, tak ada lagi waktu merevisi..

Angkat dagumu, jangan larut dalam kesedihan. Jangan bersedih di bulan penuh ampunan. Karena kebahagiaan tertinggi bukan disini

Sungguh indah nasihat ust Oemar Mita:

“Karena dunia hanyalah tempat untuk meninggal, bukan tempat untuk tinggal”

🙂

Surabaya, 20 Juni 2016 ~ 15 Ramadan 1437

3 Babak Ramadan

Jika diibaratkan perjalanan, ada 3 kondisi dengan 3 bekal penting yang harus disiapkan oleh seorang anak adam di bulan Ramadan

Di babak awal, seseorang paling membutuhkan semangat dan kemauan‎

Karena kemauan dan semangat yang mendorong setiap jiwa untuk melangkah, merealisasikan perubahan. Bukankah langkah pertama adalah langkah terberat dalam sebuah perjalanan?

Di babak pertengahan, seseorang paling membutuhkan keteguhan

Karena dengan keteguhan, ia akan mampu untuk konsisten melangkah bahkan mempercepat setiap langkahnya. Bukankah kejemuan dan rasa lelah adalah keniscayaan?

Di babak terakhir, seseorang paling membutuhkan pengorbanan

Karena dengan pengorbanan, seseorang baru bisa mendapatkan setiap perkara yang memiliki nilai dan harga. Bukankah suatu hal disebut berharga karena ia memiliki harga? ‎

Dan itu semua hanya akan terwujud dengan pertolongan Allah. Bapaknya ahli tafsir, Imam Atthobari, menafsirkan ayat:

‘Iyyaka na’budu’ adalah tujuan. Hanya kepada-Mu kami menyembah dan ‘iyyaka nasta’in’ adalah sarana/cara/jembatanya. Hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan.

Artinya, kita tidak bisa beribadah kecuali dengan pertolongan Allah

Semoga Allah menanamkan semangat pada diri kita, menjaga keteguhan hati kita, dan menguatkan jiwaraga kita di babak penghabisan di akhir ramadan kelak. Aamiin

Depok, 1 Ramadan 1437 H

Rumah Sekolah

Kamu tahu, apa yang membuatku tertarik dengan konsep homeschooling?

Karena menurutku, rumah adalah tempat paling nyaman untuk melakukan semua aktivitas, termasuk belajar

Karena di rumah, ada sekolah. Karena di rumah, ada madrasah

Itu kalau sekolahnya di rumah. Itu kalau madrasahnya di rumah

Memang si, sekolah gak harus di rumah. saya hanya ingin mengatakan, betapa bahagianya belajar di rumah. Betapa bahagianya jika kita bisa senantiasa sekolah di rumah.

Entah rumah disulap menjadi sekolah,
atau madrasahnya yang berada di rumah

Oh iya, kalau tidak salah, ibu itu madrasah pertama anak kan ya?

Kalau tidak salah..

ibu-sekolah-utama-bagi-anak


gambar dari sini

CTS: Berbakti tanpa Syarat

1. Adab dapat diibaratkan bingkai atau kemasan. Dia bertugas memperindah penyampaian maupun pola interaksi kepada objek interaksi.

Adab sendiri memiliki tingkatan dan prioritas:
Pertama, adab kepada Allah
Kedua, adab kepada Rasulullah
Ketiga, adab kepada Kitabullah (Alquran)
Keempat, adab kepada sesama makhluk.

Prioritas utama dalam menggapai keridoan adalah keridoan Khaliq (pencipta), baru kemudian keridoan makhluk. Adapun keridoan makhluk, dimulai prioritasnya dari orang tua.

Dalam hadis yang terkenal, ketika seorang pemuda meminta ikut berjihad, Rasul shalallahu alaihi wa sallam memerintahkannya untuk berjihad dengan berbakti kepada keduanya. Padahal, bisa saja pemuda tersebut berbakti kepada orang tuanya setelah pulang dari jihad. Namun, tatkala disandingkan antara amalan jihad dan amalan berbakti, Rasul shalallahu alaihi wa sallam dahulukan berbakti. Ini menunjukkan keutamaan berbakti, bahkan diatas amalan yang teramat agung, jihad di jalan Allah.

2. Hasan Al Bashri rahimahullah pernah ditanya seorang laki-laki “Ayahku telah berumur lanjut, dan dia menderita sakit. Setiap hari, ketika ia buang hajat, aku memindahkan kotoran dari tubuhnya dengan tanganku dan aku tidak merasa jijik. Aku juga yang membersihkan seluruh tubuhnya. Apakah itu belum cukup untuk membalas kebaikannya padaku?”

Hasan Al Bashri rahimahullah menjawab “Belum” Laki-laki tersebut kaget dan bertanya “Bagaimana mungkin??”

Beliau rahimahullah mengatakan,

“Dahulu, ayahmu membersihkan kotoranmu dan berharap agar kelak engkau menjadi orang yang mulia di tengah-tengah masyarakat. Sedangkan hari ini, engkau membersihkan kotoran ayahmu dan berharap agar ayahmu segera wafat dan engkau tidak lagi direpotkan olehnya”

3.

Tugas kita adalah berbakti kepada orang tua, bukan menilai keduanya. Kendati keduanya memiliki kekurangan, memiliki aib, bahkan berbuat kezaliman pada diri kita, tugas kita adalah berbakti.

Bahkan, meskipun ayah kandung kita pergi meninggalkan atau ibu kita membuang kita semenjak kita lahir, kita tetap wajib berbakti kepada beliau. Kenapa? Karena peran keduanya dalam menumpahkan sperma dan mengandung kita saja sudah lebih dari cukup untuk menjadikan kita bisa lahir dan hidup hingga hari ini. Kalau yang meninggalkan kita saja tetap Allah perintahkan berbakti, apalagi jika orang tua kita membesarkan kita dengan curahan cinta, harta, waktu, dan segala yang ia miliki?

Ingatlah sabda nabi shalallahu alaihi wa sallam

“Kamu dan hartamu milik ayahmu” [HR Abu Daud dalam Al-Buyu 3530]


Pemateri: DR Khalid Basalamah
Kitab rujukan: Minhajul Muslim
Penulis kitab: Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairy

Masjid Nurullah, Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan
19 April 2016

Ketika Cinta

al-quran-islam-macro-wallpaper-photograpy

Ketika engkau mencintai Alquran

Engkau jadikan ia aset terbesar dalam hidupmu

Ketika engkau mencintai Alquran

Engkau jadikan ia timbangan dalam menakar cost and benefit dalam tiap keputusanmu

Ketika engkau mencintai Alquran

Engkau jadikan ia kacamata dalam memandang setiap kejadian

Ketika engkau mencintai Alquran

Engkau prioritaskan ia ketika mengurutkan skala kepentinganmu

Ia meneguhkanmu dan meyakinkanmu, bahwa seorang haamilat Quran lebih utama daripada seorang pemilik harta/kecantikan/keturunan. Kendati engkau harus bersabar atas luas hartanya, indah parasnya, atau garis keturunannya yang mulia‎

 

Bumi Allah, 19 April 2016


Gambar Mushaf Alquran dari sini

Why So Serious?

Hidup kadang tidak berjalan mudah. Bahkan, seringnya memang tak mudah. Ada yang pernah bilang padaku ‘Jalani saja hidup layaknya alir mengalir. Niscaya hidupmu akan tenang’. Dalam hati aku berkata “Iya, nanti pas masuk selokan ya masuk ke selokan beneran”.

Hidup kadang tidak berjalan mudah. Apalagi anak kuliahan. Apalagi anak FE(B) UI. Apalagi anak FE yang rantau. Apalagi anak FE yang rantau yang lalala ya semuanya aja ngerasa hidup itu emang ga mudah

Ada kalanya, kita terbawa suasana lingkungan sekitar. Adanya tuntutan sosial untuk bisa melakukan ini dan itu, untuk menyelesaikan ini dan itu, ekspektasi terhadap diri sendiri, ambisi pribadi, dan berbagai macam hal yang akhirnya membuat kita menarik nafas dalam-dalam seraya berkata lirih “Ya Allah… bantu aku…”

Suatu hari, ketika aku berada di posisi itu, tiba-tiba aku teringat perkataan ayahku

“Yaudalah Wan. Dibawa santai aja. Gausa terlalu dipikirin. Hidup kok serius amat”

Begitulah tutur ayah ketika dulu aku menceritakan potongan kegiatanku semasa SMA dahulu. Masa muda ayah tak lebih santai dan ringan dari masa mudaku. Tapi, beliau menceritakan kejadian-kejadian keren dalam hidupnya seakan berlalu begitu saja. Kejadian-kejadian yang jika aku berada di posisinya, aku akan berpikir beberapa kali sebelum mengambil keputusan.Kok bisa ayah sesantai itu? 

Akupun mencoba berpikir terbalik. Itu ayah yang terlalu santai, atau akunya yang terlalu ambil pusing. Lantas aku mencoba berpikir lebih dalam.. Kenapa ya harus dipikir dalam-dalam? Impactnya di kehidupanku apa sih? Emang hidup ini mau dibuat seperti apa?

Seketika aku teringat sebuah potongan ayat..

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ

“Dan tidaklah kehidupan dunia kecuali hanyalah permainan dan senda gurau belaka”

Bukankah dunia tempat bermain dan bersenda gurau? Apakah perlu kita sampai pusing, bingung, dan stres memikirkan urusan-urusan?

Pada ayat tersebut, Allah menyampaikan secara blak-blakan kepada kita seperti apa hakikat dunia. Ya, dunia tempat kita belajar, bekerja, dan bersenang-senang setiap hari ini adalah tempat bermain. Jangan tertipu oleh imajinasi serius dan khayalan pikiran kita. Ini adalah tempat bersenda gurau.

Bukankah sepatutnya kita menikmati permainan yang kita mainkan? Bukankah kita sepatutnya menikmati tawa saat menghadiri acara panggung sandiwara? Ayolah, tentu saja iya. Tak usa jatah bermain 60 tahun di dunia ini dibawa terlalu serius, dibawa terlalu pusing. Tak enak nanti hidup ini, sempit rasanya dunia ini.

Di saat yang sama, Allah juga sudah menyampaikan kehidupan yang mana yang disebut kehidupan abadi

وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Apakah kalian tidak mau berpikir?”

Mari kita perhatikan sejenak. Dua potongan ayat di atas sebetulnya berasal dari satu ayat yang sama, Al-An’am ayat 32. Dalam satu ayat, Allah menyampaikan dua hal yang berkebalikan secara bersamaan. Apa hakikat dunia, lalu apa hakikat akhirat. Dua pernyataan itu disambung dengan pertanyaan yang menggugah para pembaca Alquran, para pemikir -karena membaca pasti berpikir: Apakah kalian tidak mau berpikir?

Jika dunia merupakan tempat bermain dan bercanda, akhirat merupakan tempat yang harus kita sikapi secara serius dan sungguh-sungguh. Jangan sampai kita terlena dan justru bermain-main dengan perkara-perkara yang abadi. Jangan sampai kita lalai dalam setiap perkara yang bermuara pada hidup yang sesungguhnya.

Jika kita menjalani gladi bersih atau simulasi hari-H sebuah acara, tentu kita akan serius menjalankannya bukan? Tak ada lagi main-main, aksi-aksi ceroboh, semua langkah dihitung secara matang dan dilaksanakan dengan hati-hati. Jika untuk sebuah acara yang mungkin hanya berlangsung sekali seumur hidup itu kita memersiapkan sedemikian serius, tentu untuk urusan yang berlangsung atau berdampak abadi kita akan mempersiapkan jauh lebih serius dibanding apapun. Maka, untuk setiap perkara yang itu berkaitan dengan akhirat, perlakukanlah dengan lebih serius.

Ya, pertanyaan mendasarnya masih mau dibawa seperti apa hidup ini? Mau dibawa kemana hidup ini? Jika kita percaya bahwa ada kehidupan yang abadi, maka kita akan serius dalam memersiapkan dan berfokus pada semua hal yang berkaitan dengannya. Adapun untuk kehidupan yang sementara, kehidupan yang isinya bermain dan bersandiwara, kita akan memerlakukannya sedemikian rupa: bermain dan bersenda gurau saja.

Jadi, akar pemikirannya adalah bagaimana kita mempersepsikan sebuah perkara. Percayakah kita pada konsep kehidupan abadi dan kehidupan penuh sandiwara? Dengan kehidupan yang mana tindakan kita akan berkaitan, hidup abadi atau hidup sandiwara atau keduanya? Jika kita sudah menentukannya..

Just do it. Relax. Why so serious?

 

Homoromantic, Homoseksual, dan Sang Pencipta

Homoromantik, Homoseksual, dan Sang Pencipta

Oleh Forum Studi Islam (FSI) FEB UI 2015

Pekan lalu, Mahkamah Agung Amerika Serikat mengambil sebuah keputusan yang menghebohkan masyarakat di berbagai penjuru dunia. Kini, pernikahan sesama jenis telah dilegalkan secara hukum di seluruh negara bagian negeri Paman Sam. Berbagai tanggapan dari berbagai kalangan muncul terkait keputusan besar ini. Sebagian ada yang mendukung, namun tak sedikit pula yang menyesali dan menghujat keputusan ini. Keputusan ini meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai fenomena LGBT atau Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Lantas, bagaimana sikap kita terhadap isu ini?

Pada tulisan ini, saya tidak membahas aspek legalitas maupun unsur politis kebijakan pernikahan sesama jenis. Pembahasan tulisan ini lebih berfokus pada homoseksual, homoromantik, dan perspektif Islam terhadap keduanya.

Pada tulisan ini, saya membedakan penggunaan istilah homoromantic dengan homoseksual. Homoromantic bermakna ketertarikan sesama jenis (kelamin) yang bersifat emosional khususnya romantisme, sedangkan homoseksual berarti keterkarikan sesama jenis yang bersifat (aktivitas) seksual[1]. Mengapa dibedakan?

Alasan pertama, karena dalam kesehariannya, masyarakat sering menggunakan kedua hal ini dalam satu konteks. Padahal, kedua hal ini sejatinya dua hal yang berbeda. Kedua, untuk mengurai akar permasalahan dan menjawab pernyataan sekaligus pertanyaan yang kerap muncul di berbagai permbahasan homoseksual, “Sekiranya seseorang tidak melakukan perbuatan seksual sesama jenis, apakah sebatas ketertarikan itu menjadi masalah?”

Dengan membedakan dan memahami kedua konteks ini, diharapkan pembaca dapat memahami lebih dalam problematika yang ada dan bagaimana Islam membahasnya.

Homoromantik dan sebuah perspektif

Banyak perspektif yang dapat digunakan dalam memandang homoromantic. Studi kedokteran, psikologi, sosiologi, ilmu budaya, filsafat, dan berbagai macam bidang studi dapat digunakan dalam mengkaji dan memahami hal ini. Namun, perspektif manakah yang patut digunakan dalam memandang dan menyikapi hal ini?

Jawaban dari pertanyaan di atas sejatinya amat sederhana: Yang paling mengenal dan mengerti tentang sebuah objek. Tentu saja. Kita tak mungkin mengkaji atau menganalisis alasan pelemahan rupiah menggunakan ilmu kedokteran. Tak mungkin pula mendiagnosa dan mengoperasi pasien gagal jantung menggunakan ilmu sastra. Ilmu yang paling mengerti dan mengenal objeknyalah yang digunakan dalam menganalisis, memahami, dan menyikapi sebuah perkara. Lantas, ilmu apa kah yang digunakan? Ilmu Sang Pencipta lah yang kita gunakan.

Mengapa Ilmu Sang Pencipta? Karena pencipta adalah pihak yang paling mengenal, mengerti, dan memahami ciptaannya. Seorang juru masak adalah orang yang paling mengerti apa yang ia masak. Ia tahu apa saja bahan dasarnya, cara memasaknya, proses yang akan terjadi selama pemasakan dan penyajian, hal-hal yang dapat merusak masakannya, cara memerindah sajian masakannya, dan lain sebagainya. Demikianlah seorang pencipta mengenal ciptaannya.

Dan bagi seorang muslim, syahadat yang ia baca pada setiap salatnya mempersaksikan bahwa Allah lah yang menciptakan manusia, dan seluruh makhluk-Nya yang lain. Dan dengan keislamannya, ia yakin bahwa Allah lah yang paling mengenal hamba-Nya. Karena ia beriman pada sifat keesaan Allah dalam hal rububiyah/penciptaan. Ia meyakini bahwa Allah lah satu-satunya khaalik (Pencipta). Segala sesuatu selain pencipta berarti makhluk (ciptaan), termasuk diantaranya manusia.

Maka, seorang muslim meyakini bahwa perspektif yang digunakan dalam memandang, memahami, dan menyikapi hal ini, homoromantic, adalah perspektif Allah yang dituangkan dalam firman-Nya (Alquran) dan dijelaskan utusan-Nya (Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam). Kedua hal ini menjadi sumber agama Islam.

Bagaimana Islam memandang homoromantic?

 Allah telah menetapkan bagi seluruh makhluknya, standar dan batasan-batasan yang menjadi indikator normal seseorang/sebuah makhluk. Lantas, apa indikator normal Allah bagi manusia? Allah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 1

“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan dari jiwa yang satu itu Dia menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Dia memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak”

Ayat ini menceritakan penciptaan Hawa yang berasal dari tulang rusuk Adam. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas tentang penciptaan Hawa tatkala Adam merasa tidak tentram di surga sendiri. Sehingga, Allah ciptakan Hawa untuk menentramkannya.

Dalam ayat yang lain, surat Ali Imron ayat 14, Allah berfirman,

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak”

Para ulama menggunakan ayat ini sebagai dalil pembahasan bahwa mencintai dunia termasuk fitrah manusia. Dalam ayat ini, disebutkan bahwa seseorang (laki-laki) memiliki kecenderungan terhadap wanita.

Rasul shalallahu ‘alahi wa sallam, seorang rasul namun tetap berstatus hamba, merupakan manusia yang Ia utus sebagai teladan seluruh umat manusia. Entah ia laki-laki, perempuan, orang Arab, beragama Islam, beragama selain Islam, terlepas dari itu semua, Ia adalah teladan bagi seluruh manusia. Perhatikanlah apa yang ia shalallahu ‘alaihi wa sallam ceritakan tentang sisi kemanusiaannya,

“Diberi rasa cinta padaku dari dunia yaitu wanita dan wangi-wangian dan dijadikan penyejuk mataku dalam shalat”[2]

Demikianlah Allah menciptakan manusianya. Allah tetapkan standar kewajaran, kelaziman, kenormalan, manusia adalah mencintai lawan jenisnya. Seorang laki-laki sepatutnya mencintai perempuan, dan seorang perempuan mencintai laki-laki. Bila ada manusia yang berada di luar standar tersebut, artinya ia berada pada kondisi tidak wajar, tidak lazim, tidak normal.

Maka, homoromantic dalam perspektif Islam, perspektif Allah, perspektif Sang Pencipta, merupakan sebuah kondisi yang tidak normal bagi seorang manusia.

Mengapa ‘keunikan’ ini dipermasalahkan?

Pertanyaan di atas merupakan poin kritis dari pembahasan di berbagai forum tentang bahaya homoseksual. “Selama seorang tidak melakukan homoseksual, kenapa itu (homoromantic) harus dilarang?”

Pada beberapa pembahasan LGBT, kerap disebut sebuah istilah aseksual. Aseksual merupakan orang yang tidak tertarik atau tidak memiliki ketertarikan terhadap kegiatan seksual[3]. Ada sebagian yang berpendapat bahwa seorang homoromantic bisa jadi aseksual, sehingga muncullah pertanyaan –atau pernyataan seperti di atas.

Memang, pertanyaan di atas mengandung poin kebenaran. Karena yang menjadi permasalahan adalah homoseksualnya –in syaa Allah kami bahas pula homoseksual nanti. Tetapi, perlu diperhatikan dan ditinjau kembali, apakah kondisi yang demikian (homoromantic yang aseksual) menjadi kepastian bahwa homoseksual tidak mungkin terjadi? Apa yang menjamin bahwa ia tidak akan terjerumus dalam perbuatan dosa homoseksual? Padahal Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan

Sesungguhnya Hati dinamai ‘al-Qalb’ karena mudah berbolak-balik, dan sesungguhnya perumpamaan hati itu seperti bulu yang berada di tanah lapang, menempel di batang pohon, yang dibolak-balikkan oleh angin”[4]

dalam sabdanya yang lain

Sungguh, hati anak Adam (manusia) itu sangat (mudah) berbolak-balik daripada bejana apabila ia telah penuh dalam keadaan mendidih.”[5]

Jika ada yang merasakan gejala homoromantic selama sekian tahun dan ia merasa aman dari timbulnya dorongan homoseksual, perlu kiranya kita mengingat pelajaran dari sebuah kisah di zaman bani israil (kisah israilyat) tentang Barshisha, sang ahli ibadah[6].

Singkatnya, Barshisha adalah seorang ahli ibadah yang dititipkan seorang gadis oleh tiga saudaranya untuk sebuah keperluan. Sebagian riwayat mengatakan bahwa ia sudah berada dalam ketaatan ibadahnya selama puluhan tahun. Awalnya, barshisha amat tegas dalam menjaga interaksinya dengan sang gadis. Ia menjaga jarak, pandangan, dan segala bentuk interaksi terhadap sang gadis. Namun, iblis dengan pengalamannya ribuan tahun memiliki tipu daya yang tak kalah maut. Selangkah demi selangkah, keteguhan iman dan sikap Barshisha luluh. Ia melonggarkan batasan dirinya, yang berujung pada sebuah dosa besar, perzinaan, dengan sang gadis. Gadis itu pun hamil. Kemudian, Barshisha pun membunuh anak dan sang gadis. Terakhir, ia menutup hidupnya dengan bersujud kepada setan ketika meminta pertolongan agar diselamatkan dari hukuman mati penguasa setempat.

Demikianlah Barshisha, seorang ahli ibadah yang terperdaya oleh tipu daya iblis. Renungan berikutnya adalah siapakah kita sehingga kita yakin dan merasa aman? Apakah kita ahli ibadah sehingga aman dari tipu dayanya? Barshisha dan pengalamannya telah merespon jawaban kita. Apakah kita ahli ilmu agama yang juga senantiasa jernih pikirannya? Siapa yang menjamin bahwa kita mampu menjaga diri dari tipu daya iblis?

Sekiranya ini merupakan kekhawatiran yang berlebihan, maka perlu kita sadari bahwa kekhawatiran terhadap kebaikan lebih baik daripada merasa aman dari keburukan. Kita lebih patut merasa khawatir terhadap keimanan kita daripada merasa aman dari tipu daya iblis. Mengapa? Karena orang yang merasa khawatir akan senantiasa menjaga diri, sedangkan orang yang merasa aman akan melonggarkan pertahanan dirinya.

Maka selayaknya kita berhati-hati terhadap peringatan nabi dan mengambil pelajaran dari umat-umat sebelum kita. Sudah selayaknya kita berhati-hati terhadap hal-hal yang menggiring kita menuju dosa besar tersebut. Sudah sepatutnya kita tidak meremehkan perkara ini, ketidak-laziman meski sebatas ‘preferensi’.

Bagaimana dengan homoseksual?

Homoseks merupakan sebuah dosa yang tidak diragukan keharamannya. Logika paling sederhana dalam perbuatan ini adalah zina –meski keduanya berbeda dan akan dijelaskan lebih lanjut. Karena, hubungan intim yang dihalalkan dalam Islam hanya ada karena dua sebab: menikahinya atau memilikinya sebagai budak. Allah berfirman dalam surat Al-Mukminun ayat 5 dan 6,

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela”

Sedangkan, Islam tidak mengatur syariat pernikahan sesama jenis. Maka bagaimana bisa perbuatan ini menjadi halal ketika perantara untuk menghalalkannya tidak pernah ada? Bahkan, para ulama mengatakan bahwa homoseks lebih keji dibandingkan berzina. Karena, meskipun zina menyelisihi syariat Allah, zina tidaklah menyelisihi tabiat manusia (fitrah yang ditetapkan Allah sebagaimana disebutkan di atas). Sedangkan homoseks menyelisihi syariat sekaligus tabiat manusia.

Allah menyampaikan melalui lisan Rasul-Nya bahwa Ia subhanahu wa ta’ala melaknat perbuatan ini. Dari ibnu abbas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

“Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth”[7]

Beliau menekankan perkara ini dengan mengatakan sebanyak tiga kali.

Allah menjelaskan apa yang diperbuat oleh kaum nabi Luth dalam firman-Nya surat Alaraf ayat 80 hingga 81:

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya. ‘Mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah (keji) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian? ‘Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampui batas”

Ayat di atas juga menjawab jika ada yang bertanya “Jika tidak bisa menikahinya, apakah boleh melakukannya (hubungan seksual sesama jenis) sekiranya memiliki budak?”. Jawabannya tidak sebagaimana dilarangnya perbuatan Luth. Ayat-ayat di atas juga menjadi dalil bahwa perbuatannya sendiri telah terlarang, terlepas apapun kondisinya.

Para Sahabat dan para muridnya mencela dan menggambarkan betapa buruknya perbuatan ini.

Mujahid berkata : “Orang yang melakukan perbuatan homoseksual meskipun dia mandi dengan setiap tetesan air dari langit dan bumi masih tetap najis”.

Fudhail Ibnu Iyadh berkata : “Andaikan pelaku homoseksual mandi dengan setiap tetesan air langit maka dia akan menjumpai Allah dalam keadaan tidak suci”.

Artinya, air tersebut tidak bisa menghilangkan dosa homoseksual yang sangat besar yang menjauhkan antara dia dengan Rabbnya. Hal ini menunjukkan betapa mengerikannya dosa perbuatan tersebut.

Konsekuensi homoseksual

Konsekuensi dari perbuatan dosa ini amatlah besar dan tidak main-main. Diriwayatkan oleh Ahlus sunan dan disahihkan oleh Ibnu Hibban, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

“Siapa saja di antara kalian mendapati seseorang yang melakukan perbuatan kaum Luth maka bunuhlah pelakunya beserta pasangannya”

Pada saat menjadi Amirul Mukminin (pemimpin umat muslim), Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu pernah menerima sebuah surat dari seorang di daerah Arab yang mengaku melakukan perbuatan Liwath (disetubuhi dari dubur) atau homoseks. Kemudian, Abu Bakar meminta nasihat kepada para shahabat. Maka yang paling keras perkataannya dari mereka ialah Ali bin Abi Thalib yang berkata

“Tidaklah ada satu umat pun dari umat-umat (terdahulu) yang melakukan perbuataan ini, kecuali hanya satu umat (yaitu kaum Luth) dan sungguh kalian telah mengetahui apa yang Allah Subhaanahu wa ta’ala perbuat atas mereka[8], aku berpendapat agar ia dibakar dengan api.”

Lalu, Abu Bakar menulis kepada Khalid bin Walid untuk membakar lelaki itu. Sementara Ibnu Abbas mengatakan,

“Lihat tempat yang paling tinggi di kampung itu. Lalu pelaku homo dileparkan dalam kondisi terjungkir. Kemudian langsung disusul dengan dilempari batu”.

Sebuah nasihat

Allah telah memberikan batasan-batasan kepada makhluk-Nya agar mereka dapat hidup secara bahagia, sehat, aman, dan dengan seluruh kebaikan yang Ia siapkan. Ia tetapkan aturan berupa perintah dan larangan beserta balasan bagi orang-orang yang menjalankan maupun melanggarnya.

Demikianlah Allah telah melarang perbuatan homoseksual. Ia ta’ala juga telah menyebutkan konsekuensi dan hukuman bagi orang-orang yang melanggar ketetapan yang telah ia tetapkan. Hukuman di dunia yang demikian tegas dan azab pedih di akhirat kelak telah menanti orang-orang yang melanggar dosa besar ini.
Sudah sepatutnya kita merasa takut dan khawatir atas hal-hal yang dapat menggiring kita menuju lubang kebinasaan itu. Termasuk diantaranya adalah menyimpan perasaan atau hasrat yang dapat membuncah sewaktu-waktu. Maka, kami menasihatkan kepada seluruh saudara kami untuk tidak memelihara, dan membuang perasaan atau preferensi ‘berbeda’ itu. Bahkan, cobalah untuk mulai mencintai lawan jenis anda sesuai fitrah manusia namun tetap dalam koridor syariat Allah. Cobalah untuk mengikuti ketetapan standar yang telah Ia tetapkan. Cobalah untuk mengikuti dan masuk ke dalam batas normal yang Ia tetapkan bagi hamba-Nya.

Tetaplah tersenyum, duhai saudaraku 🙂

Kolom ini saya khususkan untuk Anda, saudara seimanku yang sedang berjuang dan berusaha mengikuti fitrahnya agar memerbanyak ketaatan pada Allah seperti menikah dan memiliki keturunan yang salih atau salihah.

Sebagian di antara saudara mungkin pernah bertanya “Mengapa Allah menciptakanku dalam kondisi seperti ini?

 Saudaraku, ingatlah firman Allah dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”

Sejatinya, segala kondisi yang Allah ciptakan bagi hambanya adalah untuk menguji keimanan dan kesabaran seorang hamba. Pertanyaan di atas senada dengan pertanyaan “Mengapa Allah menciptakan keburukan, kemiskinan, kejahatan?”. Semua adalah untuk menjadi ujian bagi hambanya.

Ketahuilah, bahwa setiap orang pasti Allah uji. Setiap orang, duhai saudaraku. Tak satupun ada yang tidak diuji.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”[9]

Hanya saja, bentuk ujian setiap orang berbeda. Ada orang yang diuji melalui penyakit/kecacatan fisik, penyakit hati, kemiskinan, akal yang pendek, keluarga yang tidak harmonis, emosi yang tak stabil, karir yang kandas, dan lainnya. Setiap orang diuji, namun dalam bentuk yang berbeda-beda. Dan ketika Allah mengujimu dengan ujian ini, tidak dengan ujian-ujian lain, artinya Allah tahu dirimu mampu bersabar dan melampauinya. Ingatlah pernyataan Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 286

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya”

Dirimu tidak sendiri. Percayalah, banyak orang yang merasakan ujian seperti dirimu. Dan banyak pula yang berjuang dan mencoba mengobati penyakit ini. Ada sebagian yang menyerah dan berkata “Be proud of yourself! Be yourself”. Maka saya katakan “Be proud of your DECISION! Be what you decide to be!”. Allah memang menciptakan kita dalam kondisi yang terbaik untuk kita. Namun, bukan berarti sempurna. Banyak hal yang harus kita perbaiki. Dan memutuskan serta berjuang untuk memerbaiki diri adalah pilihan Anda! Anda ingin menikah dan menyempurnakan setengah dari agama, memiliki anak cucu dan menikmati harmonisnya berkeluarga, menghabiskan usia tua sambil mendengarkan curhatan dan gelak tawa mereka, itu semua pilihan Anda!

Bersemangatlah! Ingatlah janji Allah melalui rasul-Nya, bahwa semua penyakit ada obatnya. Sebagaimana sabdanya shalallahu ‘alaihi wa sallam,

Untuk setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat tersebut sesuai dengan penyakitnya, penyakit tersebut akan sembuh dengan seizin Allah[10].

Hanya perkara waktu, obat tersebut ditemukan ataukah belum. Bersujud cairan, makanan, terapi, atau yang lainnya. Hanya perkara waktu, anda dapat merasakan nikmatnya sehat.

Untukmu, ‘Aktivis fitrah’

Terakhir, ingin saya sampaikan kepada beberapa teman, penulis, atau penggiat yang penuh semangat ‘menyeru pada fitrah’. Saya menyebut mereka ‘Aktivis fitrah’

Untukmu, teman-temanku aktivis fitrah.

Ingatlah bahwa Allah memerintahkan kita untuk bersikap adil kepada siapapun. Janganlah kebencian kita terhadap sebuah dosa membuat kita bersikap tidak adil dan menzalimi pelaku dosa. Jangan pula sebuah dosa membuat kita mengambil hak seseorang diluar ketetapan Allah. Karena sungguh, kezaliman itu akan menjadi kegelapan di hari kiamat kelak. Sebagaimana peringatan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam

Hati-hatilah kalian dari kezaliman karena sesungguhnya kezaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat.” [11]

Saudaraku, tanggung jawab kita adalah menyeru secara bijak dan indah. Adapun menghisab dan menghakimi, itu adalah hak Allah. Nasihati ia secara lembut. Janganlah mencela, melaknat, menghardik, tanpa terlebih dahulu mencari tahu dan memahami secara utuh sebuah permasalahan beserta tinjauan syariatnya. Ingatlah nasihat Rasul shalallahu ‘alaihi wa salam yang disampaikan oleh ummul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha

“Sesungguhnya kelembutan itu, tidaklah terdapat pada sesuatu kecuali ia akan membaguskannya, dan tidaklah ia dihilangkan dari sesuatu kecuali ia akan menjelekkannya.”[12]

Untukmu, teman-temanku ‘aktivis fitrah’.

Berupayalah untuk konsisten dan konsekuen terhadap perkataan dan perbuatanmu. Jika dirimu membenci sebuah dosa, pelakunya, dan orang-orang yang mendukungnya, maka konsistenlah dengan sikapmu dan ketetapan Allah tanpa membeda-bedakan suatu dosa. Jangan Anda tak terima dengan seorang artis yang mendukung homoseksual, tapi membiarkan atau membedakan sikap ketika ada orang lain yang mendukung perbuatan dosa yang lain. Apalagi, jika ada orang lain yang mengatakan dan merayakan perbuatan kufur seperti kelahiran anak Tuhan. Sungguh, kesyirikan lebih patut untuk kita takuti dan benci. Tak sepatutnya kita ikut memeriahkannya sebuah perbuatan yang tidak diampuni Allah.

Kita memang bukan malaikat yang tak memiliki nafsu berbuat dosa. Bukan pula bersikap ‘sok malaikat’ dengan mendukung dan mengapresiasi setiap perbedaan. Tapi bukan berarti harus ikut-ikutan setan dengan mendukung sebuah kemungkaran.

Nasihati ia dengan bijak dan halus. Sekali lagi, karena tugas kita adalah untuk mengingatkan dan menyampaikan, bukan menghakimi.

Semoga Allah memberikan kita kekuatan dan keteguhan untuk senantiasa melakukan perbaikan dan konsisten di atasnya, menjaga kita dari makar setan dan tipu daya iblis, menjaga kita dari pedih dan abadinya siksa neraka, serta memertemukan kita di kebahagiaan yang abadi, surga. Aamiin

Apabila ada kebaikan itu dari Allah, adapun kesalahan murni dari saya dan setan.

Wallahu A’lam bis showab

Oleh: Masandi Rachman Rosyid,

Kepala Departemen Syiar dan Kajian Islam Strategis (SKIS) FSI FEB UI 2015

Referensi:

www.urbandictionary.com diakses Senin, 29 Juni 2015, pukul 21.00 WIB

http://almanhaj.or.id/content/2107/slash/0/gay-lesbian-homoseksual/ diakses Senin, 29 Juni 2015 pukul 21.05 WIB

http://www.konsultasisyariah.com/orientasi-seksual-homo-harus-dihargai-menjawab-suara-jil/ diakses 2 Juli 2015 pukul 06.30 WIB

http://kisahmuslim.com/kisah-nabi-adam-alaihis-salam/ diakses Rabu, 2 Juli 2015 pukul 10.00 WIB

http://rumaysho.com/keluarga/bersetubuh-yang-halal-1788.html diakses Jumat, 3 Juli 2015 pukul 21.06 WIB


Catatan kaki:

[1] http://www.urbandictionary.com

[2] Hadis riwayat. An Nasai no. 3939 ,dinilai hasan shahih oleh Al-Albani

[3] http://www.urbandictionary.com

[4] Hadis riwayat Ahmad, dalam Shahihul Jami’, no. 2365

[5] Hadis riwayat Ahmad, no. 24317

[6] Ibnu Katsir dalam tafsirnya dan al-Bidayah wa Nihayah Juz II

[7] Hadis riwayat Nasa’i no. 7337, dalam As-Sunan Al-Kubra IV/322

[8] Alquran surat Hud ayat 82-83 ”Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke awah (Kami balikkan) dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu. Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim”

[9] Alquran Al Ankabut ayat 2

[10] Hadis riwayat Muslim

[11] Hadis riwayat Muslim

[12] Hadis riwayat Muslim, no. 2578

Begal: Dosa Besar yang lagi Nge-trend

meme Depok Kota Begal

Baru kemarin malam, jarkoman tentang penangkapan dua orang begal Depok mampir ke handphone saya; dan barusan, saya menemukan sebuah berita baru dari sebuah website tentang pembegalan yang terjadi di daerah Limo, Depok, Sabtu (31/1/2015) dini hari kemarin. Kawan, itu hari sabtu kemarin loh. KEMARIN BANGET –kalau kata anak ‘gaul’.

Fenomena pembegalan ini seakan menjadi tren bagi masyarakat Depok. Ada yang berperan sebagai penjahat, ada pula yang –terpaksa berperan sebagai korban. Bagaimana tidak, hanya dalam satu bulan terjadi tiga kali pembegalan di kota berjuluk Kota Belimbing ini. Bahkan, Depok mulai ‘dikenal’ dengan ciri khas baru: Kota Begal. Tapi, bukan itu yang ingin saya bahas disini

Sekali lagi, fenomena pembegalan seakan menjadi sebuah tren. Seakan ‘kegiatan’ ini merupakan perbuatan ringan yang bisa terjadi kapan saja dimana saja tanpa ada konsekuensi –yang berat. Tahukah anda, bahwa dalam Islam, pembegalan (dalam pembahasan ini pembunuhan dengan sengaja) merupakan sebuah dosa besar yang konsekuensinya amat banyak, panjang, dan berdampak besar?

Dosa besar

Memang para ulama berbeda pendapat tentang jumlah dosa besar. Ada yang berpendapat tujuh, tujuh puluh dan tujuh ratus. Ada pula yang mengatakan bahwa dosa besar adalah semua perbuatan yang dilarang dalam syariat semua para nabi dan rasul.

Pendapat yang paling kuat tentang pengertian dosa besar adalah segala perbuatan yang pelakunya diancam dengan api neraka, laknat atau murka Allah di akherat atau mendapatkan hukuman had di dunia, sebagaimana penjelasan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhumaa dalam tafsir Ibnu Jarir

Konsekuensi membegal (membunuh dengan sengaja)

Ketika seseorang membegal/membunuh orang lain dengan sengaja, ada tiga hak yang terlibat disana: hak Allah, hak korban, dan hak wali (keluarga) korban. Sebagaimana penjelasan Imam Ibnu al-Qayyim (Dinukil dari Hasyiyah ar-Raudhul Murbi’, Abdurrahman Qosim, 7/165)

Pertama, hak Allah

“Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya ialah Jahanam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (Surat Annisa ayat 93)

Dalam ayat ini, Allah mengancam keras pelaku pembunuhan sengaja. Allah mengancam hingga 4 ancaman disebutkan sekaligus: Jahannam, menjadikannya kekal didalamnya, kemurkaan-Nya, dan laknat-Nya. Kita berlindung dari azab-Nya.

Jika ada yang memerkarakan “lantas, jika yang dibunuh bukan seorang mu’min bagaimana?”, orang tersebut tetap mendapat ancaman sebagaimana sabda Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam

“Barangsiapa yang membunuh orang kafir yang memiliki perjanjian perlindungan (mu’ahad), maka dia tidak akan mencium wangi surga. Sungguh, wangi surga itu tercium sejauh jarak empat puluh tahun.” (HR. Bukhari 3166)

Hubungan/haknya dengan Allah ini bisa gugur hanya jika sang pelaku secara serius bertaubat kepada Allah, sebagaimana firman-Nya

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (Surat Annisa ayat 48).

Kedua, hak korban

Sengketa ini tentu tidak bisa diselesaikan di dunia. Korban pun belum bisa memaafkan –karena dia sudah meninggal. Sengketa ini akan diselesaikan di hari kiamat. Korban dapat menuntutnya di hari kiamat kelak. Sebagaimana Dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sengketa antar-manusia yang pertama kali diputuskan pada hari kiamat adalah masalah darah.” (HR. Bukhari 6533 dan Muslim 1678)

Dalam hadis lain, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Orang yang membunuh dan korban yang dibunuh akan didatangkan pada hari kiamat dengan menenteng kepala temannya (pembunuh) – dalam riwayat lain: Dia (korban) membawa orang yang membunuh, sementara urat lehernya bercucuran darah – dia mengatakan: ‘Ya Allah, tanya orang ini, mengapa dia membunuh saya’.” (HR. Ibnu Majah 2621 dan dishahihkan al-Albani).

Ketiga, hak wali korban (keluarga yang menjadi ahli waris)

Wali korban memiliki tiga pilihan: qisas (nyawa balas nyawa), diyat (denda), atau memaafkan tanpa bayaran

Wali korban boleh meminta qisas, nyawa balas nyawa, atas dasar firman Allah dalam surat Albaqarah ayat 178:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu untuk melaksanakan qisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh….”

Jika ada salah satu diantara ahli waris yang memaafkan si pembunuh agar tidak diqisas, maka hukuman qisas ini menjadi gugur –mengingat qisas tidak bisa dibagi-bagi. Selanjutnya, si pembunuh wajib menunaikan pilihan kedua, yaitu diyat. (Fikih Sunah, 2/523).

Diyat dalam kasus pembunuhan ada 2:

  1. Diyat Mukhaffafah (diyat ringan). Diyat ini berlaku untuk pembunuhan tidak sengaja atau semi sengaja.
  2. Diyat Mughaladzah (diyat berat). Diyat ini berlaku untuk pembunuhan sengaja, ketika wali korban membebaskan pelaku dari qishas.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang menjadi wali korban pembunuhan, maka ia diberi dua pilihan: memilih diyat atau qisas.” (HR Bukhari 2434 & Muslim 1355).

Besar diyat mughaladzah menurut madzhab Syafiiyah dan salah satu riwayat dalam madzhab Hambali senilai 100 ekor onta, dengan rincian: 30 onta hiqqah (onta betina dengan usia masuk tahun keempat), 30 onta jadza’ah (onta betina dengan usia masuk tahun kelima), dan 40 onta induk yang sudah pernah beranak satu yang sedang hamil. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 21/51).

Pada dasarnya, diyat dibayarkan dalam bentuk onta. Namun jika tidak memungkinkan untuk membayar dengan onta, diyat bisa dibayarkan dengan uang senilai harga onta dengan kriteria di atas.

Pilihan ketiga, wali korban memaafkan tanpa bayaran.

Dan bentuk pemaafan ini Allah sebut sebagai sedekah bagi keluarga yang memaafkan. Alla berfirman,

“Barangsiapa yang melepaskan (hak qisas)-nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya.” (Surat Almaidah ayat 45).

Beda antara qisas dengan diyat ketika digugurkan.

Ketika salah satu ahli waris menggugurkan qisas, maka hukuman qisas menjadi gugur, sekalipun ahli waris yang lain tidak memaafkannya. Karena qisas tidak bisa dibagi.

Berbeda dengan diyat, ketika salah satu ahli waris menggugurkan diyat, kewajiban bayar diyat tidak menjadi gugur seluruhnya, selama masih ada ahli waris lain yang menuntut diyat. Hanya saja, sebagian kewajiban diyat menjadi gugur.

Taubat seorang pembegal, awal perjalanan sang ulama

Kendati demikian, bukan berarti seorang pembegal telah pupus harapannya untuk bisa memeroleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Tak ada yang pernah tau bagaimana Allah membolak-balikkan hati dan menyisipkan hidayah dari sela-sela cerita kehidupan makhluknya. Itu pula lah yang terjadi kepada Fudhail bin Iyadh rahimahullah, seorang ulama besar generasi tabi’in (murid para sahabat Rasul), murid dari sahabat Yahya bin Said Al-Anshori Radhiyallahu ‘anhu.

Imam Adz-Dzahabi memuji beliau: “Al-Fudhail adalah seorang yang zuhud dan termasuk ulama besar di Masjidil Haram Makkah. Dia adalah salah seorang yang tsabit (kokoh) yang disepakati ketsiqahannya (sangat terpercaya) dan keagungannya”

Secara ringkas, Fudhail bin Iyadh dahulu dikenal sebagai seorang perampok dan begal yang ditakuti. Ia tak butuh rekan atau kawanan untuk melakukan aksinya.

Di suatu malam, Fudhail keluar dan berniat hendak merampok. Di perjalanannya itu, ia bertemu dengan sekelompok kafilah pedagang. Sebagian pedagang berkata kepada sebagian yang lain: ““Jangan masuk ke desa itu, karena di depan kita terdapat seorang perampok yang bernama Fudhail.”

Fudhail yang mendengar percakapan itu pun gemetar. Ia tak menyangka bahwa sedemikianlah manusia merasa takut dan terzalimi akibat perbuatannya. Fudhail pun berkata, “Wahai sekalian manusia, aku al-Fudhail. Silahkan kalian lanjutkan perjalanan. Demi Allah, aku akan berusaha untuk tidak bermaksiat kepada Allah selamanya”. Inilah titik perubahan dari hidupnya. Kehidupannya sebagai seorang pembegal berhenti disini

Diriwayatkan dari jalur lainnya, dikatakan bahwa Fudhail menjamu mereka dan mengajak mereka bertamu ke rumahnya. Malam itu, ia berkata “Kalian aman dari al-Fudhail.” Lalu Fudhail pun keluar untuk mencari rumput untuk tunggangan mereka. Saat ia kembali, ia mendengarkan seseorang sedang membaca,

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَانَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلاَيَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ اْلأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (Q.S. Al-Hadiid: 16)

Ia menjawab, ”Benar, demi Allah, sudah tiba waktunya.” Ia pun mulai menangis dan beristighfar. Inilah saat Fudhail bertaubat atas segala dosa yang telah ia ukir sekian lama.

Pembegalan merupakan sebuah dosa yang tak diragukan lagi berkonsekuensi besar di sisi Allah. Bahkan, ada tiga hak yang harus ia penuhi tatkala seorang bermaksiat dengan dosa besar ini. Kendati demikian, pintu taubat tidaklah tertutup bagi orang-orang yang mengharap ampunan Allah. Setiap saat bisa menjadi titik perubahan bahkan awal sebuah kemuliaan sebagaimana yang dialami Fudhail bin Iyadh rahimahullah

Semoga Allah melindungi kita dan keluarga kita dari keburukan kejahatan ini, serta senantiasa menjaga kita dari terjerumusnya kita ke dosa besar ini. Wallahu a’lam bis showab


Artikel rujukan:

http://megapolitan.kompas.com/read/2015/02/01/18153691/Meme.Depok.Kota.Begal.Beredar.Polisi.Minta.Jangan.Sebarkan.Keresahan

http://megapolitan.kompas.com/read/2015/02/01/07304761/Perempuan.Jadi.Korban.Komplotan.Begal.Motor.di.Depok

http://khotbahjumat.com/hukum-membunuh-dengan-sengaja/

http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/jangan-bunuh-saudaramu.html

Pengertian Dosa Besar

http://alsofwah.or.id/cetaktokoh.php?id=158

http://kisahmuslim.com/taubatnya-fudhail-bin-iyadh/

gambar dari sini

Bukan Ramadan Terbaikku

Sebagaimana hidup kita punya akhir… Bulan Ramadan juga ada akhirnya kawan.

Sebagian dari kita mungkin sudah mulai menyesal. Mulai menyadari “Ramadan tahun ini bukan Ramadan terbaikku. Ramadan kali ini, aku begitu malas salat. Aku malas membaca Alquran, malas bangun di tengah malam, masih menikmati ghibah dan dusta”.

Sungguh kawan, bersyukurlah jika kita menyadarinya saat ini. Beberapa malam sebelum ajal Ramadan datang. Kita menyadarinya ketika Allah masih berbaik hati memberi kesempatan pada kita memerbaiki diri di malam ini. Masih di malam yang bisa jadi kita berada di malam lailatul qadr.

Ingatlah nasihat ibnu hajar rahimahullah :

“Wahai para hamba Allah, sesungguhnya Bulan Ramadhan telah bertekad untuk berangkat meninggalkan, dan tidak tersisa darinya kecuali sedikit hari, maka barangsiapa yang dari kalian yang telah berbuat baik di dalamnya hendaklah ia sempurnakan dan (sedangkan) siapa yang menya-nyiakannya maka akhirilah dengan kebaikan dan amalan pada akhirnya, maka gunakanlah darinya apa yang tersisa dari malam-malam dan hari-hari yang pendek, dan tinggalkanlah ia dengan amal shalih yang akan menjadi saksi bagian kalian di hadapan Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui dan lepaslah ketika berpisah dengannya dengan sebaik-baik ucapan salam.” [1]

Saudaraku..

Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang celaka sebagaimana yang tersebut dalam doa yang diucapkan oleh malaikat Jibril ‘alaihissalam dan diamini oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni (oleh Allah Ta’ala )” [2]

Bahkan, seekor kuda yang berpacu di lintasan balap akan mengerahkan seluruh sel dalam tubuhnya dan menguras habis semua energinya tatkala tuannya menandakan padanya “Garis finis sudah dekat, kita telah tiba di penghujung lintasan”. Maka jangan sampai kuda lebih pintar dari kita semua.

Maka, marilah saudaraku, kita akhiri Ramadan ini dengan khusnul khotimah. Kita akhiri Ramadan kali ini dengan happy ending. Mungkin, dua puluh sekian hari di Ramadan tahun ini telah kita sia-siakan. Telah menjadi debu yang tak lahirkan apa-apa kecuali penyesalan. Namun sungguh, kita masih memiliki beberapa waktu. Allah masih izinkan kita beribadah di sisa-sisa waktu Ramadan. Allah masih menerima taubat kita di bulan penuh ampunan ini. Karena Ia masih menerima taubat hamba-Nya hingga saat ruh telah berada di kerongkongan [3]

Wallahu a’lam bis showab


[1] Kitab Lathaif Al Ma’arif, hal: 216.

[2] HR Ahmad (2/254), al-Bukhari dalam “al-Adabul mufrad” (no. 644), Ibnu Hibban (no. 907) dan al-Hakim (4/170), dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Hakim, adz-Dzahabi dan al-Albani.

[3] “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama ruhnya belum sampai ke kerongkongan” Musnad Imam Ahmad (IX/17-18, no. 6160) tahqiq Ahmad Syakir, beliau berkata, “Sanadnya shahih”

Referensi :

http://muslim.or.id/ramadhan/istiqamah-setelah-ramadhan.html

http://almanhaj.or.id/content/765/slash/0/pasal-ketujuh-setelah-matahari-terbit-dari-barat-iman-dan-taubat-tidak-lagi-diterima/

Jadi Mirip Kenshin

Sejak beberapa hari yang lalu, aku sering menggunakan sandal jepit ketika berjalan ke masjid -bahkan hampir selalu. Pada awalnya, aku selalu menggunakan sepatu-sandal yang 4 tahun yang lalu dibelikan orang tuaku. Namun, karena suatu alasan, aku sudah tidak pernah menggunakannya lagi sekarang. Hampir kemana-mana, aku selalu menggunakan sandal jepit putih berkaret hijauku itu. Saat aku pergi ke masjid, membeli galon air, mencari makan, aku selalu menggunakannya. Kecuali saat kuliah tentunya.

Pada saat aku berjalan salat asar tadi, aku terpikir tentang suatu hal. Mungkin, karena bulan lalu aku sempat melihat teaser film Rurouni Kenshin, tiba-tiba hal konyol terlintas di pikiranku : “Wah, keren juga ya pakai sandal jepit. Jadi mirip Kenshin. Pakai sandal jepit sebenarnya gak se’proletar’ yang kayak sebagian orang bilang”

Kenshin merupakan seorang tokoh utama dalam satu anime/animasi jepang berjudul Rurouni Kenshin atau juga dikenal dengan Samurai X. Kalau kamu anak kelahiran tahun ’90-an awal harusnya tahu sih, hehe. Kenshin memiliki ciri khas berupa bekas luka membentuk huruf X di pipi sebelah kirinya. Ia merupakan pribadi yang sangat santun, lembut, dan berwibawa. Perawakannya kurus, berkulit putih, dan gaya berpakaiannya sangat sederhana: Kimono merah, celana gembor putih, dan sandal jepit. Meski demikian, Kenshin adalah samurai yang sangat ditakuti oleh lawan-lawannya karena tangan dingin dan darah dinginnya -kenshin dulunya pembantai, tapi taubat.

Aku masih sibuk dengan pikiran isengku “Tambah asesoris apa nih biar makin mirip? Pedang?” Yakeles –kalau bahasa teman-temanku disini. Tapi, semakin mendekati masjid, aku mulai berpikir lagi “Mau mirip siapa lagi ya? Orang keren cetar membahana gak ketolongan yang pribadinya juga luhur berbudi pekerti seperti kata guru SD…”. Tak butuh sekian detik hingga nama itu melintas di pikiranku, Muhammad Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau kamu belum tahu seperti apa lembutnya perangai dan luhurnya perilaku beliau, saranku segera cari tahu. Bisa dari http://www.yufid.com dan masukkan keyword akhlak rasulullah. Percayalah, kamu akan jatuh cinta.

Beliau merupakan sosok pribadi yang luhur. Kepribadian dan tingkah lakunya berbanding lurus dengan kemuliaannya. Tak heran manusia di zamannya banyak yang terpesona olehnya. Meskipun sebagian menentang keras keyakinannya, tapi dalam hal perilaku tak ada satupun yang mendustai keluhuran budi pekerti Rasulullah sebagaimana pengakuan abu sufyan kepada heraklius tentang akhlak rasulullah. Dan Rasul salallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang sederhana dalam berpakaian. Pakaian yang biasa ia kenakan diantaranya pakaian putih , celana setengah betis , bahkan sesekali tidak mengenakan alas kaki.

Dari Mu’adz bin Anas, Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَرَكَ اللِّبَاسِ تَوَاضُعًا لِلَّهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنْ أَىِّ حُلَلِ الإِيمَانِ شَاءَ يَلْبَسُهَا

Barangsiapa yang meninggalkan pakaian (yang bagus) disebabkan tawadhu’ (merendahkan diri) di hadapan Allah, sedangkan ia sebenarnya mampu, niscaya Allah memanggilnya pada hari kiamat di hadapan segenap makhluk dan ia disuruh memilih jenis pakaian mana saja yang ia kehendaki untuk dikenakan.” (HR. Tirmidzi no. 2481 dan Ahmad 3: 439. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah ketika menerangkan hadits di atas dalam penjelasan kitab Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, beliau berkata:

Jika seseorang berada di tengah-tengah orang yang hidupnya sederhana, maka janganlah ia berpenampilan terlalu mewah. Kalau ia mau mengambil sikap tawadhu’ (rendah diri), maka berpakaianlah seperti pakaian mereka. Biar hati mereka tidak merasa kerdil dan juga bukan tanda sombong. Inilah membuat seseorang mendapatkan pahala yang besar.

Namun jika seseorang berada di sekitar orang yang berpakaian bagus, maka lebih pantas ia memakai pakaian semisal mereka, karena Allah itu jamil (indah) dan menyukai suatu yang indah. Karena kalau seseorang berpakaian sederhana di tengah-tengah orang-orang yang berpakaian bagus, maka ia akan tampil beda. Jadi seseorang dalam berpakaian bisa menyesuaikan kondisi

Menjadi manusia yang utama tidak mengharuskan kita berias ala Cinderella. Gaun istimewa lengkap dengan kalung berlian dan sepatu kacanya. Telah banyak contoh yang ada di bumi ini, baik tertulis dalam sejarah maupun tertangkap langsung oleh mata yaitu orang-orang utama yang bersifat dan bersikap sederhana. Kadang diri ini merasa rendah, mengemis pada pujian manusia. Sehingga berias sedemikian rupa yang bahkan bisa jadi mengundang amarah-Nya. Padahal, yang menjadikan manusia mulia dan utama adalah Dia. Karena penghormatan, rasa segan, dan kecintaan itu letaknya di hati. Dan Dialah Dzat Yang membolak-balikkan hati.

Semoga kita menjadi pribadi yang dimuliakan oleh-Nya tanpa harus menghamba pada pujian manusia. Menjadi pribadi yang sederhana sebagaimana manusia terbaik yang pernah ada, Muhammad Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam.

Wallahu a’lam

Referensi :

http://rumaysho.com/umum/berpakaian-yang-bagus-dan-sederhana-7064