Bidadari Dunia

sky-colors-hd-high-1420324

Kamu mungkin bukan bidadari dunia
Karena Allah ciptakanmu dari tanah dan rusuk yang bengkok

Tapi kamu tanah, yang mampu padamkan api amarah
Dan itulah yang lahirkan dalam sebuah rumah tangga, rasa sakinah
Tapi kamu tulang rusuk, yang mampu lindungi jantung dan hati
Dan itulah yang pastikan raga senantiasa prima

Kamu mungkin bukan bidadari dunia
Karena bidadari sejatinya di surga

Tapi kamu manusia, yang berpijak di tanah dunia
Dan itulah, sosok yang temani tokoh berpanggilan aku, yang juga manusia

Tapi kamu manusia, yang dengan segala kelebihan dan kekurangannya
Dan itulah, yang mengajarkanku rasa syukur dan teguhnya bersabar‎

Kamu mungkin bukan bidadari dunia
Karena kamu adalah manusia biasa, sebagaimana manusia lain di dunia

Kamu mungkin bukan bidadari dunia
Namun aku percaya bahwa engkau adalah wanita dunia

yang kelak menjadi bidadari untukku di surga

Dunia bernama Surabaya,
5 Mei 2016‎


langit dari sini

Duduk(lah) Disini

park_bench

Duduklah disini
Hari hari yang terlalui tanpa melodi
Duduklah disini‎
Malam terbentang mimpi menjulang‎
Duduklah disini
Tatapan yang hilang kini kembali

Kemarilah
Kita hening melawan bising
Kemarilah
Senyuman kan berbalas senyuman‎
Kemarilah‎
Hikmat tenggelam dalam keteduhan

Manusia sibuk bersandiwara‎
Manusia sibuk berselimut suara‎
Sedang kita sibuk mencuri hitungan
Menahan masa duduk bersama‎
Berharap detik akan berjalan lebih lama

Di sisi waktu, tengah bersimpuh
21 Februari 2016


kursi dan daun dari sini

Mim-pi

silhouette_dark_sky

Sering aku tak percaya jika mengingatnya
Aku bertanya, apa itu hanya mimpi?
Aku dan kamu, di sebuah meja makan menghabiskan waktu

Kamu dengan segudang mimpimu. Pendidikan tinggi yang kau cita-citakan, kemanfaatan untuk masyarakat yang ingin kau berikan, dan potongan keluarga yang kau coba rahasiakan -tapi dapat kuartikan

Sudah kuduga, kamu bukan gadis biasa!
Izinkan untuk kesekian kalinya, aku terkagum padamu

Aku malu, menceritakan potongan impianku. Mimpi yang tak setinggi dirimu, dan dedikasi hidup yang tak semulia dirimu. Bukan malu, mungkin yang lebih tepat adalah aku takut. Aku takut menceritakan potongan mimpiku.

Aku takut, aku tak menemukan irisan antara mimpiku dan mimpimu.
Aku takut, tak menemukan pembenaran bahwa mimpi kita berujung satu.
Aku takut.. mimpiku secara egois menuntut didahulukan atas mimpimu

Aku sepenuhnya sadar, siapalah aku berharap ada di dalam daftar ‘100 mimpi’ milikmu.
Apalah aku, yang hanya bisa berdoa untukmu tanpa langsung membantu hidupmu
Atau bahkan -aku selalu berdoa agar itu bukan aku-, yang menjadi orang yang menceraikan dirimu dengan mimpi-mimpimu

Aku bangga dengan dirimu
Aku kagum dengan mimpi besarmu
Aku.. kesekian kali, jatuh padamu

Aku sangat menghargaimu beserta mimpi-mimpimu
Aku hanya tak sanggup berdiri di seberang mimpimu berdiri
Kendati diri ini selalu berharap berada di salah satu bagian dari mimpi hidupmu

Ku coba mengingat-ingat, raut wajahmu kala itu
Senyuman teduh yang membuatku kembali terjatuh
Yang membuatku tersadar, bahwa aku selalu jatuh padamu
Aku selalu mensyukuri senyum tulusmu
Kendati senyum itu kelak harus dibagi, atau bahkan takkan kembali
Karena ia bersama barisan harapan yang kita sebut..

Mimpi


stargazing dari sini

 

Doakan Saja

image

‎Doakan saja, doakan saja
Entah sudah berapa waktu yang kita lewati tanpa saling sapa
Doakan saja, doakan saja
Entah berapa kilometer jarak terbentang diantara kita
Doakan saja, doakan saja
Entah kabarmu disana
Doakan saja, doakan saja
Rindu yang kau coba nafikan, tak berbeda dengan yang kurasakan

Yakinlah yakin
Semua yang diserahkan pada-Nya, takkan sia-sia
Yakinlah yakin
Kesabaran hakiki berbuah kebahagiaan abadi
Yakinlah yakin
Segala perjuangan ada akhirnya

Aku percaya
Jarak diciptakan bukan untuk menjauhkan
Tapi memberi ruang untuk saling berkembang
Karenanya, izinkan aku percaya‎
Kamu dan aku, tak sekadar sedang berpaling diri
Kamu dan aku, sedang berupaya memantaskan diri

Saat ini,‎nikmati saja
Nama kita yang kusebut-sebut, kau sebut-sebut
Di antara dua tangan kita, di antara dua cahaya

Saat ini, doakan saja

Di tengah perjalanan, di ujung kegelisahan‎
11 Januari 2016‎

Aku, Ibu, dan Hari Ibu

academic_calendarlanding

Menurutku, standar ganda itu dibutuhkan pada beberapa kesempatan. Contoh standar ganda itu kita menerapkan (mengharapkan) rendah untuk orang lain, tapi tinggi untuk kita. Salah satu momen menerapkan itu adalah hari ini, 22 Desember, yang sebagian orang menyebutnya hari ibu

Aku paham dengan orang yang berusaha menjadikan hari ini sebagai momentum ia membahagiakan, memuliakan, atau mengekspresikan kecintaan ibunya. Ibumu jelas berhak atas hal itu. Dan ia berhak untuk mendapatkan lebih dari apa pun yang kau lakukan hari ini.

Abu Burdah mengatakan bahwa ia melihat Ibnu Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang yaman itu bersenandung,

إِنِّي لَهَا بَعِيْرُهَا الْمُـذِلَّلُ – إِنْ أُذْعِرْتُ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ

Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh.

Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.

Orang itu lalu bertanya kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab,

“Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.” [Adabul Mufrad no. 11]

Itu adalah Abdullah bin umar bin al-khattab. Itu adalah standarnya untuk ibunya. Ada pula yang menjadikan hari ini sebagai momentumnya. Silahkan, semua punya timbangan masing-masing.

Tapi, aku tak bisa menerapkan standar itu. Aku tak bisa memaksakan diri di hari ini untuk mengetik puisi indah untuk ibu, membuat origami cantik, atau mengirim kue tart bertulis nama ibu pada hari ini, entah aku tak bisa.

Entah, aku merasa malu. Aku merasa malu padamu ibu, merasa tak tahu diri, merasa tak tahu sopan santun, tak bisa berterima kasih, tak bisa menghargai… Aku merasa tak berbakti, kalau sampai aku mengakui, bahwa satu hari ini adalah momen spesial bagiku untuk berbakti padamu.

Jika aku memperlakukanmu spesial hari ini, itu berarti aku mengakui ada hal yang tidak kulakukan di hari lain. Padahal keutamaanmu sebagai pintu surgaku, berlaku selalu hingga kelak datang waktu Itu.

Jika aku menghususkan untuk memberi bakti terbaikku hari ini, itu berarti di hari-hari yang lain aku hanya berbakti dengan baik padamu. Sungguh dirimu berhak mendapat yang terbaik dariku, sepanjang waktu.

Duhai celakanya aku, kalau engkau cemburu di 364 hari yang lain, karena aku tak bisa berbakti sebagaimana aku berbakti hari ini.

Ya, standar ganda itu perlu

Kalau memang hari ini, 22 Desember ini, menjadi hari bagi kita untuk MULAI memuliakan, membahagiakan, dan memberikan bakti TERBAIK pada ibu di SETIAP WAKTU.. Maka mulailah

Karena kita tak tahu, apa 22 Desember di tahun depan masih ada orang yang akan kita ucapkan selamat hari ibu

Karena kita tak tahu, apa sepulang kita dari sekolah, kampus, atau tempat kita kerja sore ini, kita masih bisa melawak dan membuat ibu sebatas tersenyum teduh

 

780 km dari sisi Ibu, 22 Desember 2015

Anak tengahmu, Ibnu Rosyid


kalendar dari sini

Cinta, Jemari, Semu

sunflower-wallpaper-photo-clgt

Ibu bilang, kakek adalah orang yang sangat penyayang, sangat lembut, dan sangat romantis terhadap keluarganya, terutama kepada istrinya

Dulu, kakek bisa seromantis itu,
Mungkin karena semua yang ia katakan bukan berasal dari laman cerita,
bukan pula kutipan buku
Sederhana, itu tulus berasal dari qolbu

Dulu, kakek bisa sesayang itu,
Mungkin karena ia merekam romantikanya bersama nenek bukan dengan lensa kamera
Tapi dari mata bernama hati

Dulu, kakek bisa selembut itu,
Mungkin karena ia menyentuh orang terkasihnya bukan melalui ketukan jari-jari manisnya di layar sentuh
Tapi karena ia menyentuh secara manis dengan kesepuluh jari-jemarinya

Cinta tak tumbuh di layar kaca
Namun cinta hidup di balik kaca
Di dalam sebuah pigora abadi
Yang ia kenali bernama hati

Aku rindu kakek, yang cintanya tak pernah ragu, walau dulu aku belum menyentuh sikumu
Aku rindu ibu, buah cinta kakek dan pelita semangatku
Aku rindu diriku, yang mencerna setiap cerita ibu
Aku rindu diriku, yang merekam dengan hati-hati setiap cuplikan keindahan waktu

dan mungkin dirimu, yang duduk manis di balik pigora itu

Depok, di depan layar kaca
14 Desember 2015

bunga matahari dari sini

Dua Hati Kita

“Mungkin, aku terlalu takut kehilangan orang yang aku sayangi”

Kau benar. Ada kegelapan bernama ketakutan yang menyelimuti, tatkala malam bernama perpisahan itu datang. Ada keresahan yang mencoba menguasai hati, ketika awan keraguan memenuhi pemandangan kehidupan.

Namun, aku percaya bahwa hati kita sejatinya patuh. Patuh di atas ketetapannya, patuh di atas keinginan-Nya. Dialah yang membolak-balikkan hati.

Tatkala aku memutuskan untuk meninggalkanmu, muncul keraguan. Tatkala aku memutuskan untuk mengakhiri perbincangan itu, ada kekhawatiran. Ada kekhawatiran akan berpalingnya hatimu dariku. Pudar dan hilang namaku dari hatimu selama masa-masa itu, masa-masa yang kita sebut ‘kesabaran dua orang yang menanti’. Ada keyakinan, bahwa Ia mampu melepaskan diriku dari seonggok daging kecil bernama hati milikmu.

Namun, aku juga yakin. Aku yakin bahwa kelak Ia juga dapat mengizinkanku untuk masuk kembali dan tinggal menetap di jantung hatimu. Bahwa Ia mampu balikkan lagi hatimu untukku. Bahwa ia mampu kembalikan tulang rusuk yang terpisah dari tulang punggungnya ketika tiba saatnya. Ketika ia membuktikan janjinya bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, dan perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik.

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Rabb-mu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” Surat Huud ayat 123

Karena aku yakin, kepunyaan-Nya lah semua yang di langit dan bumi.  Miliknya lah hati ini: hatiku, hatimu, dua hati kita. Ia tegaskan bahwa Ia lah pemilik segalanya. Lalu Ia beri tahu pada para pencari kehidupan bagaimana cara memeroleh kebutuhannya dari sang pemilik: Sembahlah Dia dan bertawakkallah pada-Nya.

Sembahlah Dia. Karena dengan menyembahnya, keridoan-Nya kan kau terima. Karena dengan keridoan-Nya, semua yang Ia miliki dapat ia berikan untukmu. Hati ini: hatiku, hatimu, dua hati kita, dapat kita memilikinya atas restu-Nya.

Tak perlu tenggelam dalam ketakutan, dalam samudra bernama prasangka. Masa depan memang abu-abu, tapi janji Allah adalah pasti. Pegang janji Allah untuk menghadapi awan kelabu itu. Sembahlah Dia, bertawakkal pada-Nya, dan persiapkan segala hal hingga saat itu tiba. Persiapkan dan tunjukkan bahwa kita siap, layak, dan pantas untuk menerima karunia-Nya.

Perbaiki cinta kita agar senantiasa tulus karena-Nya dan diridhoi-Nya. Karena cinta itulah yang akan memertemukan, menghidupkan, dan mengabadikan hati ini: hatiku, hatimu, dua hati kita.

“Jika memang aku mencintaimu karna Allah, izinkanlah aku mencintaimu dengan cara yang dicintai-Nya” MR

Mueang Pattaya, 21 Juli 2015

Cinta, Kanvas, Pelangi

Jika dunia itu ibarat kanvas, aku katakan cinta adalah salah satu warnanya

Jika duniamu hanya diwarnai oleh cinta, sungguh kelak matamu akan lelah melihat kejemuan

Kau punya banyak warna untuk mengkreasikannya. Kau bahkan punya banyak kuas untuk mewarnainya. Kaupun bahkan bisa memilih bagaimana cara mewarnainya berdasar teknik memolesnya.

Kurasa, tak ada seniman yang mewarnai kanvasnya hanya dengan satu jingga, atau satu merah, atau satu kelabu. Hanya seniman berdarah dewa yang mengerti keindahan satu warna. Hanya mereka yang memilih satu warna. Tapi diriku manusia, yang dengan batasan logika dan cintanya berusaha mengerti -dan menikmati warna dalam dunia.

Kadang biru terasa membebaskan. Kadang merah terasa berani. Kadang putih terasa suci. Kadang kelabu terasa ragu. Entah warna itu yang dengan senang hati bercerita, atau hati kita yang dengan egois menginterpretasi?

Satu warna di satu senja, begitu menggoda: merah

Satu warna di satu fajar, begitu bercahaya; putih

Ada kala, satu warna terasa begitu sempurna. Ada kala, kita menyadari bahwa dunia tengah menanti. Menanti sang pelukis melengkapi baris-baris yang kosong. Ruang-ruang itu menanti, warna lain melengkapi pelangi.

Kanvasmu masih bersih, ayo kita warnai lagi. Kanvasmu seakan menanti, menanti semburat pelangi


gambar dari sini.