Perjalanan Glints Scholarship Awardee 2016

Bismillah.

Assalaamualaikum People! Uda lama banget ya nggak ketemu. Padahal bisa jadi emang belum pernah ketemu. Dan ya, uda lama juga gue ga nulis.

Entah kenapa (dan entah sejak kapan), gue kalau memulai postingan baru dengan prologue “uda lama gue nggak nulis”. Emang faktanya gue uda jarang nulis si. Diantaranya karena gue emang prefer ngobrol langsung dibanding menulis. Keterlambatan gue ngebales chat orang kadang memang sengaja, supaya kita ketemuan dan ngobrol langsung. #lah

anyway

Jadi, pada postingan kali ini, gue mau menceritakan pengalaman gue menjalani proses seleksi Glints Scholarship 2016. Gue menulis ini menanggapi beberapa pertanyaan yang masuk ke akun line, whatsapp, dan direct message instagram gue. Pertanyaan itu semakin banyak dan deras seiring beredarnya foto dan nama gue disini.

Screen Shot 2017-11-24 at 4.11.22 PM

Tercyduk

Sebelum masuk ke cerita, dengan segala kerendahan hati, gue mohon maaf ke temen-temen yang sudah melayangkan pertanyaan baik melalui line, whatsapp, direct message instagram, maupun email namun belum gue bales dan jawab. Banyak pertanyaan yang masuk dan semuanya serupa. Nanya Glints Scholarship dapet apa, prosesnya bagaimana, ikatan/kewajibannya apa, dan tips supaya lolos gimana padahal gue gak ikut menentukan sapa yang bisa lolos.

Kalau temen-temen mau lihat detail dan tips riil dari panitia, bisa langsung cek di web nya disini. Adapun tulisan ini berdasarkan pengalaman seleksi gue tahun lalu yang gue gabisa jamin bakal serupa nggaknya baik tahapan maupun pertimbangan penilaiannya. So here it is:

31 Oktober 2016: Seleksi CV Screening

Pada bagian ini gue sesederhana mengisi form pendaftaran di website glints dan upload CV gue. Untuk website, isi dengan serius dan detail.

Sering gue menerima pertanyaan “Kak, CV yang bagus dan diinginkan Glints seperti apa sih”. Honestly, gue gatau dan gabisa jawab. Ya as simple as gue bukan tim recruitment ataupun panitia seleksi mereka. But one thing for sure, detail dan kelengkapan lo mengisi formulir di website mereka menunjukkan lo serius mengerjakan ini dan menghargai mereka.

Kedua, karena CV itu formatnya macem-macem, formulir data diri di website mereka merupakan format yang sudah terstandarisasi dan paling mudah digunakan ketika mereka mau membandingkan kandidat. Maksud gue, bayangkan lo jadi rekruternya. Lo nemu kandidat A punya sertifikasi X. Eh kandidat B (yang dia padet-padetin CV nya jadi 1 page) nggak mencantumkan sertifikasi. Instead, dia mencantumkan pengalaman volunteer. Jadi gabisa dibandingkan kan? Karena nggak apple to apple. Makanya, sangat memungkinkan mereka akan menggunakan database mereka sendiri untuk membandingkan antar kandidat.

Adapun kalau masih nanya “Mending kreatif lucu atau bold dan serius, mending berhalaman-halaman tapi detail atau satu halaman tapi cuma judul prestasi dan jabatan”. Saran gue make it bold, professional, yet informative. Bold disini maksudnya padat dan ringkas ya. Dulu jaman gue, seleksinya cuma anak UI dan ITB yang ngambil 3 anak dari 600 lebih anak. 600 orang men, time costly banget kan? Apalagi tahun ini se-Indonesia dan kampus manapun. Makanya buat punya lo padat, biar recruiter nggak bete. Adapun poin informatifnya, sebutkan apa yang lo lakuin disana (peran) dan pencapaian lo apa. My CV is not the best for sure, tapi berikut contoh poin yang gue maksud:

Screen Shot 2017-11-24 at 4.48.50 PM

Bisa dijadikan 1 poin

 

Screen Shot 2017-11-24 at 4.49.18 PM

Bisa pula dibuat beberapa poin (Ini bagian Work Experience)

Setelah dikirim, akan ada notifikasi konfirmasi tahun lalu seperti ini:

Screen Shot 2017-11-26 at 8.12.52 PM

First step. Yeay!

 

12 Desember 2016: “Your CV has been… reviewed” (?)

Sempet excited dapet email dari Glints. Gue nggak sabar liat hasilnya. Dan pas gue buka…

 

Screen Shot 2017-11-26 at 8.27.40 PM

Eaaa

Ternyata konfirmasi bahwa CV kita ‘baru’ dibaca. So ya. Proses masih berjalan. Dan itu belum dinyatakan lolos. Wkwk.

Di satu sisi gue merasakan eaa moment. But at the same time, gue menghargai Glints scholarship yang uda ngasi informasi progres aplikasi kita sudah sejauh mana.

But then, belum gue selesai bersyukur dan mengapresiasi Glints, ternyata gue dapet email lagi. Perhatikan jeda waktunya!

Screen Shot 2017-11-26 at 8.25.05 PM

Double ea eaaa

Alhamdulillah, CV gue lolos! Hahaha

Ternyata emang bener ayat-Nya yang berbunyi:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

Jika kalian mau bersyukur, maka Aku sungguh akan menambah nikmat bagi kalian.” (QS. Ibrahim ayat 7)

Tadi di awal bersyukur aja “Oh Alhamdulillah CV gue uda dibaca”. Gue inget banget, itu habis buka laptop, baca email uda direview, ber-tahmid (baca Alhamdulillah), ke kamar mandi, balik lagi, eh lolos. Lol

Berselang beberapa jam, masuk email dari perwakilan Glints:

Screen Shot 2017-11-26 at 8.53.52 PM

Lanjoet!

16 Desember 2016: Formulir rasa esai

Sebetulnya bagian ini sangat sederhana. Diisi di google form doang bahkan. Cuma ada 2 atau 3 pertanyaan kalau nggak salah. Gue nggak ngasih tau pertanyaannya apa, karena gue ngerasa nggak sepatutnya aja. Tapi beberapa saran gue sebagai bekal konten jawaban lo adalah lo mencari dan menggali terlebih dahulu hal-hal berikut:

  • Profil Glints
  • Motivasi dan alasan lo pingin dapet beasiswa tersebut
  • Rencana alokasi benefit beasiswa (sebagai bukti lo serius pingin/butuh)
  • Kenapa lo spesial/unik

By the way, gue selalu menyikapi pertanyaan ringkas sebagai esai. Sehingga, kalau masih ada waktu, gue belain bikin struktur jawaban, cari bahan, nulis, alih bahasa, proofreading, dan direview lagi 24 jam berikutnya.

13 Februari 2017: Surprise! an invitation

Gue cukup kaget, tetiba ada invitation event yang gue ga inget pernah daftar seminar tertentu bulan Februari. Dan pas gue buka..

Screen Shot 2017-11-26 at 9.11.52 PM.png

Jeng jeng

Talk less do more banget ya. Tetiba langsung diundang. Ibarat cowok nggak pernah berkabar ke cewek tetiba ngechat “Ayah kamu Ahad ini di rumah? Aku mau ke rumah pagi jam 9. Kalau kamu mau duduk nemeni ayo”. Ea. Lebay.

20 Februari 2017: Interview!

As stated above, tempat interviewnya adalah kantor Glints sendiri di EV Hive Coworking Space. Gue naik ke lantai dua, dan sudah ada satu cowok yang menunggu gue. Kami langsung cari meja kosong dan ngobrol.

Interview full in english. Bahkan small talk-nya (basa basi) seinget gue juga in english. Cuma Alhamdulillah gue uda cukup terbiasa dan emang dasar orangnya percaya diri serta suka tantangan.

Interview menggali jawaban dari formulir yang diisi pada Desember lalu. Sebetulnya, many things happened. Dan gue ceritakan. Misal, Desember dulu gue selesai magang di rektorat UI. Gue berencana skripsi dan nyari part-time job. However, di Februari, plan hidup gue cukup berubah as I was accepted as teaching assistant di Departemen Manajemen FEB UI. Rencana alokasi beasiswa juga berubah. Intinya, lo harus bisa menjelaskan aja perubahannya kenapa (kalo ada).

Satu bagian yang paling menarik adalah sesi problem solving. Sebenernya ini teknik analisis berpikir yang currently (bener-bener hari ini) sedang dan rutin dilatih di tempat gue bekerja sekarang. Basically, problem solving ini teknik analisis untuk menentukan problem statement, mencari akar dari problem statement tadi, lalu merumuskan solusi. Nah diinterview ini, ada case study dan gue diminta cari solusi. Gue lupa kasusnya apa, cuma gue dikasih 10 menit buat cari solusi. Total interview berlangsung 45-60 menitan. Karena gue banyak nanya-nanya juga.

Di akhir, gue belum mendapat jawaban “Kapan Kak pengumumannya”. Yauda, gue tungguin aja. Gue juga sempet agak angin-anginan, mengingat jeda antar tanggal sangat-sangat lama coba aja perhatikan tanggalnya. 

6 Maret 2017: Di tengah gemuruh guntur, surat itu datang

Sore itu.. *ceilah*

Intinya, pas magrib, beneran pas azan magrib, gue masih di ruang asdos di gedung Departemen Manajemen FEB UI. Mau beberes. Sudah nyopotin semua kabel, mau menutup laptop. Eh ada notif di tab “1 new message“. Gue gak ngeh apaan, karena lagi padat bikin soal kuis, soal UTS, tugas kelompok, ditambah skripsi sendiri, kerja di kantor international office, wah ngaco.

Saat sudah lepas sepatu dan mau ambil wudhu sebelum ke musola fakultas, gue sempetin buka. Dan ternyata..

Screen Shot 2017-11-26 at 9.31.08 PM.png

I was stunned back then, when I read this email

Langsung gue sujud syukur di ruang asdos. Saat itu nggak ada sapa-sapa di ruangan. Ruangannya dingin, lantainya dingin, but who cares. Alhamdulillah, akhirnya bisa dapet beasiswa! Dan inilah beasiswa yang gue harapkan, beasiswa yang gue dapet atas izin dan pertolongan Allah melalui prestasi dan pencapaian diri. Sore itu, semua orang yang berpapasan dengan gue bisa menebak bahwa ada kebahagiaan yang baru saja menghampiri gue.

15 Maret 2017: Thank you, and nice to see you all!

Screen Shot 2017-11-26 at 9.55.04 PM.png

Undangan yang berbahagia

Cukup mendadak, tapi ayolah. Demi proses yang gue bahkan uda lupa-lupa ingat karena cukup lama yet prestigious dan competitive. Gue selesai menemani dosen mengajar di kelas langsung ke kantor.

Di sana, gue bertemu 2 awardee lainnya: Nadia Pangestika (SBM ITB) dan Geraldi Dzakwan (STEI ITB). Mereka jauh-jauh dari Bandung hanya untuk simbolisasi yang artinya foto 5 kali cekrek. Abis itu balik lagi. Wkakak.

4cf756ae-1020-43e1-a688-754b6b0da5cd.jpg

How happy we were

Sedikit tentang dua temen ini, Nadia ini anak SBM yang seru. Dia prestatif di lomba bisnis, yet terlibat aktif di dunia olahraga. Manajer klub bola di ITB kalau nggak salah. Dzakwan lebih gokil lagi. Jenius coding yang juga serius main bola (satu klub bola sama Nadia kalo nggak salah). He deserves to be called as genius as his GPA was 3,98. Gue ulangi, IPK nya 3,98 di jurusan STEI di kampus ITB. Doi cerita pas kita makan malam bareng, proyekannya uda gede-gede dan banyak. lyke…. Apalah hamba ya Rabb.

So kami diinfokan bahwa tidak ada ikatan apapun bagi awardee terhadap Glints. Jadi ini beasiswa memang murni apresiasi dari Glints untuk mahasiswa yang berprestasi dan aktif di kehidupan kampusnya. Akhirnya, dengan penyerahan simbolis tersebut, berakhirlah rangkaian proses seleksi Glints Scholarship 2016.

So that’s all people! I wish you guys very best luck. Kalau ada poin yang lo rasa belum gue cantumkan atau jawab dan masih mau ditanyakan, monggo dicantumkan di bagian comment. I am very pleased to help you all.

Here are my Final tips:

1) Proofreading itu penting banget. Gue dibantu beberapa temen buat baca ulang baik konteks dan spelling to avoid grammatical error in all my applications. Both CV, resume, cover letter, semuanya. Apalagi as we know, Glints memang head quarternya di Singapura. So ya, professional english is a must. Kalau kita belum jago, ya cari temen. Sesimpel itu.

2) Bersabarlah dengan semua prosesnya. I know how it feels to be scholarships hunter. Gue punya mimpi menjalankan banyak agenda dengan uang tersebut as I’ve mentioned. Tapi emang ini butuh waktu. Sebagai orang HR yang kerjanya juga sebagai rekrutmen, gue ngasi tau bahwa baca CV itu ga sekedar “Wah bagus”. Dilihat pola kerja ini kandidat bagaimana, passionnya kemana, pola tempat kerja yang dipilih tiap tahun seperti apa, background check kalau perlu. Belum kalau kandidatnya ratusan bahkan ribuan.

 

Again, mugi-mugi bejo! Banyak-banyak mohon pertolongan Allah. Jauhi dosa dan maksiat yaa. #mantap


FAQ

Q: “Kak, itu dapet apa aja?”

A: Gue kemarin uang sebesar Rp 5 juta. Secara program Glints Scholarship, emang itu aja. Adapun benefit lain yang gue rasain mungkin link ke orang-orang di Glints ya. Gue percaya bahwa jaringan, pertemanan, dan kepercayaan jauh lebih berharga dan bermanfaat untuk diri kita di masa depan.

Q: “Kak itu taun lalu seberapa ketat?”

A: as stated di foto –kalo merhatiin, peserta cuma UI dan ITB, ada 600an lebih. UI cuma ambil 1 (gue), ITB 2 (Nadia dan Dzakwan)

Advertisements

Kebohongan x Keluarga x Kerinduan

Bismillah.

Setelah sekian abad ga nulis, gue memutuskan untuk menulis lagi. No specific reason sih. Cuma karena gue lagi summerschool di Cina, jadi nulis (lha ini namanya specific reason sih Wan). Biar kebermanfaatannya makin luas, jadi amal jariyah. Aamiin. Kalo mau ngobrolin later on juga oke. Just chat or email me.

Untuk 5 hari pertama, gue ga yakin mau nulis kapan. Karena sempet gue nulis di buku catetan, tapi capek. Tangan bener-bener capek. Tenaga abis, beneran buat kegiatan seharian. Apalagi masih puasaan, dan tidur gue cuma 3-4 jam (simply karena disini isya jam 8.20 tapi subuh jam 3.30).

Anyway. Gue akan coba bagi dalam 3 segmen utama tiap cerita. Ala-ala Hunter x Hunter gitu lah.  So, here is today’s story.

Hari ini adalah lebaran bagi Cina bagian Hangzhou (bacanya macem Hangjow), Guangzhou, dan Shanghai. Jadi, sebenernya ada hal lucu disini. Since Cina punya regulasi ketat terhadap kegiatan agama, imam besar Hangzhou uda membooking salat idul fitri hari senin (menggenapkan 30). Tapi, setelah melihat hilal, ternyata 1 syawal di Hangzhou jatuh hari Ahad. Artinya, harusnya salat Ied-nya Ahad. Tapi itu tadi, karena uda booking, yaudah.

Malamnya gue bingung lah. Mau salat bareng jamaah sekota di tanggal 2 syawal atau salat di KJRI (Konsulan Jenderal Republik Indonesia) tanggal 1 syawal tapi di Shanghai. Fyi, waktu tempuh ke Shanghai itu kayak Bandung-Jakarta (aslinya 170an kilo, tapi ada kereta zuper cepat). Infonya turun sore, dan salatnya jam 07.30.

Itu pagi banget men, gue harus berangkat dari sini jam berapa coba?

Tapi pada penghujung malam, ada info dari grup HIMMA (Himpunan Mahasiswa Muslim Hangzhou) bahwa mau ada salat Ied di desa Hangzhou yang imamnya orang arab jam 08.30. Weh, yaini yang gue cari. Suasana desa, bareng muslim setempat, 1 syawal, dan masih keburu. Tjakep!

Gue belum memutuskan mau salat dimana hingga pagi, tanya ke 3 ustadz yang gue ketahui kedalaman ilmu dan kefakihannya: Ust Nur Fajri Romadhon, Ust Ardantyo Sidohutomo, dan Ust Agung Budiardi rahimahumullah. Ketiganya memberi pendapat salatlah hari ini (Jam 7 pagi Ahad). Langsung gue mandi besar, ambil batik agung dan cabs.

Pas uda naik-naik bis (ini cerita lain lagi, gimana serunya nyasar naik bis di negara yang mereka gabisa bahasa inggris dan google di blokir disini. Kebayang ga lo gimana bingungnya gue hidup disini? Ngomong ga nyambung, baca juga gabisa), akhirnya gue janjian sama Mas Fuad (salah satu orang HIMMA) di halte Tousanmen. Kami pun jalan ke tempat yang dimaksud. Saat jalan dari halte, jam uda 08.10. Ya gue takut dong ketinggalan jamaah. Gue kira mereka uda kumpul di lapangan gitu. Ternyata pas sudah sampe, itu adalah apartemen salah satu anak HIMMA. Asli gue bingung dan kaget, membatin “Jadi ini salatnya dibikin sendiri? Oh, okay. gue kira ada pihak resmi yang nyelenggarain”. Well, gapapa si. Karena niat gue emang menjalankan amalan sunnah. Cuma yaa, kaget aja.

lebaran cina_170901_0002

Suasana “pedesaan” di salah satu sudut Hangzhou

Dan yang lebih ngagetin, agak ngeselin, but at the same time pingin bikin ngakak adalah ini bener-bener persiapan di tempat. Like, imam dan khatibnya bahkan belum ada saat itu. C’mon man. Ini sokap imam dan khatibnya. Saat itu, akhirnya gue menawarkan jadi imam aja. Lalu ditanyain “mau jadi khatib sekalian ta mas?”. Well, gue tau kapasitas gue jauh dari pantas. Tapi saat itu, yang lain juga masih santai-santai dan ga ada yang punya persiapan. Walhasil, jadilah gue imam dan khatib salat idul fitri 15 anak HIMMA di kota Hangzhou –”

Satu hal lagi yang paling epic adalah gue baru sadar bahwa diantara anak-anak HIMMA yang jadi jamaah, ada satu anak Nigeria yang nyempil dan ikutan. Gue baru sadar ketika gue uda about to salat, uda ngingetin “Ini nanti dua rakaat” tetiba ada yang nyaut “In english Wan”. Itu baru gue sadar. Dan… Saat itulah, gue nelen ludah. Artinya, saat khutbah nanti, gue harus deliver it in english. Well then, just do it. Setelah salat, gue khutbah dengan materi yang dipersiapkan cuma 5 menit dan bahasa inggris yang langsung translate pas ngomong.

Sejujurnya, gue kaget, kesel, tapi juga mau ngakak si. Bisa juga ya se-surprise ini. I mean, kacau sih. Tiba-tiba lho. Menginisiasi salat idul fitri coba. Ya gokil juga si temen-temen HIMMA. Cuma bagian keselnya adalah kita di grup dibohongin bahwa imamnya orang arab. Well, itu katanya becanda doang ternyata. Tapi tetep aja itu dusta men: Lo mengatakan sesuatu yang ga sesuai fakta, sengaja maupun ga sengaja (cek kitab afaatul lisan atau penyakit lisan karya Syaikh Asysyinqithi). Dan ga pernah dibenarkan dalam Islam berdusta buat becandaan. Bahkan, yang begini disebut khusus loh.

Ditambah lagi, sempet ada jokes di grup WeChat HIMMA (gue masuk di dalamnya) bahwa alamat yang ditulis itu becandaan. Ya gue kaget lah. Gue uda berangkat jauh-jauh, pagi-pagi, nyasar, eh ternyata itu alamat ga beneran. Gimana perasaan lo??

Meski selang 3 menit yang dusta tadi bilang “Eh itu becandaan”. Tetep aja men, gue jadi miss 1 halte yang harusnya gue oper ke bis lain. Gue gajadi oper karena gue lagi bingung apakah jadi ada salat Ied di desa apa gak. Meski gitu, pada akhirnya ternyata jadi. Dan ya begitu kejadiannya as I’ve mentioned di atas.

lebaran cina_170901_0004

“In English Wan”

lebaran cina_170901_0005

“Vin, Ini nanti khotbahnya gimana?”

lebaran cina_170901_0012

“Ayo yang cowo foto dulu, sebelum cewe-cewenya foto”. Wkwk

‘Ala kulli haal.

Akhirnya setelah salat, kami makan bareng di restoran Pakistan. Gue makan kare ikan. Kita ber-15 an, makan rame-rame. Disana ada yang uda nikah dan istrinya di Indonesia, curhat. Ada yang uda S2 tapi belum nikah, curhat. Ada yang mau nikah, curhat. Ya maap, kok nikah mulu? Karena emang begitulah mahasiswa dewasa muda, mulai mikir keluarga dan berkeluarga. Keluarga ya wajarlah, biasanya lebaran bareng keluarga. But now, we are far from them. Jadinya, kita saling curhat deh.

lebaran cina_170901_0006

Keniqmatan HQQ

Abis curhat di meja makan itu sekitar 2 jam, kita lanjut agenda makan (lagi) tapi buat sore harinya. Selesai makan itu zuhur jam 12. Kita mau makan lagi jam 4 di rumah salah satu senior. Masak-masak gitu. Enak lah. Akhirnya kita berangkat. Sampe rumah ya kita masak-masak, cerita-cerita, ngalor-ngidul curhat, intinya bener-bener quality time bareng. Kerasa kayak saudara, beneran. Apa ya, ga cuma saudara seiman, tapi emang temen cerita apa adanya. Lepas. Feeling-nya itu lho. Enak banget.

Disitu jujur gue merasa punya keluarga kecil, keluarga sementara. Saudara sepenanggungan, saudara seiman. Dulu gue sempet punya pola pikir: “Kalau S2 gamau kumpul sama orang Indonesia. Jauh-jauh masa sama orang Indo lagi. Biar improve-lah bahasa inggrisnya at least“. Tapi faktanya, nyaman men bareng saudara itu. Senyaman itu. Dan lo butuh orang-orang yang bisa diajak senyum dan sedih bareng. Senyum karena tingkah mereka, sedih karena saling memahami kesedihan satu sama lain (sama-sama kangen keluarga di rumah, dan lainnya). Setelah hari ini, jujur gue berpikir untuk tetap dekat dengan mereka. Nyaman. Meskipun ada dusta dalam canda yang gue gasuka, tapi itu cuma satu hal yang tertutup oleh seluruh kenyamanan dan kebaikan mereka. I love them as brothers in faith and sisters in tanah rantau. Setelah selesai makan-makan hingga Magrib, kami pulang naik bis yang perjalanannya sekitar 40 menit.

lebaran cina_170901_0007

Sebuah keseruan

lebaran cina_170901_0008

Keniqmatan HQQ (2)

lebaran cina_170901_0011

Yang bikin hangat itu bukan kare ikannya, tapi yang gantian nyobain karenya..

lebaran cina_170901_0010

Keluarga HIMMA 🙂

Bagian terakhir adalah bagian yang sebetulnya gue bingung nyambungin kemana. Bagian yang sebetulnya gue mau jadikan satu halaman sendiri. Bagian yang sebenernya cuma ditujukan khusus untuk orang tertentu..

Ya, ini tentang kamu.

Kamu harus tau, jemariku terhenti menulis kisah ini tatkala aku mengingatmu. Entah, aku hanya bingung ingin menyampaikan apa. Padahal, kamu pernah bilang bahwa kamu menanti aku menulis kembali. Maaf jika itu artinya aku kembali membuatmu menunggu.

Kita tahu, kita tidak bercakap banyak. Tidak banyak waktu untuk itu, dan kita memilih untuk menunda kalimat-kalimat itu. Tapi jujur, kadang aku tak tahan ingin mengucap satu atau dua kalimat untukmu. Kalimat yang sejatinya kita sama-sama tahu. Atau mungkin, aku yang mengkhayal bahwa kamu seorang cenayang sehingga tahu isi pikiranku? Ah sudahlah. Rindu tak pernah mengubah apa-apa.

Rindu itu sebuah niscaya. Namun kekhawatiran tidak hadir pada jiwa yang menitipkan cinta pada Dzat yang menjaga seluruh hamba-Nya.

Fatwa Sakit

Assalaamualaikum, Hello readers !

Ga biasa banget tulisan gue genrenya ala ala nulis surat. Tapi emang sebenernya uda dari lama pingin nyoba. Biar apa? Biar ngalir. Karena gue gamau nulis yang dibuat-buat dulu sajak, rima, atau apanya lah. Capek. Akhirnya malah gak di post dan cerita gue ga tersalurkan.

Daan, uda lama banget ya ga nulis. It’s been a decade I guess. Lebay. Ya, faktanya gue sedang mencoba beragam media untuk berbagi. Boleh cek akun instagram gue di sini, soundcloud gue di sini, YouTube gue di sini, dan masih belum yang lain. Intinya, gue beberapa waktu ini eksperimen tentang media mana yang paling fit buat gue dan teman-teman semua.

screen-shot-2017-02-26-at-2-20-30-pm

You are the best marketer for yourself #promosi

Alasan kedua karna emang sejak semester lalu gue lebih banyak sharing via ketemu langsung, sehingga kalo di kamar uda tingal teparnya. Ini aja kalo ga karna sakit, kayaknya tetep ga nulis karena mau ketemu orang So.. Ya, sakit bisa jadi momen buat merefleksikan diri lho. Buat keluar dari rutinitas.

…. prologue gue panjang juga ya? Haha. Maaf, so let’s get to the topic.

Kenapa judul tulisannya Fatwa Sakit, ini terinspirasi dari temen gue yang ngasi saran berkaitan radang yang sedang menimpa gue –Semoga ini menghapus dosa dan memperingan hari perhitungan kelak, Aamiin.

Dia menjelaskan bahwa radang itu bentuk respon tubuh terhadap virus, bakteri, atau hal jahat yang masuk. Imun naik dan terjadi gejala fisiologis, seperti tenggorokan memerah, batuk, pilek, anything. The truth is, batuk pilek dan termasuk radang itu tadi juga menimbulkan pain kan? Pain ini kemudian kita keluhkan sebagai sakit. Well, ini masalah linguistik bukan ya? Ketika bahasa indonesia tidak punya kata yang bisa menjelaskan dan membedakan antara sick, ill, pain, dan yang lain. Karena intinya sama, sakit dan kita merasakan sakit.

Poinnya bukan (cuma) disana. Dia lanjut menjelaskan bahwa radang bisa ditekan dengan mengkonsumsi obat. Obat akan bekerja dengan cara menurunkan imun yang berlebihan supaya radangnya mereda. Sontak gue kaget dan bertanya: ‘lah kan imun naik karna ada penyakit masuk. Kalo imunnya diturunkan, berarti penyakitnya bakal masuk dong? Malah sakit kan?’. Simpel dia menjawab: ‘Iya emang. Makanya kalo lagi minum itu jaga kesehatan yang bener’.

110748

The so called Obat

Okay, ada poin menarik disini, dan gue merasa telah salah berfatwa bahwa gue sedang sakit. Kalau dibilang sakit, radang sebetulnya sebatas mekanisme pertahanan supaya kita ga sakit. But the fact is, we suffer the pain. Jadi gabisa dibilang bohong juga kalo gue bilang radang itu sakit. Menyakitkan kali ya tepatnya?

Ada satu hal yang gue ambil sebagai hikmah dan pelajaran disini. Bahwa dalam memaknai sebuah fenomena, kita perlu memperkaya wawasan dan melihat dari perspektif lain. Dengan pemahaman yang lebih dalam, kita juga tidak serta merta atau tergesa-gesa memberi judgement. Gue percaya bahwa seorang dokter mengeluarkan banyak pertanyaan dan assessment itu supaya bisa tahu secara spesifik penyakit beserta treatment yang tepat.

Dan sebaliknya, ketika seorang terlalu mudah dalam berkomentar, menilai, menghukumi, itu menunjukkan pendeknya nalarnya dan dangkalnya ilmunya. Seorang mufti (pemberi fatwa) akan mencari lebih banyak dalil sebelum kemudian memberikan fatwanya. Seorang mahasiswa skripsi (That’s me!!!) akan berhati-hati ketika hendak mengatakan ‘A berpengaruh lho terhadap B’, ‘Variabel C punya hubungan positif terhadap variabel D’, ‘Aku ada hubungan lho sama kamu’ #Jaaah

Ngobrol dengan temen gue ini jadi sebuah momen refleksi buat diri gue pribadi. Kadang, kita ringan banget komentar atau menilai sebuah fenomena. Baru baca buku A tentang sebuah isu, komentarnya uda nyambung sana dan sini. Memang berbagi cerita dan opini perlu, ini juga langkah kita memperkaya wawasan dengan feedback dari pendengar. Tapi kita harus tau kapasitas kita. Kita bisa sharing tentang isi buku A, tapi jangan sampai kita sudah merasa besar dan paham semua hal yang berkaitan dengannya.

Kalau nasihat guru bahasa arab gue: jangan sampai baru belajar matan Aljazariyah –semacam kitab dasar ilmu nahwu, tapi uda komentar bahwa Alquran ada salah kaidah nahwu. Lha wong ilmu nahwu itu ada setelah dan merujuk pada Alquran. Eak

So, from now on, kita perlu pelan-pelan sebelum mengambil kesimpulan. Banyakin ngobrol sama orang, supaya kita juga makin luas wawasannya. Jangan sampai asal mengambil kesimpulan, asal memberi fatwa.


Tulisan ini gue dedikasikan buat Managing Executive-nya Envihsa FKM UI, yang harusnya pagi ini kita ada training dinamika kelompok dan dasar fungsi kontrol-evaluasi buat manajemen level atas. Maaf banget guys ya gue tumbang pagi-pagi. Agenda training-nya kita undur dulu.

Dan untuk teman-teman pembaca yang mau sharing, diskusi, atau mau mengadakan training buat tim divisi atau organisasinya tentang keorganisasian baik tingkat individu, kelompok, maupun organisasi, gue akan sangat senang bisa membantu. Just reach me through masandi.riwan@gmail.com

3 Fakta Bekam #EvidenceBased

Bekam merupakan pemain sepak bola tampan yang di tim nasional Inggris bernomor punggung 7.. Oh bukan. Itu Bek(h)am. Salah

Bekam, cupping, Alhijamah, pada dasarnya merupakan pengobatan dengan cara mengambil sebagian darah dari tubuh melalui luka kecil yang dibuat dengan sengaja. Ini definisi berdasarkan pengalaman pribadi ya. Definisi lebih akurat bisa tanya mas-mas ahli bekamnya langsung.

Sebelum ke inti tulisan, aku mau jelasin bagian tanda pagar #EvidenceBased. Ini bermula dari pertanyaan sahabat SMA-ku yang sekarang menjadi ketua BEM di FK Unair. Awalnya, aku hanya bertanya ‘ada yang tau info tempat bekam di Surabaya?’ di sebuah grup Whatsapp. Setelah salah satu penghuni grup menjawab pertanyaanku, patnerku dalam membuat tandu di lomba PMR itu menyambut dengan pertanyaan baru: ‘Emang bekam itu evidence based ya?’

Hmm. Menarik. Katanya masih banyak pengobatan di tengah masyarakat Indonesia tidak evidence based. Seperti luka bakar diberi odol. Hmm.. Bingung juga ya

Daan.. apakah bekam masuk evidence based? Jawabannya bisa dicek di sini

Sebetulnya, tulisan ini sebatas berbagi fakta yang baru aku ketahui setelah kemarin merasakan langsung seru dan nikmatnya berbekam. Jadi, tentang evidence based.. Kapan-kapan saja lah ya dibahasnya.

Okay! 3 Fakta yang aku dapati setelah berbekam adalah sebagai berikut:

#1 Bekam ternyata hanya sebentar

Ketika aku datang, aku sangat ingat saat itu jam menunjukkan pukul 14.07 WIB. Aku menengok ke jam analog sesaat sebelum berbaring di kasur. Rangkaian treatment yang diberikan secara urut adalah badan diolesi minyak, dipijat, lalu beberapa titik (saat itu 8 di punggung dan 4 di kaki) di-cupping. Cupping pertama ini dilakukan sebelum punggung kita ditusuk oleh jarum. Diantara efeknya adalah megeluarkan angin (masuk angin) dan.. entah. Supaya mati rasa? Entah

Lalu bagian yang sudah di-cupping selama 1 hingga 2 menit itu mulai ditusuk-tusuk dengan jarum steril. Ditusuknya berkali-kali lho. Tapi di tempat yang berbeda pada satu area cupping. Rasanya lucu. Ada geli, sakit dikit, ya begitulah. Hanya berselang sekian detik setelah ditusuk, area tersebut langsung di-cupping lagi. Sekarang, darah keluar.

Setelah 3 menit, cupping dilepas dan punggung dibersihkan dengan tisu. Setelah dengan tisu, masih dibersihkan ulang dengan alkohol -oh ya, sebelum ditusuk tadi area bekam juga dibersihkan dengan alkohol. Setelah merasa cukup enak, aku baru bangun dari tempat tidur -oh ya, momen-momen di bekam sungguh enak buat tidur. Sebagaimana nikmatnya tidur saat punggung kita dipijat. Haha

Setelah melalui seluruh rangkaian tersebut, ternyata.. Jam analog menunjukkan waktu masih 14.30 WIB!! Cepat bukan? Awalnya aku mengira akan memakan waktu 60 hingga 90 menit sehingga aku bisa menamatkan beberapa bab buku bacaan atau tidur siang. Tapi ternyata, tidak sampai 30 menit.

Mungkin, ini juga dipengaruhi jumlah titik yang dibekam ya? Jadi, titik bekam-ku kemarin 8 di punggung dan 4 di kaki. But the point is.. Bekam nggak terlalu lama. Cocok lah kalau kita bosen nunggu kakak atau adik belanja di supermarket. Yang penting bukan kakak-adik zone aja. #lah

#2 Darahnya kental

Awalnya, aku mengira saat cupping bekam dilepas, darah akan tumpah ke sekujur tubuh. Punggung akan  bersimbah darah. Lebay ya? Tapi awalnya emang mikir begitu. Ya gimana, ada 8 titik bekam, tiap titik ditusuk berkali-kali, lalu darahnya ditarik dengan sengaja. Wew

Ternyata, anggapan ini salah. Karena, darah pada bekam pertama secara relatif belum keluar banyak. Meskipun keluar, darah ini ternyata cepat membeku (dalam hal ini mengental). Kata mas-mas bekamnya, darah kotor lebih cepat menggumpal -gatau juga ini pernyataan ilmiah apa nggak.

Intinya, darah tidak mengucur sebagaimana air mancur. Darahnya menempel di dinding cupping bekam. Sehingga, no need to worry badan akan bersimbah darah.

#3 Awas masuk angin setelah bekam

Sebelum pulang, aku tanya ke mas-mas bekam ‘mas, bekam ada pantangannya ga? Sesudah atau sebelum gitu’.

Katanya ‘Jangan mandi mas abis bekam. 3 sampe 4 jam ini jangan mandi dulu’.

Aku langsung nyeletuk ‘lah kenapa?’. Si Mas menjawab ‘ya kan pori-porinya habis terbuka mas. Kalau mandi nanti masuk angin’. ‘Oh iya’ jawabku dalam hati.

Ternyata, apa yang dikatakan mas-mas bekam benar. Ketika adikku menyetir pulang, kami berdua yang sama-sama bekam menyadari kebenaran perkataan si Mas Bekam. Kami mules, bersendawa, dan smoke bomb tak terelakkan. Beruntung, di mobil hanya kami berdua. Tidak ada rasa sungkan, yang ada hanya gelak tawa. Haha

Bahkan, ketika sampai rumah, aku m3ncret. Dan memang benar, dalam rentang 3 jam setelah bekam, aku gampang mules masuk angin. Jadi, pilihlah waktu bekam secara bijak. Karena rentang waktu itu kita tidak bisa langsung mandi

Sebetulnya, ada satu bagian yang lebih epic dari cerita bekam Sabtu kemarin..

Orang bilang bahwa bekam membuat badan kita terasa enteng. Namun, itu dengan asumsi kita tidak mengonsumsi hal-hal seperti di bawah ini

2014-05-28-20-00-12

fat: unknown gram

Yoi. Setelah bekam, ternyata adik malah ngajak makan kesini. Haha..

Bekam mungkin membuat badanmu terasa enteng. Tapi setelah makan itu tadi, kita tahu badan hanya ‘terasa’ enteng. Nyatanya… Haha. Tau sendiri lah ya


gambar makan enak dari sini

Ketika Cinta

al-quran-islam-macro-wallpaper-photograpy

Ketika engkau mencintai Alquran

Engkau jadikan ia aset terbesar dalam hidupmu

Ketika engkau mencintai Alquran

Engkau jadikan ia timbangan dalam menakar cost and benefit dalam tiap keputusanmu

Ketika engkau mencintai Alquran

Engkau jadikan ia kacamata dalam memandang setiap kejadian

Ketika engkau mencintai Alquran

Engkau prioritaskan ia ketika mengurutkan skala kepentinganmu

Ia meneguhkanmu dan meyakinkanmu, bahwa seorang haamilat Quran lebih utama daripada seorang pemilik harta/kecantikan/keturunan. Kendati engkau harus bersabar atas luas hartanya, indah parasnya, atau garis keturunannya yang mulia‎

 

Bumi Allah, 19 April 2016


Gambar Mushaf Alquran dari sini

Why So Serious?

Hidup kadang tidak berjalan mudah. Bahkan, seringnya memang tak mudah. Ada yang pernah bilang padaku ‘Jalani saja hidup layaknya alir mengalir. Niscaya hidupmu akan tenang’. Dalam hati aku berkata “Iya, nanti pas masuk selokan ya masuk ke selokan beneran”.

Hidup kadang tidak berjalan mudah. Apalagi anak kuliahan. Apalagi anak FE(B) UI. Apalagi anak FE yang rantau. Apalagi anak FE yang rantau yang lalala ya semuanya aja ngerasa hidup itu emang ga mudah

Ada kalanya, kita terbawa suasana lingkungan sekitar. Adanya tuntutan sosial untuk bisa melakukan ini dan itu, untuk menyelesaikan ini dan itu, ekspektasi terhadap diri sendiri, ambisi pribadi, dan berbagai macam hal yang akhirnya membuat kita menarik nafas dalam-dalam seraya berkata lirih “Ya Allah… bantu aku…”

Suatu hari, ketika aku berada di posisi itu, tiba-tiba aku teringat perkataan ayahku

“Yaudalah Wan. Dibawa santai aja. Gausa terlalu dipikirin. Hidup kok serius amat”

Begitulah tutur ayah ketika dulu aku menceritakan potongan kegiatanku semasa SMA dahulu. Masa muda ayah tak lebih santai dan ringan dari masa mudaku. Tapi, beliau menceritakan kejadian-kejadian keren dalam hidupnya seakan berlalu begitu saja. Kejadian-kejadian yang jika aku berada di posisinya, aku akan berpikir beberapa kali sebelum mengambil keputusan.Kok bisa ayah sesantai itu? 

Akupun mencoba berpikir terbalik. Itu ayah yang terlalu santai, atau akunya yang terlalu ambil pusing. Lantas aku mencoba berpikir lebih dalam.. Kenapa ya harus dipikir dalam-dalam? Impactnya di kehidupanku apa sih? Emang hidup ini mau dibuat seperti apa?

Seketika aku teringat sebuah potongan ayat..

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ

“Dan tidaklah kehidupan dunia kecuali hanyalah permainan dan senda gurau belaka”

Bukankah dunia tempat bermain dan bersenda gurau? Apakah perlu kita sampai pusing, bingung, dan stres memikirkan urusan-urusan?

Pada ayat tersebut, Allah menyampaikan secara blak-blakan kepada kita seperti apa hakikat dunia. Ya, dunia tempat kita belajar, bekerja, dan bersenang-senang setiap hari ini adalah tempat bermain. Jangan tertipu oleh imajinasi serius dan khayalan pikiran kita. Ini adalah tempat bersenda gurau.

Bukankah sepatutnya kita menikmati permainan yang kita mainkan? Bukankah kita sepatutnya menikmati tawa saat menghadiri acara panggung sandiwara? Ayolah, tentu saja iya. Tak usa jatah bermain 60 tahun di dunia ini dibawa terlalu serius, dibawa terlalu pusing. Tak enak nanti hidup ini, sempit rasanya dunia ini.

Di saat yang sama, Allah juga sudah menyampaikan kehidupan yang mana yang disebut kehidupan abadi

وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Apakah kalian tidak mau berpikir?”

Mari kita perhatikan sejenak. Dua potongan ayat di atas sebetulnya berasal dari satu ayat yang sama, Al-An’am ayat 32. Dalam satu ayat, Allah menyampaikan dua hal yang berkebalikan secara bersamaan. Apa hakikat dunia, lalu apa hakikat akhirat. Dua pernyataan itu disambung dengan pertanyaan yang menggugah para pembaca Alquran, para pemikir -karena membaca pasti berpikir: Apakah kalian tidak mau berpikir?

Jika dunia merupakan tempat bermain dan bercanda, akhirat merupakan tempat yang harus kita sikapi secara serius dan sungguh-sungguh. Jangan sampai kita terlena dan justru bermain-main dengan perkara-perkara yang abadi. Jangan sampai kita lalai dalam setiap perkara yang bermuara pada hidup yang sesungguhnya.

Jika kita menjalani gladi bersih atau simulasi hari-H sebuah acara, tentu kita akan serius menjalankannya bukan? Tak ada lagi main-main, aksi-aksi ceroboh, semua langkah dihitung secara matang dan dilaksanakan dengan hati-hati. Jika untuk sebuah acara yang mungkin hanya berlangsung sekali seumur hidup itu kita memersiapkan sedemikian serius, tentu untuk urusan yang berlangsung atau berdampak abadi kita akan mempersiapkan jauh lebih serius dibanding apapun. Maka, untuk setiap perkara yang itu berkaitan dengan akhirat, perlakukanlah dengan lebih serius.

Ya, pertanyaan mendasarnya masih mau dibawa seperti apa hidup ini? Mau dibawa kemana hidup ini? Jika kita percaya bahwa ada kehidupan yang abadi, maka kita akan serius dalam memersiapkan dan berfokus pada semua hal yang berkaitan dengannya. Adapun untuk kehidupan yang sementara, kehidupan yang isinya bermain dan bersandiwara, kita akan memerlakukannya sedemikian rupa: bermain dan bersenda gurau saja.

Jadi, akar pemikirannya adalah bagaimana kita mempersepsikan sebuah perkara. Percayakah kita pada konsep kehidupan abadi dan kehidupan penuh sandiwara? Dengan kehidupan yang mana tindakan kita akan berkaitan, hidup abadi atau hidup sandiwara atau keduanya? Jika kita sudah menentukannya..

Just do it. Relax. Why so serious?

 

Mafa-Mifa

116663

Roti bakar resep rumah

Awalnya, aku mengira bahwa jawabannya adalah ‘nasi goreng’. Dulu, ketika dia masih SD, sarapannya selalu nasi goreng. Tadi pagi ketika aku bertemu dengannya di kamar, di meja komputernya ada piring berminyak bekas nasi goreng. “Sudah tentu jawabannya nasi goreng”, batinku.

Tapi, siang ini sepulang kami dari salat zuhur di masjid, aku iseng menanyakan pertanyaan itu ke adikku

“Dim, makanan favoritmu apa?”

“Hmm.. Roti, Mie” jawabnya sambil memegang kemudi mobil

“Ooh.. roti yang kayak gimana? Mie sebagai bahan baku atau mie yang dimasak?” Aku melanjutkan pertanyaanku

Aku sendiri tak tahu apakah pertanyaan lanjutanku itu bentuk menyembunyikan ekspresi kagetku atau memang aku penasaran dengan detail makanan favorit adikku. Tapi di saat yang sama, aku berkata pada diriku:

“15 tahun dia jadi adikku, dan aku salah menebak makanan favoritnya. Wow”

Memang sih, 3 tahun terakhir kami sangat jarang bertemu. 3 tahun terakhir, dua per tiga hidupku kuhabiskan di Depok. Kami hanya bertemu jika aku yang ke Surabaya karena ada hal insidental, atau libur semester yang jarang bisa betul-betul kunikmati karena selalu ada agenda sampingan yang kukerjakan di Kota Pahlawan ini. Dan dalam 3 tahun itu, tentu sudah banyak hal yang terjadi. Banyak pula perubahan yang terjadi pada diriku dan adikku.

Pertanyaan tadi sebetulnya juga betul-betul diluar dugaanku. Aku sering berbincang dengan adikku tentang berbagai macam hal. Sering, aku menanyakan tentang kabarnya hari ini. Shalatnya bagaimana, baca Alqurannya, prestasi sekolahnya, pertemanannya, kegiatan atau hobinya. Tapi pertanyaan yang ini menanyakan sesuatu yang sifatnya sangat.. ‘apa banget?’ bagi sebagian orang, mungkin. Pertanyaan itu juga hanya sekilas terlintas di benakku

Well, makanan favorit atau mafa itu istilah yang sering kita dengar ketika kita SD (mungkin SD di Surabaya saja kali ya. Atau SD kamu juga?). Kita menulis istilah ini di kertas binder yang berisi biodata teman-teman sekelas. Kertas yang jumlah barisnya mencapai 20 lebih, kesemuanya diisi dengan kolom keterangan identitas. Mulai dari nama, TTL (tempat tanggal lahir), alamat, cita-cita, sampai hal yang sangat personal dan dulu terkesan gak penting semacam mafa-mifa (makanan favorit minuman favorit), artis favorit, kartun favorit, olahraga favorit, ustad/zah favorit -dulu aku SD di SD Islam yang berbudaya memanggil guru dengan ustad/ustadzah. Dan diakhiri dengan tanda tangan kita. Wah, dulu bangga sekali kalau kelas 3 SD sudah punya atau bisa bikin tanda tangan. Nggak semua anak lho kelas 3 sudah bisa nulis tanda tangan. Hehe, norak banget ya?

Tapi, sadar atau tidak, pertanyaan-pertanyaan itu sebetulnya bisa membantu kita mengukur seberapa dekat kita dengan seseorang. Berapa banyak hal personal yang kita ketahui dari seseorang, entah dari mengamati, berdialog dengannya, mendengar tentang dirinya, atau yang lain? Coba bayangkan engkau sedang membicarakan orang terdekatmu, entah keluarga atau sahabatmu, lalu jawab pertanyaan di bawah ini:

Apa makanan dan minuman favoritnya?

Apa genre buku atau film favoritnya?

Apa yang dilakukannya ketika waktu liburan datang?

Mana tempat di bumi ini yang paling ingin ia kunjungi?

Pelajaran apa yang paling disukainya semasa sekolah?

Ya, kita mungkin sering menghabiskan waktu bersama seseorang. Tapi itu tidak memastikan bahwa kita mengenal dirinya dengan baik. Mengenal dan menikmati/menghabiskan waktu memang dua hal yang berbeda. Bisa jadi, selama ini kita menghabiskan waktu bersama seseorang atau melakukan sesuatu hal tapi hal tersebut tak membuat kita sedikitpun mengenalnya.

Ada si yang kita ketahui tentangnya dari kegiatan menghabiskan waktu bersama tersebut, tapi kalau mau mengenal ya harus serius dalam upaya mengenalinya. Mengobrol, mengamati, atau menghabiskan waktu memang harus difokuskan untuk mengenal. Tanpa niat dan tujuan fokus mengenalinya, kegiatan kita hanya akan menghabiskan waktu dengan sedikit informasi yang didapat -bahkan tanpa sedikitpun membuatmu mengenalnya.

Dan sebaliknya, bisa jadi kita tidak membutuhkan waktu banyak untuk mengenalinya. Sepekan bersama keluarga di rumah dengan quality time yang baik bisa sangat membantu kita mengenali apa kabar mereka hari ini?

Bisa jadi, selama ini kita tertawa bersama dengannya, tapi hal itu tak membuat kita mengenal dirinya seutuhnya.

Kalau dirimu ingin mengenal seseorang, cobalah serius dan fokus untuk ‘berkenalan’ dengannya. Luangkan waktumu, suaramu, ragamu, dan yang terpenting.. Pikiranmu, untuk betul-betul mencari tahu tentangnya dan fokus padanya. Tanyakan hal-hal yang ‘tak penting’ yang mungkin dengannya, kau bisa memahami gerak-gerik tubuhnya. Yang dengannya, kau bisa memahami makna tutur katanya. Yang dengannya, kau bisa memahami alasan cara berpakaiannya.  Yang dengannya.. kau bisa memahami, pesan di balik senyum yang disembunyikannya

Karena mengenal dan menghabiskan waktu itu dua hal yang berbeda. Jangan karena sering menghabiskan waktu bersama, kau mencukupkan diri untuk mengenal dirinya. Jangan karena 19 kali sujud setiap harinya, dirimu merasa telah dekat dan mengenal diri-Nya. Pelajari asma wa sifaat (nama-nama dan sifat-sifat)-Nya, cobalah cari penjelasan tentang-Nya melalui firman-Nya.

Kadang kita tak bisa menghargai, menikmati, dan mensyukuri suatu hal karena kita tak mengenal (mengerti) nilainya.

Cinta, Jemari, Semu

sunflower-wallpaper-photo-clgt

Ibu bilang, kakek adalah orang yang sangat penyayang, sangat lembut, dan sangat romantis terhadap keluarganya, terutama kepada istrinya

Dulu, kakek bisa seromantis itu,
Mungkin karena semua yang ia katakan bukan berasal dari laman cerita,
bukan pula kutipan buku
Sederhana, itu tulus berasal dari qolbu

Dulu, kakek bisa sesayang itu,
Mungkin karena ia merekam romantikanya bersama nenek bukan dengan lensa kamera
Tapi dari mata bernama hati

Dulu, kakek bisa selembut itu,
Mungkin karena ia menyentuh orang terkasihnya bukan melalui ketukan jari-jari manisnya di layar sentuh
Tapi karena ia menyentuh secara manis dengan kesepuluh jari-jemarinya

Cinta tak tumbuh di layar kaca
Namun cinta hidup di balik kaca
Di dalam sebuah pigora abadi
Yang ia kenali bernama hati

Aku rindu kakek, yang cintanya tak pernah ragu, walau dulu aku belum menyentuh sikumu
Aku rindu ibu, buah cinta kakek dan pelita semangatku
Aku rindu diriku, yang mencerna setiap cerita ibu
Aku rindu diriku, yang merekam dengan hati-hati setiap cuplikan keindahan waktu

dan mungkin dirimu, yang duduk manis di balik pigora itu

Depok, di depan layar kaca
14 Desember 2015

bunga matahari dari sini

Kalau Sudah Bilang: “Aku Nggak Bisa”

Kalau diri sendiri uda bilang “Aku nggak bisa matkul ini” ya nggak bakal bisa memahami lah, kayak kata Albert Bandura (1977) pada Social Learning Theory. Bandura bilang, salah satu faktor yang memengaruhi proses learning adalah self-efficacy. Self efficacy itu tingkat keyakian seseorang tentang kemampuannya untuk melakukan hal-hal yang dibutuhkan guna mencapai titik performance tertentu.

Kalau menurutku, yang namanya manusia itu selalu ingin berada di posisi yang benar. Makanya, tubuh kita bakal menolak untuk memahami materi karena ingin membenarkan pernyataan yang tadi diucapkan: “Aku ini gabisa”

Coba pernyataan di otaknya bilang “Saya bisa kok”. Saraf otak bakal effort untuk mengolah dan memahami materi, supaya pernyataan “Saya bisa” menjadi kenyataan.

Makanya..

Harus punya keyakinan “Saya bisa”. Atau lebih tepatnya “Dengan izin Allah, saya bisa”. Karena Dia maha mengetahui yang tidak kita ketahui. Termasuk apakah sebetulnya kita bisa memahami materi UTS ini atau nggak

Masandi Riwan,

Orang yang berusaha memahami..

 

..memahami materi ujian. Memahami kamu abis UTS aja ya


gambar dari sini

Tentang Belajar UTS

Menurutku, the best way to learn adalah memahami esensi dan implementasi ilmu tersebut, juga mengerti bagaimana ia bisa bermanfaat bagi hidup kita.

Diagram Expectancy Theory oleh Victor Vroom (1964)

Kalau kata Vroom (1964) dalam Expectancy Theory, kita bakal termotivasi kalau kita percaya bahwa effort kita (nowadays case: belajar buat UTS) berpengaruh terhadap performance kita [expectance]. Juga ketika kita percaya bahwa performance kita berpengaruh terhadap outcome akhirnya [instrumentality]. Terakhir… ketika kita menganggap bahwa outcome tersebut bermakna bagi kita [valence]. Jadi..

Yakin gak usaha ini berdampak ke performance?
Bahwa belajar sekarang ini berdampak ke performance?

Yakin gak performance nantinya berdampak ke outcome/hasil performance tersebut?
Yakin gak bahwa outcome dari performance kita bermakna bagi kita?

Hmm. Ada satu lagi si, yang harus dipecahkan:
Sebetulnya, apakah performance bagi kita -pada case kali ini adalah ujian/UTS nanti (saja), atau pengaplikasian ilmu di kehidupan?
Apakah outcomenya adalah nilai ujian, ataukah buah -atau saya menyebutnya kemanfaatan dari pengaplikasian ilmu di kehidupan itu?

Yaa, tiap orang punya orientasi sendiri dalam belajar. Karena memang kemanfaatan sebuah ilmu bagi setiap orang bisa jadi berbeda. itu tadi, valensi. Seberapa bermakna sebuah outcome bagi kita.. Kok jadinya judgemental ya bahwa outcomenya ilmu? haha

Anyway, S.E.lamat belajar teman-teman! Enjoy these days
Semoga usaha kita berbuah manis, di dunia maupun akhirat 🙂
Yuk, niatkan juga buat ibadah, niatkan membahagiakan orang tua


diagram dari sini