#Day6: Kebohongan x Keluarga x Kerinduan

Bismillah.

Setelah sekian abad ga nulis, gue memutuskan untuk menulis lagi. No specific reason sih. Cuma karena gue lagi summerschool di Cina, jadi nulis (lha ini namanya specific reason sih Wan). Biar kebermanfaatannya makin luas, jadi amal jariyah. Aamiin. Kalo mau ngobrolin later on juga oke. Just chat or email me.

Untuk 5 hari pertama, gue ga yakin mau nulis kapan. Karena sempet gue nulis di buku catetan, tapi capek. Tangan bener-bener capek. Tenaga abis, beneran buat kegiatan seharian. Apalagi masih puasaan, dan tidur gue cuma 3-4 jam (simply karena disini isya jam 8.20 tapi subuh jam 3.30).

Anyway. Gue akan coba bagi dalam 3 segmen utama tiap cerita. Ala-ala Hunter x Hunter gitu lah.  So, here is today’s story.

Hari ini adalah lebaran bagi Cina bagian Hangzhou (bacanya macem Hangcow), Guangzhou, dan Shanghai. Jadi, sebenernya ada hal lucu disini. Since Cina punya regulasi ketat terhadap kegiatan agama, imam besar Hangzhou uda membooking salat idul fitri hari senin (menggenapkan 30). Tapi, setelah melihat hilal, ternyata 1 syawal di Hangzhou jatuh hari Ahad. Artinya, harusnya salat Ied-nya Ahad. Tapi itu tadi, karena uda booking, yaudah.

Malamnya gue bingung lah. Mau salat bareng jamaah sekota di tanggal 2 syawal atau salat di KJRI (Konsulan Jenderal Republik Indonesia) tanggal 1 syawal tapi di Shanghai. Fyi, Shanghai itu kayak Bandung-Jakarta. Infonya turun sore, dan salatnya jam 07.30.

Itu pagi banget men, gue harus berangkat dari sini jam berapa coba?

Tapi pada penghujung malam, ada info dari grup HIMMA (Himpunan Mahasiswa Muslim Hangzhou) bahwa mau ada salat Ied di desa Hangzhou yang imamnya orang arab jam 08.30. Weh, yaini yang gue cari. Suasana desa, bareng muslim setempat, 1 syawal, dan masih keburu. Tjakep!

Gue belum memutuskan mau salat dimana hingga pagi, tanya ke 3 ustadz yang gue ketahui kedalaman ilmu dan kefakihannya: Ust Nur Fajri Romadhon, Ust Ardantyo Sidohutomo, dan Ust Agung Budiardi rahimahumullah. Ketiganya memberi pendapat salatlah hari ini (Jam 7 pagi Ahad). Langsung gue mandi besar, ambil batik agung dan cabs.

Pas uda naik-naik bis (ini cerita lain lagi, gimana serunya nyasar naik bis di negara yang mereka gabisa bahasa inggris dan google di blokir disini. Kebayang ga lo gimana bingungnya gue hidup disini? Ngomong ga nyambung, baca juga gabisa), akhirnya gue janjian sama Mas Fuad (salah satu orang HIMMA) di halte Toukansen. Kami pun jalan ke tempat yang dimaksud. Saat jalan dari halte, jam uda 08.10. Ya gue takut dong ketinggalan jamaah. Gue kira mereka uda kumpul di lapangan gitu. Ternyata pas sudah sampe, itu adalah apartemen salah satu anak HIMMA. Asli gue bingung dan kaget, membatin “Jadi ini salatnya dibikin sendiri? Oh, okay. gue kira ada pihak resmi yang nyelenggarain”. Well, gapapa si. Karena niat gue emang menjalankan amalan sunnah. Cuma yaa, kaget aja.

Dan yang lebih ngagetin, agak ngeselin, but at the same time pingin bikin ngakak adalah ini bener-bener persiapan di tempat. Like, imam dan khatibnya bahkan belum ada saat itu. C’mon man. Ini sokap imam dan khatibnya. Saat itu, akhirnya gue menawarkan jadi imam aja. Lalu ditanyain “mau jadi khatib sekalian ta mas?”. Well, gue tau kapasitas gue jauh dari pantas. Tapi saat itu, yang lain juga masih santai-santai dan ga ada yang punya persiapan. Walhasil, jadilah gue imam dan khatib salat idul fitri 15 anak HIMMA di kota Hangzhou –”

Satu hal lagi yang paling epic adalah gue baru sadar bahwa diantara anak-anak HIMMA yang jadi jamaah, ada satu anak Nigeria yang nyempil dan ikutan. Gue baru sadar ketika gue uda about to salat, uda ngingetin “Ini nanti dua rakaat” tetiba ada yang nyaut “In english Wan”. Itu baru gue sadar. Dan… Saat itulah, gue nelen ludah. Artinya, saat khutbah nanti, gue harus deliver it in english. Well then, just do it. Setelah salat, gue khutbah dengan materi yang dipersiapkan cuma 5 menit dan bahasa inggris yang langsung translate pas ngomong.

Sejujurnya, gue kaget, kesel, tapi juga mau ngakak si. Bisa juga ya se-surprise ini. I mean, kacau sih. Tiba-tiba lho. Menginisiasi salat idul fitri coba. Ya gokil juga si temen-temen HIMMA. Cuma bagian keselnya adalah kita di grup dibohongin bahwa imamnya orang arab. Well, itu katanya becanda doang ternyata. Tapi tetep aja itu dusta men: Lo mengatakan sesuatu yang ga sesuai fakta, sengaja maupun ga sengaja (cek kitab afaatul lisan atau penyakit lisan karya Syaikh Asysyinqithi). Dan ga pernah dibenarkan dalam Islam berdusta buat becandaan. Bahkan, yang begini disebut khusus loh.

Ditambah lagi, sempet ada jokes di grup WeChat HIMMA (gue masuk di dalamnya) bahwa alamat yang ditulis itu becandaan. Ya gue kaget lah. Gue uda berangkat jauh-jauh, pagi-pagi, nyasar, eh ternyata itu alamat ga beneran. Gimana perasaan lo??

Meski selang 3 menit yang dusta tadi bilang “Eh itu becandaan”. Tetep aja men, gue jadi miss 1 halte yang harusnya gue oper ke bis lain. Gue gajadi oper karena gue lagi bingung apakah jadi ada salat Ied di desa apa gak. Meski gitu, pada akhirnya ternyata jadi. Dan ya begitu kejadiannya as I’ve mentioned di atas.

‘Ala kulli haal.

Akhirnya setelah salat kami makan bareng di restoran Pakistan. Gue makan kare ikan. Kita ber-15 an, makan rame-rame. Disana ada yang uda nikah dan istrinya di Indonesia, curhat. Ada yang uda S2 tapi belum nikah, curhat. Ada yang mau nikah, curhat. Ya maap, kok nikah mulu? Karena emang begitulah mahasiswa dewasa muda, mulai mikir keluarga dan berkeluarga. Keluarga ya wajarlah, biasanya lebaran bareng keluarga. But now, we are far from them. Jadinya, kita saling curhat deh.

Abis curhat di meja makan itu sekitar 2 jam, kita lanjut agenda makan (lagi) tapi buat sore harinya. Selesai makan itu zuhur jam 12. Kita mau makan lagi jam 4 di rumah salah satu senior. Masak-masak gitu. Enak lah. Akhirnya kita berangkat. Sampe rumah ya kita masak-masak, cerita-cerita, ngalor-ngidul curhat, intinya bener-bener quality time bareng. Kerasa kayak saudara, beneran. Apa ya, ga cuma saudara seiman, tapi emang temen cerita apa adanya. Lepas. Feeling-nya itu lho. Enak banget.

Disitu jujur gue merasa punya keluarga kecil, keluarga sementara. Saudara sepenanggungan, saudara seiman. Dulu gue sempet punya pola pikir: “Kalau S2 gamau kumpul sama orang Indonesia. Jauh-jauh masa sama orang Indo lagi. Biar improve-lah bahasa inggrisnya at least“. Tapi faktanya, nyaman men bareng saudara itu. Senyaman itu. Dan lo butuh orang-orang yang bisa diajak senyum dan sedih bareng. Senyum karena tingkah mereka, sedih karena saling memahami kesedihan satu sama lain (sama-sama kangen keluarga di rumah, dan lainnya). Setelah hari ini, jujur gue berpikir untuk tetap dekat dengan mereka. Nyaman. Meskipun ada dusta dalam canda yang gue gasuka, tapi itu cuma satu hal yang tertutup oleh seluruh kenyamanan dan kebaikan mereka. I love them as brothers in faith and sisters in tanah rantau. Setelah selesai makan-makan hingga Magrib, kami pulang naik bis yang perjalanannya sekitar 40 menit.

Bagian terakhir adalah bagian yang sebetulnya gue bingung nyambungin kemana. Bagian yang sebetulnya gue mau jadikan satu halaman sendiri. Bagian yang sebenernya cuma ditujukan khusus untuk orang tertentu..

Ya, ini tentang kamu.

Kamu harus tau, jemariku terhenti menulis kisah ini tatkala aku mengingatmu. Entah, aku hanya bingung ingin menyampaikan apa. Padahal, kamu pernah bilang bahwa kamu menanti aku menulis kembali. Maaf jika itu artinya aku kembali membuatmu menunggu.

Kita tahu, kita tidak bercakap banyak. Tidak banyak waktu untuk itu, dan kita memilih untuk menunda kalimat-kalimat itu. Tapi jujur, kadang aku tak tahan ingin mengucap satu atau dua kalimat untukmu. Kalimat yang sejatinya kita sama-sama tahu. Atau mungkin, aku yang mengkhayal bahwa kamu seorang cenayang sehingga tahu isi pikiranku? Ah sudahlah. Rindu tak pernah mengubah apa-apa.

Rindu itu sebuah niscaya. Namun kekhawatiran tidak hadir pada jiwa yang menitipkan cinta pada Dzat yang menjaga seluruh hamba-Nya.

Fatwa Sakit

Assalaamualaikum, Hello readers !

Ga biasa banget tulisan gue genrenya ala ala nulis surat. Tapi emang sebenernya uda dari lama pingin nyoba. Biar apa? Biar ngalir. Karena gue gamau nulis yang dibuat-buat dulu sajak, rima, atau apanya lah. Capek. Akhirnya malah gak di post dan cerita gue ga tersalurkan.

Daan, uda lama banget ya ga nulis. It’s been a decade I guess. Lebay. Ya, faktanya gue sedang mencoba beragam media untuk berbagi. Boleh cek akun instagram gue di sini, soundcloud gue di sini, YouTube gue di sini, dan masih belum yang lain. Intinya, gue beberapa waktu ini eksperimen tentang media mana yang paling fit buat gue dan teman-teman semua.

screen-shot-2017-02-26-at-2-20-30-pm

You are the best marketer for yourself #promosi

Alasan kedua karna emang sejak semester lalu gue lebih banyak sharing via ketemu langsung, sehingga kalo di kamar uda tingal teparnya. Ini aja kalo ga karna sakit, kayaknya tetep ga nulis karena mau ketemu orang So.. Ya, sakit bisa jadi momen buat merefleksikan diri lho. Buat keluar dari rutinitas.

…. prologue gue panjang juga ya? Haha. Maaf, so let’s get to the topic.

Kenapa judul tulisannya Fatwa Sakit, ini terinspirasi dari temen gue yang ngasi saran berkaitan radang yang sedang menimpa gue –Semoga ini menghapus dosa dan memperingan hari perhitungan kelak, Aamiin.

Dia menjelaskan bahwa radang itu bentuk respon tubuh terhadap virus, bakteri, atau hal jahat yang masuk. Imun naik dan terjadi gejala fisiologis, seperti tenggorokan memerah, batuk, pilek, anything. The truth is, batuk pilek dan termasuk radang itu tadi juga menimbulkan pain kan? Pain ini kemudian kita keluhkan sebagai sakit. Well, ini masalah linguistik bukan ya? Ketika bahasa indonesia tidak punya kata yang bisa menjelaskan dan membedakan antara sick, ill, pain, dan yang lain. Karena intinya sama, sakit dan kita merasakan sakit.

Poinnya bukan (cuma) disana. Dia lanjut menjelaskan bahwa radang bisa ditekan dengan mengkonsumsi obat. Obat akan bekerja dengan cara menurunkan imun yang berlebihan supaya radangnya mereda. Sontak gue kaget dan bertanya: ‘lah kan imun naik karna ada penyakit masuk. Kalo imunnya diturunkan, berarti penyakitnya bakal masuk dong? Malah sakit kan?’. Simpel dia menjawab: ‘Iya emang. Makanya kalo lagi minum itu jaga kesehatan yang bener’.

110748

The so called Obat

Okay, ada poin menarik disini, dan gue merasa telah salah berfatwa bahwa gue sedang sakit. Kalau dibilang sakit, radang sebetulnya sebatas mekanisme pertahanan supaya kita ga sakit. But the fact is, we suffer the pain. Jadi gabisa dibilang bohong juga kalo gue bilang radang itu sakit. Menyakitkan kali ya tepatnya?

Ada satu hal yang gue ambil sebagai hikmah dan pelajaran disini. Bahwa dalam memaknai sebuah fenomena, kita perlu memperkaya wawasan dan melihat dari perspektif lain. Dengan pemahaman yang lebih dalam, kita juga tidak serta merta atau tergesa-gesa memberi judgement. Gue percaya bahwa seorang dokter mengeluarkan banyak pertanyaan dan assessment itu supaya bisa tahu secara spesifik penyakit beserta treatment yang tepat.

Dan sebaliknya, ketika seorang terlalu mudah dalam berkomentar, menilai, menghukumi, itu menunjukkan pendeknya nalarnya dan dangkalnya ilmunya. Seorang mufti (pemberi fatwa) akan mencari lebih banyak dalil sebelum kemudian memberikan fatwanya. Seorang mahasiswa skripsi (That’s me!!!) akan berhati-hati ketika hendak mengatakan ‘A berpengaruh lho terhadap B’, ‘Variabel C punya hubungan positif terhadap variabel D’, ‘Aku ada hubungan lho sama kamu’ #Jaaah

Ngobrol dengan temen gue ini jadi sebuah momen refleksi buat diri gue pribadi. Kadang, kita ringan banget komentar atau menilai sebuah fenomena. Baru baca buku A tentang sebuah isu, komentarnya uda nyambung sana dan sini. Memang berbagi cerita dan opini perlu, ini juga langkah kita memperkaya wawasan dengan feedback dari pendengar. Tapi kita harus tau kapasitas kita. Kita bisa sharing tentang isi buku A, tapi jangan sampai kita sudah merasa besar dan paham semua hal yang berkaitan dengannya.

Kalau nasihat guru bahasa arab gue: jangan sampai baru belajar matan Aljazariyah –semacam kitab dasar ilmu nahwu, tapi uda komentar bahwa Alquran ada salah kaidah nahwu. Lha wong ilmu nahwu itu ada setelah dan merujuk pada Alquran. Eak

So, from now on, kita perlu pelan-pelan sebelum mengambil kesimpulan. Banyakin ngobrol sama orang, supaya kita juga makin luas wawasannya. Jangan sampai asal mengambil kesimpulan, asal memberi fatwa.


Tulisan ini gue dedikasikan buat Managing Executive-nya Envihsa FKM UI, yang harusnya pagi ini kita ada training dinamika kelompok dan dasar fungsi kontrol-evaluasi buat manajemen level atas. Maaf banget guys ya gue tumbang pagi-pagi. Agenda training-nya kita undur dulu.

Dan untuk teman-teman pembaca yang mau sharing, diskusi, atau mau mengadakan training buat tim divisi atau organisasinya tentang keorganisasian baik tingkat individu, kelompok, maupun organisasi, gue akan sangat senang bisa membantu. Just reach me through masandi.riwan@gmail.com

Rumah Sekolah

Kamu tahu, apa yang membuatku tertarik dengan konsep homeschooling?

Karena menurutku, rumah adalah tempat paling nyaman untuk melakukan semua aktivitas, termasuk belajar

Karena di rumah, ada sekolah. Karena di rumah, ada madrasah

Itu kalau sekolahnya di rumah. Itu kalau madrasahnya di rumah

Memang si, sekolah gak harus di rumah. saya hanya ingin mengatakan, betapa bahagianya belajar di rumah. Betapa bahagianya jika kita bisa senantiasa sekolah di rumah.

Entah rumah disulap menjadi sekolah,
atau madrasahnya yang berada di rumah

Oh iya, kalau tidak salah, ibu itu madrasah pertama anak kan ya?

Kalau tidak salah..

ibu-sekolah-utama-bagi-anak


gambar dari sini

Tentang Ilmu

6bwkg6mvua

“Ilmu ini dipakenya kapan si? Dipake buat apa? Emang berguna?”

Pertanyaan ini muncul sebagai konsekueni karena kita sudah memilih fokus menghabiskan waktu untuk memelajari suatu ilmu. Di perkuliahan, ada banyak disiplin ilmu. Ini direpresentasikan dalam fakultas. Di UI saja, ada 14 fakultas. FMIPA, FH, FEB, FK, FKM, FPsi, FT, dan lainnya.

Kadang, ketika merasa belajarnya sudah sangat susah, tentu kita akan berpikir buat apa si belajar atau berpikir sesusah itu? Manfaatnya apa? Efeknya apa? Kalau bahasa FE nya: benefitnya apa? Returnnya apa?

Sedihnya, setelah mengarungi jungkir balik perjuangan untuk memenangkan, atau sekadar melewati, atau bahkan bertahan di disiplin ilmu itu.. Kita gak menemukan apa manfaatnya. Apa kegunaannya, kapan ilmu ini akan bermanfaat bagi kita.

Terkadang, aku merasa sangat sedih ketika melihat teman yang berjuang keras di suatu disiplin ilmu, tapi ternyata dia sendiri tidak tau kapan atau untuk apa ilmu tersebut digunakan. Ya, buat kita yang cuma bisa melihat kerasnya perjuangan tanpa tau buahnya, melihat dia berjuang saja sudah membuat kita nggak tega. Apalagi sampai dianya yang mengeluh “Ini ilmu buat apa si? Emang guna di dunia kerja? Teori sih iya. Tapi nggak aplikatif!”

Sejenak, aku bersandar di kursi dan mengangkat kepala. Seperti biasa, melihat biru langit membantuku berpikir lebih leluasa. Sejenak, aku ikut berpikir “Iya ya. Doi belajar susah-susah konsep dan teori ini-itu, menghitung rumus yang entah ada ujungnya atau nggak, itu semua buat apa coba? Emang di dunia kerja bakal terpakai? Emang berguna?”

Aku menarik nafas panjang dan membuangnya sesuka diri. Seketika memunculkan sebuah pernyataan “Entah ya, apa manfaatnya. Tapi dia dulu memilih jurusan ini juga pasti ada alasannya. Ada yang mau didapatkan” Tidak berselang, aku lanjut bertanya “Tapi apa ya? Ngapain sih belajar beginian? Emang manfaatnya dimananya, mau dipakai pas kapan?”

Tiba-tiba telpon genggamku bergetar. Ada pesan dari ibu “Adik sama ibu naik kereta ke Jogja ya. Sekolah adik libur beberapa hari setelah UTS. Doakan nak ya”. Seketika aku bergumam dalam hati “Enak sekali ya adik. Bisa liburan begini”. Kututup pesan ibu dan kumasukkan telponku ke saku celana. Back to topic

Ternyata, justru pesan singkat ibu itu lah yang menjadi titik awal pencerahan. Menanggapi gumam keluhku tadi, aku jadi berpikir. “Iya ya, capek juga kalau hidup cuma bekerja. Ada istirahatnya lah. Ada aspek-aspek lain dalam hidup selain bekerja”

Disanalah aku mulai berpikir bahwa bisa jadi ilmu yang dipelajarinya memang tidak akan digunakan di lapangan kerja. Bahkan, manfaat ilmu tersebut memang tidak digunakan untuk bekerja. Bisa saja dia memelajari ilmu tersebut untuk sekadar menghabiskan waktu. Bisa saja baginya, memelajari suatu ilmu adalah caranya refreshing atau menghilangkan kepenatan dari rutinitas hidupnya. Bisa jadi, seseorang memelajari ilmu untuk memerbaiki aspek lain dalam kehidupan sehari-harinya.

Aku jadi teringat pada salah satu dialog yang tertulis di buku belajar bahasa arabku. Disana, disebutkan bahwa di universitas yang memelajari agama islam (Universitas Islam daerah X), ada fakultas khusus yang memelajari adab dan akhlak. Tentu kita akan berpikir, “Ngapain menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan uang untuk memelajari adab? Tidak akan menghasilkan duit!”

Well, sebetulnya aku tidak sepakat dengan pernyataan bahwa dia tidak berkaitan dengan duit. Tapi poin yang lebih penting untuk kita sadari adalah memelajari adab bukan hanya bicara tentang uang. Bahkan, memang mungkin tidak akan kita kaitkan dengan mencari uang -meski kita tahu bahwa ada kaitannya. Memelajari adab itu untuk memerbaiki perilaku kita sebagai manusia. Memelajari adab adalah untuk memerbaiki kualitas hidup. Dia memang tidak dipelajari untuk diimplementasi di dunia kerja, tapi justru lebih dari itu, dia akan bermanfaat untuk seluruh aspek kehidupan.

Aku percaya bahwa saat ini, sebagian dari pembaca telah memilih untuk ilmu apa waktunya dihabiskan. Tapi, yang perlu kita sadari kembali adalah untuk apa kita memelajarinya, dan apa manfaat yang ingin kita peroleh dari memelajari ilmu tersebut.

Karena, kita sebagaimana di ilmu ekonomi kita belajar konsep kelangkaan. We have limited time. But we see that branch of science is unlimited. Karenanya,

Pelajarilah ilmu-ilmu yang paling penting.
Umur kita terlalu pendek untuk menguasai seluruh ilmu yang ada di bumi.

Pelajarilah ilmu yang dengannya kamu akan selamat di bumi dan mengantarmu ke kebahagiaan abadi

Di balik jendela, di bawah langit Depok

26 Maret 2016


kampus UI dari sini

Kalau Sudah Bilang: “Aku Nggak Bisa”

Kalau diri sendiri uda bilang “Aku nggak bisa matkul ini” ya nggak bakal bisa memahami lah, kayak kata Albert Bandura (1977) pada Social Learning Theory. Bandura bilang, salah satu faktor yang memengaruhi proses learning adalah self-efficacy. Self efficacy itu tingkat keyakian seseorang tentang kemampuannya untuk melakukan hal-hal yang dibutuhkan guna mencapai titik performance tertentu.

Kalau menurutku, yang namanya manusia itu selalu ingin berada di posisi yang benar. Makanya, tubuh kita bakal menolak untuk memahami materi karena ingin membenarkan pernyataan yang tadi diucapkan: “Aku ini gabisa”

Coba pernyataan di otaknya bilang “Saya bisa kok”. Saraf otak bakal effort untuk mengolah dan memahami materi, supaya pernyataan “Saya bisa” menjadi kenyataan.

Makanya..

Harus punya keyakinan “Saya bisa”. Atau lebih tepatnya “Dengan izin Allah, saya bisa”. Karena Dia maha mengetahui yang tidak kita ketahui. Termasuk apakah sebetulnya kita bisa memahami materi UTS ini atau nggak

Masandi Riwan,

Orang yang berusaha memahami..

 

..memahami materi ujian. Memahami kamu abis UTS aja ya


gambar dari sini

Tentang Belajar UTS

Menurutku, the best way to learn adalah memahami esensi dan implementasi ilmu tersebut, juga mengerti bagaimana ia bisa bermanfaat bagi hidup kita.

Diagram Expectancy Theory oleh Victor Vroom (1964)

Kalau kata Vroom (1964) dalam Expectancy Theory, kita bakal termotivasi kalau kita percaya bahwa effort kita (nowadays case: belajar buat UTS) berpengaruh terhadap performance kita [expectance]. Juga ketika kita percaya bahwa performance kita berpengaruh terhadap outcome akhirnya [instrumentality]. Terakhir… ketika kita menganggap bahwa outcome tersebut bermakna bagi kita [valence]. Jadi..

Yakin gak usaha ini berdampak ke performance?
Bahwa belajar sekarang ini berdampak ke performance?

Yakin gak performance nantinya berdampak ke outcome/hasil performance tersebut?
Yakin gak bahwa outcome dari performance kita bermakna bagi kita?

Hmm. Ada satu lagi si, yang harus dipecahkan:
Sebetulnya, apakah performance bagi kita -pada case kali ini adalah ujian/UTS nanti (saja), atau pengaplikasian ilmu di kehidupan?
Apakah outcomenya adalah nilai ujian, ataukah buah -atau saya menyebutnya kemanfaatan dari pengaplikasian ilmu di kehidupan itu?

Yaa, tiap orang punya orientasi sendiri dalam belajar. Karena memang kemanfaatan sebuah ilmu bagi setiap orang bisa jadi berbeda. itu tadi, valensi. Seberapa bermakna sebuah outcome bagi kita.. Kok jadinya judgemental ya bahwa outcomenya ilmu? haha

Anyway, S.E.lamat belajar teman-teman! Enjoy these days
Semoga usaha kita berbuah manis, di dunia maupun akhirat 🙂
Yuk, niatkan juga buat ibadah, niatkan membahagiakan orang tua


diagram dari sini

Sang Menteri: Sebuah Kuliah Perdana

25198

Jam menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh. Hawa dingin khas matahari terbit masih menyelimuti diri. Tapi, ada yang berbeda dari pagi ini. Tak biasanya, rasa malas untuk membuka jendela tidak menghampiri. Kuingat-ingat lagi…

Oh iya, hari ini ada kuliah perdana oleh Sang Menteri!

Kulakukan aktivitas pagi seperti biasa: Mandi. Ya.. Hanya mandi yang menjadi rutinitas. Sarapan? Menyesuaikan. Kalau jam menunjukkan 15 menit menuju waktu perkuliahan, artinya sarapan harus ditunda esok hari. Mungkin, aku bisa sarapannya esok hari.

Pukul 8 tepat, saya sudah melangkahkan kaki di sekitar kolam makara. Nametag dan jaket kuning khas mahasiswa baru menghiasi selasar FEB UI. Hari ini juga bertepatan dengan hari pertama pasca-OPK, orientasi pengenalan kampus. Sebetulnya, kuliah perdana diwajibkan untuk mahasiswa baru 2015 dengan mata kuliah pengantar ekonomi 1. Walaupun sudah lulus dengan nilai memuaskan –saya sudah cukup puas meski bukan A, saya tertarik untuk menghadirinya. Bukan konten perkuliahannya yang menarik hati, namun pematerinya: Pak Bambang P.S. Brodjonegoro, menteri keuangan RI saat ini.

Selama 20 menit, mahasiswa baru berdesak-desakan mencari tempat duduk di tangga auditorium –bagian kursi sudah penuh oleh mereka yang datang sebelum pukul 8. Untungnya, saya mengambil tempat yang aman di lantai 2 auditorium. Bagian atas (lantai 2) diisi oleh beberapa staf kemenkeu dan asisten dosen.

Sembari menunggu, Bu Beta mengisi waktu kosong dengan ice breaking. Ada dua mini quiz yang ditanyakan ke mahasiswa baru. Tapi, ada satu pernyataan beliau yang menarik:

“Pak Bambang itu angkatan 1985. Kalian 2015 ya? Selisih 30 tahun nih ya.. Itu artinya, boleh lah ya berharap 30 tahun lagi kalian lah menterinya. Haha”

Ungkapnya ringan, penuh canda. Tapi cukup untuk membuatku berpikir.. “Iya ya, 30 tahun lagi bisa jadi satu dari sekian ratus anak-anak di bawah ini yang membuat kebijakan. Atau kakak-kakak di sebelahku ini”. Mas Rifqi yang duduk di sebelahku menambahkan “Wah, 2045 ya. Pas 100 tahun Indonesia merdeka”. Makin berdirilah bulu kudukku. 2045 bro! Yang katanya Indonesia emas, bonus demografi, Wow! 2045, itu artinya, di fase emas itu, kitalah orang yang akan memegang peran penting!

Tak lama tenggelam dalam lamunan itu, Bu Beta mengakhiri ice breakingnya. Ya, bintang tamu kami telah datang!

25195

Pak Bambang berdiri di tengah mengawali kuliah umum

Pak Bambang masuk dari pintu belakang dekat panggung auditorium. Tepuk tangan bersaut-sautan menyambut ‘artis’ yang akhir-akhir ini sering muncul di tv untuk memberi penjelasan terkait pelemahan rupiah. Luar biasa, di tengah pelemahan ekonomi global, Pak Menteri masih mau meluangkan waktunya berbicara pada 600 ‘orang baru’ di dunia akademisi ekonomi.

Judul perkuliahan hari ini cukup jelas dan… sedikit garing. “Ilmu Ekonomi” demikianlah judul slide pertamanya. Amat sederhana. Artinya, beliau kemari memang untuk memberi kuliah umum. Kuliah bro, bukan konferensi pers tentang penjelasan pelemahan ekonomi rupiah.

Di awal kuliah, Pak Bambang memberi motivasi agar kami semangat dalam menempuh studi 4 tahun kedepan.

“Yang membedakan antara ekonom FEUI dengan ekonom lainnya adalah logika ekonominya. Cara berpikir alumni FEUI berlandaskan logika ekonomi yang matang. Dan logika ekonomi ini hanya bisa didapat dengan kuliah S1 di fakultas ekonomi, terlebih di ekonomi UI”

Ya, itu juga yang selalu kuceritakan pada ibuku ketika ibuku berkata –dengan nada bercanda “Harusnya kamu di psikologi dong Wan?”. Aku selalu berkata “Ilmu/ pengetahuan bisa dicari dimana-mana Bu. Tapi pola dan cara berpikir harus dibentuk di tempat yang tepat. Ketika Riwan di FE, kacamata riwan dalam memandang adalah kacamata ekonomi yang ditunjang ilmu psikologi. Kalau di psikologi ya kebalikannya nanti. Cara melihatnya dengan kacamata psikologi tapi ditunjang pengetahuan bisnis”

Penjelasan di awal, beliau mendefinisikan apa itu Ilmu Ekonomi. Pada dasarnya, ilmu ekonomi muncul akibat adanya kelangkaan. Sehingga, seseorang harus memilih dengan memertimbangkan insentif. Insentif bisa berupa keinginan mendapat reward, bisa pula keinginan menghindari punishment. Singkatnya, ilmu ekonomi merupakan ilmu sosial yang memelajari cara memilih diantara kelangkaan based on incentives.

Jadi, sudah sepatutnya anak ekonomi harus bisa atau cerdik dalam memilih. Kalau anak ekonomi tidak bisa atau tidak punya pilihan, berarti statusnya sebagai anak ekonomi masih belum afdhol. Eaa

Pak Bambang lanjut memberikan pesan agar mahasiswa FEB UI memiliki empati yang besar terhadap orang-orang di sekitarnya.

“Jadilah alumni FEB UI yang peduli dengan kebutuhan masyarakat di sekitarmu. Kita mengenal ada kebutuhan, ada pula keinginan. Lihat, masih banyak masyarakat Indonesia yang sibuk memikirkan kebutuhannya. Perhatikanlah mereka. Kalau kita punya keinginan, simpan dalam diri. Ayo bantu mereka yang masih memikirkan kebutuhan tanpa sempat memikirkan keinginan” tuturnya.

Bersambung in syaa Allah


Sang Menteri: Sebuah Kuliah Perdana merupakan bagian awal dari rangkaian catatan yang diberi nama “Kuliah Perdana oleh Sang Menteri”. Tulisan ini in syaa Allah akan bersambung

Dua Hati Kita

“Mungkin, aku terlalu takut kehilangan orang yang aku sayangi”

Kau benar. Ada kegelapan bernama ketakutan yang menyelimuti, tatkala malam bernama perpisahan itu datang. Ada keresahan yang mencoba menguasai hati, ketika awan keraguan memenuhi pemandangan kehidupan.

Namun, aku percaya bahwa hati kita sejatinya patuh. Patuh di atas ketetapannya, patuh di atas keinginan-Nya. Dialah yang membolak-balikkan hati.

Tatkala aku memutuskan untuk meninggalkanmu, muncul keraguan. Tatkala aku memutuskan untuk mengakhiri perbincangan itu, ada kekhawatiran. Ada kekhawatiran akan berpalingnya hatimu dariku. Pudar dan hilang namaku dari hatimu selama masa-masa itu, masa-masa yang kita sebut ‘kesabaran dua orang yang menanti’. Ada keyakinan, bahwa Ia mampu melepaskan diriku dari seonggok daging kecil bernama hati milikmu.

Namun, aku juga yakin. Aku yakin bahwa kelak Ia juga dapat mengizinkanku untuk masuk kembali dan tinggal menetap di jantung hatimu. Bahwa Ia mampu balikkan lagi hatimu untukku. Bahwa ia mampu kembalikan tulang rusuk yang terpisah dari tulang punggungnya ketika tiba saatnya. Ketika ia membuktikan janjinya bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, dan perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik.

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Rabb-mu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” Surat Huud ayat 123

Karena aku yakin, kepunyaan-Nya lah semua yang di langit dan bumi.  Miliknya lah hati ini: hatiku, hatimu, dua hati kita. Ia tegaskan bahwa Ia lah pemilik segalanya. Lalu Ia beri tahu pada para pencari kehidupan bagaimana cara memeroleh kebutuhannya dari sang pemilik: Sembahlah Dia dan bertawakkallah pada-Nya.

Sembahlah Dia. Karena dengan menyembahnya, keridoan-Nya kan kau terima. Karena dengan keridoan-Nya, semua yang Ia miliki dapat ia berikan untukmu. Hati ini: hatiku, hatimu, dua hati kita, dapat kita memilikinya atas restu-Nya.

Tak perlu tenggelam dalam ketakutan, dalam samudra bernama prasangka. Masa depan memang abu-abu, tapi janji Allah adalah pasti. Pegang janji Allah untuk menghadapi awan kelabu itu. Sembahlah Dia, bertawakkal pada-Nya, dan persiapkan segala hal hingga saat itu tiba. Persiapkan dan tunjukkan bahwa kita siap, layak, dan pantas untuk menerima karunia-Nya.

Perbaiki cinta kita agar senantiasa tulus karena-Nya dan diridhoi-Nya. Karena cinta itulah yang akan memertemukan, menghidupkan, dan mengabadikan hati ini: hatiku, hatimu, dua hati kita.

“Jika memang aku mencintaimu karna Allah, izinkanlah aku mencintaimu dengan cara yang dicintai-Nya” MR

Mueang Pattaya, 21 Juli 2015

Mutiara dalam Cangkang

Jadilah mutiara dalam cangkang. Terjaga rapi suci dan indah di dasar lautan.

Sungguh sedih, bila kelak datang penyelam handal gagah berani yang berhasil menyelam hingga dasar lautan. Namun ia temukan mutiara itu telah berbercak pasir dan kotoran. Retak bahkan pecah terkena arus maupun binatang lautan.

Jadilah mutiara dalam cangkang. Tersimpan elok, bersih dan menawan.

Percayalah. Suatu hari akan ada seorang penyelam yang memilih bertaruh nyawa, kehormatan, dan masa depan demi mendapatkan mutiara lautan yang masih terjaga.

Jadilah mutiara dalam cangkang. Bukankah kuatnya cangkang, dalamnya dasar lautan, dan ketangguhannya tak goyah karena arus menjadi bukti tingginya nilai sang mutiara?


gambar dari sini