CTS: Berbakti tanpa Syarat

1. Adab dapat diibaratkan bingkai atau kemasan. Dia bertugas memperindah penyampaian maupun pola interaksi kepada objek interaksi.

Adab sendiri memiliki tingkatan dan prioritas:
Pertama, adab kepada Allah
Kedua, adab kepada Rasulullah
Ketiga, adab kepada Kitabullah (Alquran)
Keempat, adab kepada sesama makhluk.

Prioritas utama dalam menggapai keridoan adalah keridoan Khaliq (pencipta), baru kemudian keridoan makhluk. Adapun keridoan makhluk, dimulai prioritasnya dari orang tua.

Dalam hadis yang terkenal, ketika seorang pemuda meminta ikut berjihad, Rasul shalallahu alaihi wa sallam memerintahkannya untuk berjihad dengan berbakti kepada keduanya. Padahal, bisa saja pemuda tersebut berbakti kepada orang tuanya setelah pulang dari jihad. Namun, tatkala disandingkan antara amalan jihad dan amalan berbakti, Rasul shalallahu alaihi wa sallam dahulukan berbakti. Ini menunjukkan keutamaan berbakti, bahkan diatas amalan yang teramat agung, jihad di jalan Allah.

2. Hasan Al Bashri rahimahullah pernah ditanya seorang laki-laki “Ayahku telah berumur lanjut, dan dia menderita sakit. Setiap hari, ketika ia buang hajat, aku memindahkan kotoran dari tubuhnya dengan tanganku dan aku tidak merasa jijik. Aku juga yang membersihkan seluruh tubuhnya. Apakah itu belum cukup untuk membalas kebaikannya padaku?”

Hasan Al Bashri rahimahullah menjawab “Belum” Laki-laki tersebut kaget dan bertanya “Bagaimana mungkin??”

Beliau rahimahullah mengatakan,

“Dahulu, ayahmu membersihkan kotoranmu dan berharap agar kelak engkau menjadi orang yang mulia di tengah-tengah masyarakat. Sedangkan hari ini, engkau membersihkan kotoran ayahmu dan berharap agar ayahmu segera wafat dan engkau tidak lagi direpotkan olehnya”

3.

Tugas kita adalah berbakti kepada orang tua, bukan menilai keduanya. Kendati keduanya memiliki kekurangan, memiliki aib, bahkan berbuat kezaliman pada diri kita, tugas kita adalah berbakti.

Bahkan, meskipun ayah kandung kita pergi meninggalkan atau ibu kita membuang kita semenjak kita lahir, kita tetap wajib berbakti kepada beliau. Kenapa? Karena peran keduanya dalam menumpahkan sperma dan mengandung kita saja sudah lebih dari cukup untuk menjadikan kita bisa lahir dan hidup hingga hari ini. Kalau yang meninggalkan kita saja tetap Allah perintahkan berbakti, apalagi jika orang tua kita membesarkan kita dengan curahan cinta, harta, waktu, dan segala yang ia miliki?

Ingatlah sabda nabi shalallahu alaihi wa sallam

“Kamu dan hartamu milik ayahmu” [HR Abu Daud dalam Al-Buyu 3530]


Pemateri: DR Khalid Basalamah
Kitab rujukan: Minhajul Muslim
Penulis kitab: Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairy

Masjid Nurullah, Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan
19 April 2016

Advertisements

Awas! Tiga Bengkak di Bulan Ramadhan

Ini adalah evaluasi pribadi penulis dari masa ke masa, dari Ramadan ke Ramadan. Semoga bermanfaat utamanya bagi penulis sendiri, juga bagi pembaca. Berbagi bukan berarti telah sempurna.

Ada tiga hal yang perlu kita perhatikan dalam menyambut Bulan Ramadan, bulan penuh kebaikan. Tiga hal atau penyakit yang amat berbahaya jika kambuh di Bulan penuh keutamaan ini. Tiga hal yang perlu kita berupaya untuk menghindari atau mengobatinya.

Pertama kejahilan

Atau nama lainnya kebodohan. Sangat disayangkan ketika seorang muslim memasuki Bulan Ramadan hanya dengan bayangan sahur-puasa-buka-sahur-puasa-buka atau sekadar mengetahui “Bulan Ramadan bulan penuh ampunan” tanpa mengetahui betapa banyak kemuliaan dan keistimewaan lain yang ada pada bulan tersebut.

Ada pula orang yang telah mengetahui keutamaan dan keistimewaan bulan yang di dalamnya turun Alquran ini, namun tidak tahu bagaimana cara memuliakannya. Bahkan, keliru dalam upaya memuliakannya. Semangat telah membara, persiapan dan perbekalan sudah siap sedia, tapi dalam mengamalkannya kurang tepat caranya. Sehingga, yang terjadi adalah praktek ibadah yang tujuannya sejatinya mulia, namun salah caranya. Hal ini sangat disayangkan.

Karena sungguh suatu Ibadah diterima kecuali dengan dua syarat : Pertama ikhlas, hanya mengharapkan pahala Allah sesuai surat Al Bayyinah ayat 5 .

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama …”

Kedua ittiba’, yakni sesuai tuntunan nabi. Karena nabi bersabda

“Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada urusannya dari kami maka amal itu tertolak” (Riwayat Imam Muslim)

Maka, solusi bagi penyakit atau hambatan pertama ini tidak lain adalah bertanya. Sebagaimana yang telah nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan dalam salah satu nasihat bijaknya

“Sesungguhnya obat dari kebodohan itu adalah bertanya” (Riwayat Imam Abu dawud, dinilai hasan)

Tentunya kepada ahlinya kita bertanya. Jika kita sakit kepala, apakah kita akan bertanya pada insinyur? Tidak. Apakah kita akan bertanya kepada polisi? Tidak pula. Tentu kepada dokter kita bertanya. Bahkan, kita akan memilih untuk bertanya kepada dokter yang memang ahli atau spesialis di bidang penyakit kepala. Jika untuk urusan dunia saja kita begitu selektif, maka untuk urusan akhirat yang berdampak pada kehidupan abadi kelak tentu kita wajib untuk lebih selektif.

Kedua kemalasan

Hal ini juga bagi penulis pribadi adalah momok yang sangat berbahaya. Kadang seseorang telah mengetahui keutamaan suatu ibadah. Telah paham dengan baik tata cara melaksanakannya, tetapi penyakit “M” ini hinggap seketika. Sehingga, tubuh rasanya seperti dibelenggu. Badan terasa berat untuk menjalankan. Padahal sejatinya hal-hal itu tidak lain adalah tipu daya setan atau hawa nafsu yang kurang kita tundukkan.

Obat untuk penyakit yang ini yang pertama tentunya adalah berdoa. Bahkan, nabi saja hamba yang paling kokoh imannya pun berdoa agar terlindung dari kemalasan. Seperti berikut :

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.” (Riwayat Imam Bukhori)

Obat kedua adalah mengingat ganjaran dan pahala akan amal tersebut. Mengingat surga beserta isinya (termasuk sungai, buah-buahan, bidadari-bidadari di dalamnya, dll) juga bisa membangkitkan semangat dan mengusir kemalasan. Dan obat ketiga adalah berkumpul dengan teman sesama pejuang surga. Saling mengingatkan dan memotivasi. Dalam sebuah novel fiksi, penulis menemukan kalimat inspiratif yang kurang lebih bunyinya “Tanpa teman sejati yang menemani, kau takkan bertahan lama”. Meski sebenarnya banyak obat dan saran lain, tapi penulis cukupkan dalam tulisan ini dengan tiga poin tadi

Penyakit atau perkara terakhir, sekaligus yang paling vital dari hal-hal yang harus kita perbaiki adalah…….

Rusaknya keikhlasan

Ini adalah penyakit paling kronis. Karena kadang kita sendiri tidak menyadarinya. Khusus penyakit ketiga ini, penulis telah membuat artikel sejak tahun lalu. Bahkan, keikhlasan ini adalah artikel pertama yang penulis buat di blog ini. Sila cek di blog ini demi kesehatan iman kita.

Akhir kata, sesungguhnya seluruh kebaikan datangnya dari Allah, adapun kesalahan dan kelalaian maka itu datangnya dari penulis sendiri dan setan. Penulis juga berpesan kepada setiap pembaca agar tidak henti-hentinya dan tidak bosan-bosannya mengingatkan diri penulis ini, agar kebaikan yang ada dalam tulisan ini tidak sekadar kering di layar kaca tapi juga menjadi nyata. Mari saling mengingatkan, saling menguatkan barisan.

Hanya kepada Allah kami menyembah dan hanya kepada Allah kami mohon pertolongan. Wallahu a’lam

Keikhlasan

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

20 Juli 2012 – 1 Ramadan 1433 H

Image

الْحَمْدُ لِلَهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اتَّبَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ

Sebagaimana kebiasaan para ulama ketika menulis kitab, mereka meletakkan bab keikhlasan pada bab pertama untuk mengoreksi dan meluruskan niat mereka. Imam Bukhori meletakkan Hadits Umar bin Khattab mengenai amal tergantung niatnya sebagai hadits nomor 1 pada kitabnya ‘Shahiih Al Bukhori’. Penulis mencoba mencontoh kebiasaan para ulama terdahulu. Semoga niat ini senantiasa terjaga baik sebelum beramal, ketika beramal, dan juga setelahnya sampai meninggal dunia.

Oleh : Ust. Abdurrahman Thoyyib, Lc. (diambil dari kitab ‘Kitaabul Ikhlas’)

Secara singkat, ikhlas adalah memurnikan seluruh niat/tujuan seorang hamba dalam beribadah hanya untuk Allah Ta’ala semata. Dari definisi ini bisa juga kita katakan juga bahwa ikhlas itu : ibadah 100% untuk Allah, 0% lainnya (semua tujuan dan harapan selain pahala dan wajah Allah). Bukanlah disebut keikhlasan ketika meniatkan ibadah 80% untuk Allah  20% untuk urusan dunia.

Sebagaimana firman Allah “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”  (QS Al Bayyinah ayat 5)

Karena niat yang salah, amalan seseorang bisa tidak berarti (tidak berpahala) disisi Allah.

Dari Umar ibnu Khattab radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah -shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- bersabda:

إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إلَى اللَّهِ  وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ

“Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niat-niatnya dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan, maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya kepada Allah dan RasulNya dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang hendak dia raih atau karena wanita yang hendak dia nikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia hijrah kepadanya” (HR. Bukhori)

2 Orang yang shalat berdampingan. Panjang rakaatnya sama. Bacaannya sama. Amalan sunnah dalam shalatnya sama. Namun pahalanya bisa jauh berbeda. Kenapa? Karena niatnya ! Keikhlasannya.

Rasulullah -shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam- memperingatkan umat muslim bahwa niat ini adalah perkara yang besar. Bahkan amalan yang mampu membawa pelakunya menjadi ahli surga seperti Jihad fii sabilillah, Mempelajari agama Allah (Pembaca Al Qur’an), dan ringan tangan (dermawan) mampu menyeret pelakunya menjadi ahli neraka karena ia salah menempatkan niatnya.

Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata: Aku mendengar Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:

Sesungguhnya manusia paling pertama yang akan dihisab urusannya pada hari kiamat adalah: Seorang lelaki yang mati syahid, lalu dia didatangkan lalu Allah membuat dia mengakui nikmat-nikmatNya dan diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat padanya?” dia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku mati syahid.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu berperang agar kamu dikatakan pemberani, dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka. Dan (orang kedua adalah) seseorang yang mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan dia membaca (menghafal)  Al-Qur`an. Maka dia didatangkan lalu Allah membuat dia mengakui nikmat-nikmatNya dan diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat padanya?” dia menjawab, “Aku mempelajari ilmu (agama), mengajarkannya, dan aku membaca Al-Qur`an karena-Mu.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu menuntut ilmu agar kamu dikatakan seorang alim dan kamu membaca Al-Qur`an agar dikatakan, “Dia adalah qari`,”  dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka. Dan (yang ketiga adalah) seseorang yang diberikan keluasan (harta) oleh Allah dan Dia memberikan kepadanya semua jenis harta. Maka dia didatangkan lalu Allah membuat dia mengakui nikmat-nikmatNya dan diapun mengakuinya. Allah berfirman, “Lalu apa yang kamu perbuat padanya?” dia menjawab, “Aku tidak menyisakan satu jalanpun yang Engkau senang kalau seseorang berinfak di situ kecuali aku berinfak di situ untuk-Mu.” Allah berfirman, “Kamu berdusta, akan tetapi sebenarnya kamu melakukan itu agar dikatakan, “Dia adalah orang yang dermawan,” dan kamu telah dikatakan seperti itu (di dunia).” Kemudian diperintahkan agar dia diseret di atas wajahnya sampai dia dilemparkan masuk ke dalam neraka.” (HR. Muslim mo. 1905)

hadits Abu Hurairah di atas dalah peringatan yang sangat keras bagi setiap orang yang memiliki ibadah yang besar lagi hebat -apalagi yang amalannya kecil-, jangan sampai niat mereka berpaling dari Allah kepada mengharapkan pujian dan sanjungan dari manusia.

Dan ini juga menjadi bukti nyata dari ucapan sebagian ulama, “Betapa banyak amalan besar dibuat kecil karena niatnya (yang salah) dan betapa banyak amalan kecil dibuat besar karena niatnya (yang baik).”
Hadits ini juga menunjukkan bahwa pelaku riya` dan sum’ah adalah makhluk pertama yang akan disiksa dan dilemparkan ke dalam neraka, bahkan mereka yang akan lebih dahulu di siksa daripada para penyembah berhala. Seorang syahid yang merasakan sakit dari tiap tebasan dan membiarkan tubuhnya dicabik-cabik lawan di medan jihad, seorang qari’ yang menghabiskan waktunya membaca dan mempelajari Al Qur’an, dan seorang yang rela menghabiskan harta yang telah dikumpulkannya untuk diberikan di jalan Allah adalah orang-orang yang harus diseret dan dilempar menuju neraka. Bahkan sebelum Abu Jahal, Abu Thalib, Fir’aun, Kharun. Dikarenakan satu hal. Yakni niat yang salah Na’udzubillah.

Apa yang dikira ikhlas padahal bukanlah keikhlasan :

–          Seorang beribadah untuk mendapatkan bagian dari dunia. Tujuan mengajar atau belajar adalah untuk mengangkat kebodohan dari diri sendiri dan orang lain. *seorang yang mengajar karena hobi mengajar. Maka niatnya ini tercampur dengan urusan dunia. Bukan semata-mata karena Allah. Niat haruslah ikhlas 100% untuk Allah. Bukan 80 % Allah 20% dunia !

–          Seseorang yang awalnya tidak suka dipuji. Namun SETELAH beribadah ia berfikir “wah, amal ku hari ini banyak sekali ya?” “Fulan, fulanah banyak banget ya yang memujiku” Maka ini bukan ikhlas !! ikhlas bukan hanya diawal. Namun juga sampai selesai ibadah, juga setelah ibadah, sampai kita meninggal dunia.

–          Seseorang yang tidak mau ibadahnya diberi tahu, tidak memberi tahu, tapi memberi bekas ibadah. *habis tahajud. Dia gak bilang, tapi kemudian seseorang tanya “matamu kok basah?” ada perasaan senang padanya ketika ditanya demikian. Nah… ini penyakit !!

–          Seseorang tidak menampakkan ibadahnya, namun berharap orang lain tahu. * sering mengaji dirumah, tidak pernah membaca di luar. Tapi hatinya berandai-andai “semoga saja ada yang tahu”

–          Ingin semua orang hormat padanya, diberikan kelapangan oleh orang lain padanya. Berharap ada yang mau minggir di majlis ilmu kalau dia datang

–          Seseorang yang terbiasa tahajud, lalu suatu saat ia bersama orang-orang. Shalat tahajudnya terasa lebih ringan disbanding ketika sendiri. Ketika ia keluar dari barak (umumnya tidur bersama disana) ia berharap ada yang tahu

–          Merasa ujub. Merasa “Aku termasuk muttaqin” “Aku adalah orang yang sabar, peka, cerdik” dll.

–          Seseorang yang diundang, bukan karena niat untuk memenuhi undangan ia datang. Ketika hendak berangkat, ia berpikir lagi “Orang ini kalau ngundang makanannya enak” Nah ini rusak.. Atau “kebetulan dirumah memang gak masak”

IBADAH DINIATKAN 100% UN TUK IBADAH ! UNTUK ALLAH !

0% UNTUK KEUNTUNGAN DUNIA !!

Tips mencapai keikhlasan :

1.   Mengenal tauhid (asma wa sifat)

Ingatlah bahwa tidak ada yang mampu memberi manfaat kecuali Allah. Maka buat apa kita beramal untuk dilihat atau dipuji dia/mereka? Ia tak memberi manfaat sedikitpun pada kita. Hanya Allah ! Mereka pun tak memberi ancaman buat kita, kecuali dengan izin Allah

2.   Mengenal siksa Allah di alam kubur dan api neraka

Sesuai dengan hadits yang telah penulis cantumkan diatas. Diantaranya ancaman bagi para penuntut ilmu yang tidak ikhlas karena Allah.

3.   Mengenal pahala yang Allah berikan bagi para mukhlisin

Salah satu contohnya dalam hadits ”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim)

4.   Mengingat bahwa amalan tanpa niat yang ikhlas bernilai 0 (NOL)  disisi Allah

5.   Mengenal kerendahan dunia

Sebagaimana sabda nabi mengenai kecilnya dunia yang tidak memiliki nilai jika dibanding akhirat “Demi Allah, tidaklah dunia dibanding akhirat melainkan seperti jari salah seorang dari kalian yang dicelup -Yahya berisyarat dengan jari telunjuk- di lautan, maka perhatikanlah apa yang dibawa.” (HR. Muslim no. 2858). Dunia ini begitu kecil dan singkat, maka jangan kita tertipu dengannya.

6.   Banyak berdo’a

Sesuai sabda nabi “Sesungguhnya hati-hati anak Adam berada di antara dua jari-jari Alloh layaknya satu hati, Dia mengubah menurut kehendak-Nya.” (HR. Muslim). Maka kita memohon kepada Allah agar dimudahkan untuk mampu tunduk dan patuh pada perintah Allah termasuk ikhlas, dengan doa yang telah diajarkan nabi :

“ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ “

Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”

Doa ketika dipuji :

للَّهُمَّ لاَ تُؤَاخِذْنِيْ بِمَا يَقُوْلُوْنَ، وَاغْفِرْلِيْ مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَاجْعَلْنِيْ خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ

Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka perkirakan (HR Bukhori)

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Do’a adalah sebab terkuat bagi seseorang agar bisa selamat dari hal yang tidak ia sukai dan sebab utama meraih hal yang diinginkan.” (Al Jawabul Kaafi, 21)

7.   Punya ketakutan mati dalam keadaan su’ul khatimah *penulis lupa mencatat penjelasan dan dalil dari sang ustadz

8.   Berteman dengan orang-orang yang ikhlas

Buah keikhlasan :

  1. Salah satu sebab pertolongan Allah

Dari Mush’ab bin Sa’ad, beliau berkata bahwa Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu memandang dirinya memiliki keutamaan di atas yang lainnya (dari para sahabat). Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukankah kalian ditolong (dimenangkan) dan diberi rezeki melainkan dengan sebab orang-orang yang lemah di antara kalian?” (HR Bukhori)

Orang-orang yang lemah, miskin, lapar, dan lain-lain ketika berdoa mereka ikhlas. Karena mereka benar-benar butuh. Mereka merendah pada Allah. Dan begitulah sahabat. Allah memberi mereka kemenangan dan kemuliaan disebabkan taqwa dan keikhlasan mereka

2.   Keselamatan dari azab kubur

Allah berfirman dalam surat Al Insaan ayat 8-11 : (8) Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. (9) Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.(10) Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. (11) Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati

3.   Diselamatkan dari kesesatan syubhat dan syahwat

Ingatlah ketika Nabi Yusuf diajak oleh seorang wanita berbuat kekejian namun Allah menjaganya. Sesuai firmanNya (yang artinya), “Demikianlah, Kami palingkan darinya (Yusuf) keburukan dan perbuatan keji, sesungguhnya dia termasuk kalangan hamba pilihan Kami (yang ikhlas).” (QS. Yusuf: 24)

4.   Ditambah hidayahnya oleh Allah

“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS Al Kahfi: 13)

Sebagaimana pada tafsir ibnu katsir mengenai para pemuda yang khawatir terpengaruhnya aqidah mereka dengan aqidah menyimpang masyarakat sekitarnya. Mereka mengasingkan diri ke sebuah gua ikhlas karena Allah

5.   Allah jadikan malaikat di langit mencintainya

Sesungguhnya Allah mencintai mukhlisin (orang-orang yang ikhlas). Dan apabila Allah telah mencintainya, maka Allah perintahkan penduduk langit untuk mencintainya

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Kalau Allah mencintai seorang hamba, Jibril menyeru ‘Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia. Maka Jibril mencintainya. Kemudian Jibril menyeru penduduk langit, ‘Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia. Maka penduduk langit mencintainya. Kemudian ditaruh baginya penerimaan di bumi.” (HR Tirmidzi dishahihkan Syaikh Al Albani)

6.   Diberikan jalan keluar oleh Allah atas permasalahannya di dunia

Ingatlah sebuah kisah israiliyat (kisah bani israil sebelum datang zaman rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengenai 3 orang yang terjebak dalam gua. Kemudian mereka berdoa dan bertawasul (menggunakan perantara –dalam hal ini syar’i-) amalan masing-masing dari mereka. Salah satu diantara mereka lebih memilih memuliakan kedua orang tuanya terlebih dahulu sebelum anak-anaknya. Lalu ia tutup doanya seraya berkata “Maka kalau Engkau tahu, aku melakukan hal itu karena mengharapkan wajah-Mu, bukakanlah satu celah untuk kami dari batu ini agar kami melihat langi”. Maka terbukalah satu celah dari gua tersebut[HR. Al-Bukhari (no.2272, 3465)]

7.   Sebab diijabahnya doa (penjelasan poin 6.)

8.   Meninggal dalam keadaan khusnul khatimah

Ucapan emas perkara keikhlasan

  • Seorang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikan sebagaimana ia menyembunyikan keburukannya
  • Ikhlaskan niatmu maka sedikitnya amal cukup bagimu
  • Betapa banyak amalan remeh namun besar disisi Allah karena niat yang benar. dan betapa kecil disisi Allah suatu amalan yang besar dikarenakan niat yang salah
  • Barangsiapa yang melihat dirinya telah ikhlas, maka keikhlasannya butuh keikhlasan yang lebih

Wallahu a’lam bish shawab

Semoga kita diberi kemudahan dalam menjaga keihklasan baik sebelum, ketika beramal, dan sesudah hingga ajal menjemput. Aamiin