8 Langkah Kepemimpinan Strategis (Bagian 1)

WechatIMG80

Dua kata yang bagi sebagian anak muda khususnya mahasiswa, dan lebih khusus aktivis pergerakan akan terdengar sangat seksi: kepemimpinan dan strategis. Kepemimpinan sangat dekat dengan kekuatan yang menfasilitasi seorang pemuda mewujudkan aktualisasi dirinya. Sedangkan, strategis sering digunakan untuk mensifati hal-hal yang mampu membantu seorang pemimpin menjalankan strateginya. Namun, apa itu sejatinya kepemimpinan? Apa itu strategi atau kepemimpin strategis? Apakah ada pemimpin yang tidak strategis?

Kepemimpinan sering diartikan secara sederhana sebagai proses seorang individu mempengaruhi orang lain di dalam sebuah organisasi dalam rangka mencapai suatu tujuan (Rauch & Behling, 1984). Meskipun, para akademisi sebetulnya berdebat panjang tentang makna kepemimpinan. Hughes et al. (2009) menyebut sebagian akademisi membahas kepemimpinan dari dari tiga sisi, yakni sisi sang pemimpin seperti kepribadian dan perilakunya, lalu pola interaksi sang pemimpin dan yang dipimpin, dan pengaruh hadirnya sang pemimpin terhadap organisasi.

Terlepas dari pemaknaan kepemimpinan, hadirnya pemimpin memiliki peran signifikan bagi sebuah organisasi. Organisasi sendiri merupakan sekumpulan individu yang terikat pada sebuah aturan dan mencapai tujuan bersama (Robbins & Coulter, 2012). Pemimpin merupakan salah satu individu di organisasi yang membantu organisasi mencapai tujuan melalui rangkaian kegiatan manajemen. Serangkaian kegiatan atau cara untuk mencapai tujuan disebut oleh Kates dan Galbraith (2010) sebagai definisi strategi. Hal ini lah yang menyebabkan sering kali kata kepemimpinan disandingkan dengan kata strategis. Seorang pemimpin dengan kepemimpinannya memegang peran dan tanggung jawab besar untuk mengelola strategi sebuah organisasi.

Robbins & Coulter (2012) menyebut seorang pemimpin perlu menguasai dan melakukan 8 hal agar kepemimpinan strategis yang ia lakukan berjalan efektif. Pertama, menentukan tujuan dan visi organisasi. Ini menjadi hal pertama dan paling utama bagi seorang pemimpin dalam memimpin organisasinya. Karena, tujuan sangat kental dan tidak terpisahkan dari keberlangsungan sebuah organisasi. Sebuah organisasi hadir untuk mencapai tujuan. Ketika tujuan telah tercapai, organisasi memiliki pilihan untuk mengganti tujuan atau membubarkan diri seperti Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang dibubarkan atau diganti Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pasca keberhasilan menyusun rancangan Undang-Undang Dasar bagi Indonesia. Seorang pemimpin harus mampu menetapkan tujuan dan menyusun visi organisasi sebelum menentukan strategi. Kalau tidak tahu mau kemana, bagaimana bisa seorang supir menentukan mau lewat jalan yang mana?

Seorang pemimpin juga harus mampu membaca, mengeluarkan, dan mengelola kompetensi dasar sebuah organisasi (Robbins & Coulter, 2012). Dalam rangka mencapai tujuan, organisasi akan menyusun rencana atau strategi berdasarkan pengamatan kondisi internal dan eksternal organisasi (David, 2011). Sehingga, keterampilan menganalisis kondisi internal dan eksternal organisasi menjadi sangat krusial bagi seorang pemimpin.

David (2011) menyebut analisis internal penting untuk mengukur kesanggupan organisasi dalam menjalankan rencana pemimpin. Adapun analisis eksternal dilakukan untuk mengetahui besar peluang dan hambatan berkenaan rencana yang disusun. Jika organisasi memiliki kompetensi yang unggul, pemimpin dapat meningkatkan target atau memilih strategi yang paling mengoptimalkan penggunaan sumber daya. Jika kompetensi organisasi terbatas, pemimpin harus menyesuaikan pemilihan strategi atau menjalankan strategi secara bertahap seiring perkembangan kompetensi organisasi. Kompetensi dasar atau kapasitas sebuah organisasi disebut oleh Kates dan Galbraith (2010) sebagai kombinasi unik organisasi yang meliputi keterampilan organisasi, tata kelola dan komposisi sumber daya manusia, serta teknologi yang ada.

Secara ringkas, dua langkah pertama menunjukkan pentingnya kepekaan dan kemampuan seorang pemimpin dalam melihat kondisi organisasinya. Seorang pemimpin harus mampu membayangkan dan memutuskan keadaan organisasi yang ia idamkan di masa depan. Meski begitu, pemimpin dituntut peka memahami dinamika dan karakter organisasi sepanjang waktu. Sehingga, pemimpin kelak dapat menyusun strategi yang paling efektif dan efisien bagi perusahaan.


Referensi:

David, F. R. (2011). Strategic management: Concepts and cases. Peaeson/Prentice Hall.

Kates, A., & Galbraith, J. R. (2010). Designing your organization: Using the STAR model to solve 5 critical design challenges. John Wiley & Sons.

Robbins, S., & Coulter, M. (2012). Management (11thedn) New Jersey Prentice Hall–Pearson. New Jersey: Pearson.

Hughes, R. G., & Ginnett, R. C. R. and Curphy, G.(2009) Leadership: Enhancing the Lessons of Experience. New York: McGraw Hill

Rauch, C. F., & Behling, O. (1984). Functionalism: Basis for an alternate approach to the study of leadership. Leaders and managers: International perspectives on managerial behavior and leadership, 45-62.

Advertisements

Daily Report #1: First Impression of Beijing

 

WechatIMG54

Welcome!

The truth is, this is not the first time I come to China. I have been in China for one month since June 20th. I was at Hangzhou for another summer school program at Zhejiang University to study entrepreneurship in China. But for Beijing, yes it is my very first time.

Once I arrived at Beijing south railway station, I moved to Peking University gate station by metro –kind of subway. It was one of the closest station from the dorm I supposed to live for the next 2 weeks. The very first difficulty I found here is bringing a huge trunk, a heavy one. I had to look for escalator or slope at every stair. Gratefully, I can find them easily –one good thing from Beijing.

WechatIMG55

What Beijing be like..

The second challenge was getting a cab. I knew everything in China today is already integrated to your phone. I would say people here are not only cashless society, but also digital society. You do everything online, ordering the cab until the payment process. Even street foods payment, they already use Alipay or Wechat Pay. But, you cannot work with those things unless you have bank account. Unfortunately, I didn’t make any Chinese bank account. So yes, it has been very difficult for me living here. Just imagine that you cannot buy or use many public things because you don’t have bank account. However, some of those small stores still accept cash.

The next challenge I have been facing until I write this report is the language barrier. You may have heard that Chinese people don’t talk in English. That is true and it really is problem. Some of them cannot speak English, but some of them simply don’t want to. I know some people here didn’t learn English due to access to education. But the universities students, they must have learnt English. When I was at Zhejiang University, the previous university in which I studied before moved to Tsinghua, the students didn’t reply to my questions. It was really simple thing such as “Would you help me buy this thing? Where is this building? Can I ask you few questions (I had research project back then).” By the way, Zhejiang University is said to be the third best university in China after Peking-U and Tsinghua. Some people say the first place belongs to Tsinghua or Peking-U –depends on the subject, and third places is contested by Zhejiang, Fudan, and Shanghai Jao Tong Uni. My point here is that this is the best 3 universities. Yet the students do not speak up with English. One of my lecturer said that they actually can speak, but they are afraid of making mistakes. They feel insecure if they make mistake in front of foreigner.

I would say it is a real problem a big deal. Because, China is about to be a giant economy. Everyone knows that. Either being producer or targeted market, sooner or later, they will interact with people from all around the world. If the youth and educated people do not speak in global language, it will be such inconvenience for investors and inefficiency for the business activity.

But back to my taxi story, thankfully I met two international students from Malaysia who could speak Chinese –and also had the taxi application. They ordered me a cab and told the taxi driver my destination. So today, here I am, writing this daily report for the individual assignment at my lovely dorm.

WechatIMG53

Lovely dorm? Just kiddin

Masandi Rachman Rosyid / Industry Frontier / University of Indonesia


This article is part of the personal project of my summer school program at Tsinghua University

Kebohongan x Keluarga x Kerinduan

Bismillah.

Setelah sekian abad ga nulis, gue memutuskan untuk menulis lagi. No specific reason sih. Cuma karena gue lagi summerschool di Cina, jadi nulis (lha ini namanya specific reason sih Wan). Biar kebermanfaatannya makin luas, jadi amal jariyah. Aamiin. Kalo mau ngobrolin later on juga oke. Just chat or email me.

Untuk 5 hari pertama, gue ga yakin mau nulis kapan. Karena sempet gue nulis di buku catetan, tapi capek. Tangan bener-bener capek. Tenaga abis, beneran buat kegiatan seharian. Apalagi masih puasaan, dan tidur gue cuma 3-4 jam (simply karena disini isya jam 8.20 tapi subuh jam 3.30).

Anyway. Gue akan coba bagi dalam 3 segmen utama tiap cerita. Ala-ala Hunter x Hunter gitu lah.  So, here is today’s story.

Hari ini adalah lebaran bagi Cina bagian Hangzhou (bacanya macem Hangjow), Guangzhou, dan Shanghai. Jadi, sebenernya ada hal lucu disini. Since Cina punya regulasi ketat terhadap kegiatan agama, imam besar Hangzhou uda membooking salat idul fitri hari senin (menggenapkan 30). Tapi, setelah melihat hilal, ternyata 1 syawal di Hangzhou jatuh hari Ahad. Artinya, harusnya salat Ied-nya Ahad. Tapi itu tadi, karena uda booking, yaudah.

Malamnya gue bingung lah. Mau salat bareng jamaah sekota di tanggal 2 syawal atau salat di KJRI (Konsulan Jenderal Republik Indonesia) tanggal 1 syawal tapi di Shanghai. Fyi, waktu tempuh ke Shanghai itu kayak Bandung-Jakarta (aslinya 170an kilo, tapi ada kereta zuper cepat). Infonya turun sore, dan salatnya jam 07.30.

Itu pagi banget men, gue harus berangkat dari sini jam berapa coba?

Tapi pada penghujung malam, ada info dari grup HIMMA (Himpunan Mahasiswa Muslim Hangzhou) bahwa mau ada salat Ied di desa Hangzhou yang imamnya orang arab jam 08.30. Weh, yaini yang gue cari. Suasana desa, bareng muslim setempat, 1 syawal, dan masih keburu. Tjakep!

Gue belum memutuskan mau salat dimana hingga pagi, tanya ke 3 ustadz yang gue ketahui kedalaman ilmu dan kefakihannya: Ust Nur Fajri Romadhon, Ust Ardantyo Sidohutomo, dan Ust Agung Budiardi rahimahumullah. Ketiganya memberi pendapat salatlah hari ini (Jam 7 pagi Ahad). Langsung gue mandi besar, ambil batik agung dan cabs.

Pas uda naik-naik bis (ini cerita lain lagi, gimana serunya nyasar naik bis di negara yang mereka gabisa bahasa inggris dan google di blokir disini. Kebayang ga lo gimana bingungnya gue hidup disini? Ngomong ga nyambung, baca juga gabisa), akhirnya gue janjian sama Mas Fuad (salah satu orang HIMMA) di halte Tousanmen. Kami pun jalan ke tempat yang dimaksud. Saat jalan dari halte, jam uda 08.10. Ya gue takut dong ketinggalan jamaah. Gue kira mereka uda kumpul di lapangan gitu. Ternyata pas sudah sampe, itu adalah apartemen salah satu anak HIMMA. Asli gue bingung dan kaget, membatin “Jadi ini salatnya dibikin sendiri? Oh, okay. gue kira ada pihak resmi yang nyelenggarain”. Well, gapapa si. Karena niat gue emang menjalankan amalan sunnah. Cuma yaa, kaget aja.

lebaran cina_170901_0002

Suasana “pedesaan” di salah satu sudut Hangzhou

Dan yang lebih ngagetin, agak ngeselin, but at the same time pingin bikin ngakak adalah ini bener-bener persiapan di tempat. Like, imam dan khatibnya bahkan belum ada saat itu. C’mon man. Ini sokap imam dan khatibnya. Saat itu, akhirnya gue menawarkan jadi imam aja. Lalu ditanyain “mau jadi khatib sekalian ta mas?”. Well, gue tau kapasitas gue jauh dari pantas. Tapi saat itu, yang lain juga masih santai-santai dan ga ada yang punya persiapan. Walhasil, jadilah gue imam dan khatib salat idul fitri 15 anak HIMMA di kota Hangzhou –”

Satu hal lagi yang paling epic adalah gue baru sadar bahwa diantara anak-anak HIMMA yang jadi jamaah, ada satu anak Nigeria yang nyempil dan ikutan. Gue baru sadar ketika gue uda about to salat, uda ngingetin “Ini nanti dua rakaat” tetiba ada yang nyaut “In english Wan”. Itu baru gue sadar. Dan… Saat itulah, gue nelen ludah. Artinya, saat khutbah nanti, gue harus deliver it in english. Well then, just do it. Setelah salat, gue khutbah dengan materi yang dipersiapkan cuma 5 menit dan bahasa inggris yang langsung translate pas ngomong.

Sejujurnya, gue kaget, kesel, tapi juga mau ngakak si. Bisa juga ya se-surprise ini. I mean, kacau sih. Tiba-tiba lho. Menginisiasi salat idul fitri coba. Ya gokil juga si temen-temen HIMMA. Cuma bagian keselnya adalah kita di grup dibohongin bahwa imamnya orang arab. Well, itu katanya becanda doang ternyata. Tapi tetep aja itu dusta men: Lo mengatakan sesuatu yang ga sesuai fakta, sengaja maupun ga sengaja (cek kitab afaatul lisan atau penyakit lisan karya Syaikh Asysyinqithi). Dan ga pernah dibenarkan dalam Islam berdusta buat becandaan. Bahkan, yang begini disebut khusus loh.

Ditambah lagi, sempet ada jokes di grup WeChat HIMMA (gue masuk di dalamnya) bahwa alamat yang ditulis itu becandaan. Ya gue kaget lah. Gue uda berangkat jauh-jauh, pagi-pagi, nyasar, eh ternyata itu alamat ga beneran. Gimana perasaan lo??

Meski selang 3 menit yang dusta tadi bilang “Eh itu becandaan”. Tetep aja men, gue jadi miss 1 halte yang harusnya gue oper ke bis lain. Gue gajadi oper karena gue lagi bingung apakah jadi ada salat Ied di desa apa gak. Meski gitu, pada akhirnya ternyata jadi. Dan ya begitu kejadiannya as I’ve mentioned di atas.

lebaran cina_170901_0004

“In English Wan”

lebaran cina_170901_0005

“Vin, Ini nanti khotbahnya gimana?”

lebaran cina_170901_0012

“Ayo yang cowo foto dulu, sebelum cewe-cewenya foto”. Wkwk

‘Ala kulli haal.

Akhirnya setelah salat, kami makan bareng di restoran Pakistan. Gue makan kare ikan. Kita ber-15 an, makan rame-rame. Disana ada yang uda nikah dan istrinya di Indonesia, curhat. Ada yang uda S2 tapi belum nikah, curhat. Ada yang mau nikah, curhat. Ya maap, kok nikah mulu? Karena emang begitulah mahasiswa dewasa muda, mulai mikir keluarga dan berkeluarga. Keluarga ya wajarlah, biasanya lebaran bareng keluarga. But now, we are far from them. Jadinya, kita saling curhat deh.

lebaran cina_170901_0006

Keniqmatan HQQ

Abis curhat di meja makan itu sekitar 2 jam, kita lanjut agenda makan (lagi) tapi buat sore harinya. Selesai makan itu zuhur jam 12. Kita mau makan lagi jam 4 di rumah salah satu senior. Masak-masak gitu. Enak lah. Akhirnya kita berangkat. Sampe rumah ya kita masak-masak, cerita-cerita, ngalor-ngidul curhat, intinya bener-bener quality time bareng. Kerasa kayak saudara, beneran. Apa ya, ga cuma saudara seiman, tapi emang temen cerita apa adanya. Lepas. Feeling-nya itu lho. Enak banget.

Disitu jujur gue merasa punya keluarga kecil, keluarga sementara. Saudara sepenanggungan, saudara seiman. Dulu gue sempet punya pola pikir: “Kalau S2 gamau kumpul sama orang Indonesia. Jauh-jauh masa sama orang Indo lagi. Biar improve-lah bahasa inggrisnya at least“. Tapi faktanya, nyaman men bareng saudara itu. Senyaman itu. Dan lo butuh orang-orang yang bisa diajak senyum dan sedih bareng. Senyum karena tingkah mereka, sedih karena saling memahami kesedihan satu sama lain (sama-sama kangen keluarga di rumah, dan lainnya). Setelah hari ini, jujur gue berpikir untuk tetap dekat dengan mereka. Nyaman. Meskipun ada dusta dalam canda yang gue gasuka, tapi itu cuma satu hal yang tertutup oleh seluruh kenyamanan dan kebaikan mereka. I love them as brothers in faith and sisters in tanah rantau. Setelah selesai makan-makan hingga Magrib, kami pulang naik bis yang perjalanannya sekitar 40 menit.

lebaran cina_170901_0007

Sebuah keseruan

lebaran cina_170901_0008

Keniqmatan HQQ (2)

lebaran cina_170901_0011

Yang bikin hangat itu bukan kare ikannya, tapi yang gantian nyobain karenya..

lebaran cina_170901_0010

Keluarga HIMMA 🙂

Bagian terakhir adalah bagian yang sebetulnya gue bingung nyambungin kemana. Bagian yang sebetulnya gue mau jadikan satu halaman sendiri. Bagian yang sebenernya cuma ditujukan khusus untuk orang tertentu..

Ya, ini tentang kamu.

Kamu harus tau, jemariku terhenti menulis kisah ini tatkala aku mengingatmu. Entah, aku hanya bingung ingin menyampaikan apa. Padahal, kamu pernah bilang bahwa kamu menanti aku menulis kembali. Maaf jika itu artinya aku kembali membuatmu menunggu.

Kita tahu, kita tidak bercakap banyak. Tidak banyak waktu untuk itu, dan kita memilih untuk menunda kalimat-kalimat itu. Tapi jujur, kadang aku tak tahan ingin mengucap satu atau dua kalimat untukmu. Kalimat yang sejatinya kita sama-sama tahu. Atau mungkin, aku yang mengkhayal bahwa kamu seorang cenayang sehingga tahu isi pikiranku? Ah sudahlah. Rindu tak pernah mengubah apa-apa.

Rindu itu sebuah niscaya. Namun kekhawatiran tidak hadir pada jiwa yang menitipkan cinta pada Dzat yang menjaga seluruh hamba-Nya.

Fatwa Sakit

Assalaamualaikum, Hello readers !

Ga biasa banget tulisan gue genrenya ala ala nulis surat. Tapi emang sebenernya uda dari lama pingin nyoba. Biar apa? Biar ngalir. Karena gue gamau nulis yang dibuat-buat dulu sajak, rima, atau apanya lah. Capek. Akhirnya malah gak di post dan cerita gue ga tersalurkan.

Daan, uda lama banget ya ga nulis. It’s been a decade I guess. Lebay. Ya, faktanya gue sedang mencoba beragam media untuk berbagi. Boleh cek akun instagram gue di sini, soundcloud gue di sini, YouTube gue di sini, dan masih belum yang lain. Intinya, gue beberapa waktu ini eksperimen tentang media mana yang paling fit buat gue dan teman-teman semua.

screen-shot-2017-02-26-at-2-20-30-pm

You are the best marketer for yourself #promosi

Alasan kedua karna emang sejak semester lalu gue lebih banyak sharing via ketemu langsung, sehingga kalo di kamar uda tingal teparnya. Ini aja kalo ga karna sakit, kayaknya tetep ga nulis karena mau ketemu orang So.. Ya, sakit bisa jadi momen buat merefleksikan diri lho. Buat keluar dari rutinitas.

…. prologue gue panjang juga ya? Haha. Maaf, so let’s get to the topic.

Kenapa judul tulisannya Fatwa Sakit, ini terinspirasi dari temen gue yang ngasi saran berkaitan radang yang sedang menimpa gue –Semoga ini menghapus dosa dan memperingan hari perhitungan kelak, Aamiin.

Dia menjelaskan bahwa radang itu bentuk respon tubuh terhadap virus, bakteri, atau hal jahat yang masuk. Imun naik dan terjadi gejala fisiologis, seperti tenggorokan memerah, batuk, pilek, anything. The truth is, batuk pilek dan termasuk radang itu tadi juga menimbulkan pain kan? Pain ini kemudian kita keluhkan sebagai sakit. Well, ini masalah linguistik bukan ya? Ketika bahasa indonesia tidak punya kata yang bisa menjelaskan dan membedakan antara sick, ill, pain, dan yang lain. Karena intinya sama, sakit dan kita merasakan sakit.

Poinnya bukan (cuma) disana. Dia lanjut menjelaskan bahwa radang bisa ditekan dengan mengkonsumsi obat. Obat akan bekerja dengan cara menurunkan imun yang berlebihan supaya radangnya mereda. Sontak gue kaget dan bertanya: ‘lah kan imun naik karna ada penyakit masuk. Kalo imunnya diturunkan, berarti penyakitnya bakal masuk dong? Malah sakit kan?’. Simpel dia menjawab: ‘Iya emang. Makanya kalo lagi minum itu jaga kesehatan yang bener’.

110748

The so called Obat

Okay, ada poin menarik disini, dan gue merasa telah salah berfatwa bahwa gue sedang sakit. Kalau dibilang sakit, radang sebetulnya sebatas mekanisme pertahanan supaya kita ga sakit. But the fact is, we suffer the pain. Jadi gabisa dibilang bohong juga kalo gue bilang radang itu sakit. Menyakitkan kali ya tepatnya?

Ada satu hal yang gue ambil sebagai hikmah dan pelajaran disini. Bahwa dalam memaknai sebuah fenomena, kita perlu memperkaya wawasan dan melihat dari perspektif lain. Dengan pemahaman yang lebih dalam, kita juga tidak serta merta atau tergesa-gesa memberi judgement. Gue percaya bahwa seorang dokter mengeluarkan banyak pertanyaan dan assessment itu supaya bisa tahu secara spesifik penyakit beserta treatment yang tepat.

Dan sebaliknya, ketika seorang terlalu mudah dalam berkomentar, menilai, menghukumi, itu menunjukkan pendeknya nalarnya dan dangkalnya ilmunya. Seorang mufti (pemberi fatwa) akan mencari lebih banyak dalil sebelum kemudian memberikan fatwanya. Seorang mahasiswa skripsi (That’s me!!!) akan berhati-hati ketika hendak mengatakan ‘A berpengaruh lho terhadap B’, ‘Variabel C punya hubungan positif terhadap variabel D’, ‘Aku ada hubungan lho sama kamu’ #Jaaah

Ngobrol dengan temen gue ini jadi sebuah momen refleksi buat diri gue pribadi. Kadang, kita ringan banget komentar atau menilai sebuah fenomena. Baru baca buku A tentang sebuah isu, komentarnya uda nyambung sana dan sini. Memang berbagi cerita dan opini perlu, ini juga langkah kita memperkaya wawasan dengan feedback dari pendengar. Tapi kita harus tau kapasitas kita. Kita bisa sharing tentang isi buku A, tapi jangan sampai kita sudah merasa besar dan paham semua hal yang berkaitan dengannya.

Kalau nasihat guru bahasa arab gue: jangan sampai baru belajar matan Aljazariyah –semacam kitab dasar ilmu nahwu, tapi uda komentar bahwa Alquran ada salah kaidah nahwu. Lha wong ilmu nahwu itu ada setelah dan merujuk pada Alquran. Eak

So, from now on, kita perlu pelan-pelan sebelum mengambil kesimpulan. Banyakin ngobrol sama orang, supaya kita juga makin luas wawasannya. Jangan sampai asal mengambil kesimpulan, asal memberi fatwa.


Tulisan ini gue dedikasikan buat Managing Executive-nya Envihsa FKM UI, yang harusnya pagi ini kita ada training dinamika kelompok dan dasar fungsi kontrol-evaluasi buat manajemen level atas. Maaf banget guys ya gue tumbang pagi-pagi. Agenda training-nya kita undur dulu.

Dan untuk teman-teman pembaca yang mau sharing, diskusi, atau mau mengadakan training buat tim divisi atau organisasinya tentang keorganisasian baik tingkat individu, kelompok, maupun organisasi, gue akan sangat senang bisa membantu. Just reach me through masandi.riwan@gmail.com

3 Fakta Bekam #EvidenceBased

Bekam merupakan pemain sepak bola tampan yang di tim nasional Inggris bernomor punggung 7.. Oh bukan. Itu Bek(h)am. Salah

Bekam, cupping, Alhijamah, pada dasarnya merupakan pengobatan dengan cara mengambil sebagian darah dari tubuh melalui luka kecil yang dibuat dengan sengaja. Ini definisi berdasarkan pengalaman pribadi ya. Definisi lebih akurat bisa tanya mas-mas ahli bekamnya langsung.

Sebelum ke inti tulisan, aku mau jelasin bagian tanda pagar #EvidenceBased. Ini bermula dari pertanyaan sahabat SMA-ku yang sekarang menjadi ketua BEM di FK Unair. Awalnya, aku hanya bertanya ‘ada yang tau info tempat bekam di Surabaya?’ di sebuah grup Whatsapp. Setelah salah satu penghuni grup menjawab pertanyaanku, patnerku dalam membuat tandu di lomba PMR itu menyambut dengan pertanyaan baru: ‘Emang bekam itu evidence based ya?’

Hmm. Menarik. Katanya masih banyak pengobatan di tengah masyarakat Indonesia tidak evidence based. Seperti luka bakar diberi odol. Hmm.. Bingung juga ya

Daan.. apakah bekam masuk evidence based? Jawabannya bisa dicek di sini

Sebetulnya, tulisan ini sebatas berbagi fakta yang baru aku ketahui setelah kemarin merasakan langsung seru dan nikmatnya berbekam. Jadi, tentang evidence based.. Kapan-kapan saja lah ya dibahasnya.

Okay! 3 Fakta yang aku dapati setelah berbekam adalah sebagai berikut:

#1 Bekam ternyata hanya sebentar

Ketika aku datang, aku sangat ingat saat itu jam menunjukkan pukul 14.07 WIB. Aku menengok ke jam analog sesaat sebelum berbaring di kasur. Rangkaian treatment yang diberikan secara urut adalah badan diolesi minyak, dipijat, lalu beberapa titik (saat itu 8 di punggung dan 4 di kaki) di-cupping. Cupping pertama ini dilakukan sebelum punggung kita ditusuk oleh jarum. Diantara efeknya adalah megeluarkan angin (masuk angin) dan.. entah. Supaya mati rasa? Entah

Lalu bagian yang sudah di-cupping selama 1 hingga 2 menit itu mulai ditusuk-tusuk dengan jarum steril. Ditusuknya berkali-kali lho. Tapi di tempat yang berbeda pada satu area cupping. Rasanya lucu. Ada geli, sakit dikit, ya begitulah. Hanya berselang sekian detik setelah ditusuk, area tersebut langsung di-cupping lagi. Sekarang, darah keluar.

Setelah 3 menit, cupping dilepas dan punggung dibersihkan dengan tisu. Setelah dengan tisu, masih dibersihkan ulang dengan alkohol -oh ya, sebelum ditusuk tadi area bekam juga dibersihkan dengan alkohol. Setelah merasa cukup enak, aku baru bangun dari tempat tidur -oh ya, momen-momen di bekam sungguh enak buat tidur. Sebagaimana nikmatnya tidur saat punggung kita dipijat. Haha

Setelah melalui seluruh rangkaian tersebut, ternyata.. Jam analog menunjukkan waktu masih 14.30 WIB!! Cepat bukan? Awalnya aku mengira akan memakan waktu 60 hingga 90 menit sehingga aku bisa menamatkan beberapa bab buku bacaan atau tidur siang. Tapi ternyata, tidak sampai 30 menit.

Mungkin, ini juga dipengaruhi jumlah titik yang dibekam ya? Jadi, titik bekam-ku kemarin 8 di punggung dan 4 di kaki. But the point is.. Bekam nggak terlalu lama. Cocok lah kalau kita bosen nunggu kakak atau adik belanja di supermarket. Yang penting bukan kakak-adik zone aja. #lah

#2 Darahnya kental

Awalnya, aku mengira saat cupping bekam dilepas, darah akan tumpah ke sekujur tubuh. Punggung akan  bersimbah darah. Lebay ya? Tapi awalnya emang mikir begitu. Ya gimana, ada 8 titik bekam, tiap titik ditusuk berkali-kali, lalu darahnya ditarik dengan sengaja. Wew

Ternyata, anggapan ini salah. Karena, darah pada bekam pertama secara relatif belum keluar banyak. Meskipun keluar, darah ini ternyata cepat membeku (dalam hal ini mengental). Kata mas-mas bekamnya, darah kotor lebih cepat menggumpal -gatau juga ini pernyataan ilmiah apa nggak.

Intinya, darah tidak mengucur sebagaimana air mancur. Darahnya menempel di dinding cupping bekam. Sehingga, no need to worry badan akan bersimbah darah.

#3 Awas masuk angin setelah bekam

Sebelum pulang, aku tanya ke mas-mas bekam ‘mas, bekam ada pantangannya ga? Sesudah atau sebelum gitu’.

Katanya ‘Jangan mandi mas abis bekam. 3 sampe 4 jam ini jangan mandi dulu’.

Aku langsung nyeletuk ‘lah kenapa?’. Si Mas menjawab ‘ya kan pori-porinya habis terbuka mas. Kalau mandi nanti masuk angin’. ‘Oh iya’ jawabku dalam hati.

Ternyata, apa yang dikatakan mas-mas bekam benar. Ketika adikku menyetir pulang, kami berdua yang sama-sama bekam menyadari kebenaran perkataan si Mas Bekam. Kami mules, bersendawa, dan smoke bomb tak terelakkan. Beruntung, di mobil hanya kami berdua. Tidak ada rasa sungkan, yang ada hanya gelak tawa. Haha

Bahkan, ketika sampai rumah, aku m3ncret. Dan memang benar, dalam rentang 3 jam setelah bekam, aku gampang mules masuk angin. Jadi, pilihlah waktu bekam secara bijak. Karena rentang waktu itu kita tidak bisa langsung mandi

Sebetulnya, ada satu bagian yang lebih epic dari cerita bekam Sabtu kemarin..

Orang bilang bahwa bekam membuat badan kita terasa enteng. Namun, itu dengan asumsi kita tidak mengonsumsi hal-hal seperti di bawah ini

2014-05-28-20-00-12

fat: unknown gram

Yoi. Setelah bekam, ternyata adik malah ngajak makan kesini. Haha..

Bekam mungkin membuat badanmu terasa enteng. Tapi setelah makan itu tadi, kita tahu badan hanya ‘terasa’ enteng. Nyatanya… Haha. Tau sendiri lah ya


gambar makan enak dari sini

Ketika Cinta

al-quran-islam-macro-wallpaper-photograpy

Ketika engkau mencintai Alquran

Engkau jadikan ia aset terbesar dalam hidupmu

Ketika engkau mencintai Alquran

Engkau jadikan ia timbangan dalam menakar cost and benefit dalam tiap keputusanmu

Ketika engkau mencintai Alquran

Engkau jadikan ia kacamata dalam memandang setiap kejadian

Ketika engkau mencintai Alquran

Engkau prioritaskan ia ketika mengurutkan skala kepentinganmu

Ia meneguhkanmu dan meyakinkanmu, bahwa seorang haamilat Quran lebih utama daripada seorang pemilik harta/kecantikan/keturunan. Kendati engkau harus bersabar atas luas hartanya, indah parasnya, atau garis keturunannya yang mulia‎

 

Bumi Allah, 19 April 2016


Gambar Mushaf Alquran dari sini

Mengais

berwudhu

“Nggak ah. Gue nggak nyambung sama bapaknya. Ngajarnya gak enak, matkulnya juga ga seberapa gue suka”

Saudaraku, sebanyak apapun nasihat dan kucuran ilmu yang diberikan, kalau tidak ada keinginan dan upaya dari kita untuk mengais ilmu tersebut, tidak akan pernah ada ilmu yang kita dapatkan.

Sebagaimana kita berdiri di bawah air terjun. Sebanyak dan sederas apapun air yang jatuh menghujani kita, takkan ada yang bisa kita bawa selama kita tidak mau menyatukan telapak tangan dan membukanya ke arah langit

Sebaliknya, sedikit dan serumit apapun nasihat dan curahan ilmu yang diberikan, kalau kita berusaha dan serius untuk mengais faedah yang ada, pasti ada hikmah yang kita peroleh walau ia hanya setitik air di tengah luasnya samudera pengetahuan.

Sebagaimana kita menanti tetesan air dari keran untuk berwudlu. Mungkin kita tetap tidak bisa berwudlu hanya dengan satu dua tetes tersebut. Tapi sadarilah, engkau telah mengais beberapa tetes dari elemen kehidupan.

Jika kita tidak memiliki air untuk bersuci, kita punya tanah untuk ber-tayammum. Demikian pula dalam menuntut ilmu. Jika kita tak mendapati tetesan air dari para ahli ilmu, maka datangilah tanah-tanah yang suci itu dari perpustakaan kampus. Bertanyalah pada penduduk bumi dimana sumber air yang lain.

Karena Allah menjadikan bumi itu luas. Bertebaranlah kamu ke seluruh penjuru dunia

Depok, 15 April 2016


gambar mengais dari sini

Tentang Ilmu

6bwkg6mvua

“Ilmu ini dipakenya kapan si? Dipake buat apa? Emang berguna?”

Pertanyaan ini muncul sebagai konsekueni karena kita sudah memilih fokus menghabiskan waktu untuk memelajari suatu ilmu. Di perkuliahan, ada banyak disiplin ilmu. Ini direpresentasikan dalam fakultas. Di UI saja, ada 14 fakultas. FMIPA, FH, FEB, FK, FKM, FPsi, FT, dan lainnya.

Kadang, ketika merasa belajarnya sudah sangat susah, tentu kita akan berpikir buat apa si belajar atau berpikir sesusah itu? Manfaatnya apa? Efeknya apa? Kalau bahasa FE nya: benefitnya apa? Returnnya apa?

Sedihnya, setelah mengarungi jungkir balik perjuangan untuk memenangkan, atau sekadar melewati, atau bahkan bertahan di disiplin ilmu itu.. Kita gak menemukan apa manfaatnya. Apa kegunaannya, kapan ilmu ini akan bermanfaat bagi kita.

Terkadang, aku merasa sangat sedih ketika melihat teman yang berjuang keras di suatu disiplin ilmu, tapi ternyata dia sendiri tidak tau kapan atau untuk apa ilmu tersebut digunakan. Ya, buat kita yang cuma bisa melihat kerasnya perjuangan tanpa tau buahnya, melihat dia berjuang saja sudah membuat kita nggak tega. Apalagi sampai dianya yang mengeluh “Ini ilmu buat apa si? Emang guna di dunia kerja? Teori sih iya. Tapi nggak aplikatif!”

Sejenak, aku bersandar di kursi dan mengangkat kepala. Seperti biasa, melihat biru langit membantuku berpikir lebih leluasa. Sejenak, aku ikut berpikir “Iya ya. Doi belajar susah-susah konsep dan teori ini-itu, menghitung rumus yang entah ada ujungnya atau nggak, itu semua buat apa coba? Emang di dunia kerja bakal terpakai? Emang berguna?”

Aku menarik nafas panjang dan membuangnya sesuka diri. Seketika memunculkan sebuah pernyataan “Entah ya, apa manfaatnya. Tapi dia dulu memilih jurusan ini juga pasti ada alasannya. Ada yang mau didapatkan” Tidak berselang, aku lanjut bertanya “Tapi apa ya? Ngapain sih belajar beginian? Emang manfaatnya dimananya, mau dipakai pas kapan?”

Tiba-tiba telpon genggamku bergetar. Ada pesan dari ibu “Adik sama ibu naik kereta ke Jogja ya. Sekolah adik libur beberapa hari setelah UTS. Doakan nak ya”. Seketika aku bergumam dalam hati “Enak sekali ya adik. Bisa liburan begini”. Kututup pesan ibu dan kumasukkan telponku ke saku celana. Back to topic

Ternyata, justru pesan singkat ibu itu lah yang menjadi titik awal pencerahan. Menanggapi gumam keluhku tadi, aku jadi berpikir. “Iya ya, capek juga kalau hidup cuma bekerja. Ada istirahatnya lah. Ada aspek-aspek lain dalam hidup selain bekerja”

Disanalah aku mulai berpikir bahwa bisa jadi ilmu yang dipelajarinya memang tidak akan digunakan di lapangan kerja. Bahkan, manfaat ilmu tersebut memang tidak digunakan untuk bekerja. Bisa saja dia memelajari ilmu tersebut untuk sekadar menghabiskan waktu. Bisa saja baginya, memelajari suatu ilmu adalah caranya refreshing atau menghilangkan kepenatan dari rutinitas hidupnya. Bisa jadi, seseorang memelajari ilmu untuk memerbaiki aspek lain dalam kehidupan sehari-harinya.

Aku jadi teringat pada salah satu dialog yang tertulis di buku belajar bahasa arabku. Disana, disebutkan bahwa di universitas yang memelajari agama islam (Universitas Islam daerah X), ada fakultas khusus yang memelajari adab dan akhlak. Tentu kita akan berpikir, “Ngapain menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan uang untuk memelajari adab? Tidak akan menghasilkan duit!”

Well, sebetulnya aku tidak sepakat dengan pernyataan bahwa dia tidak berkaitan dengan duit. Tapi poin yang lebih penting untuk kita sadari adalah memelajari adab bukan hanya bicara tentang uang. Bahkan, memang mungkin tidak akan kita kaitkan dengan mencari uang -meski kita tahu bahwa ada kaitannya. Memelajari adab itu untuk memerbaiki perilaku kita sebagai manusia. Memelajari adab adalah untuk memerbaiki kualitas hidup. Dia memang tidak dipelajari untuk diimplementasi di dunia kerja, tapi justru lebih dari itu, dia akan bermanfaat untuk seluruh aspek kehidupan.

Aku percaya bahwa saat ini, sebagian dari pembaca telah memilih untuk ilmu apa waktunya dihabiskan. Tapi, yang perlu kita sadari kembali adalah untuk apa kita memelajarinya, dan apa manfaat yang ingin kita peroleh dari memelajari ilmu tersebut.

Karena, kita sebagaimana di ilmu ekonomi kita belajar konsep kelangkaan. We have limited time. But we see that branch of science is unlimited. Karenanya,

Pelajarilah ilmu-ilmu yang paling penting.
Umur kita terlalu pendek untuk menguasai seluruh ilmu yang ada di bumi.

Pelajarilah ilmu yang dengannya kamu akan selamat di bumi dan mengantarmu ke kebahagiaan abadi

Di balik jendela, di bawah langit Depok

26 Maret 2016


kampus UI dari sini

Aku, Ibu, dan Hari Ibu

academic_calendarlanding

Menurutku, standar ganda itu dibutuhkan pada beberapa kesempatan. Contoh standar ganda itu kita menerapkan (mengharapkan) rendah untuk orang lain, tapi tinggi untuk kita. Salah satu momen menerapkan itu adalah hari ini, 22 Desember, yang sebagian orang menyebutnya hari ibu

Aku paham dengan orang yang berusaha menjadikan hari ini sebagai momentum ia membahagiakan, memuliakan, atau mengekspresikan kecintaan ibunya. Ibumu jelas berhak atas hal itu. Dan ia berhak untuk mendapatkan lebih dari apa pun yang kau lakukan hari ini.

Abu Burdah mengatakan bahwa ia melihat Ibnu Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang yaman itu bersenandung,

إِنِّي لَهَا بَعِيْرُهَا الْمُـذِلَّلُ – إِنْ أُذْعِرْتُ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ

Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh.

Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.

Orang itu lalu bertanya kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab,

“Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.” [Adabul Mufrad no. 11]

Itu adalah Abdullah bin umar bin al-khattab. Itu adalah standarnya untuk ibunya. Ada pula yang menjadikan hari ini sebagai momentumnya. Silahkan, semua punya timbangan masing-masing.

Tapi, aku tak bisa menerapkan standar itu. Aku tak bisa memaksakan diri di hari ini untuk mengetik puisi indah untuk ibu, membuat origami cantik, atau mengirim kue tart bertulis nama ibu pada hari ini, entah aku tak bisa.

Entah, aku merasa malu. Aku merasa malu padamu ibu, merasa tak tahu diri, merasa tak tahu sopan santun, tak bisa berterima kasih, tak bisa menghargai… Aku merasa tak berbakti, kalau sampai aku mengakui, bahwa satu hari ini adalah momen spesial bagiku untuk berbakti padamu.

Jika aku memperlakukanmu spesial hari ini, itu berarti aku mengakui ada hal yang tidak kulakukan di hari lain. Padahal keutamaanmu sebagai pintu surgaku, berlaku selalu hingga kelak datang waktu Itu.

Jika aku menghususkan untuk memberi bakti terbaikku hari ini, itu berarti di hari-hari yang lain aku hanya berbakti dengan baik padamu. Sungguh dirimu berhak mendapat yang terbaik dariku, sepanjang waktu.

Duhai celakanya aku, kalau engkau cemburu di 364 hari yang lain, karena aku tak bisa berbakti sebagaimana aku berbakti hari ini.

Ya, standar ganda itu perlu

Kalau memang hari ini, 22 Desember ini, menjadi hari bagi kita untuk MULAI memuliakan, membahagiakan, dan memberikan bakti TERBAIK pada ibu di SETIAP WAKTU.. Maka mulailah

Karena kita tak tahu, apa 22 Desember di tahun depan masih ada orang yang akan kita ucapkan selamat hari ibu

Karena kita tak tahu, apa sepulang kita dari sekolah, kampus, atau tempat kita kerja sore ini, kita masih bisa melawak dan membuat ibu sebatas tersenyum teduh

 

780 km dari sisi Ibu, 22 Desember 2015

Anak tengahmu, Ibnu Rosyid


kalendar dari sini