Catatan Semester 6

Duhai jiwa, saksikanlah betapa diri ini menyesali dan masih berupaya mensyukuri catatan perjalanan akademis perkuliahan 6 bulan ini..

Duhai jiwa, saksikanlah betapa terkejutnya diri ini menerima buah usaha perkuliahan semester ini..

Maka ingatlah, akan hari ketika kita menerima catatan perjalanan yang lebih panjang.

Maka ingatlah, akan hari ketika banyak manusia terkaget dengan catatan akhir yang ia terima.

Tak ada lagi waktu bernegosiasi, tak ada lagi waktu merevisi..

Angkat dagumu, jangan larut dalam kesedihan. Jangan bersedih di bulan penuh ampunan. Karena kebahagiaan tertinggi bukan disini

Sungguh indah nasihat ust Oemar Mita:

“Karena dunia hanyalah tempat untuk meninggal, bukan tempat untuk tinggal”

🙂

Surabaya, 20 Juni 2016 ~ 15 Ramadan 1437

Mengais

berwudhu

“Nggak ah. Gue nggak nyambung sama bapaknya. Ngajarnya gak enak, matkulnya juga ga seberapa gue suka”

Saudaraku, sebanyak apapun nasihat dan kucuran ilmu yang diberikan, kalau tidak ada keinginan dan upaya dari kita untuk mengais ilmu tersebut, tidak akan pernah ada ilmu yang kita dapatkan.

Sebagaimana kita berdiri di bawah air terjun. Sebanyak dan sederas apapun air yang jatuh menghujani kita, takkan ada yang bisa kita bawa selama kita tidak mau menyatukan telapak tangan dan membukanya ke arah langit

Sebaliknya, sedikit dan serumit apapun nasihat dan curahan ilmu yang diberikan, kalau kita berusaha dan serius untuk mengais faedah yang ada, pasti ada hikmah yang kita peroleh walau ia hanya setitik air di tengah luasnya samudera pengetahuan.

Sebagaimana kita menanti tetesan air dari keran untuk berwudlu. Mungkin kita tetap tidak bisa berwudlu hanya dengan satu dua tetes tersebut. Tapi sadarilah, engkau telah mengais beberapa tetes dari elemen kehidupan.

Jika kita tidak memiliki air untuk bersuci, kita punya tanah untuk ber-tayammum. Demikian pula dalam menuntut ilmu. Jika kita tak mendapati tetesan air dari para ahli ilmu, maka datangilah tanah-tanah yang suci itu dari perpustakaan kampus. Bertanyalah pada penduduk bumi dimana sumber air yang lain.

Karena Allah menjadikan bumi itu luas. Bertebaranlah kamu ke seluruh penjuru dunia

Depok, 15 April 2016


gambar mengais dari sini

Kalau Sudah Bilang: “Aku Nggak Bisa”

Kalau diri sendiri uda bilang “Aku nggak bisa matkul ini” ya nggak bakal bisa memahami lah, kayak kata Albert Bandura (1977) pada Social Learning Theory. Bandura bilang, salah satu faktor yang memengaruhi proses learning adalah self-efficacy. Self efficacy itu tingkat keyakian seseorang tentang kemampuannya untuk melakukan hal-hal yang dibutuhkan guna mencapai titik performance tertentu.

Kalau menurutku, yang namanya manusia itu selalu ingin berada di posisi yang benar. Makanya, tubuh kita bakal menolak untuk memahami materi karena ingin membenarkan pernyataan yang tadi diucapkan: “Aku ini gabisa”

Coba pernyataan di otaknya bilang “Saya bisa kok”. Saraf otak bakal effort untuk mengolah dan memahami materi, supaya pernyataan “Saya bisa” menjadi kenyataan.

Makanya..

Harus punya keyakinan “Saya bisa”. Atau lebih tepatnya “Dengan izin Allah, saya bisa”. Karena Dia maha mengetahui yang tidak kita ketahui. Termasuk apakah sebetulnya kita bisa memahami materi UTS ini atau nggak

Masandi Riwan,

Orang yang berusaha memahami..

 

..memahami materi ujian. Memahami kamu abis UTS aja ya


gambar dari sini

Sang Menteri: Sebuah Kuliah Perdana

25198

Jam menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh. Hawa dingin khas matahari terbit masih menyelimuti diri. Tapi, ada yang berbeda dari pagi ini. Tak biasanya, rasa malas untuk membuka jendela tidak menghampiri. Kuingat-ingat lagi…

Oh iya, hari ini ada kuliah perdana oleh Sang Menteri!

Kulakukan aktivitas pagi seperti biasa: Mandi. Ya.. Hanya mandi yang menjadi rutinitas. Sarapan? Menyesuaikan. Kalau jam menunjukkan 15 menit menuju waktu perkuliahan, artinya sarapan harus ditunda esok hari. Mungkin, aku bisa sarapannya esok hari.

Pukul 8 tepat, saya sudah melangkahkan kaki di sekitar kolam makara. Nametag dan jaket kuning khas mahasiswa baru menghiasi selasar FEB UI. Hari ini juga bertepatan dengan hari pertama pasca-OPK, orientasi pengenalan kampus. Sebetulnya, kuliah perdana diwajibkan untuk mahasiswa baru 2015 dengan mata kuliah pengantar ekonomi 1. Walaupun sudah lulus dengan nilai memuaskan –saya sudah cukup puas meski bukan A, saya tertarik untuk menghadirinya. Bukan konten perkuliahannya yang menarik hati, namun pematerinya: Pak Bambang P.S. Brodjonegoro, menteri keuangan RI saat ini.

Selama 20 menit, mahasiswa baru berdesak-desakan mencari tempat duduk di tangga auditorium –bagian kursi sudah penuh oleh mereka yang datang sebelum pukul 8. Untungnya, saya mengambil tempat yang aman di lantai 2 auditorium. Bagian atas (lantai 2) diisi oleh beberapa staf kemenkeu dan asisten dosen.

Sembari menunggu, Bu Beta mengisi waktu kosong dengan ice breaking. Ada dua mini quiz yang ditanyakan ke mahasiswa baru. Tapi, ada satu pernyataan beliau yang menarik:

“Pak Bambang itu angkatan 1985. Kalian 2015 ya? Selisih 30 tahun nih ya.. Itu artinya, boleh lah ya berharap 30 tahun lagi kalian lah menterinya. Haha”

Ungkapnya ringan, penuh canda. Tapi cukup untuk membuatku berpikir.. “Iya ya, 30 tahun lagi bisa jadi satu dari sekian ratus anak-anak di bawah ini yang membuat kebijakan. Atau kakak-kakak di sebelahku ini”. Mas Rifqi yang duduk di sebelahku menambahkan “Wah, 2045 ya. Pas 100 tahun Indonesia merdeka”. Makin berdirilah bulu kudukku. 2045 bro! Yang katanya Indonesia emas, bonus demografi, Wow! 2045, itu artinya, di fase emas itu, kitalah orang yang akan memegang peran penting!

Tak lama tenggelam dalam lamunan itu, Bu Beta mengakhiri ice breakingnya. Ya, bintang tamu kami telah datang!

25195

Pak Bambang berdiri di tengah mengawali kuliah umum

Pak Bambang masuk dari pintu belakang dekat panggung auditorium. Tepuk tangan bersaut-sautan menyambut ‘artis’ yang akhir-akhir ini sering muncul di tv untuk memberi penjelasan terkait pelemahan rupiah. Luar biasa, di tengah pelemahan ekonomi global, Pak Menteri masih mau meluangkan waktunya berbicara pada 600 ‘orang baru’ di dunia akademisi ekonomi.

Judul perkuliahan hari ini cukup jelas dan… sedikit garing. “Ilmu Ekonomi” demikianlah judul slide pertamanya. Amat sederhana. Artinya, beliau kemari memang untuk memberi kuliah umum. Kuliah bro, bukan konferensi pers tentang penjelasan pelemahan ekonomi rupiah.

Di awal kuliah, Pak Bambang memberi motivasi agar kami semangat dalam menempuh studi 4 tahun kedepan.

“Yang membedakan antara ekonom FEUI dengan ekonom lainnya adalah logika ekonominya. Cara berpikir alumni FEUI berlandaskan logika ekonomi yang matang. Dan logika ekonomi ini hanya bisa didapat dengan kuliah S1 di fakultas ekonomi, terlebih di ekonomi UI”

Ya, itu juga yang selalu kuceritakan pada ibuku ketika ibuku berkata –dengan nada bercanda “Harusnya kamu di psikologi dong Wan?”. Aku selalu berkata “Ilmu/ pengetahuan bisa dicari dimana-mana Bu. Tapi pola dan cara berpikir harus dibentuk di tempat yang tepat. Ketika Riwan di FE, kacamata riwan dalam memandang adalah kacamata ekonomi yang ditunjang ilmu psikologi. Kalau di psikologi ya kebalikannya nanti. Cara melihatnya dengan kacamata psikologi tapi ditunjang pengetahuan bisnis”

Penjelasan di awal, beliau mendefinisikan apa itu Ilmu Ekonomi. Pada dasarnya, ilmu ekonomi muncul akibat adanya kelangkaan. Sehingga, seseorang harus memilih dengan memertimbangkan insentif. Insentif bisa berupa keinginan mendapat reward, bisa pula keinginan menghindari punishment. Singkatnya, ilmu ekonomi merupakan ilmu sosial yang memelajari cara memilih diantara kelangkaan based on incentives.

Jadi, sudah sepatutnya anak ekonomi harus bisa atau cerdik dalam memilih. Kalau anak ekonomi tidak bisa atau tidak punya pilihan, berarti statusnya sebagai anak ekonomi masih belum afdhol. Eaa

Pak Bambang lanjut memberikan pesan agar mahasiswa FEB UI memiliki empati yang besar terhadap orang-orang di sekitarnya.

“Jadilah alumni FEB UI yang peduli dengan kebutuhan masyarakat di sekitarmu. Kita mengenal ada kebutuhan, ada pula keinginan. Lihat, masih banyak masyarakat Indonesia yang sibuk memikirkan kebutuhannya. Perhatikanlah mereka. Kalau kita punya keinginan, simpan dalam diri. Ayo bantu mereka yang masih memikirkan kebutuhan tanpa sempat memikirkan keinginan” tuturnya.

Bersambung in syaa Allah


Sang Menteri: Sebuah Kuliah Perdana merupakan bagian awal dari rangkaian catatan yang diberi nama “Kuliah Perdana oleh Sang Menteri”. Tulisan ini in syaa Allah akan bersambung

Malam Pengumuman dan Ujian Keyakinan

Dulu, ketika saya gak keterima snmptn, saya gabisa tidur.

Dan ketika sbmptn saya belum keterima UI, saya baru bisa tidur di penghujung malam..

Adakah diantara adik2 yang juga merasakannya saat ini? 🙂

Untuk adik2 yang sudah keterima,

Singkat aja, selamat. Sadarilah bahwa ini adalah rizki Allah untukmu. Perbanyaklah rasa syukur. Kini, Anda sudah bisa beristirahat dengan nyenyak. Tapi kalau saya boleh beri masukan, nikmati malam ini dan sisa malam Ramadan ini untuk bersyukur pada-Nya

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” Surat Ibrahim ayat 7

Untuk adik2 yang belum keterima,

Dua nasihat saya: Bersabarlah dan perbanyak istighfar.

Bersabarlah atas ketetapan Allah dan harapkanlah pahala dari berlapangnya dadamu menerima ketetapan-Nya. Percayalah, yakinlah, berimanlah bahwa Allah sudah menyiapkan semua yang kamu butuhkan untuk jadi the best of you in the future. Not only for 4 years, but for your future. Allah telah menyiapkan semua yang kamu butuhkan, termasuk terjatuh pada saat ini. Have faith 🙂

Perbanyaklah istighfar. Bisa jadi kita diuji seperti ini karena maksiat yang kita lakukan. Atau bahkan, maksiat yang kita biasakan. Adakah larangan Allah yang tak kunjung kita tinggalkan? Atau adakah ketaatan pada Allah yang tak kunjung kita jalankan, sehingga kita diuji seperti ini? Bertaubatlah dan perbanyaklah istighfar

“Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu” Surat Nuh ayat 10-12

Untuk adik2, terlepas apapun suasana hatimu saat ini. perbanyak syukur dan istighfar kepada Allah. inilah seutama-utamanya malam. Inilah saat untuk menggapai keridoan Allah. panjatkanlah doa.

Jika Iblis, yang mengingkari Allah dan dilaknat masuk neraka, saja dikabulkan doanya -tatkala meminta umur tangguh, apalagi seorang mukmin yang merendah, menengadahkan tangan, dan berlinangkan air mata sambil mengemis kepada Rabb-Nya di malam-malam yang amat utama!

Yakinlah bahwa Allah akan mengabulkan doamu. Kita memang lemah, tapi Allah mahakuat. Kita memang bodoh, tapi Allah maha mengetahui. Milik-Nya lah yang ada di langit dan ada di bumi. Jika mengatur peredaran planet-planet dalam tata surya saja ia mampu, apalagi hanya sebatas mengabulkan dan mengatur jalan hidup satu orang hamba-Nya. Berdoalah, yakinlah 🙂

“Berdo’alah kepada Allah dalam keadaan engkau merasa yakin akan dikabulkannya do’a” (HR Tirmidzi, hasan oleh Syaikh Albani)

Visitasi ke IKOPIN Jatinangor!

Saat itu, matahari masih terlihat dekat dari ufuk timur. Tak biasanya saya berangkat kuliah sepagi itu. Jam digital telpon genggam saya menunjukkan 05.55 WIB. Hari itu adalah hari yang spesial bagi kami, mahasiswa FEB UI mata kuliah koperasi kelas Pak Abdillah. Hari itu, kami akan melakukan kunjungan ke sebuah institut yang mendedikasikan kurikulum pendidikannya pada koperasi, Institut Koperasi Indonesia (IKOPIN).

Kami –sekelas sepakat berkumpul di kampus Widjajanitisastro FEB UI pada pukul 06.00 WIB dan berangkat bersama. Perjalanan yang ditaksir menempuh tiga hingga empat jam mendorong kami untuk berangkat sepagi mungkin, menghindari kemacetan dan mengejar kelas yang dijadwalkan mulai pukul 10.00 WIB. Namun, pada realisasinya, kami baru berangkat pukul 06.30 WIB. Kami berangkat menggunakan kendaraan mobil. Ada setidaknya 5 mobil yang digunakan untuk membawa 33 mahasiswa jaket kuning itu. Pembagiannya seperti apa? Sporadis. Siapapun langsung masuk ke dalam mobil selama mobil masih terlihat cukup untuk dipadati.

Perjalanan kami berjalan lancar sesuai rencana. Kami lolos dari kemacetan dan tak ada hambatan berarti. Namun, ada satu prediksi yang kami meleset jauh: waktu tempuh. Estimasi 3 jam itu salah. Kami baru berhasil menginjakkan kaki di IKOPIN pukul 11.00 WIB, empat jam tiga puluh menit habis di perjalanan. Bukan perjalanan yang mudah tentunya, terutama bagi para driver yang belum sarapan karena buru-buru ke kampus FEB sebelum pukul 06.00 WIB, dan saya salah satunya. Empat jam mengebut dengan perut keroncongan menjadi harga bagi pembelajaran lintas kampus ini.

Semua rasa lelah itu menumpuk di pundak, pungung, dan –tentunya lambung yang keroncongan. Namun, ada efek magis yang muncul saat kali pertama kami mendarat di kampus IKOPIN. Hawa sejuk dan luasnya pemandangan kampus IKOPIN seketika menyulap rasa lelah sepanjang perjalanan menjadi semangat pembelajaran. Secara tiba-tiba, semua pegal di pundak dan lapar menghilang. Hanya ada satu hal yang terpikir begitu sampai di bagian depan –semacam tulisan selamat datang: “Ini luar biasa!”.

Tanpa berlama-lama kami langsung diarahkan menuju ruang auditorium. Ruangan itu tidak terlalu besar. Mungkin berukuran 10×5 meter. Mirip salah satu ruangan kelas di gedung A lantai 1. Pada saat kami masuk, sudah hadir di tempat pembicara –berlatar letter U tiga orang yang wajahnya baru kami kenali. Dua orang perempuan dan satu laki-laki. Tanpa mengulur waktu, kelas langsung dibuka oleh salah seorang ibu tersebut.

Kegiatan diawali dari sambutan oleh Bu Lilies, BKW Koperasi. Bu Lilies memperkenalkan dua orang yang bersamanya dari tadi. Perempuan yang berdiri di sebelahnya adalah ibu Suwarni, seorang pengajar juga dengan spesialisasi hukum koperasi. Satu laki-laki di sisi yang lain adalah Bapak Agianto Probo, direktur utama program studi manajemen IKOPIN. Setelah perkenalan, bapak kami, Pak Abdillah Ahsan, memberikan sambutan. Ada satu kutipan yang membekas bagi saya “Ember mencari sumur, bukan sumur mencari ember”. Ya, saya menyadari bahwa selayaknya ilmu itu dicari. Bukan ilmu yang menghampiri.

Materi dimulai dan disampaikan oleh Bu Lilies seorang diri. Pak Agianto tidak ikut memberikan materi. Karena, saat itu waktu menunjukkan 10 menit menjelang azan jumatan. Beliau harus menuaikan salat Jumat. Namun, sebagai musafir, kami mengambil keringanan untuk menjalankan salat zuhur sebagai ganti salat jumat.

Bu Lilies memulai materi dengan memutarkan video yang dibuat International Cooperative Association (ICA) mengenai profil/informasi umum mengenai koperasi di dunia. Kemudian menjelaskan banyak tentang profil KPSBU, Koperasi susu, di Lembang. Koperasi ini termasuk 100 besar koperasi di Indonesia. Secara garis besar, beliau banyak mengenalkan status dan perkembangan koperasi ini. Mulai dari operasional produksi susu, pengelolaan keuangan dan permodalannya, hingga komentar beliau mengenai industri susu pada umumnya.

Setelah mengenalkan KPSBU kepada kami, beliau juga mengenalkan salah satu koperasi wanita terbesar di Indonesia, Setia Bakti Wanita Budi di Surabaya. Masih menggunakan powerpoint, beliau menceritakan bagaimana perkembangan koperasi yang dijalankan oleh para ibu-ibu ini.

Di tengah pemaparan materi, Bu Lilies memersilahkan mahasiswa bertanya. Saya pun menggunakan kesempatan ini untuk memuaskan rasa penasaran saya. “Sebetulnya saya penasaran Bu. Kira-kira, ada tidak ya koperasi sukses yang dipunggawai oleh para bapak-bapak? Saya sering mendengar koperasi ibu-ibu. Tapi jarang sekali mendengar koperasi bapak-bapak. Ini kira-kira ada fenomena apa bu ya? Apa ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam pengelolaan koperasi?” tanya saya. Bu Lilies tertawa singkat, kemudian menjawab “Ya entah ya. Saya juga tidak tau pastinya. Apa mungkin karena ibu-ibu pada dasarnya lebih bersifat kooperatif, saya juga tidak tahu”. Suasana diskusi menjadi semakin ramah.

Secara keseluruhan, beliau mencoba menerangkan betapa sebetulnya koperasi menjadi pilihan kegiatan ekonomi yang menguntungkan sekaligus bermanfaat. Kerap beliau menekankan “Koperasi tak hanya menguntungkan ya, ini juga bermanfaat kan?”. Beliau banyak menjelaskan dan membuktikan bahwa dengan koperasi, banyak pengangguran yang terserap. Kendati demikian, profit atau keuntungan juga bukan berarti ditinggalkan. Omset bisa mencapai miliar per tahunnya, seperti koperasi susu di Lembang tadi.

Poin kedua yang saya tangkap dari pemaparan beliau adalah betapa sumber daya manusia menjadi perhatian penting bagi perkembangan koperasi. Sempat beliau sampaikan bahwa bagian yang perlu dibenahi dari koperasi bukanlah sistemnya, namun sumber dayanya. Beliau juga menceritakan pengalamannya saat mengelola koperasi. “Uang itu bisa dibolak-balik. Tapi orang? Menghadapi anggota yang maunya modal doang di koperasi, itu yang susah” tuturnya. Beliau menutup cerita tersebut dengan mengatakan “Makanya ada pendidikan koperasi. Biar jelas anggota perannya apa saja”.

Insight ketiga yang saya dapatkan adalah bagaimana seorang wanita memilih mendedikasikan karir hidupnya –pendidikan dan pekerjaannya, untuk mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan, koperasi. Saat itu, saya melihat sosok nyata dari seorang ibu pejuang koperasi. Perempuan yang menempuh studi akademis koperasi S1 dan S2 nya di koperasi, lalu melanjutkan kegiatan akademisnya sebagai dosen –meski sambil menjadi praktisi di bidang koperasi. Saya salut dengan beliau. Saat itu, terlintas di benak saya “Pasti memang ada sesuatu di koperasi ini. Tidak mungkin seseorang begitu passionate terhadap suatu hal jika hal tersebut tidak istimewa”.

Pembelajaran tak lebih dari 120 menit itu memberikan beberapa insight bagi saya tentang koperasi. Kami mengakhiri kunjungan kami dengan melakukan foto bersama di bagian depan kampus IKOPIN. Akhirnya, jaket kuning kami pernah merasakan sejuknya hawa dingin Kota Jatinangor, di kampus ekonomi kerakyatan, Institut Koperasi Indonesia

10969

Suasana sebelum kelas dimulai, santai

10964

Mahasiswa (mencoba) mulai fokus ke pemateri, Bu LIlies

Foto sekelas bersama Bu Lilies :)

Foto sekelas bersama Bu Lilies 🙂

Bukan Tulisan Balasan #20Maret

b7c0d5f2b47c9585c0b24943e7fa74c2

Seruan Aksi #20MARET

Bismillah.

Segala puji hanya milik Dzat Yang telah mengutus seorang rasul untuk menyampaikan kepada manusia apa itu Islam. Salawat serta salam semoga tercurah pada beliau, Muhammad ibnu Abdillah, yang telah menyerahkan jiwa dan raganya kepada Allah dan menyampaikan Islam, sehingga kita bisa merasakan nikmat Islam di zaman ini.

Luar biasa. Dua kata itu untuk Anda, seluruh pemuda yang masih mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk perbaikan bagi orang-orang di sekitarnya. Saya merasa sangat salut dengan dedikasi dan kontribusi Anda dari ranah masing-masing. Semoga, Anda mendapatkan apa yang telah Anda niatkan. Aamiin

Ini bukan tulisan balasan. Tidak, tidak ada yang perlu dibalas. Karena semua sejatinya berjalan beriringan. Hanya saja, ada yang sekarang, ada yang nanti. Ada yang lewat jalur kanan, ada yang lewat jalur kiri. Jika memang tujuan kita sama, tentu kita akan bertemu di satu muara.

Ini hanya satu catatan. Sebuah pengingat sekaligus penyemangat. Untukmu, yang sekarang maupun nanti. Yang lewat jalur kanan maupun jalur kiri

“Ilmu itu sebelum berkata dan bertindak”

demikian kata seorang penghafal hadis Rasul, Imam Bukhori

Apapun keputusanmu, wahai pemuda yang tercerahkan pikirannya, bekalilah dirimu dengan ilmu

Milikilah ilmu atas apa yang engkau tuntut

Karena kelak, ucapan lisanmu yang akan dihitung dihadapan Tuhanmu

Milikilah ilmu tentang cara menuntut

Karena kelak, aksi ragamu yang akan dihitung dihadapan Tuhanmu

Milikilah ilmu atas konsekuensi tuntutanmu

Karena kelak, hasil perbuatanmu akan dibalas oleh Tuhanmu

Karena kebaikan tidak dibangun semata-mata atas semangat, tapi juga ilmu.

Orang sakit yang ingin sembuh, harus mengonsumsi obat secara teratur.

Bukan dengan meminum habis sekali tenggak kemudian mati konyol kelebihan dosis.

Jika telah kau memiliki ilmu, maka amalkanlah. Karena amal merupakan konsekuensi ilmu.

Dan ilmu takkan pernah bermanfaat jika tidak diamalkan.

Dengan ilmu tersebut, ketahuilah mana yang haq dan mana yang bathil.

Jika engkau tau sesuatu itu salah, benarkan. Jika engkau tau sesuatu itu benar, perjuangkan.

عن أبي سعيد الخدري -رضي الله عنه- قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من رأى منكم منكرا فليغيره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان وفي رواية : ليس وراء ذلك من الإيمان حبة خردل Dari Abu Sa’id Al Khudry -radhiyallahu ‘anhu- berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49)

19 Maret 2015

Masandi Riwan, penuntut ilmu di FEB UI

Ternyata Nyata: The Dream Catchers dan The Next Leader 2014

38901

Team Building TNL angkatan 2014 🙂

Kalian tau, pagi ini cahaya mentari terasa begitu berat. Kuingat ada setumpuk tugas yang menanti sepulang perbincangan ini. Tapi, benar kah rasa berat itu berasal dari tuntutan tumpukan buku?

Kalian tau, ada senyum palsu yang lepas di ruangan itu. Negosiasi dengan hati agar menunda turunnya hujan -meski diskusi nurani itu tak lebih dari pengkhianatan atas diri sendiri

Kalian tau, ada sepotong hati yang tertinggal. Tenggelam dalam lautan kesedihan bernama perpisahan

Kalian tau, ada serpihan cerita yang jatuh seiring perjalanan. Perjalanan panjang dari sebuah tempat bernama pertemuan. Melewati lorong dan dimensi waktu, menjelma dan membentuk sebuah kenangan

Kalian tau, aku tak menyangka bahwa cerita ini adalah nyata. Bagian perjumpaan yang dulunya sebatas retorika, dan perpisahan yang kukira takkan pernah ada

Aku tak menyangka, bahwa ini benar-benar ada. Akhir cerita jumpa kita. Cerita tentang perjuangan, perjumpaan, pertanyaan, tawa, canda, keluh, kesah. Semua itu benar-benar ada, dan benar ada akhirnya.

Terima kasih banyak. Aku tak menyangka aku akan kehilangan kalian. Senyum antusias dan semangat berjuang kalian. Letih perjalanan dan kebingungan sepanjang cerita

Terima kasih banyak, telah menjadi bagian dari cerita hidupku

38897

Diskusi konsep Main Event oleh TNL 2014

38895

Suasana games dalam team building

38889

Selfie dulu di Main Event! :))

38893

Panitia ‘The Dream Catchers’ dan peserta TNL 2014 🙂 di Pre-Event

Untuk The Dream Catchers dan The Next Leader angkatan 2014, Terima kasih

Di sudut keramaian, di tengah kerinduan

Project Officer kalian, Masandi Rachman Rosyid (Riwan)

Polisi Brengsek: Salah Siapa?

Hari ini saya menghadiri kuliah umum “Strategi Bareskrim dalam Mengatasi Masalah Kejahatan Bermotif Ekonomi di Indonesia”. Kuliah umum ini disampaikan oleh Kabareskrim Polri, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius.

Pak Suhardi membawakan materi ini dalam nuansa yang amat bersahabat, sarat dengan humor, namun tetap informatif. Menurut saya, penjelasan Pak Suhardi lebih banyak memuat fakta-fakta tentang kepolisian. Ketika saya mendengarkan, seakan saya berada dalam talkshow berjudul “Fakta-fakta Tak Terungkap tentang Kepolisian”.

Pak Suhardi mengawali materi dengan memberikan –atau lebih tepatnya meluruskan citra polisi di mata masyarakat. Beliau menjelaskan tentang besar dan kuatnya peran opini di masa kini. Pak Suhardi memberikan analogi sebagai berikut:

Ada sebuah keluarga berisi sepasang suami istri. Sang bapak anggap saja bernama Pak Vava sedangkan istrinya bernama Bu Lala. Keluarga ini tinggal di salah satu perkampungan di ibu kota.

Pada suatu siang, uang tabungan keluarga Pak Vava hanya tersisa seratus ribu rupiah. Bu Lala menyerahkan uang tersebut kepada Pak Vava untuk dbelikan makanan. Pak Vava pun mengeluarkan kendaraannya dan berangkat membeli makanan. Sayangnya, dalam perjalanannya Pak Vava melanggar rambu-rambu lalu lintas sehingga ditilanglah ia. Pak Vava yang sudah merasa lapar tidak mau ambil repot dan akhirnya memilih jalan ‘damai’ dengan pak polisi. Ternyata, negosiasi berjalan alot. Penawaran Rp 50.000 sebagai ‘biaya perdamaian’ ternyata ditolak oleh si bapak polisi. Pak Vava sudah mencoba mengatakan bahwa ini satu-satunya lembar uang yang ia miliki, tetapi pak polisi tetap tidak mau. Alhasil ‘anggaran perdamaian’ Pak Vava membengkak, ia harus merelakan Rp 100.000 untuk bisa melepaskan diri dari urusan tilangan ini.

Berhubung satu-satunya lembar uang yang dimiliki Pak Vava sudah melayang, Pak Vava memilih untuk langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Pak Vava meminta Bu Lala untuk menyiapkan makan siang meskipun seadanya.

Bu Lala pun bertanya “Uangnya kemana? Bukannya itu untuk beli makan?”.

“Uangnya ditilang polisi” jawab Pak Vava.

“Semuanya? Itu kan satu-satunya?” tanya Bu Lala. “Iya” kata Pak Vava singkat.

“Gila tuh, uang cuma tinggal seratus ribu masih aja diembat” ungkapnya. Rasa kesal dan kecewa membekas pada hati Bu Lala. Dan sebagaimana ibu-ibu pada umumnya, pengalaman –sekaligus rasa kesal itu Bu Lala bagi dengan teman-teman ngerumpi nya.

Bisa dibayangkan bagaimana citra yang muncul di mata ibu-ibu bahkan masyarakat setempat tentang kepolisian. Bisa dipahami jika kesimpulan yang muncul di benak orang-orang saat itu adalah: Kepolisian itu brengsek!

Hanya berawal dari opini satu orang, opini satu masyarakat bisa terbentuk. Dan hanya karena kesalahan satu orang, citra satu masyarakat (dalam hal ini kepolisian) bisa rusak.

Kalau kita perhatikan, sebenarnya ada poin menarik yang harus disadari. Dalam cerita di atas, sejatinya pelaku kesalahannya ada dua. Pak polisi yang menerima suap uang dari Pak Vava, dan yang kedua adalah Pak Vava sendiri karena telah melanggar lalu lintas –dan menyuap . Sayangnya, kesalahan yang diangkat di pembicaraan tadi hanyalah kesalahan pak polisi. Pada diskusi tadi, Bu Lala sama sekali tidak mengetahui atau menanyakan kesalahan yang dilakukan oleh Pak Vava. Sekiranya Bu Lala tau, bisa jadi Bu Lala akan menyikapinya dengan berbeda. Opini yang terbentuk pun bisa jadi berbeda.

Dari Analogi ini, ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik diantaranya:

Pertama, sudah menjadi keharusan bagi konsumen berita untuk bersikap kritis dan imbang dalam menerima pemberitaan. Ketika ia mendengar atau mencari informasi, ia perlu mengambil informasi dari kedua sisi baik yang pro maupun kontra. Tak hanya itu, konsumen berita perlu bersikap kritis dengan tidak langsung menelan opini maupun berita tanpa menimbang dan menguji kebenarannya, juga mendalami pokok permasalahannya. Sebagaimana kasus di atas, perlu masyarakat mencari tahu sebab Pak Vava ditilang. Masyarakat juga harus bersikap adil dalam bersikap terhadap orang lain. Dalam hal ini kepolisian, masyarakat tidak hanya mengutuk dan mengkritik kepolisian namun juga harus mengingat dan mengapresiasi kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan kepolisian.

Kedua, penting bagi seseorang utamanya akademisi untuk bersikap objektif dalam menilai. Jauhi sikap fanatis yang membela secara buta dan tidak mau tahu-menahu tentang kebenaran yang ada. Sikap fanatis ini, membela seseorang entah orang tersebut benar atau salah, sangatlah berbahaya. Sikap fanatisme ini bisa menjadikan seseorang berjalan ibarat robot atau kendaraan yang bisa disuruh atau disetir untuk mencapai tujuan tertentu oleh suatu pihak.

Selama ini, kita selalu merasa nyaman ketika menjadi penonton. Merasa cukup tahu dan pintar untuk mengkritik orang lain sesuka hati. Sejatinya, kita perlu menyadari bahwa banyak hal yang harus kita rubah dari dalam diri kita untuk memerbaiki orang lain. Bahkan, kesalahan itu bisa jadi bukan ada pada orang lain. Bahkan, kesalahan itu sejatinya tidak pernah ada. Yang salah adalah cara kita melihatnya. Kita yang salah dalam memaknainya, atau kita yang memaksakan makna idealitas sehingga kebenaran itu tetaplah salah di mata idealisme kita.

“Untuk dapat memerbaiki diri, kita tidak bisa resisten” -Kabareskrim Polri, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius

Titik Hitam Bernama IP

Malam ini terasa begitu indah. Baru saja kulahap potongan daging terakhir yang ada di garpuku. Hampir satu tahun aku menunggu untuk bisa menikmati steak tenderloin cordon blue yang selalu kusuka. Setahun merantau ke ibu kota membuatku jarang menyantap makanan mewah semacam steak di rumah makan bertajuk Inggris. Makan malam ini terasa lengkap dengan hadirnya kedua orang tua dan dua saudaraku. Ah, indah sekali malam ini.

Malam ini aku benar-benar dimanjakan. Aku yang dulunya ketika masih SMA di Bandung bersama keluarga biasa menyetir mengantar mereka, kini bisa duduk manis di kursi belakang. Kakakku menawarkan diri untuk menyetir. Dia tau betul kalau aku yang baru saja pulang dari merantau ini masih kaku jika harus memegang kemudi. Satu tahun waktu yang cukup lama untuk membuatku lupa cara mengemudi yang baik dan benar. Baik sekali dirimu kak! Terima kasih.

Malam itu terasa begitu lengkap. Makan malam nikmat, suasana hangat bersama keluarga, dan pulangnya duduk santai di mobil. Kini, aku terbaring di kamar menatap langit kamar yang amat kurindukan. Aku masih hafal bekas air yang pernah bocor di salah satu bagian atas kamarku. Sepertinya ayah menggantinya seminggu yang lalu, sebelum kepulanganku ini. Semua terasa lengkap sebelum aku mengangkat telefonku yang berdering. Seketika terdengar tangisan dari Rizka, sahabatku dari Tangerang yang juga berkuliah di FE UI bersamaku. Kami biasa belajar berkelompok dengan 3 sahabat lainnya.

“mir, kacau mir” aku dengar dengan pasti isak tangisnya.

“kacau kenapa riz? Ada apa?”

“semuanya ancur mir. Ancur. IPku mir..”

“Ooh, indeks prestasi? hm.. Tenang riz, kamu uda tau IP nya Saka?” Aku mencoba menghibur Rizka. Siang tadi aku menerima sms dari Saka kalau dia dan teman-temannya mendapat nilai jelek di satu mata kuliah yang berbobot 6 sks.

“Yaiyalah mir! Gimana sih kamu?!” Aku paham kalau Rizka amat sedih.

“Iya Riz, sabar. Kesabaran itu pada hentakan pertama. Begitu kan sabda nabi?”

Aku tidak mendengar apapun selain isak tangis yang belum hilang.

“Iya Riz, aku paham. Coba deh baca Alquran, biar tenang. Coba buka surat Alankabut. Baca ayat-ayat pertamanya. Sedikit aja gapapa”

Aku masih tidak mendengar apa-apa. Tapi kini hanya terdengar nafasnya yang masih tersendat.

“Maaf ya Riz, kalo ucapanku gabisa menghiburmu. Karena yang memilih sedih atau senang itu sebenarnya kamu sendiri nantinya. Aku cuma bisa ngasih saran dan kata-kata penyemangat. Riz, semua orang pasti diuji. Ya kan? Kan Allah pernah berfirman ‘Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan ‘kami telah beriman’ dan mereka tidak diuji?’ . Sebenarnya kita beruntung, Allah cuma menguji kita lewat IP. Kita gak diuji dengan Drop Out atau kasus lain yang bahkan melibatkan orang yang kita sayangi”

Aku mencoba memberi waktu kepada Rizka untuk memberi tanggapan, tapi nihil. Kali ini tidak terdengar apa-apa. Suara tangisnya pun sudah tidak ada. Mungkin sudah keluar semua air mata yang ada saat ini.

“Kamu gak sendiri kok Riz. Coba deh kamu tanya Saka tentang IP. Aku gamau buka aib orang lain. Aib orang banyak apalagi?” Kataku menutup diskusi ini. Aku rasa Rizka tidak berkenan lagi berbicara atau mendengarkan usahaku menghiburnya.

“Makasih banyak Mir. Aku emang lagi jauh sama Allah.. Emang Saka kenapa?” Tanya Rizka setelah hilang semua suara tangisnya.

“Wah, tanya sendiri aja deh. Itu aib orang, bukan hakku membuka”

Entah apa yang dipikirkan Rizka saat ini, ia kembali diam

“Maaf juga kalo motivasiku gabisa kayak motivasi menghibur yang penuh janji manis. Kita perlu sadar Riz, kalo ini semua sebenarnya tentang diri kita sendiri. Dan bagaimana cara kita memandangnya. Apakah kita mau bersyukur, ataukah ingkar” Cobaku memberi sedikit nasihat.

“Aku juga ngerasain kok Riz, aku nggak maksimal. Nilaiku bahkan masih ada yang belum keluar tadi sore aku buka di emailku. Masih nggantung nih. Lebih nyesek kaan?” Aku mencoba menghiburnya.

“Nilaiku juga belum semua itu Mir, tapi baru segitu aja ud jeblok gini nilainya. Apalagi kalau semua” Isak tangis Rizka mulai muncul kembali. Tapi sebelum tangisnya meledak, aku langsung membuka kartu trufku.

“Nggaklah Riz.. Eh, aku denger dari Saka kalau ada di angkatan kita yang dapet C di mata kuliah SKTP. matkul yang 6 sks itu loh. Aku yang denger aja mau nangis, apalagi yang dapet beneran ya” Aku mencoba menghibur Rizka kalau ternyata bukan hanya dia yang IP nya tidak memuaskan.

“Wah, nyesek ya” jawabnya terdengar mulai tenang walaupun singkat.

“Tapi yaudalah. Toh Sri Mulyani juga lebih dari 4 tahun. Pak Agus Marto juga belum tentu cumlaude. Bill Gates aja D.O. cuy!” kataku sambil bercanda.

“Hehe, iya deh iya. Thanks ya Mir” Aku bisa membayangkan Rizka mulai tersenyum.

“Aku cuma mau ngingetin. it’s not everything sis. Masih banyak nikmat yang harus disyukuri. Bukan bisa, tapi HARUS” tekanku.

“Keluarga, anggota badan, masuk UI, memiliki hati, dan yang terpenting adalah nikmat Islam. Ingat, kita disini juga gak selamanya. Sesukses-suksesnya cerita kita nanti juga hanya tinggal sejarah. Dan sesulit-sulitnya masa ini, nanti hanya menjadi kenangan” Tutupku ringkas.

“Hehe, iya Mir. Kamu bener banget. Aamiin. Makasih ya. Aku emang pada dasarnya sulit buat tenang. Udah bawaan dari kecil ini” Suaranya mulai terdengar mantap. Aku yakin ia sudah tidak menangis dan terlalu memikirkan IP nya tadii.

“Bukan sulit, cuma kurang terbiasa. Masalah itu banyak kok, ntar juga terbiasa. hehe. Ya maka dari itu, kita perlu berdoa. Berdoa kepada Dzat Yang Membolak-balikkan hati”

“Ya Mir, makasih banyak ya”

“Sama-sama. Ini hanya sebagian kecil Riz. Jangan sampai hanya munculnya sebuah titik hitam bernama IP mengaburkan mata kita dari lapang dan cerahnya warna putih yang ada di lembar kehidupan kita. Jangan sampai ujian kecil ini membuat kita lupa dari berbagai macam nikmat yang tak terhitung besar dan banyaknya”