#Day6: Kebohongan x Keluarga x Kerinduan

Bismillah.

Setelah sekian abad ga nulis, gue memutuskan untuk menulis lagi. No specific reason sih. Cuma karena gue lagi summerschool di Cina, jadi nulis (lha ini namanya specific reason sih Wan). Biar kebermanfaatannya makin luas, jadi amal jariyah. Aamiin. Kalo mau ngobrolin later on juga oke. Just chat or email me.

Untuk 5 hari pertama, gue ga yakin mau nulis kapan. Karena sempet gue nulis di buku catetan, tapi capek. Tangan bener-bener capek. Tenaga abis, beneran buat kegiatan seharian. Apalagi masih puasaan, dan tidur gue cuma 3-4 jam (simply karena disini isya jam 8.20 tapi subuh jam 3.30).

Anyway. Gue akan coba bagi dalam 3 segmen utama tiap cerita. Ala-ala Hunter x Hunter gitu lah.  So, here is today’s story.

Hari ini adalah lebaran bagi Cina bagian Hangzhou (bacanya macem Hangcow), Guangzhou, dan Shanghai. Jadi, sebenernya ada hal lucu disini. Since Cina punya regulasi ketat terhadap kegiatan agama, imam besar Hangzhou uda membooking salat idul fitri hari senin (menggenapkan 30). Tapi, setelah melihat hilal, ternyata 1 syawal di Hangzhou jatuh hari Ahad. Artinya, harusnya salat Ied-nya Ahad. Tapi itu tadi, karena uda booking, yaudah.

Malamnya gue bingung lah. Mau salat bareng jamaah sekota di tanggal 2 syawal atau salat di KJRI (Konsulan Jenderal Republik Indonesia) tanggal 1 syawal tapi di Shanghai. Fyi, Shanghai itu kayak Bandung-Jakarta. Infonya turun sore, dan salatnya jam 07.30.

Itu pagi banget men, gue harus berangkat dari sini jam berapa coba?

Tapi pada penghujung malam, ada info dari grup HIMMA (Himpunan Mahasiswa Muslim Hangzhou) bahwa mau ada salat Ied di desa Hangzhou yang imamnya orang arab jam 08.30. Weh, yaini yang gue cari. Suasana desa, bareng muslim setempat, 1 syawal, dan masih keburu. Tjakep!

Gue belum memutuskan mau salat dimana hingga pagi, tanya ke 3 ustadz yang gue ketahui kedalaman ilmu dan kefakihannya: Ust Nur Fajri Romadhon, Ust Ardantyo Sidohutomo, dan Ust Agung Budiardi rahimahumullah. Ketiganya memberi pendapat salatlah hari ini (Jam 7 pagi Ahad). Langsung gue mandi besar, ambil batik agung dan cabs.

Pas uda naik-naik bis (ini cerita lain lagi, gimana serunya nyasar naik bis di negara yang mereka gabisa bahasa inggris dan google di blokir disini. Kebayang ga lo gimana bingungnya gue hidup disini? Ngomong ga nyambung, baca juga gabisa), akhirnya gue janjian sama Mas Fuad (salah satu orang HIMMA) di halte Toukansen. Kami pun jalan ke tempat yang dimaksud. Saat jalan dari halte, jam uda 08.10. Ya gue takut dong ketinggalan jamaah. Gue kira mereka uda kumpul di lapangan gitu. Ternyata pas sudah sampe, itu adalah apartemen salah satu anak HIMMA. Asli gue bingung dan kaget, membatin “Jadi ini salatnya dibikin sendiri? Oh, okay. gue kira ada pihak resmi yang nyelenggarain”. Well, gapapa si. Karena niat gue emang menjalankan amalan sunnah. Cuma yaa, kaget aja.

Dan yang lebih ngagetin, agak ngeselin, but at the same time pingin bikin ngakak adalah ini bener-bener persiapan di tempat. Like, imam dan khatibnya bahkan belum ada saat itu. C’mon man. Ini sokap imam dan khatibnya. Saat itu, akhirnya gue menawarkan jadi imam aja. Lalu ditanyain “mau jadi khatib sekalian ta mas?”. Well, gue tau kapasitas gue jauh dari pantas. Tapi saat itu, yang lain juga masih santai-santai dan ga ada yang punya persiapan. Walhasil, jadilah gue imam dan khatib salat idul fitri 15 anak HIMMA di kota Hangzhou –”

Satu hal lagi yang paling epic adalah gue baru sadar bahwa diantara anak-anak HIMMA yang jadi jamaah, ada satu anak Nigeria yang nyempil dan ikutan. Gue baru sadar ketika gue uda about to salat, uda ngingetin “Ini nanti dua rakaat” tetiba ada yang nyaut “In english Wan”. Itu baru gue sadar. Dan… Saat itulah, gue nelen ludah. Artinya, saat khutbah nanti, gue harus deliver it in english. Well then, just do it. Setelah salat, gue khutbah dengan materi yang dipersiapkan cuma 5 menit dan bahasa inggris yang langsung translate pas ngomong.

Sejujurnya, gue kaget, kesel, tapi juga mau ngakak si. Bisa juga ya se-surprise ini. I mean, kacau sih. Tiba-tiba lho. Menginisiasi salat idul fitri coba. Ya gokil juga si temen-temen HIMMA. Cuma bagian keselnya adalah kita di grup dibohongin bahwa imamnya orang arab. Well, itu katanya becanda doang ternyata. Tapi tetep aja itu dusta men: Lo mengatakan sesuatu yang ga sesuai fakta, sengaja maupun ga sengaja (cek kitab afaatul lisan atau penyakit lisan karya Syaikh Asysyinqithi). Dan ga pernah dibenarkan dalam Islam berdusta buat becandaan. Bahkan, yang begini disebut khusus loh.

Ditambah lagi, sempet ada jokes di grup WeChat HIMMA (gue masuk di dalamnya) bahwa alamat yang ditulis itu becandaan. Ya gue kaget lah. Gue uda berangkat jauh-jauh, pagi-pagi, nyasar, eh ternyata itu alamat ga beneran. Gimana perasaan lo??

Meski selang 3 menit yang dusta tadi bilang “Eh itu becandaan”. Tetep aja men, gue jadi miss 1 halte yang harusnya gue oper ke bis lain. Gue gajadi oper karena gue lagi bingung apakah jadi ada salat Ied di desa apa gak. Meski gitu, pada akhirnya ternyata jadi. Dan ya begitu kejadiannya as I’ve mentioned di atas.

‘Ala kulli haal.

Akhirnya setelah salat kami makan bareng di restoran Pakistan. Gue makan kare ikan. Kita ber-15 an, makan rame-rame. Disana ada yang uda nikah dan istrinya di Indonesia, curhat. Ada yang uda S2 tapi belum nikah, curhat. Ada yang mau nikah, curhat. Ya maap, kok nikah mulu? Karena emang begitulah mahasiswa dewasa muda, mulai mikir keluarga dan berkeluarga. Keluarga ya wajarlah, biasanya lebaran bareng keluarga. But now, we are far from them. Jadinya, kita saling curhat deh.

Abis curhat di meja makan itu sekitar 2 jam, kita lanjut agenda makan (lagi) tapi buat sore harinya. Selesai makan itu zuhur jam 12. Kita mau makan lagi jam 4 di rumah salah satu senior. Masak-masak gitu. Enak lah. Akhirnya kita berangkat. Sampe rumah ya kita masak-masak, cerita-cerita, ngalor-ngidul curhat, intinya bener-bener quality time bareng. Kerasa kayak saudara, beneran. Apa ya, ga cuma saudara seiman, tapi emang temen cerita apa adanya. Lepas. Feeling-nya itu lho. Enak banget.

Disitu jujur gue merasa punya keluarga kecil, keluarga sementara. Saudara sepenanggungan, saudara seiman. Dulu gue sempet punya pola pikir: “Kalau S2 gamau kumpul sama orang Indonesia. Jauh-jauh masa sama orang Indo lagi. Biar improve-lah bahasa inggrisnya at least“. Tapi faktanya, nyaman men bareng saudara itu. Senyaman itu. Dan lo butuh orang-orang yang bisa diajak senyum dan sedih bareng. Senyum karena tingkah mereka, sedih karena saling memahami kesedihan satu sama lain (sama-sama kangen keluarga di rumah, dan lainnya). Setelah hari ini, jujur gue berpikir untuk tetap dekat dengan mereka. Nyaman. Meskipun ada dusta dalam canda yang gue gasuka, tapi itu cuma satu hal yang tertutup oleh seluruh kenyamanan dan kebaikan mereka. I love them as brothers in faith and sisters in tanah rantau. Setelah selesai makan-makan hingga Magrib, kami pulang naik bis yang perjalanannya sekitar 40 menit.

Bagian terakhir adalah bagian yang sebetulnya gue bingung nyambungin kemana. Bagian yang sebetulnya gue mau jadikan satu halaman sendiri. Bagian yang sebenernya cuma ditujukan khusus untuk orang tertentu..

Ya, ini tentang kamu.

Kamu harus tau, jemariku terhenti menulis kisah ini tatkala aku mengingatmu. Entah, aku hanya bingung ingin menyampaikan apa. Padahal, kamu pernah bilang bahwa kamu menanti aku menulis kembali. Maaf jika itu artinya aku kembali membuatmu menunggu.

Kita tahu, kita tidak bercakap banyak. Tidak banyak waktu untuk itu, dan kita memilih untuk menunda kalimat-kalimat itu. Tapi jujur, kadang aku tak tahan ingin mengucap satu atau dua kalimat untukmu. Kalimat yang sejatinya kita sama-sama tahu. Atau mungkin, aku yang mengkhayal bahwa kamu seorang cenayang sehingga tahu isi pikiranku? Ah sudahlah. Rindu tak pernah mengubah apa-apa.

Rindu itu sebuah niscaya. Namun kekhawatiran tidak hadir pada jiwa yang menitipkan cinta pada Dzat yang menjaga seluruh hamba-Nya.

Fatwa Sakit

Assalaamualaikum, Hello readers !

Ga biasa banget tulisan gue genrenya ala ala nulis surat. Tapi emang sebenernya uda dari lama pingin nyoba. Biar apa? Biar ngalir. Karena gue gamau nulis yang dibuat-buat dulu sajak, rima, atau apanya lah. Capek. Akhirnya malah gak di post dan cerita gue ga tersalurkan.

Daan, uda lama banget ya ga nulis. It’s been a decade I guess. Lebay. Ya, faktanya gue sedang mencoba beragam media untuk berbagi. Boleh cek akun instagram gue di sini, soundcloud gue di sini, YouTube gue di sini, dan masih belum yang lain. Intinya, gue beberapa waktu ini eksperimen tentang media mana yang paling fit buat gue dan teman-teman semua.

screen-shot-2017-02-26-at-2-20-30-pm

You are the best marketer for yourself #promosi

Alasan kedua karna emang sejak semester lalu gue lebih banyak sharing via ketemu langsung, sehingga kalo di kamar uda tingal teparnya. Ini aja kalo ga karna sakit, kayaknya tetep ga nulis karena mau ketemu orang So.. Ya, sakit bisa jadi momen buat merefleksikan diri lho. Buat keluar dari rutinitas.

…. prologue gue panjang juga ya? Haha. Maaf, so let’s get to the topic.

Kenapa judul tulisannya Fatwa Sakit, ini terinspirasi dari temen gue yang ngasi saran berkaitan radang yang sedang menimpa gue –Semoga ini menghapus dosa dan memperingan hari perhitungan kelak, Aamiin.

Dia menjelaskan bahwa radang itu bentuk respon tubuh terhadap virus, bakteri, atau hal jahat yang masuk. Imun naik dan terjadi gejala fisiologis, seperti tenggorokan memerah, batuk, pilek, anything. The truth is, batuk pilek dan termasuk radang itu tadi juga menimbulkan pain kan? Pain ini kemudian kita keluhkan sebagai sakit. Well, ini masalah linguistik bukan ya? Ketika bahasa indonesia tidak punya kata yang bisa menjelaskan dan membedakan antara sick, ill, pain, dan yang lain. Karena intinya sama, sakit dan kita merasakan sakit.

Poinnya bukan (cuma) disana. Dia lanjut menjelaskan bahwa radang bisa ditekan dengan mengkonsumsi obat. Obat akan bekerja dengan cara menurunkan imun yang berlebihan supaya radangnya mereda. Sontak gue kaget dan bertanya: ‘lah kan imun naik karna ada penyakit masuk. Kalo imunnya diturunkan, berarti penyakitnya bakal masuk dong? Malah sakit kan?’. Simpel dia menjawab: ‘Iya emang. Makanya kalo lagi minum itu jaga kesehatan yang bener’.

110748

The so called Obat

Okay, ada poin menarik disini, dan gue merasa telah salah berfatwa bahwa gue sedang sakit. Kalau dibilang sakit, radang sebetulnya sebatas mekanisme pertahanan supaya kita ga sakit. But the fact is, we suffer the pain. Jadi gabisa dibilang bohong juga kalo gue bilang radang itu sakit. Menyakitkan kali ya tepatnya?

Ada satu hal yang gue ambil sebagai hikmah dan pelajaran disini. Bahwa dalam memaknai sebuah fenomena, kita perlu memperkaya wawasan dan melihat dari perspektif lain. Dengan pemahaman yang lebih dalam, kita juga tidak serta merta atau tergesa-gesa memberi judgement. Gue percaya bahwa seorang dokter mengeluarkan banyak pertanyaan dan assessment itu supaya bisa tahu secara spesifik penyakit beserta treatment yang tepat.

Dan sebaliknya, ketika seorang terlalu mudah dalam berkomentar, menilai, menghukumi, itu menunjukkan pendeknya nalarnya dan dangkalnya ilmunya. Seorang mufti (pemberi fatwa) akan mencari lebih banyak dalil sebelum kemudian memberikan fatwanya. Seorang mahasiswa skripsi (That’s me!!!) akan berhati-hati ketika hendak mengatakan ‘A berpengaruh lho terhadap B’, ‘Variabel C punya hubungan positif terhadap variabel D’, ‘Aku ada hubungan lho sama kamu’ #Jaaah

Ngobrol dengan temen gue ini jadi sebuah momen refleksi buat diri gue pribadi. Kadang, kita ringan banget komentar atau menilai sebuah fenomena. Baru baca buku A tentang sebuah isu, komentarnya uda nyambung sana dan sini. Memang berbagi cerita dan opini perlu, ini juga langkah kita memperkaya wawasan dengan feedback dari pendengar. Tapi kita harus tau kapasitas kita. Kita bisa sharing tentang isi buku A, tapi jangan sampai kita sudah merasa besar dan paham semua hal yang berkaitan dengannya.

Kalau nasihat guru bahasa arab gue: jangan sampai baru belajar matan Aljazariyah –semacam kitab dasar ilmu nahwu, tapi uda komentar bahwa Alquran ada salah kaidah nahwu. Lha wong ilmu nahwu itu ada setelah dan merujuk pada Alquran. Eak

So, from now on, kita perlu pelan-pelan sebelum mengambil kesimpulan. Banyakin ngobrol sama orang, supaya kita juga makin luas wawasannya. Jangan sampai asal mengambil kesimpulan, asal memberi fatwa.


Tulisan ini gue dedikasikan buat Managing Executive-nya Envihsa FKM UI, yang harusnya pagi ini kita ada training dinamika kelompok dan dasar fungsi kontrol-evaluasi buat manajemen level atas. Maaf banget guys ya gue tumbang pagi-pagi. Agenda training-nya kita undur dulu.

Dan untuk teman-teman pembaca yang mau sharing, diskusi, atau mau mengadakan training buat tim divisi atau organisasinya tentang keorganisasian baik tingkat individu, kelompok, maupun organisasi, gue akan sangat senang bisa membantu. Just reach me through masandi.riwan@gmail.com

#HolidayAnakMene 5: Reuni

83830

Hai gaaais! Thank you for reading (and giving likes surely. Hehe) one arc of #CatatanAnakMene.

So, this is the last part of #HolidayAnakMene #tears #lebay. For the last part, I’m going to deliver the notes in Bahasa. Please, Enjoy! 🙂 #HolidayAnakMene 5: Reuni

Gue sempat bahas di #HolidayAnakMene1 bahwa liburan itu kesempatan buat jalan-jalan. Nah, jalan-jalan ini bisa lo pakai buat ke kampus temen lo di luar kota atau pulang kampung lalu reuni sama temen lama.

Nah, kenapa sih perlu ketemu temen lama? Karena dengan ketemu mereka, lo bisa mengumpulkan motivasi dari cerita inspiratif mereka.

People change, including your friends. They grow and develop. Bertemu dan berdiskusi dengan mereka akan membuat lo termotivasi untuk mencoba melakukan hal baru. Karena selama kita kuliah, bisa jadi kita belum mengeksplor hal-hal menyenangkan lainnya seperti yang teman kita sudah lakukan.

Dengan mendengarkan mereka, bisa jadi kita akan memperoleh inspirasi atau info tentang hal menyenangkan lainnya. Deci dan Ryan (1985) pernah menjelaskan bahwa ada hal-hal di luar kepuasan pribadi yang bisa membuat seorang individu termotivasi untuk bergerak, atau bisa disebut motivasi ekstrinsik. Cerita mereka bisa bikin lo ngerti beberapa hal yang menjadi triger/motif motivasi ekstrinsik buat lo.

Try to meet your friends, especially yang kuliahnya beda jurusan, fakultas, kampus, temen pergaulan, maupun hobinya.

Dengerin cerita mereka, karna bisa jadi ada hal baru yang menarik untuk kita coba selama #HolidayAnakMene 😀


Reference:

Deci, E. L. & Ryan, R. M. (1985). Intrinsic motivation and self-determination in human behavior. New York: Plenum Press

~#CatatanAnakMene bisa kamu askes di: ~
YouTube : http://bit.ly/2dPohpU
Instagram : @masandiir
Soundcloud : https://soundcloud.com/masandiriwan
Website : https://penabdurrahman.wordpress.com/category/catatan-anak-mene/

#HolidayAnakMene 4: Internship

81798

Hi guys! How you doin? Uda lama ya nungguin #CatatanAnakMene edisi #HolidayAnakMene? Hehe. Sengaja lama, biar kangen. Wqwq

So, #HolidayAnakMene 4 is talking about Internship.

Every worker seeks a company that makes him feel “Yeah, I love this company. I love my job. This is what I am looking for”. The fact is you don’t have much time to work at many places in the same time to explore every job you want. Spending 3 years looking for which company suits you best is also not the best option. Therefore, why don’t you take internship as solution?

Basically, internship gives you opportunity to feel both the working culture at a certain company/organization and working experience on specific job through specific and limited working period -mostly 3 to 6 months-, not too long huh?

Henneman et al. (2012) mentioned that organization culture and job description are 2 aspects to find out whether you are fit on that job (at certain company) or not.

By experiencing working culture at a company, you will find whether you are comfortable or not working in that company -along with the coworker. At some point, it also gives you picture about working culture in such industry. So, it’s about matching personal values and company’s culture.

At some internship programs, you will be assigned specific task, assignment, or project. By taking those responsibilities, you will understand the job difficulties, stress levels, physical requirements, their impact on your physical and mental health, and so much more about the job itself. Most importantly, you will figure out whether you love the job or not.

Undergoing internship will help you answer your assumption and prejudice.

You might think that you love being an accountant. Once you intern as an accountant for 3 months, you might find out that you like the job but not your coworkers or you don’t like the working schedule or even you hate spending your time with paper sheet the whole time. You hate back office working.

Internship is great opportunity to find whether you truly love the job and company you were admiring. Some company even give pocket money for intern workers. So, why don’t you try internship for your #HolidayAnakMene? 🙂


Reference:

Heneman III, Herbert G., Judge, Timothy A., Kammeyer-Mueller, John D. (2012). Staffing Organization. 7th ed. McGrawhill.

~~~~~ #CatatanAnakMene bisa kamu askes di: ~~~~~~
YouTube : http://bit.ly/2dPohpU
Instagram : @masandiir
Soundcloud : https://soundcloud.com/masandiriwan
Website : https://penabdurrahman.wordpress.com/category/catatan-anak-mene/

#HolidayAnakMene 3: Short Course

timeline_20170104_181141

“Honestly, I’ve been dreaming to be a polyglot. I want to master English, French, Chinese, Arabic, and Japanese. But…yeah; the college life thing. Be realistic, no time for such things.”

Guys, have you ever wondered or had a conversation with one of your friends as I mentioned up there? Most of us, probably yes. And that’s why, short course during the holiday is a great way to satisfy our curiosity and eagerness towards something we want to be capable of.

Noe (2010) mentioned that in order to complete task or do something, we will need knowledge, skill, ability, and other condition. Each of them is important and has different treatment if you want to build capacity in that aspect.

Knowledge is basically understanding about the topic. You can boost it through formal education. While skill is the competency in performing the task. It is upgraded through repetition and training. Ability refers to the physical and mental capacity to do the activity. You should have proper preparation before doing the activity. Other condition means situation to support the task. Just look for the best place and the best moment.

Short course during holiday helps you getting the best support for all those 4 aspects. It’s the best moment and efficient way to master things you have been wishing for.

Some short course will start by the theory. It helps you gain more knowledge. Then, you will start by practicing under supervision of the coach/mentor. It surely sharps your skill about it. Some course also start with placement tests (mostly language and sport courses). It helps you understand your current ability. Lastly, your course venue is the supporting condition itself.

By taking short course, we can master competency we have been learning or practicing. Just remember knowledge or skill you have been wondering about. Foreign language, driving skill, cooking, swimming, photography, or even washing your clothes!

So, go start googling the courses you’ve been dreaming about. Call and ask your friends as they might help you to find it or even coach you about it. Gather friends with the same interest. And lastly, enjoy your #HolidayAnakMene! 🙂


Reference:
Noe, R. A. (2010). Employee training and development 5th Edition. New York: McGraw-Hill International Edition.

#HolidayAnakMene 2: Physical Exercise

timeline_20170102_102206

Management student surely understands the concept of Future Value, the value of an object in the future time. Whether an object will be more valuable, the same as, or even less valuable than today.

It also applies for health. We all agree that health is one of the biggest asset for each individual. So, as management students, we should consider on how our health condition will be in the future.

Why physical exercise?
Come on, it’s holiday, dude.
We better get more sleep!

Yes, having proper rest is absolutely important. But, exercising will help us relax and have a better rest.

Harvard Medical School (2011) noted on its website that as we do exercise, our body will release endorphins, hence we will be happier and our stress will be decreased. In terms of behavioral approach, as we do exercise we will have a better shape. It will also improve our self-confidence and decrease anxiety.

So, physical exercise benefits both mentally and physically. And please underline that the exercise itself can be aerobic, endurance, autoregulation, or even just breathing exercise.

Now, why should it be done on holiday? Simply it’s because some of us have spent most of our time on our own businesses. We aren’t able to allocate time to do it. Even if we did, we wouldn’t be able to do it consistently.

So holiday is the best moment to do relaxation while at the same time shaping your body.

The second benefit of doing exercise constantly is that you may shape it into part of your habit. Although Lally and his friends (2010) mentioned that there are differences for each individual in making an activity into habit, it is worth it to try and start from now.

So, physical exercise is a fun way to have a better mood, make our body healthier, and a great way to manage our biggest asset: health. Start from today and it might become a part of your habits in near future.

Have a good day! Run for your first day in 2017 for a better #HolidayAnakMene! 😀


Reference:
Harvard Medical School. (2011, February). Exercising to Relax. January 1, 2017. http://www.health.harvard.edu/staying-healthy/exercising-to-relax
Lally, P., van Jaarsveld, C. H. M., Potts, H. W. W., & Wardle, J. (2010). How are habits formed: Modelling habit formation in the real world. European Journal of Social Psychology, 40, 998-1009

Additional article: http://jurnal.selasar.com/budaya/habit-formation-myth-misteri-kebiasaan-ramadan-yang-hilang

#HolidayAnakMene 1: Traveling!

timeline_20161231_095041

Why would management students do traveling when they are in holidays?

What I mean by traveling here is simply visiting places we were unable to visit when our schedule (in daily) was freaking full. There are several benefits from visiting ‘new’ places.

First, it helps you to take some break. For some of us, weekend means having extra time to do works. But they forget to have -and enjoy those break.

Ma Bro… I gotta tell you, go get some break –”

As simple as we need breaktime after working for hours. Lavie et al. (1998) even mentioned that individual will reach optimal limit after 90 minutes working. So yes, we need to take break. Traveling will ‘force’ us to have some break.

Secondly, traveling would not only help us taking some break, but also recharge our energy at that momemt.

Schwartz and McCarthy (2007) adds that there are 4 kinds of personal energy: physical, emotional, mental, and spiritual. Traveling provides opportunity for better ‘recharge moment’ of all those energies. If we travel for days, we can have better sleep when no one knock our doors, or visit our room and make us sleep late. When we go to new place, our our mind switch for moment from daily focus to exploring something new. It helps us defuse our working anxiety and stress. And for some people, their core value activities or personal time can only be done in special/specific place. Thus, traveling will help them do it.

Traveling is one of option to have meaningful, fun, yet impactful holiday. It helps you put some break and recharge your energy better. So, dear all travellers, are you ready for better #HolidayAnakMene ? 🙂


Reference:
Lavie, P., & Berris, A. (1998). The enchanted world of sleep. Yale University Press.

Schwartz, T., & McCarthy, C. (2007). Manage your energy, not your time. Harvard business review85(10), 63.

Direct Investment di Serbia: Indofood Serius ingin Menguasai Pasar Eropa

Hey guys! It’s been long time since my last post. Haha

Tonight, I want to share you my personal notes from my previous class at International Business class. I will deliver the content and relate it with a very update issue..

a direct investment from PT Indofood Sukses Makmur at Serbia!

So, Jumat, 2 September 2016, merupakan hari yang penting bagi PT Indofood Sukses Makmur. Gimana nggak? Mereka mengambil sebuah langkah besar dan keputusan berani dengan membuka pabrik mie instan di Kota Indjija, sekitar 80 kilometer dari Ibu Kota negara Serbia, Beograddi. Sebagaimana dilansir oleh republika.co.id, upaya serius PT Indofood untuk menguasai pasar Eropa ini diresmikan oleh Presiden Serbia, Tomislav Nikoli, dan didukung oleh KBRI Beograd.

cafe

Tomislav Nokolic (kanan), Presiden Serbia, hadir dalam peresmian. Image courtesy: LINE Official Account @faktual 

Kenapa gue katakan bahwa langkah Indofood ini adalah langkah berani? Karena based on materi yang gue dapet di kelas perdana mata kuliah Bisnis Internasional, yang dilakuin sama Indofood ini disebut dengan Direct Investment atau DI sob. Dan kita harus tahu bro, bahwa DI ini merupakan langkah Go international sebuah perusahaan dengan tingkat risiko (dan hopefully return) teramat tinggi.

Biasanya, kalau perusahaan mau mencoba go internasional, mereka akan mulai dengan expor-impor terlebih dahulu. Kita tentu tahu bahwa produk Indomie telah diekspor ke berbagai negara seperti Singapura, Malaysia, bahkan Jepang sejak jaman gue SD.

Jadi, gue pernah company visit ke salah satu pabrik Indomie di Jawa Timur pas jaman gue SD. Gue masih inget diajak muter-muter pabriknya hingga datanglah waktu makan siang. And.. you guess it right. Siangnya kami disuguhin makanan legendaris itu. Hahaha! Keberuntungan gue gak berhenti disana. Gue dengan perasaan tanpa dosa mengangkat tangan dan bertanya “Pak, Indomie ini kan sudah di ekspor. Saya pernah dengar ekspornya sampai Jepang (Ibu gue yang pernah ke Jepang bilang ke gue begitu). Apakah Indomie yang di Jepang dan Indonesia kualitasnya sama? Adakah perbedaannya?”  And you know what, setelah pertanyaan gue dijawab -intinya beda karena Jepang punya standar yang harus dipenuhi, gue dipanggil dan diberi parsel Indomie karena pertanyaan gue dinilai bagus. Wkwk

indomie-jepang

Foto Indomie di gerai Jepang yang entah ini ada di toko mana. Image courtesy: www.visualogy.net

Ekspor-impor ini risikonya rendah, sesimpel kita dagang dan barang bisa laku bisa nggak. Biaya tambahan yang muncul hanyalah bea ekspor maupun impor. Hal ini bahkan bisa disiasati jika kita menggunakan sistem jual preorder.  Kalau memang terjadi kerugian.. Yasudah. Lakukan evaluasi agar next time laku. #Ntap

Langkah kedua yang bisa dilakukan dengan risiko relatif rendah adalah licensing (lisensi) dan franchising (waralaba). Lisensi ini sesederhana kita membeli izin kepada pemilik brand atau nama produk untuk menggunakan/mendomplang nama atau brand tersebut.

Adapun waralaba, ia serupa dengan lisensi. Hanya saja, kita juga membeli pengetahuan tentang proses pembuatannya dan sistem operasionalnya. Secara ga langsung, kita juga harus memenuhi standar2 yang uda ditetapin nih sob -biar produk kita kualitasnya terjaga.

So, kalo one day lo mau produksi ‘“Indomie rasa yang pernah ada”, dengan brand ambassador mantan lo… lo harus beli lisensi Indomie dari Indofood ya. Wkwk

thumb_320_52da71489e1a2_52da71489f529

Chill bro! Cuma ilustrasi.. Image courtesy: static.pulsk.com

 

Btw, PT Indofood yang kita obrolin ini kita spesifikkan di produk Indomie aja ya guys? biar gampang. hehe

Cara ketiga adalah kontrak. Kontrak ini izin untuk melakukan kegiatan operasional di suatu negara. Well, sejujurnya gue sempat ragu apakah langkah Indofood ini kontrak atau DI. Tapi, tanda utama DI adalah kita sampai menyetorkan sejumlah dana besar untuk membuat pabrik disana. Kata Direct Investment sendiri merujuk pada investasi besar berupa pembangunan pabrik sebagaimana gue jelasin di awal. Contoh kontrak yang bisa dilakukan Indofood adalah memasok Indomie sebagai bahan baku salah satu restoran di sebuah negara.

Cara keempat adalah Global Strategic Alliance -sounds cool ya istilahnya. Disini, perusahaan bekerjasama dengan perusahaan asal negara lain untuk menciptakan atau mencapai satu target bersama yang saling menguntungkan. Umumnya, perusahaan melakukan ini dalam rangka mengambil atau memanfaatkan keahlian patner agar tidak perlu mengeluarkan uang untuk riset atau demi inovasi baru.

Untuk strategic alliance tingkat global, gue belum menemukan atau menyadari contoh tindakan Indofood khususnya di Indomie. Tapi di level lokal, produk di bawah ini merupakan bentuk strategic alliance:

chitato_2

Chitato rasa Indomie! Image Courtesy: food.detik.com

Okay, gue sadar bahwa inovasi rasa ini belum tentu layak disebut ‘strategic’. Stratejik sering kali dimaknai pada hal-hal yang memang sifatnya strategis dan amat impactful bagi perusahaan seperti teknik atau alat riset yang berbuah inovasi. Tapi dari sini terlihat bahwa pola kerjasama seperti ini bisa menjadi langkah bagi sebuah perusahaan untuk menginjakkan kaki di negeri luar.

Langkah kelima adalah representasi dan buka cabang. Well, ini biasanya dilakukan oleh perusahaan jasa. Buka cabang ini memang dilakukan untuk memudahkan konsumen mendapatkan pelayanan perusahaan secara fisik (tatap muka, pengaduan dan keluhan, dan lainnya). Adapun pembukaan cabang di negara lain bagi perusahaan yang menjual produk, sering kali berfungsi sebagai distributor resmi dan pelayanan konsumen.

So, setelah mengetahui lima cara untuk bisa go international, kini kita paham bahwa PT Indofood sebetulnya memiliki banyak opsi untuk masuk ke pasar mancanegara. Kenyataannya, Indofood telah melakukan upaya-upaya tersebut dan berhasil masuk ke pasar internasional. Hari ini, Indofood mengambil satu langkah besar untuk bisa masuk lebih dalam dan berupaya menguatkan diri di persaingan tingkat Eropa. Indofood melakukan Direct Investment (DI).

Kan cuma DI, apa istimewanya sih? Gini sob, perusahaan yang melakukan DI dapat dipastikan mengeluarkan dana yang amat banyak untuk mengurus pendirian perusahaan. Secara kasat mata, mendirikan bangunan, mengadakan barang, memproses sumber daya manusia -mencari, menyeleksi, melatih, dan menjaga tidaklah murah. Setelah pengucuran dana besar-besaran itu, risiko bisnis dari aspek geografis maupun sosiologis tentu terus ada -karena lingkungan tidak pernah diam. Menyadari tingginya risiko yang ada, DI merupakan pilihan yang hanya diambil sebuah perusahaan yang telah memiliki visi yang jelas dan kuat, pengalaman melimpah, dan tingkat kemahiran berstrategi yang tinggi.

Tantangan kedepan telah menanti Indofood. Sebagai perusahaan yang telah bersaing di tingkat global selama bertahun-tahun, Indofood tentu memiliki resep dan senjata rahasia yang telah disiapkan untuk memastikan pembukaan pabrik di Serbia merupakan investasi -dan bukan tindakan bunuh diri. Sama-sama kita nantikan kiprah sukses Indofood di pasar Eropa. Agar ia mengharumkan nama Indonesia dan membawa semangat keberanian bagi perusahaan Indonesia lainnya untuk terus berkembang ke level yang lebih tinggi.

Salute for Indofood, dan SEmangat! 🙂

Catatan Tax Amnesty (bag. 2): Helicopter View Sang Regulator

85299

Pak Muliaman Hadad, Ketua Dewan Komisioner OJK, pada Sosialisasi Tax Amnesty di Surabaya 15 Juli 2016

Hari Senin, 18 Juli 2016, menjadi hari yang penting bagi sejumlah pelaku ekonomi dan pebisnis di tanah air. Karena, pendaftaran program tax amnesty secara resmi dibuka pada hari tersebut. Program ini melibatkan banyak stakeholder, di antaranya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Sebagaimana dibahas pada tulisan pertama, tax amnesty merupakan program yang dibuat oleh pemerintah untuk menginsentif masyarakat, khususnya pemilik aset di luar negeri agar mau melakukan repatriasi. Secara sederhana, repatriasi bertujuan memindahkan aset dan investasi Warga Negara Indonesia (WNI) yang ada di luar negeri ke dalam negeri. Pemindahan aset dan investasi ini tentu sangat berkaitan dengan sektor finansial yang menjadi ranah pengawasan OJK. OJK sendiri merupakan lembaga independen yang dibentuk pemerintah pada 2012 dengan fungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di sektor jasa keuangan.

Pada acara sosialisasi tax amnesty yang diselenggarakan pada 15 Juli kemarin, Pak Muliaman Hadad selaku Ketua Dewan Komisioner OJK memberikan penjelasan mengenai manfaat tax amnesty terhadap pembangunan ekonomi dan seperti apa regulasi yang dipersiapkan dalam rangka menyukseskan pelaksanaan program amnesti pajak.

Pada dasarnya, impact yang paling diharapkan dari repatriasi adalah masuknya investasi ke dalam negeri dan memperkuat industri keuangan nasional. Dengan masuknya dana WNI yang ‘pulang kampung’, industri keuangan dalam negeri mendapatkan suntikan dana untuk bisa diputar kembali. Dampaknya, likuiditas meningkat dan suku bunga kredit (seharusnya) menurun.

Menurunnya suku bunga kredit sendiri sudah sangat membantu sektor riil. Sektor riil disini maknanya sektor-sektor yang ‘dampaknya terlihat nyata’, contohnya peningkatan dan perkembangan UMKM, mendorong para pelaku industri kreatif, hingga dukungan terhadap program pemerintah itu sendiri seperti Program Sejuta Rumah.

Sebagai pihak yang bertanggung jawab untuk melakukan pengaturan, OJK menjelaskan bahwa ada beberapa regulasi yang diterbitkan pemerintah untuk mendukung program amnesti pajak. Salah satunya adalah Undang Undang Pengampunan Pajak. Di dalamnya, dijelaskan bahwa UU ini sebetulnya memberikan ‘relaksasi ketentuan’ bagi para Wajib Pajak (WP) yang belum melaporkan pajaknya dengan mendapat tarif tebusan yang lebih rendah. Tarif ini dibagi menjadi tiga,

  1. WP yang merepatriasi asetnya ke dalam negeri
  2. WP yang mendeklarasikan aset di luar negeri tanpa repatriasi
  3. WP UMKM

Selain itu, ada pula Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur tata cara pengalihan harta wajib pajak ke dalam negeri (masuk ke wilayah NKRI) pada  penempatan instrumen investasi di pasar keuangan dalam rangka amnesti pajak.

Setelah dana melalui proses repatriasi, dimana kita bisa meletakkan dana tersebut? Apa saja instrumen investasi yang tersedia di sektor jasa keuangan?

85295

Penempatan instrumen investasi di sektor jasa keuangan

Setidaknya, ada tiga penyedia atau pengelola instrumen investasi yang dapat dipilih sebagai wadah penempatan aset yang dipindahkan ke dalam negeri (repatriasi). Ketiganya adalah,

1. Manajer Investasi (MI)

Manajer Investasi ini sebetulnya sesederhana kita memercayakan aset kita kepada seorang profesional untuk dikelola dalam berbagai bentuk investasi yang menurut hemat si manajer investasi layak untuk diinvestasikan. Tidak jarang pengguna jasa MI ini adalah mereka yang tidak ingin repot dan menghabiskan waktu untuk memikirkan dan belajar cara investasi yang menguntungkan. Para pemilik modal hanya perlu berkomunikasi dengan MI untuk menjelaskan preferensi risiko yang diinginkan. Apakah risiko tinggi, ataukah rendah. Beberapa instrumen yang dikelola MI adalah Reksa Dana, Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT), Dana Investasi Real Estate (DIRE), dan Efek Beragun Aset (KIK).

Semua orang tahu kaedah dasar ilmu investasi, high risk high return*. Karenanya, potensi return bergantung pada jenis investasi yang dipilih dan preferensi investor. Namun, potensi return investasi yang dikelola MI secara umum berkisar 7-20%

2. Perbankan

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Bank menjadi salah satu pilihan investasi yang paling aman. Dengan risiko yang sangat rendah, return sudah dijanjikan oleh perbankan sesuai bunga yang ditetapkan.

Namun, ada satu instrumen lain yang sebetulnya ditawarkan oleh perbankan dan jarang diketahui oleh masyarakat non fakultas ekonomi dan bisnis. Instrumen tersebut adalah Trust. Trust merupakan jasa pengelolaan harta nasabah oleh perbankan atas kesepakatan tertulis bersama. Pihak yang terlibat instrumen trust adalah settlor (pemilik harta), trustee (pengelola), dan beneficiary (pihak yang menerima manfaat, bisa juga settlor itu sendiri). Pada teknisnya, trustee akan bertindak sebagai agen investasi, agen pembayaran, dan agen peminjaman dalam rangka mengelola investasinya.

Semua prinsip dan kegiatan pengelolaan nantinya harus dengan persetujuan dan arahan yang rinci oleh settlor. Sehingga, settlor tidak perlu khawatir tentang adanya aliran dana dan prinsip investasi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dan preferensi yang dimiliki, termasuk jika ingin investasi dan pinjam-meminjam dengan prinsip syariah. 

Masih banyak produk simpanan lainnya yang ditawarkan perbankan -sesuai holding period masing-masing. Pada dasarnya, karena risiko yang rendah, return yang ditawarkan juga tidak sefantastis  manajer investasi apalagi perusahaan efek. Rentang potensi return juga menjadi sangat kecil, hanya berkisar 9 hingga 9,5%

3. Perusahaan Efek (PE)

Perusahaan Efek adalah pihak yang melakukan kegiatan usaha sebagai Penjamin Emisi Efek, Perantara Pedagang Efek, dan/atau Manajer Investasi. Definisi ini diambil dari Undang-Undang lho, tepatnya pasal 1 angka 21 UU no. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.

Melalui definisi tersebut, dapat kita pahami bahwa sebetulnya kita telah membicarakan pasar tempat berinvestasi pada saat kita membahas Manajer Investasi di awal tadi. Pasar tempat berinvestasi instrumen investasi jangka panjang dikenal dengan istilah Pasar Modal. Instrumen investasi disebut jangka panjang jika rentang waktu diperolehnya return diperkirakan selama satu tahun atau lebih. Perusahaan Efek merupakan salah satu pemain di pasar modal.

Dari penjabaran ringkas di atas, dapat dipahami bahwa sebetulnya MI termasuk di dalam cakupan perusahaan efek. Dikotomi yang dilakukan OJK, memisahkan MI dan PE, hanyalah untuk memudahkan peserta amnesti pajak agar dapat membedakan mana instrumen yang jangka pendek dan mana yang jangka panjang. Perusahaan efek yang dimaksud oleh OJK disini adalah wahana bagi mereka yang ingin berinvestasi dengan instrumen yang jangka panjang, diantaranya saham dan obligasi/sukuk. Rentang potensi return berinvestasi melalui perusahaan efek juga sangat bervariasi, bergantung risiko instrumen yang dipilih. Jika memilih obligasi/sukuk yang relatif aman, return juga relatif rendah. Adapun saham, dia memiliki potensi return yang tinggi seiring dengan risiko yang tinggi. Disebutkan oleh Pak Muliaman Hadad, rentang potensi return perusahaan efek berkisar 4-20%.

Pada dasarnya, dana repatriasi dapat diinvestasikan melalui beragam instrumen investasi. Semua investasi ini akan berdampak pada pembangunan ekonomi secara makro, menuju pembangunan ekonomi yang berkesinambungan dan inklusif. Dalam perspektif OJK, tersebarnya suntikan dana ke berbagai institusi keuangan merupakan manfaat utama repatriasi. Dengan repatriasi, likuiditas industri keuangan meningkat. Repatriasi sendiri sejatinya adalah buah dari kesuksesan ide dan pelaksanaan program tax amnesty


Tulisan ini merupakan lanjutan dari Nguping Sosialisasi Tax Amnesty di Grand City Convention Hall Surabaya dan in syaa Allah akan berlanjut ke catatan bagian ketiga yang mengurai pemaparan Bu Rini Sumarno (Menteri BUMN) tentang penawaran BUMN menfasilitasi repatriasi.

Sumber data dan konten bersumber dari catatan pribadi, brosur yang diberikan panitia, dan beberapa website resmi lembaga terkait (www.bi.go.id, www.ojk.go.id, dan www.idx.go.id). Karenanya, penulis sangat berterima kasih atas koreksi, masukan, dan tanggapan terhadap catatan ini.

*Oh ya, return yang sedari tadi disebutkan itu maksudnya uang yang kita terima ya. Disebut return karena pada awalnya kita menginvestasikan uang, lalu kita mengharapkan investasi itu akan balik modal ke kita. Jumlah atau presentase yang kita harapkan inilah yang kita istilahkan returnSaya merasa perlu menulis ini, karena sebagian teman saya yang berkuliah di rumpun ilmu kesehatan dan ilmu alam sempat mengeluh karena tidak paham istilah dasar ekonomi.

Nguping Sosialisasi Tax Amnesty 2016 di Grand City Convention Hall Surabaya

disclaimer: Tulisan ini dibuat sebagai notulensi pribadi penulis saat menghadiri acara Sosialisasi Kebijakan Amnesti Pajak pada 15 Juli 2016 di Grand City Convention Hall Surabaya. Susunan penulisan disesuaikan dengan gaya pribadi penulis. Adapun data dan konten bersumber dari catatan pribadi, brosur yang diberikan panitia, dan ingatan pribadi penulis. Karenanya, penulis sangat berterima kasih atas koreksi, masukan, dan tanggapan terhadap catatan ini. Segala kekurangan berasal dari penulis dan setan, adapun segala kebaikan datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sosialisasi dibuka dengan pemaparan umum mengenai Tax Amnesty oleh Pak Presiden, Joko Widodo.

Kenapa dibahas?

Begini Bung. Kita harus sadar bahwa hari ini, kondisi perekonomian dunia masih belum sepenuhnya pulih. Pak Jokowi mengatakan bahwa perekonomian Amerika masih belum stabil, pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat, dan harga komoditas menurun. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi Indonesia ikut melambat, neraca perdagangan defisit, dan anggaran semakin defisit. Secara konkret, kita bisa melihat bahwa infrastructure gap akan senantiasa -bahkan semakin tinggi. Secara garis besar, akumulasi masalah bermuara pada meningkatnya pengangguran, kemiskinan, dan kesenjangan.

Mengingat kondisi global yang masih penuh tantangan, kita butuh solusi sumber pertumbuhan ekonomi baru. Semua negara menyadari permasalahan hal ini. Faktanya, semua negara tahu apa yang harus dilakukan -bahkan telah mengambil langkah dan berlomba-lomba mengoptimalkan sumber pertumbuhan baru tersebut. Sumber pertumbuhan ekonomi itu adalah meningkatkan investasi. Kini, semua negara berlomba untuk menarik investor berinvestasi di negaranya. Beragam insentif dan program dibuat agar investor betah dan memilih berinvestasi di negaranya.

Lantas, bagaimana langkah Indonesia dalam memasukkan investasi ke dalam negeri? Indonesia memilih mengampanyekan Repatriasi. Repatriasi yang dimaksud adalah memindahkan harta (meliputi investasi bisnis) yang ada di luar negeri ke dalam negeri sendiri. Repatriasi dipandang penting, karena sejatinya banyak harta Warga Negara Indonesia (WNI) yang tersebar di seluruh dunia. Jika seluruh harta yang dulunya ada di luar negeri ditarik masuk ke dalam negeri, investasi dalam negeri tentu meningkat.

Sekali lagi, investasi telah menjadi PR perekonomian Indonesia yang harus segera diselesaikan. Hal ini didasari fakta penting bahwasanya Indonesia sedang membutuhkan banyak dana untuk melakukan pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif. Pemerintah pun berupaya menciptakan skema yang menginsentif orang-orang untuk meningkatkan investasi dalam negeri (termasuk Repatriasi). Setelah diskusi dan disetujui oleh komisi XI DPR RI, pemerintah memilih Tax Amnesty sebagai strateginya.

Tax Amnesty itu apa sih?

Kata kuncinya terletak di kata Amnesty-nya. Amnesty dapat dimaknai sebagai ampunan. Memangnya apa yang diampuni? Ada tiga bentuk ‘ampunan’ oleh pemerintah terkait pajak:

  1. Penghapusan pajak yang seharusnya terutang.
  2. Tidak dikenai sanksi administrasi perpajakan dan sanksi pidana perpajakan.
  3. Tidak dilakukan dan penghentian proses pemeriksaan baik di tahap memeriksa bukti permulaan hingga tahap penyidikan.

Wah, enak sekali ya? Caranya bagaimana tuh? Sangat sederhana,

  1. Melaporkan (mengungkapkan) seluruh harta yang dimiliki
  2. Membayar uang tebusan

Ada beberapa rincian mengenai dua poin di atas.

Melaporkan: Melaporkan disini artinya mengisi formulir Surat Pernyataan Harta untuk Pengampunan Pajak yang akan dibuka Hari Senin 18 Juli 2016 nanti di berbagai Kantor Pelayanan Pajak (KPP). Form ini berisi: Identitas Wajib Pajak (WP), harta, utang, harta bersih, serta penghitungan Uang Tebusan

Seluruh harta yang dimiliki: Harta adalah akumulasi tambahan ekonomis berupa seluruh kekayaan, baik berwujud (ex: bangunan) maupun tidak berwujud, bergerak (ex: kendaraan) maupun tidak bergerak (ex: bangunan), untuk usaha (ex: mesin) maupun bukan untuk usaha (ex: rumah tinggal), di dalam negeri maupun di luar negeri.

Harta ini juga meliputi harta yang kita miliki tapi belum tercatat, seperti uang cash di bawah kasur. Harta kita yang ditulis atas nama orang lain juga termasuk yang harus dilaporkan sebagai harta kita.

Uang Tebusan: Tarif x Nilai Harta Bersih

Tarif dapat dilihat di gambar berikut

Adapun Nilai Harta Bersih merupakan Harta dikurangi Utang. Utang merupakan jumlah pokok utang yang belum dibayar yang berkaitan langsung dengan perolehan Harta.

Memang gimana ceritanya Tax Amnesty bisa menyediaan kebutuhan dana yang diperlukan Indonesia sebagaimana diceritakan di awal?

Proses pemenuhan kebutuhan dana dilakukan secara langsung dan tidak langsung, dalam jangka pendek dan jangka panjang.

Secara langsung, dana diperoleh melalui uang tebusan (jangka pendek) dan penerimaan pajak yang lebih akurat (jangka panjang). Informasi yang didapatkan pemerintah dari formulir amnesti pajak masyarakat merupakan sebagai basis data untuk meningkatkan penerimaan pajak.

Secara tidak langsung, pemerintah berharap WNI yang memiliki aset di luar negeri terinsentif untuk melakukan repatriasi. Dalam teknisnya, repatriasi ini bermakna memindahkan investasi yang dulunya di luar negeri ke instrumen investasi yang ada di dalam negeri. Sehingga,

  1. Likuiditas perbankan meningkat -> Suku bunga kredit akan jadi lebih kompetitif -> Masyarakat bisa berbisnis dan ekonomi menguat
  2. Nilai tukar rupiah menguat -> menekan defisit neraca perdagangan melalui biaya impor yang berkurang.
  3. Devisa meningkat

Kalau Saya nggak ikut, memang apa ruginya?

Jika Anda berpikir bahwa Anda tidak rugi, berarti Anda belum mengetahui dua hal: Automatic Exchange of Information (AEOI) pada tahun 2018 dan Revisi UU Perbankan untuk keterbukaan data bagi perpajakan.

AEOI merupakan kesepakatan antarnegara untuk saling mendukung pertukaran informasi rekening wajib pajak seseorang. Artinya, negara Indonesia dapat meminta info kekayaan warganya yang meletakkan hartanya di Bank Swiss, atau pada bisnis properti di Singapura, dan lainnya. Penandatanganan akta ini sudah dilakukan di Turki sejak tahun lalu, dan akan berlaku ada akhir 2017 (awal 2018). Dengan berlakunya AEOI, masyarakat tidak lagi bisa melarikan diri (kekayaannya) dari pajak. Maka, lebih baik mengaku sekarang saja  melalui program Tax Amnesty. Kalau memang cepat lambat pajaknya akan ketahuan, bukankah lebih baik mengaku sekarang dan mengambil keuntungan dari program Amnesti Pajak? Pemerintah juga berencana merevisi UU Perbankan agar lebih terbuka dalam membantu Direktorat Pajak menjalankan tugasnya. Menimbang dua hal ini, mengikuti program Tax Amnesty bisa menjadi pilihan yang bijak.

Ooh, begitu.. Tapi kan, bisnis saya masih di tahap awal. Saya masih merintis bisnis, aset juga tidak ada yang di luar negeri. Bagaimanapun, Tax Amnesty tidak berpengaruh besar pada saya.

Siapa yang mengatakan demikian? Hei! Semua orang bisa mendapatkan keuntungan program ini lho, termasuk pelaku UMKM dan yang tidak memiliki aset di luar negeri.

Khusus UMKM, wajib pajak yang akan dikenakan (bila memang peredaran usaha dibawah Rp 4,8 Miliar) hanyalah 0,5% atau 10%. Jika harta yang diungkapkan dibawah Rp 10 Miliar, wajib pajaknya 0,5%. Wajib pajak 10% diperuntukkan bila harta yang diungkapkan lebih dari Rp 10 Miliar.

Baiklah.. Memangnya, Amnesti Pajak ini berlaku sampai kapan sih? Dan apakah ada sanksi kalau kita tidak mengikuti skema Amnesti Pajak tatkala periodenya berakhir?

Periode terakhir Amnesti Pajak ini adalah 31 Maret 2017. Jika sampai saat itu kita belum mengungkapkan kekayaan kita dan membayar tebusan, ada konsekuensinya:

  1. Jika WP tidak memanfaatkan Amnesti Pajak, harta yang belum dilaporkan akan dianggap penghasilan. Konsekuensinya, ia dikenai pajak, dan disempurnakan dengan denda sesuai Undang-Undang Perpajakan
  2. Jika WP sudah mengajukan Amnesti Pajak dan ditemukan harta yang belum dilaporkan, harta tersebut akan dianggap sebagai penghasilan. Konsekuensinya, ia terkena PPh. Tidak berakhir begitu saja, WP akan dikenakan sanksi sebesar 200%

Secara tidak langsung, kita dapat memahami bahwa pemerintah mengharuskan masyarakat untuk mengikuti program ini. Dan sebetulnya, program yang ditawarkan pemerintah relatif sederhana untuk diimplementasikan. Masyarakat hanya perlu mengisi formulir sendiri (self assessment) dan membayar uang tebusan. Kalau masih kebingungan, ada hotline yang bisa dihubungi. Cak Lontong selaku MC sempat mendikte nomor hotline pengaduan Amnesti Pajak. Tak tanggung-tanggung, disebutkan oleh Cak Lontong bahwa hotline 081128333 akan tersambung ke Pak Jokowi langsung. Apakah benar demikian? Silahkan dicoba sendiri 🙂

Tulisan akan bersambung dengan notulensi pada sesi Pak Muliaman Hadad (Ketua Dewan Komisioner OJK) tentang pengaruh Amnesti Pajak terhadap pembangunan ekonomi dan sesi Bu Rini Sumarno (Menteri BUMN) tentang penawaran BUMN menfasilitasi repatriasi, in syaa Allah..