Kebohongan x Keluarga x Kerinduan

Bismillah.

Setelah sekian abad ga nulis, gue memutuskan untuk menulis lagi. No specific reason sih. Cuma karena gue lagi summerschool di Cina, jadi nulis (lha ini namanya specific reason sih Wan). Biar kebermanfaatannya makin luas, jadi amal jariyah. Aamiin. Kalo mau ngobrolin later on juga oke. Just chat or email me.

Untuk 5 hari pertama, gue ga yakin mau nulis kapan. Karena sempet gue nulis di buku catetan, tapi capek. Tangan bener-bener capek. Tenaga abis, beneran buat kegiatan seharian. Apalagi masih puasaan, dan tidur gue cuma 3-4 jam (simply karena disini isya jam 8.20 tapi subuh jam 3.30).

Anyway. Gue akan coba bagi dalam 3 segmen utama tiap cerita. Ala-ala Hunter x Hunter gitu lah.  So, here is today’s story.

Hari ini adalah lebaran bagi Cina bagian Hangzhou (bacanya macem Hangjow), Guangzhou, dan Shanghai. Jadi, sebenernya ada hal lucu disini. Since Cina punya regulasi ketat terhadap kegiatan agama, imam besar Hangzhou uda membooking salat idul fitri hari senin (menggenapkan 30). Tapi, setelah melihat hilal, ternyata 1 syawal di Hangzhou jatuh hari Ahad. Artinya, harusnya salat Ied-nya Ahad. Tapi itu tadi, karena uda booking, yaudah.

Malamnya gue bingung lah. Mau salat bareng jamaah sekota di tanggal 2 syawal atau salat di KJRI (Konsulan Jenderal Republik Indonesia) tanggal 1 syawal tapi di Shanghai. Fyi, waktu tempuh ke Shanghai itu kayak Bandung-Jakarta (aslinya 170an kilo, tapi ada kereta zuper cepat). Infonya turun sore, dan salatnya jam 07.30.

Itu pagi banget men, gue harus berangkat dari sini jam berapa coba?

Tapi pada penghujung malam, ada info dari grup HIMMA (Himpunan Mahasiswa Muslim Hangzhou) bahwa mau ada salat Ied di desa Hangzhou yang imamnya orang arab jam 08.30. Weh, yaini yang gue cari. Suasana desa, bareng muslim setempat, 1 syawal, dan masih keburu. Tjakep!

Gue belum memutuskan mau salat dimana hingga pagi, tanya ke 3 ustadz yang gue ketahui kedalaman ilmu dan kefakihannya: Ust Nur Fajri Romadhon, Ust Ardantyo Sidohutomo, dan Ust Agung Budiardi rahimahumullah. Ketiganya memberi pendapat salatlah hari ini (Jam 7 pagi Ahad). Langsung gue mandi besar, ambil batik agung dan cabs.

Pas uda naik-naik bis (ini cerita lain lagi, gimana serunya nyasar naik bis di negara yang mereka gabisa bahasa inggris dan google di blokir disini. Kebayang ga lo gimana bingungnya gue hidup disini? Ngomong ga nyambung, baca juga gabisa), akhirnya gue janjian sama Mas Fuad (salah satu orang HIMMA) di halte Tousanmen. Kami pun jalan ke tempat yang dimaksud. Saat jalan dari halte, jam uda 08.10. Ya gue takut dong ketinggalan jamaah. Gue kira mereka uda kumpul di lapangan gitu. Ternyata pas sudah sampe, itu adalah apartemen salah satu anak HIMMA. Asli gue bingung dan kaget, membatin “Jadi ini salatnya dibikin sendiri? Oh, okay. gue kira ada pihak resmi yang nyelenggarain”. Well, gapapa si. Karena niat gue emang menjalankan amalan sunnah. Cuma yaa, kaget aja.

lebaran cina_170901_0002

Suasana “pedesaan” di salah satu sudut Hangzhou

Dan yang lebih ngagetin, agak ngeselin, but at the same time pingin bikin ngakak adalah ini bener-bener persiapan di tempat. Like, imam dan khatibnya bahkan belum ada saat itu. C’mon man. Ini sokap imam dan khatibnya. Saat itu, akhirnya gue menawarkan jadi imam aja. Lalu ditanyain “mau jadi khatib sekalian ta mas?”. Well, gue tau kapasitas gue jauh dari pantas. Tapi saat itu, yang lain juga masih santai-santai dan ga ada yang punya persiapan. Walhasil, jadilah gue imam dan khatib salat idul fitri 15 anak HIMMA di kota Hangzhou –”

Satu hal lagi yang paling epic adalah gue baru sadar bahwa diantara anak-anak HIMMA yang jadi jamaah, ada satu anak Nigeria yang nyempil dan ikutan. Gue baru sadar ketika gue uda about to salat, uda ngingetin “Ini nanti dua rakaat” tetiba ada yang nyaut “In english Wan”. Itu baru gue sadar. Dan… Saat itulah, gue nelen ludah. Artinya, saat khutbah nanti, gue harus deliver it in english. Well then, just do it. Setelah salat, gue khutbah dengan materi yang dipersiapkan cuma 5 menit dan bahasa inggris yang langsung translate pas ngomong.

Sejujurnya, gue kaget, kesel, tapi juga mau ngakak si. Bisa juga ya se-surprise ini. I mean, kacau sih. Tiba-tiba lho. Menginisiasi salat idul fitri coba. Ya gokil juga si temen-temen HIMMA. Cuma bagian keselnya adalah kita di grup dibohongin bahwa imamnya orang arab. Well, itu katanya becanda doang ternyata. Tapi tetep aja itu dusta men: Lo mengatakan sesuatu yang ga sesuai fakta, sengaja maupun ga sengaja (cek kitab afaatul lisan atau penyakit lisan karya Syaikh Asysyinqithi). Dan ga pernah dibenarkan dalam Islam berdusta buat becandaan. Bahkan, yang begini disebut khusus loh.

Ditambah lagi, sempet ada jokes di grup WeChat HIMMA (gue masuk di dalamnya) bahwa alamat yang ditulis itu becandaan. Ya gue kaget lah. Gue uda berangkat jauh-jauh, pagi-pagi, nyasar, eh ternyata itu alamat ga beneran. Gimana perasaan lo??

Meski selang 3 menit yang dusta tadi bilang “Eh itu becandaan”. Tetep aja men, gue jadi miss 1 halte yang harusnya gue oper ke bis lain. Gue gajadi oper karena gue lagi bingung apakah jadi ada salat Ied di desa apa gak. Meski gitu, pada akhirnya ternyata jadi. Dan ya begitu kejadiannya as I’ve mentioned di atas.

lebaran cina_170901_0004

“In English Wan”

lebaran cina_170901_0005

“Vin, Ini nanti khotbahnya gimana?”

lebaran cina_170901_0012

“Ayo yang cowo foto dulu, sebelum cewe-cewenya foto”. Wkwk

‘Ala kulli haal.

Akhirnya setelah salat, kami makan bareng di restoran Pakistan. Gue makan kare ikan. Kita ber-15 an, makan rame-rame. Disana ada yang uda nikah dan istrinya di Indonesia, curhat. Ada yang uda S2 tapi belum nikah, curhat. Ada yang mau nikah, curhat. Ya maap, kok nikah mulu? Karena emang begitulah mahasiswa dewasa muda, mulai mikir keluarga dan berkeluarga. Keluarga ya wajarlah, biasanya lebaran bareng keluarga. But now, we are far from them. Jadinya, kita saling curhat deh.

lebaran cina_170901_0006

Keniqmatan HQQ

Abis curhat di meja makan itu sekitar 2 jam, kita lanjut agenda makan (lagi) tapi buat sore harinya. Selesai makan itu zuhur jam 12. Kita mau makan lagi jam 4 di rumah salah satu senior. Masak-masak gitu. Enak lah. Akhirnya kita berangkat. Sampe rumah ya kita masak-masak, cerita-cerita, ngalor-ngidul curhat, intinya bener-bener quality time bareng. Kerasa kayak saudara, beneran. Apa ya, ga cuma saudara seiman, tapi emang temen cerita apa adanya. Lepas. Feeling-nya itu lho. Enak banget.

Disitu jujur gue merasa punya keluarga kecil, keluarga sementara. Saudara sepenanggungan, saudara seiman. Dulu gue sempet punya pola pikir: “Kalau S2 gamau kumpul sama orang Indonesia. Jauh-jauh masa sama orang Indo lagi. Biar improve-lah bahasa inggrisnya at least“. Tapi faktanya, nyaman men bareng saudara itu. Senyaman itu. Dan lo butuh orang-orang yang bisa diajak senyum dan sedih bareng. Senyum karena tingkah mereka, sedih karena saling memahami kesedihan satu sama lain (sama-sama kangen keluarga di rumah, dan lainnya). Setelah hari ini, jujur gue berpikir untuk tetap dekat dengan mereka. Nyaman. Meskipun ada dusta dalam canda yang gue gasuka, tapi itu cuma satu hal yang tertutup oleh seluruh kenyamanan dan kebaikan mereka. I love them as brothers in faith and sisters in tanah rantau. Setelah selesai makan-makan hingga Magrib, kami pulang naik bis yang perjalanannya sekitar 40 menit.

lebaran cina_170901_0007

Sebuah keseruan

lebaran cina_170901_0008

Keniqmatan HQQ (2)

lebaran cina_170901_0011

Yang bikin hangat itu bukan kare ikannya, tapi yang gantian nyobain karenya..

lebaran cina_170901_0010

Keluarga HIMMA 🙂

Bagian terakhir adalah bagian yang sebetulnya gue bingung nyambungin kemana. Bagian yang sebetulnya gue mau jadikan satu halaman sendiri. Bagian yang sebenernya cuma ditujukan khusus untuk orang tertentu..

Ya, ini tentang kamu.

Kamu harus tau, jemariku terhenti menulis kisah ini tatkala aku mengingatmu. Entah, aku hanya bingung ingin menyampaikan apa. Padahal, kamu pernah bilang bahwa kamu menanti aku menulis kembali. Maaf jika itu artinya aku kembali membuatmu menunggu.

Kita tahu, kita tidak bercakap banyak. Tidak banyak waktu untuk itu, dan kita memilih untuk menunda kalimat-kalimat itu. Tapi jujur, kadang aku tak tahan ingin mengucap satu atau dua kalimat untukmu. Kalimat yang sejatinya kita sama-sama tahu. Atau mungkin, aku yang mengkhayal bahwa kamu seorang cenayang sehingga tahu isi pikiranku? Ah sudahlah. Rindu tak pernah mengubah apa-apa.

Rindu itu sebuah niscaya. Namun kekhawatiran tidak hadir pada jiwa yang menitipkan cinta pada Dzat yang menjaga seluruh hamba-Nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s