CTS: Berbakti tanpa Syarat

1. Adab dapat diibaratkan bingkai atau kemasan. Dia bertugas memperindah penyampaian maupun pola interaksi kepada objek interaksi.

Adab sendiri memiliki tingkatan dan prioritas:
Pertama, adab kepada Allah
Kedua, adab kepada Rasulullah
Ketiga, adab kepada Kitabullah (Alquran)
Keempat, adab kepada sesama makhluk.

Prioritas utama dalam menggapai keridoan adalah keridoan Khaliq (pencipta), baru kemudian keridoan makhluk. Adapun keridoan makhluk, dimulai prioritasnya dari orang tua.

Dalam hadis yang terkenal, ketika seorang pemuda meminta ikut berjihad, Rasul shalallahu alaihi wa sallam memerintahkannya untuk berjihad dengan berbakti kepada keduanya. Padahal, bisa saja pemuda tersebut berbakti kepada orang tuanya setelah pulang dari jihad. Namun, tatkala disandingkan antara amalan jihad dan amalan berbakti, Rasul shalallahu alaihi wa sallam dahulukan berbakti. Ini menunjukkan keutamaan berbakti, bahkan diatas amalan yang teramat agung, jihad di jalan Allah.

2. Hasan Al Bashri rahimahullah pernah ditanya seorang laki-laki “Ayahku telah berumur lanjut, dan dia menderita sakit. Setiap hari, ketika ia buang hajat, aku memindahkan kotoran dari tubuhnya dengan tanganku dan aku tidak merasa jijik. Aku juga yang membersihkan seluruh tubuhnya. Apakah itu belum cukup untuk membalas kebaikannya padaku?”

Hasan Al Bashri rahimahullah menjawab “Belum” Laki-laki tersebut kaget dan bertanya “Bagaimana mungkin??”

Beliau rahimahullah mengatakan,

“Dahulu, ayahmu membersihkan kotoranmu dan berharap agar kelak engkau menjadi orang yang mulia di tengah-tengah masyarakat. Sedangkan hari ini, engkau membersihkan kotoran ayahmu dan berharap agar ayahmu segera wafat dan engkau tidak lagi direpotkan olehnya”

3.

Tugas kita adalah berbakti kepada orang tua, bukan menilai keduanya. Kendati keduanya memiliki kekurangan, memiliki aib, bahkan berbuat kezaliman pada diri kita, tugas kita adalah berbakti.

Bahkan, meskipun ayah kandung kita pergi meninggalkan atau ibu kita membuang kita semenjak kita lahir, kita tetap wajib berbakti kepada beliau. Kenapa? Karena peran keduanya dalam menumpahkan sperma dan mengandung kita saja sudah lebih dari cukup untuk menjadikan kita bisa lahir dan hidup hingga hari ini. Kalau yang meninggalkan kita saja tetap Allah perintahkan berbakti, apalagi jika orang tua kita membesarkan kita dengan curahan cinta, harta, waktu, dan segala yang ia miliki?

Ingatlah sabda nabi shalallahu alaihi wa sallam

“Kamu dan hartamu milik ayahmu” [HR Abu Daud dalam Al-Buyu 3530]


Pemateri: DR Khalid Basalamah
Kitab rujukan: Minhajul Muslim
Penulis kitab: Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairy

Masjid Nurullah, Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan
19 April 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s