Mengais

berwudhu

“Nggak ah. Gue nggak nyambung sama bapaknya. Ngajarnya gak enak, matkulnya juga ga seberapa gue suka”

Saudaraku, sebanyak apapun nasihat dan kucuran ilmu yang diberikan, kalau tidak ada keinginan dan upaya dari kita untuk mengais ilmu tersebut, tidak akan pernah ada ilmu yang kita dapatkan.

Sebagaimana kita berdiri di bawah air terjun. Sebanyak dan sederas apapun air yang jatuh menghujani kita, takkan ada yang bisa kita bawa selama kita tidak mau menyatukan telapak tangan dan membukanya ke arah langit

Sebaliknya, sedikit dan serumit apapun nasihat dan curahan ilmu yang diberikan, kalau kita berusaha dan serius untuk mengais faedah yang ada, pasti ada hikmah yang kita peroleh walau ia hanya setitik air di tengah luasnya samudera pengetahuan.

Sebagaimana kita menanti tetesan air dari keran untuk berwudlu. Mungkin kita tetap tidak bisa berwudlu hanya dengan satu dua tetes tersebut. Tapi sadarilah, engkau telah mengais beberapa tetes dari elemen kehidupan.

Jika kita tidak memiliki air untuk bersuci, kita punya tanah untuk ber-tayammum. Demikian pula dalam menuntut ilmu. Jika kita tak mendapati tetesan air dari para ahli ilmu, maka datangilah tanah-tanah yang suci itu dari perpustakaan kampus. Bertanyalah pada penduduk bumi dimana sumber air yang lain.

Karena Allah menjadikan bumi itu luas. Bertebaranlah kamu ke seluruh penjuru dunia

Depok, 15 April 2016


gambar mengais dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s