Tentang Ilmu

6bwkg6mvua

“Ilmu ini dipakenya kapan si? Dipake buat apa? Emang berguna?”

Pertanyaan ini muncul sebagai konsekueni karena kita sudah memilih fokus menghabiskan waktu untuk memelajari suatu ilmu. Di perkuliahan, ada banyak disiplin ilmu. Ini direpresentasikan dalam fakultas. Di UI saja, ada 14 fakultas. FMIPA, FH, FEB, FK, FKM, FPsi, FT, dan lainnya.

Kadang, ketika merasa belajarnya sudah sangat susah, tentu kita akan berpikir buat apa si belajar atau berpikir sesusah itu? Manfaatnya apa? Efeknya apa? Kalau bahasa FE nya: benefitnya apa? Returnnya apa?

Sedihnya, setelah mengarungi jungkir balik perjuangan untuk memenangkan, atau sekadar melewati, atau bahkan bertahan di disiplin ilmu itu.. Kita gak menemukan apa manfaatnya. Apa kegunaannya, kapan ilmu ini akan bermanfaat bagi kita.

Terkadang, aku merasa sangat sedih ketika melihat teman yang berjuang keras di suatu disiplin ilmu, tapi ternyata dia sendiri tidak tau kapan atau untuk apa ilmu tersebut digunakan. Ya, buat kita yang cuma bisa melihat kerasnya perjuangan tanpa tau buahnya, melihat dia berjuang saja sudah membuat kita nggak tega. Apalagi sampai dianya yang mengeluh “Ini ilmu buat apa si? Emang guna di dunia kerja? Teori sih iya. Tapi nggak aplikatif!”

Sejenak, aku bersandar di kursi dan mengangkat kepala. Seperti biasa, melihat biru langit membantuku berpikir lebih leluasa. Sejenak, aku ikut berpikir “Iya ya. Doi belajar susah-susah konsep dan teori ini-itu, menghitung rumus yang entah ada ujungnya atau nggak, itu semua buat apa coba? Emang di dunia kerja bakal terpakai? Emang berguna?”

Aku menarik nafas panjang dan membuangnya sesuka diri. Seketika memunculkan sebuah pernyataan “Entah ya, apa manfaatnya. Tapi dia dulu memilih jurusan ini juga pasti ada alasannya. Ada yang mau didapatkan” Tidak berselang, aku lanjut bertanya “Tapi apa ya? Ngapain sih belajar beginian? Emang manfaatnya dimananya, mau dipakai pas kapan?”

Tiba-tiba telpon genggamku bergetar. Ada pesan dari ibu “Adik sama ibu naik kereta ke Jogja ya. Sekolah adik libur beberapa hari setelah UTS. Doakan nak ya”. Seketika aku bergumam dalam hati “Enak sekali ya adik. Bisa liburan begini”. Kututup pesan ibu dan kumasukkan telponku ke saku celana. Back to topic

Ternyata, justru pesan singkat ibu itu lah yang menjadi titik awal pencerahan. Menanggapi gumam keluhku tadi, aku jadi berpikir. “Iya ya, capek juga kalau hidup cuma bekerja. Ada istirahatnya lah. Ada aspek-aspek lain dalam hidup selain bekerja”

Disanalah aku mulai berpikir bahwa bisa jadi ilmu yang dipelajarinya memang tidak akan digunakan di lapangan kerja. Bahkan, manfaat ilmu tersebut memang tidak digunakan untuk bekerja. Bisa saja dia memelajari ilmu tersebut untuk sekadar menghabiskan waktu. Bisa saja baginya, memelajari suatu ilmu adalah caranya refreshing atau menghilangkan kepenatan dari rutinitas hidupnya. Bisa jadi, seseorang memelajari ilmu untuk memerbaiki aspek lain dalam kehidupan sehari-harinya.

Aku jadi teringat pada salah satu dialog yang tertulis di buku belajar bahasa arabku. Disana, disebutkan bahwa di universitas yang memelajari agama islam (Universitas Islam daerah X), ada fakultas khusus yang memelajari adab dan akhlak. Tentu kita akan berpikir, “Ngapain menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan uang untuk memelajari adab? Tidak akan menghasilkan duit!”

Well, sebetulnya aku tidak sepakat dengan pernyataan bahwa dia tidak berkaitan dengan duit. Tapi poin yang lebih penting untuk kita sadari adalah memelajari adab bukan hanya bicara tentang uang. Bahkan, memang mungkin tidak akan kita kaitkan dengan mencari uang -meski kita tahu bahwa ada kaitannya. Memelajari adab itu untuk memerbaiki perilaku kita sebagai manusia. Memelajari adab adalah untuk memerbaiki kualitas hidup. Dia memang tidak dipelajari untuk diimplementasi di dunia kerja, tapi justru lebih dari itu, dia akan bermanfaat untuk seluruh aspek kehidupan.

Aku percaya bahwa saat ini, sebagian dari pembaca telah memilih untuk ilmu apa waktunya dihabiskan. Tapi, yang perlu kita sadari kembali adalah untuk apa kita memelajarinya, dan apa manfaat yang ingin kita peroleh dari memelajari ilmu tersebut.

Karena, kita sebagaimana di ilmu ekonomi kita belajar konsep kelangkaan. We have limited time. But we see that branch of science is unlimited. Karenanya,

Pelajarilah ilmu-ilmu yang paling penting.
Umur kita terlalu pendek untuk menguasai seluruh ilmu yang ada di bumi.

Pelajarilah ilmu yang dengannya kamu akan selamat di bumi dan mengantarmu ke kebahagiaan abadi

Di balik jendela, di bawah langit Depok

26 Maret 2016


kampus UI dari sini

Advertisements

2 thoughts on “Tentang Ilmu

  1. Ilmu-ilmu tidak akan selalu tampak gamblang kebergunaannya. Tapi, sebentar, ‘berguna’ itu seperti apa sih?
    Kalau berlanjut ke sana, kayaknya bahasannya akan cenderung ke ‘awang-awang’. Kalau mau menariknya ke hal yang lebih ‘membumi’, aku jadi teringat dengan konsep ‘adjacent possible’ dan ‘slow hunch’ dari buku Where Good Ideas Come From. Pernah baca?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s