Why So Serious?

Hidup kadang tidak berjalan mudah. Bahkan, seringnya memang tak mudah. Ada yang pernah bilang padaku ‘Jalani saja hidup layaknya alir mengalir. Niscaya hidupmu akan tenang’. Dalam hati aku berkata “Iya, nanti pas masuk selokan ya masuk ke selokan beneran”.

Hidup kadang tidak berjalan mudah. Apalagi anak kuliahan. Apalagi anak FE(B) UI. Apalagi anak FE yang rantau. Apalagi anak FE yang rantau yang lalala ya semuanya aja ngerasa hidup itu emang ga mudah

Ada kalanya, kita terbawa suasana lingkungan sekitar. Adanya tuntutan sosial untuk bisa melakukan ini dan itu, untuk menyelesaikan ini dan itu, ekspektasi terhadap diri sendiri, ambisi pribadi, dan berbagai macam hal yang akhirnya membuat kita menarik nafas dalam-dalam seraya berkata lirih “Ya Allah… bantu aku…”

Suatu hari, ketika aku berada di posisi itu, tiba-tiba aku teringat perkataan ayahku

“Yaudalah Wan. Dibawa santai aja. Gausa terlalu dipikirin. Hidup kok serius amat”

Begitulah tutur ayah ketika dulu aku menceritakan potongan kegiatanku semasa SMA dahulu. Masa muda ayah tak lebih santai dan ringan dari masa mudaku. Tapi, beliau menceritakan kejadian-kejadian keren dalam hidupnya seakan berlalu begitu saja. Kejadian-kejadian yang jika aku berada di posisinya, aku akan berpikir beberapa kali sebelum mengambil keputusan.Kok bisa ayah sesantai itu? 

Akupun mencoba berpikir terbalik. Itu ayah yang terlalu santai, atau akunya yang terlalu ambil pusing. Lantas aku mencoba berpikir lebih dalam.. Kenapa ya harus dipikir dalam-dalam? Impactnya di kehidupanku apa sih? Emang hidup ini mau dibuat seperti apa?

Seketika aku teringat sebuah potongan ayat..

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ

“Dan tidaklah kehidupan dunia kecuali hanyalah permainan dan senda gurau belaka”

Bukankah dunia tempat bermain dan bersenda gurau? Apakah perlu kita sampai pusing, bingung, dan stres memikirkan urusan-urusan?

Pada ayat tersebut, Allah menyampaikan secara blak-blakan kepada kita seperti apa hakikat dunia. Ya, dunia tempat kita belajar, bekerja, dan bersenang-senang setiap hari ini adalah tempat bermain. Jangan tertipu oleh imajinasi serius dan khayalan pikiran kita. Ini adalah tempat bersenda gurau.

Bukankah sepatutnya kita menikmati permainan yang kita mainkan? Bukankah kita sepatutnya menikmati tawa saat menghadiri acara panggung sandiwara? Ayolah, tentu saja iya. Tak usa jatah bermain 60 tahun di dunia ini dibawa terlalu serius, dibawa terlalu pusing. Tak enak nanti hidup ini, sempit rasanya dunia ini.

Di saat yang sama, Allah juga sudah menyampaikan kehidupan yang mana yang disebut kehidupan abadi

وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Apakah kalian tidak mau berpikir?”

Mari kita perhatikan sejenak. Dua potongan ayat di atas sebetulnya berasal dari satu ayat yang sama, Al-An’am ayat 32. Dalam satu ayat, Allah menyampaikan dua hal yang berkebalikan secara bersamaan. Apa hakikat dunia, lalu apa hakikat akhirat. Dua pernyataan itu disambung dengan pertanyaan yang menggugah para pembaca Alquran, para pemikir -karena membaca pasti berpikir: Apakah kalian tidak mau berpikir?

Jika dunia merupakan tempat bermain dan bercanda, akhirat merupakan tempat yang harus kita sikapi secara serius dan sungguh-sungguh. Jangan sampai kita terlena dan justru bermain-main dengan perkara-perkara yang abadi. Jangan sampai kita lalai dalam setiap perkara yang bermuara pada hidup yang sesungguhnya.

Jika kita menjalani gladi bersih atau simulasi hari-H sebuah acara, tentu kita akan serius menjalankannya bukan? Tak ada lagi main-main, aksi-aksi ceroboh, semua langkah dihitung secara matang dan dilaksanakan dengan hati-hati. Jika untuk sebuah acara yang mungkin hanya berlangsung sekali seumur hidup itu kita memersiapkan sedemikian serius, tentu untuk urusan yang berlangsung atau berdampak abadi kita akan mempersiapkan jauh lebih serius dibanding apapun. Maka, untuk setiap perkara yang itu berkaitan dengan akhirat, perlakukanlah dengan lebih serius.

Ya, pertanyaan mendasarnya masih mau dibawa seperti apa hidup ini? Mau dibawa kemana hidup ini? Jika kita percaya bahwa ada kehidupan yang abadi, maka kita akan serius dalam memersiapkan dan berfokus pada semua hal yang berkaitan dengannya. Adapun untuk kehidupan yang sementara, kehidupan yang isinya bermain dan bersandiwara, kita akan memerlakukannya sedemikian rupa: bermain dan bersenda gurau saja.

Jadi, akar pemikirannya adalah bagaimana kita mempersepsikan sebuah perkara. Percayakah kita pada konsep kehidupan abadi dan kehidupan penuh sandiwara? Dengan kehidupan yang mana tindakan kita akan berkaitan, hidup abadi atau hidup sandiwara atau keduanya? Jika kita sudah menentukannya..

Just do it. Relax. Why so serious?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s