Mafa-Mifa

116663

Roti bakar resep rumah

Awalnya, aku mengira bahwa jawabannya adalah ‘nasi goreng’. Dulu, ketika dia masih SD, sarapannya selalu nasi goreng. Tadi pagi ketika aku bertemu dengannya di kamar, di meja komputernya ada piring berminyak bekas nasi goreng. “Sudah tentu jawabannya nasi goreng”, batinku.

Tapi, siang ini sepulang kami dari salat zuhur di masjid, aku iseng menanyakan pertanyaan itu ke adikku

“Dim, makanan favoritmu apa?”

“Hmm.. Roti, Mie” jawabnya sambil memegang kemudi mobil

“Ooh.. roti yang kayak gimana? Mie sebagai bahan baku atau mie yang dimasak?” Aku melanjutkan pertanyaanku

Aku sendiri tak tahu apakah pertanyaan lanjutanku itu bentuk menyembunyikan ekspresi kagetku atau memang aku penasaran dengan detail makanan favorit adikku. Tapi di saat yang sama, aku berkata pada diriku:

“15 tahun dia jadi adikku, dan aku salah menebak makanan favoritnya. Wow”

Memang sih, 3 tahun terakhir kami sangat jarang bertemu. 3 tahun terakhir, dua per tiga hidupku kuhabiskan di Depok. Kami hanya bertemu jika aku yang ke Surabaya karena ada hal insidental, atau libur semester yang jarang bisa betul-betul kunikmati karena selalu ada agenda sampingan yang kukerjakan di Kota Pahlawan ini. Dan dalam 3 tahun itu, tentu sudah banyak hal yang terjadi. Banyak pula perubahan yang terjadi pada diriku dan adikku.

Pertanyaan tadi sebetulnya juga betul-betul diluar dugaanku. Aku sering berbincang dengan adikku tentang berbagai macam hal. Sering, aku menanyakan tentang kabarnya hari ini. Shalatnya bagaimana, baca Alqurannya, prestasi sekolahnya, pertemanannya, kegiatan atau hobinya. Tapi pertanyaan yang ini menanyakan sesuatu yang sifatnya sangat.. ‘apa banget?’ bagi sebagian orang, mungkin. Pertanyaan itu juga hanya sekilas terlintas di benakku

Well, makanan favorit atau mafa itu istilah yang sering kita dengar ketika kita SD (mungkin SD di Surabaya saja kali ya. Atau SD kamu juga?). Kita menulis istilah ini di kertas binder yang berisi biodata teman-teman sekelas. Kertas yang jumlah barisnya mencapai 20 lebih, kesemuanya diisi dengan kolom keterangan identitas. Mulai dari nama, TTL (tempat tanggal lahir), alamat, cita-cita, sampai hal yang sangat personal dan dulu terkesan gak penting semacam mafa-mifa (makanan favorit minuman favorit), artis favorit, kartun favorit, olahraga favorit, ustad/zah favorit -dulu aku SD di SD Islam yang berbudaya memanggil guru dengan ustad/ustadzah. Dan diakhiri dengan tanda tangan kita. Wah, dulu bangga sekali kalau kelas 3 SD sudah punya atau bisa bikin tanda tangan. Nggak semua anak lho kelas 3 sudah bisa nulis tanda tangan. Hehe, norak banget ya?

Tapi, sadar atau tidak, pertanyaan-pertanyaan itu sebetulnya bisa membantu kita mengukur seberapa dekat kita dengan seseorang. Berapa banyak hal personal yang kita ketahui dari seseorang, entah dari mengamati, berdialog dengannya, mendengar tentang dirinya, atau yang lain? Coba bayangkan engkau sedang membicarakan orang terdekatmu, entah keluarga atau sahabatmu, lalu jawab pertanyaan di bawah ini:

Apa makanan dan minuman favoritnya?

Apa genre buku atau film favoritnya?

Apa yang dilakukannya ketika waktu liburan datang?

Mana tempat di bumi ini yang paling ingin ia kunjungi?

Pelajaran apa yang paling disukainya semasa sekolah?

Ya, kita mungkin sering menghabiskan waktu bersama seseorang. Tapi itu tidak memastikan bahwa kita mengenal dirinya dengan baik. Mengenal dan menikmati/menghabiskan waktu memang dua hal yang berbeda. Bisa jadi, selama ini kita menghabiskan waktu bersama seseorang atau melakukan sesuatu hal tapi hal tersebut tak membuat kita sedikitpun mengenalnya.

Ada si yang kita ketahui tentangnya dari kegiatan menghabiskan waktu bersama tersebut, tapi kalau mau mengenal ya harus serius dalam upaya mengenalinya. Mengobrol, mengamati, atau menghabiskan waktu memang harus difokuskan untuk mengenal. Tanpa niat dan tujuan fokus mengenalinya, kegiatan kita hanya akan menghabiskan waktu dengan sedikit informasi yang didapat -bahkan tanpa sedikitpun membuatmu mengenalnya.

Dan sebaliknya, bisa jadi kita tidak membutuhkan waktu banyak untuk mengenalinya. Sepekan bersama keluarga di rumah dengan quality time yang baik bisa sangat membantu kita mengenali apa kabar mereka hari ini?

Bisa jadi, selama ini kita tertawa bersama dengannya, tapi hal itu tak membuat kita mengenal dirinya seutuhnya.

Kalau dirimu ingin mengenal seseorang, cobalah serius dan fokus untuk ‘berkenalan’ dengannya. Luangkan waktumu, suaramu, ragamu, dan yang terpenting.. Pikiranmu, untuk betul-betul mencari tahu tentangnya dan fokus padanya. Tanyakan hal-hal yang ‘tak penting’ yang mungkin dengannya, kau bisa memahami gerak-gerik tubuhnya. Yang dengannya, kau bisa memahami makna tutur katanya. Yang dengannya, kau bisa memahami alasan cara berpakaiannya.  Yang dengannya.. kau bisa memahami, pesan di balik senyum yang disembunyikannya

Karena mengenal dan menghabiskan waktu itu dua hal yang berbeda. Jangan karena sering menghabiskan waktu bersama, kau mencukupkan diri untuk mengenal dirinya. Jangan karena 19 kali sujud setiap harinya, dirimu merasa telah dekat dan mengenal diri-Nya. Pelajari asma wa sifaat (nama-nama dan sifat-sifat)-Nya, cobalah cari penjelasan tentang-Nya melalui firman-Nya.

Kadang kita tak bisa menghargai, menikmati, dan mensyukuri suatu hal karena kita tak mengenal (mengerti) nilainya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s