Aku, Ibu, dan Hari Ibu

academic_calendarlanding

Menurutku, standar ganda itu dibutuhkan pada beberapa kesempatan. Contoh standar ganda itu kita menerapkan (mengharapkan) rendah untuk orang lain, tapi tinggi untuk kita. Salah satu momen menerapkan itu adalah hari ini, 22 Desember, yang sebagian orang menyebutnya hari ibu

Aku paham dengan orang yang berusaha menjadikan hari ini sebagai momentum ia membahagiakan, memuliakan, atau mengekspresikan kecintaan ibunya. Ibumu jelas berhak atas hal itu. Dan ia berhak untuk mendapatkan lebih dari apa pun yang kau lakukan hari ini.

Abu Burdah mengatakan bahwa ia melihat Ibnu Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang yaman itu bersenandung,

إِنِّي لَهَا بَعِيْرُهَا الْمُـذِلَّلُ – إِنْ أُذْعِرْتُ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ

Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh.

Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.

Orang itu lalu bertanya kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab,

“Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.” [Adabul Mufrad no. 11]

Itu adalah Abdullah bin umar bin al-khattab. Itu adalah standarnya untuk ibunya. Ada pula yang menjadikan hari ini sebagai momentumnya. Silahkan, semua punya timbangan masing-masing.

Tapi, aku tak bisa menerapkan standar itu. Aku tak bisa memaksakan diri di hari ini untuk mengetik puisi indah untuk ibu, membuat origami cantik, atau mengirim kue tart bertulis nama ibu pada hari ini, entah aku tak bisa.

Entah, aku merasa malu. Aku merasa malu padamu ibu, merasa tak tahu diri, merasa tak tahu sopan santun, tak bisa berterima kasih, tak bisa menghargai… Aku merasa tak berbakti, kalau sampai aku mengakui, bahwa satu hari ini adalah momen spesial bagiku untuk berbakti padamu.

Jika aku memperlakukanmu spesial hari ini, itu berarti aku mengakui ada hal yang tidak kulakukan di hari lain. Padahal keutamaanmu sebagai pintu surgaku, berlaku selalu hingga kelak datang waktu Itu.

Jika aku menghususkan untuk memberi bakti terbaikku hari ini, itu berarti di hari-hari yang lain aku hanya berbakti dengan baik padamu. Sungguh dirimu berhak mendapat yang terbaik dariku, sepanjang waktu.

Duhai celakanya aku, kalau engkau cemburu di 364 hari yang lain, karena aku tak bisa berbakti sebagaimana aku berbakti hari ini.

Ya, standar ganda itu perlu

Kalau memang hari ini, 22 Desember ini, menjadi hari bagi kita untuk MULAI memuliakan, membahagiakan, dan memberikan bakti TERBAIK pada ibu di SETIAP WAKTU.. Maka mulailah

Karena kita tak tahu, apa 22 Desember di tahun depan masih ada orang yang akan kita ucapkan selamat hari ibu

Karena kita tak tahu, apa sepulang kita dari sekolah, kampus, atau tempat kita kerja sore ini, kita masih bisa melawak dan membuat ibu sebatas tersenyum teduh

 

780 km dari sisi Ibu, 22 Desember 2015

Anak tengahmu, Ibnu Rosyid


kalendar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s