Sekilas tentang Paket Kebijakan Ekonomi Jilid 1,2 dan 3

Presiden Joko Widodo mengumumkan Paket Kebijakan Ekonomi Jilid 1 pada 9 September lalu di Istana Merdeka

Perekonomian indonesia menghadapi berbagai tantangan sejak awal tahun 2015. Bahkan, sejak awal pemerintahan Joko Widodo berdaulat (Oktober 2014), perekonomian indonesia sudah menghadapi banyak ‘tekanan’. Pelemahan rupiah semenjak akhir 2014 –saat itu masih berkisar 13,000 hingga sekarang hampir menyentuh 15.000, pertumbuhan ekonomi yang kuartal I dan II yang tak sesuai harapan –kuartal I bahkan tak sampai 5%, inflasi yang bergejolak pasca kebijakan dicabutnya subsidi BBM, hingga devisa negara yang terus terkuras untuk menyelamatkan beberapa polemik yang telah disebutkan.

Pada bulan Agustus 2015, Presiden Joko Widodo mengambil langkah besar dengan me-reshuffle kabinetnya. Darmin Nasution, mantan gubernur Bank Indonesia, dipanggil untuk memimpin Kabinet Kerja ‘divisi ekonomi’. Tak lama setelah hadirnya kapten baru di tim, Pak Presiden mengambil langkah kongkret penyelamatan perekonomian Indonesia. Sebuah paket kebijakan ekonomi akhirnya dikeluarkan. Paket Kebijakan Jilid I berisi tiga sasaran utama: percepatan eksekusi proyek-proyek strategis nasional, meningkatkan daya saing industri, dan mendorong investasi di sektor properti.

Secara garis besar, sasaran utama Paket Kebijakan Jilid I adalah menggerakkan sektor riil. Dan secara tidak langsung, kebijakan jilid 1 ini berupaya menjawab sebuah tantangan besar di awal tahun: pertumbuhan yang tak sesuai harapan. Jelas pertumbuhan amat penting bagi sebuah negara, salah satu indikator makro sebuah negara adalah pertumbuhannya. Sayangnya, pertumbuhan kuartal pertama yang diprediksi bisa sampai 5,8% (menurut Badan Anggaran BI) berkali-kali harus dikoreksi hingga kenyataannya memang hanya sampai 4,9%. Hal ini dapat dimengerti, mengingat realisasi pencairan dana government expenditure membutuhkan waktu. Teknisnya, tender harus dibuka ke publik, memilih pemenang tender, dan terakhir mencairkan dana. Hal ini tentu butuh waktu yang tak singkat. Karenanya, pemerintah berupaya mempercepat eksekusi proyek-proyek strategis dengan cara penyederhanaan izin, mempercepat pengadaan barang dan jasa, serta meninjau hambatan yang sifatnya legalitas.

Tak hanya percepatan, daya saing industri juga ditingkatkan dengan melakukan deregulasi. Pak Jokowi mengatakan bahwa ada 89 peraturan dari 154 regulasi yang sifatnya menghambat daya saing industri. “17 rancangan peraturan pemerintah, 11 rancangan peraturan presiden, 2 rancangan instruksi presiden, 63 rancangan peraturan menteri dan 5 aturan lain” tuturnya sebagaimana dilansir CNN Indonesia 9 September lalu.

Sayangnya, satu tantangan besar lain perekonomian indonesia masih belum terselesaikan: pelemahan rupiah. Rupiah merangkak naik bak kura-kura, lambat tapi pasti. Permasalahan pelemahan rupiah ini tentunya bukan masalah sepele. Pelemahan rupiah yang tak disikapi dengan serius dapat berdampak domino ke berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Industri yang bahan bakunya mengandalkan Impor terpaksa gulung tikar, sehingga angka pengangguran melejit tinggi. Melejitnya biaya ibadah haji, kebutuhan wajib sekali seumur hidup seorang warga Indonesia yang beragama Islam, juga menjadi cermin bahwa aspek sosial mulai terkena imbasnya. Perlu diingat, intensitas transaksi internasional semakin meningkat di penghujung tahun, diantaranya ibadah haji dan masa liburan. Pelemahan rupiah harus menjadi perhatian besar.

Menyadari tantangan itu, Paket Kebijakan Jilid II diluncurkan berselang satu bulan dari terbitnya paket kebijakan perdana. Fokus paket kebijakan kedua adalah menarik investasi masuk melalui deregulasi dan debirokratisasi. Langkah ini diambil pemerintah untuk meningkatkan iklim investasi di Indonesia. Iklim investasi tentu sangat penting untuk memperkuat kondisi pasar keuangan Indonesia –sehinga devisa bertambah, juga untuk memperkuat ‘kuda-kuda’ perusahaan karena permodalan yang makin lancar. Melalui paket kedua ini, pemerintah juga berupaya menginsentif masyarakat untuk memulai usaha atau berwirausaha. Deregulasi dibutuhkan mengingat Indonesia masih jauh tertinggal dari negara Asia Tenggara lain seperti Singapura, Malaysia, Filipina, dalam konteks kemudahan berbisnis.

Kendati bermanfaat bagi sektor riil dan wirausaha, perlu disadari bahwa butuh waktu cukup lama untuk bisa memetik buah kebijakan deregulasi. Butuh satu hingga dua tahun untuk merasakan manisnya. Membangun bisnis, perusahaan, memperkuat industri dalam negeri tentu tak seperti sulap yang hanya sekian jam, hari, atau bulan. Padahal, dunia usaha hari ini butuh quick-win solution untuk dapat bertahan hidup dan menyongsong hari esok.

Manfaat deregulasi memang masih lama dirasakan, namun masih ada kebijakan lain yang sudah ditujukan langsung ke titik permasalahan jangka pendek. Diantaranya memangkas pajak bunga deposito yang saat ini 20 persen menjadi 10 persen bagi eksportir yang menyimpan selama satu bulan devisa hasil ekspor (DHE)-nya dalam valuta asing di perbankan dalam negeri. Tak hanya itu, pemotongan akan lebih tinggi –menjadi 7,5 persen jika ditanam tiga bulan. Bahkan, pajak bisa menjadi 2,5 persen untuk periode enam bulan, dan nol persen untuk jangka waktu sembilan bulan atau lebih.

Meski masih dalam penyelidikan oleh Bank Indonesia, kenyataannya rupiah mengalami penguatan menjadi Rp 13.888 hari ini (7 Oktober 2015). Ada dua kemungkinan penyebab menguatnya rupiah: faktor global dan faktor respon pasar terhadap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

Menyadari paket kebijakannya belum seutuhnya menyelesaikan semua permasalahan jangka pendek, Darmin Nasution (Menko bidang perekonomian) menyatakan bahwa paket kebijakan ekonomi jilid tiga akan dirilis sore ini (7 Oktober 2015) di Istana negara. Darmin sempat menyinggung bahwa fokus kebijakan paket jilid tiga adalah skema kredit untuk pemutusan hubunga kerja (PHK) dan penyesuaian harga BBM.

Dua fokus ini relatif tepat untuk menyelesaikan permasalahan jangka pendek yang dihadapi masyarakat. Kenyataannya, banyak perusahaan yang telah mengetuk palu pemutusan hubungan kerja. Sehingga, skema kredit untuk orang-orang yang telah kehilangan pekerjaan sangat urgent untuk segera diberikan. Penyesuaian harga BBM juga perlu dipertimbangkan, mengingat konsumsi BBM sangat berdampak langsung pada kehidupan individu rumah tangga konsumen dan input bahan baku perusahaan (rumah tangga produsen). Secara garis besar, dapat dilihat bahwa paket kebijakan jilid tiga berupaya menyelesaikan masalah yang timbul akibat gulung tikarnya perusahaan: pengangguran dan membangun sektor riil. 

Kesimpulannya, pemerintah telah berupaya membuat kebijakan yang tepat untuk menyelesaikan satu per satu permasalahan dan tantangan perekonomian yang ada. Meski pada sebuah paket kebijakan belum menyelesaikan seluruh permasalahan yang ada, pemerintah segera merespon atau men-follow up dengan paket kebijakan yang lain. Jika pemerintah lambat dalam menindak dampak kebijakannya, permasalahan baru bisa segera muncul. Pada akhirnya, sangat penting bagi pemerintah untuk responsif dan cepat dalam mengambil dan mengimplementasikan kebijakan yang dirumuskan.

Hari ini, 11 Oktober

Paket kebijakan jilid III dikeluarkan tepat saat saya mengumpulkan esai di atas kepada asisten dosen pada hari Rabu, 7 Oktober yang lalu. Saat itu, saya berjalan menaiki tangga menuju lantai tiga gedung A di FEB UI. Jam menunjukkan pukul 17.20 WIB, tak lama setelah meletakkan di meja asdos saya segera turun dan hendak pulang untuk istirahat. Di tengah perjalanan, televisi ruang fotokopi gedung A menunjukkan headline yang tak asing bagi saya. “Paket Kebijakan Ekonomi Jilid 3 Dikeluarkan” tulisannya. Saya berhenti dan mampir untuk sekadar numpang nonton televisi.

Secara garis besar, paket kebijakan jilid tiga berisi paket ‘diskon’. Pemotongan harga di berbagai aspek dilakukan pemerintah untuk mengurangi biaya perusahaan (cost of production). Biaya yang didiskon pemerintah diantaranya tarif dasar listrik bagi perusahaan (yang beroperasi jam 23.00-08.00 WIB), harga BBM beberapa prodak, juga harga gas. Biaya yang dipermurah tentu berdampak sangat langsung pada perusahaan, spesifiknya struktur biaya perusahaan. Tak hanya diskon, kredit usaha rakyat (KUR) juga dipermudah. Yang dulunya pegawai gaji tetap tidak boleh, sekarang boleh. KUR yang kini lebih ‘untuk semua’ juga sangat membantu, contohnya bagi ibu-ibu yang sebetulnya di rumah punya usaha sampingan seperti salon, warung, atau yang lain. Ketiga, penyederhanaan izin ketanahan. Tanah yang merupakan salah satu faktor produksi adalah variabel penting di dunia usaha. Kemudahan perizinan tanah tentu memberikan efek bagi dunia usaha.

Kesimpulannya, paket kebijakan ketiga berusaha menyentuh langsung. Pada intinya, kebijakan ketiga ini berupaya melengkapi paket kebijakan pertama dan kedua. Dua paket kebijakan pertama berupaya memperbaiki iklim usaha dan meningkatkan iklim investasi. Paket kebijakan ketiga sebetulnya senada dengan paket pertama, mendorong sektor riil agar orang-orang secara nyata terbantu dan terinsentif untuk berwirausaha. Bedanya, paket ketiga ini jauh lebih cepat dan akurat –saya menyebutnya direct hit kepada masyarakat khususnya calon penggerak perekonomian.


Tulisan di atas merupakan esai tulisan penulis pada tugas mata kuliah Bisnis dan Ekonomi Indonesia (BEI)

Referensi:

http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20150909182130-92-77720/presiden-jokowi-umumkan-paket-kebijakan-ekonomi-jilid-i/

http://www.antaranews.com/berita/521143/kadin–inti-paket-kebijakan-deregulasi-debirokratisasi

http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/09/150929_indonesia_paket_ekonomi2

http://ekbis.sindonews.com/read/1049618/33/ini-sasaran-paket-kebijakan-ekonomi-jilid-iii-jokowi-1443694877

http://www.antaranews.com/berita/521672/analis-ui-perlu-kebijakan-ekonomi-jangka-pendek

seluruhnya diakses 7 oktober 2015 pukul 15.07 WIB

gambar dari sini

Advertisements

4 thoughts on “Sekilas tentang Paket Kebijakan Ekonomi Jilid 1,2 dan 3

  1. Pingback: PAKET KEBIJAKAN EKONOMI PEMERINTAH INDONESIA | adityaprks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s