Sang Menteri: Sebuah Kuliah Perdana

25198

Jam menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh. Hawa dingin khas matahari terbit masih menyelimuti diri. Tapi, ada yang berbeda dari pagi ini. Tak biasanya, rasa malas untuk membuka jendela tidak menghampiri. Kuingat-ingat lagi…

Oh iya, hari ini ada kuliah perdana oleh Sang Menteri!

Kulakukan aktivitas pagi seperti biasa: Mandi. Ya.. Hanya mandi yang menjadi rutinitas. Sarapan? Menyesuaikan. Kalau jam menunjukkan 15 menit menuju waktu perkuliahan, artinya sarapan harus ditunda esok hari. Mungkin, aku bisa sarapannya esok hari.

Pukul 8 tepat, saya sudah melangkahkan kaki di sekitar kolam makara. Nametag dan jaket kuning khas mahasiswa baru menghiasi selasar FEB UI. Hari ini juga bertepatan dengan hari pertama pasca-OPK, orientasi pengenalan kampus. Sebetulnya, kuliah perdana diwajibkan untuk mahasiswa baru 2015 dengan mata kuliah pengantar ekonomi 1. Walaupun sudah lulus dengan nilai memuaskan –saya sudah cukup puas meski bukan A, saya tertarik untuk menghadirinya. Bukan konten perkuliahannya yang menarik hati, namun pematerinya: Pak Bambang P.S. Brodjonegoro, menteri keuangan RI saat ini.

Selama 20 menit, mahasiswa baru berdesak-desakan mencari tempat duduk di tangga auditorium –bagian kursi sudah penuh oleh mereka yang datang sebelum pukul 8. Untungnya, saya mengambil tempat yang aman di lantai 2 auditorium. Bagian atas (lantai 2) diisi oleh beberapa staf kemenkeu dan asisten dosen.

Sembari menunggu, Bu Beta mengisi waktu kosong dengan ice breaking. Ada dua mini quiz yang ditanyakan ke mahasiswa baru. Tapi, ada satu pernyataan beliau yang menarik:

“Pak Bambang itu angkatan 1985. Kalian 2015 ya? Selisih 30 tahun nih ya.. Itu artinya, boleh lah ya berharap 30 tahun lagi kalian lah menterinya. Haha”

Ungkapnya ringan, penuh canda. Tapi cukup untuk membuatku berpikir.. “Iya ya, 30 tahun lagi bisa jadi satu dari sekian ratus anak-anak di bawah ini yang membuat kebijakan. Atau kakak-kakak di sebelahku ini”. Mas Rifqi yang duduk di sebelahku menambahkan “Wah, 2045 ya. Pas 100 tahun Indonesia merdeka”. Makin berdirilah bulu kudukku. 2045 bro! Yang katanya Indonesia emas, bonus demografi, Wow! 2045, itu artinya, di fase emas itu, kitalah orang yang akan memegang peran penting!

Tak lama tenggelam dalam lamunan itu, Bu Beta mengakhiri ice breakingnya. Ya, bintang tamu kami telah datang!

25195

Pak Bambang berdiri di tengah mengawali kuliah umum

Pak Bambang masuk dari pintu belakang dekat panggung auditorium. Tepuk tangan bersaut-sautan menyambut ‘artis’ yang akhir-akhir ini sering muncul di tv untuk memberi penjelasan terkait pelemahan rupiah. Luar biasa, di tengah pelemahan ekonomi global, Pak Menteri masih mau meluangkan waktunya berbicara pada 600 ‘orang baru’ di dunia akademisi ekonomi.

Judul perkuliahan hari ini cukup jelas dan… sedikit garing. “Ilmu Ekonomi” demikianlah judul slide pertamanya. Amat sederhana. Artinya, beliau kemari memang untuk memberi kuliah umum. Kuliah bro, bukan konferensi pers tentang penjelasan pelemahan ekonomi rupiah.

Di awal kuliah, Pak Bambang memberi motivasi agar kami semangat dalam menempuh studi 4 tahun kedepan.

“Yang membedakan antara ekonom FEUI dengan ekonom lainnya adalah logika ekonominya. Cara berpikir alumni FEUI berlandaskan logika ekonomi yang matang. Dan logika ekonomi ini hanya bisa didapat dengan kuliah S1 di fakultas ekonomi, terlebih di ekonomi UI”

Ya, itu juga yang selalu kuceritakan pada ibuku ketika ibuku berkata –dengan nada bercanda “Harusnya kamu di psikologi dong Wan?”. Aku selalu berkata “Ilmu/ pengetahuan bisa dicari dimana-mana Bu. Tapi pola dan cara berpikir harus dibentuk di tempat yang tepat. Ketika Riwan di FE, kacamata riwan dalam memandang adalah kacamata ekonomi yang ditunjang ilmu psikologi. Kalau di psikologi ya kebalikannya nanti. Cara melihatnya dengan kacamata psikologi tapi ditunjang pengetahuan bisnis”

Penjelasan di awal, beliau mendefinisikan apa itu Ilmu Ekonomi. Pada dasarnya, ilmu ekonomi muncul akibat adanya kelangkaan. Sehingga, seseorang harus memilih dengan memertimbangkan insentif. Insentif bisa berupa keinginan mendapat reward, bisa pula keinginan menghindari punishment. Singkatnya, ilmu ekonomi merupakan ilmu sosial yang memelajari cara memilih diantara kelangkaan based on incentives.

Jadi, sudah sepatutnya anak ekonomi harus bisa atau cerdik dalam memilih. Kalau anak ekonomi tidak bisa atau tidak punya pilihan, berarti statusnya sebagai anak ekonomi masih belum afdhol. Eaa

Pak Bambang lanjut memberikan pesan agar mahasiswa FEB UI memiliki empati yang besar terhadap orang-orang di sekitarnya.

“Jadilah alumni FEB UI yang peduli dengan kebutuhan masyarakat di sekitarmu. Kita mengenal ada kebutuhan, ada pula keinginan. Lihat, masih banyak masyarakat Indonesia yang sibuk memikirkan kebutuhannya. Perhatikanlah mereka. Kalau kita punya keinginan, simpan dalam diri. Ayo bantu mereka yang masih memikirkan kebutuhan tanpa sempat memikirkan keinginan” tuturnya.

Bersambung in syaa Allah


Sang Menteri: Sebuah Kuliah Perdana merupakan bagian awal dari rangkaian catatan yang diberi nama “Kuliah Perdana oleh Sang Menteri”. Tulisan ini in syaa Allah akan bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s