Dua Hati Kita

“Mungkin, aku terlalu takut kehilangan orang yang aku sayangi”

Kau benar. Ada kegelapan bernama ketakutan yang menyelimuti, tatkala malam bernama perpisahan itu datang. Ada keresahan yang mencoba menguasai hati, ketika awan keraguan memenuhi pemandangan kehidupan.

Namun, aku percaya bahwa hati kita sejatinya patuh. Patuh di atas ketetapannya, patuh di atas keinginan-Nya. Dialah yang membolak-balikkan hati.

Tatkala aku memutuskan untuk meninggalkanmu, muncul keraguan. Tatkala aku memutuskan untuk mengakhiri perbincangan itu, ada kekhawatiran. Ada kekhawatiran akan berpalingnya hatimu dariku. Pudar dan hilang namaku dari hatimu selama masa-masa itu, masa-masa yang kita sebut ‘kesabaran dua orang yang menanti’. Ada keyakinan, bahwa Ia mampu melepaskan diriku dari seonggok daging kecil bernama hati milikmu.

Namun, aku juga yakin. Aku yakin bahwa kelak Ia juga dapat mengizinkanku untuk masuk kembali dan tinggal menetap di jantung hatimu. Bahwa Ia mampu balikkan lagi hatimu untukku. Bahwa ia mampu kembalikan tulang rusuk yang terpisah dari tulang punggungnya ketika tiba saatnya. Ketika ia membuktikan janjinya bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, dan perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik.

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Rabb-mu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” Surat Huud ayat 123

Karena aku yakin, kepunyaan-Nya lah semua yang di langit dan bumi.  Miliknya lah hati ini: hatiku, hatimu, dua hati kita. Ia tegaskan bahwa Ia lah pemilik segalanya. Lalu Ia beri tahu pada para pencari kehidupan bagaimana cara memeroleh kebutuhannya dari sang pemilik: Sembahlah Dia dan bertawakkallah pada-Nya.

Sembahlah Dia. Karena dengan menyembahnya, keridoan-Nya kan kau terima. Karena dengan keridoan-Nya, semua yang Ia miliki dapat ia berikan untukmu. Hati ini: hatiku, hatimu, dua hati kita, dapat kita memilikinya atas restu-Nya.

Tak perlu tenggelam dalam ketakutan, dalam samudra bernama prasangka. Masa depan memang abu-abu, tapi janji Allah adalah pasti. Pegang janji Allah untuk menghadapi awan kelabu itu. Sembahlah Dia, bertawakkal pada-Nya, dan persiapkan segala hal hingga saat itu tiba. Persiapkan dan tunjukkan bahwa kita siap, layak, dan pantas untuk menerima karunia-Nya.

Perbaiki cinta kita agar senantiasa tulus karena-Nya dan diridhoi-Nya. Karena cinta itulah yang akan memertemukan, menghidupkan, dan mengabadikan hati ini: hatiku, hatimu, dua hati kita.

“Jika memang aku mencintaimu karna Allah, izinkanlah aku mencintaimu dengan cara yang dicintai-Nya” MR

Mueang Pattaya, 21 Juli 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s