Homoromantic, Homoseksual, dan Sang Pencipta

Homoromantik, Homoseksual, dan Sang Pencipta

Oleh Forum Studi Islam (FSI) FEB UI 2015

Pekan lalu, Mahkamah Agung Amerika Serikat mengambil sebuah keputusan yang menghebohkan masyarakat di berbagai penjuru dunia. Kini, pernikahan sesama jenis telah dilegalkan secara hukum di seluruh negara bagian negeri Paman Sam. Berbagai tanggapan dari berbagai kalangan muncul terkait keputusan besar ini. Sebagian ada yang mendukung, namun tak sedikit pula yang menyesali dan menghujat keputusan ini. Keputusan ini meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai fenomena LGBT atau Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Lantas, bagaimana sikap kita terhadap isu ini?

Pada tulisan ini, saya tidak membahas aspek legalitas maupun unsur politis kebijakan pernikahan sesama jenis. Pembahasan tulisan ini lebih berfokus pada homoseksual, homoromantik, dan perspektif Islam terhadap keduanya.

Pada tulisan ini, saya membedakan penggunaan istilah homoromantic dengan homoseksual. Homoromantic bermakna ketertarikan sesama jenis (kelamin) yang bersifat emosional khususnya romantisme, sedangkan homoseksual berarti keterkarikan sesama jenis yang bersifat (aktivitas) seksual[1]. Mengapa dibedakan?

Alasan pertama, karena dalam kesehariannya, masyarakat sering menggunakan kedua hal ini dalam satu konteks. Padahal, kedua hal ini sejatinya dua hal yang berbeda. Kedua, untuk mengurai akar permasalahan dan menjawab pernyataan sekaligus pertanyaan yang kerap muncul di berbagai permbahasan homoseksual, “Sekiranya seseorang tidak melakukan perbuatan seksual sesama jenis, apakah sebatas ketertarikan itu menjadi masalah?”

Dengan membedakan dan memahami kedua konteks ini, diharapkan pembaca dapat memahami lebih dalam problematika yang ada dan bagaimana Islam membahasnya.

Homoromantik dan sebuah perspektif

Banyak perspektif yang dapat digunakan dalam memandang homoromantic. Studi kedokteran, psikologi, sosiologi, ilmu budaya, filsafat, dan berbagai macam bidang studi dapat digunakan dalam mengkaji dan memahami hal ini. Namun, perspektif manakah yang patut digunakan dalam memandang dan menyikapi hal ini?

Jawaban dari pertanyaan di atas sejatinya amat sederhana: Yang paling mengenal dan mengerti tentang sebuah objek. Tentu saja. Kita tak mungkin mengkaji atau menganalisis alasan pelemahan rupiah menggunakan ilmu kedokteran. Tak mungkin pula mendiagnosa dan mengoperasi pasien gagal jantung menggunakan ilmu sastra. Ilmu yang paling mengerti dan mengenal objeknyalah yang digunakan dalam menganalisis, memahami, dan menyikapi sebuah perkara. Lantas, ilmu apa kah yang digunakan? Ilmu Sang Pencipta lah yang kita gunakan.

Mengapa Ilmu Sang Pencipta? Karena pencipta adalah pihak yang paling mengenal, mengerti, dan memahami ciptaannya. Seorang juru masak adalah orang yang paling mengerti apa yang ia masak. Ia tahu apa saja bahan dasarnya, cara memasaknya, proses yang akan terjadi selama pemasakan dan penyajian, hal-hal yang dapat merusak masakannya, cara memerindah sajian masakannya, dan lain sebagainya. Demikianlah seorang pencipta mengenal ciptaannya.

Dan bagi seorang muslim, syahadat yang ia baca pada setiap salatnya mempersaksikan bahwa Allah lah yang menciptakan manusia, dan seluruh makhluk-Nya yang lain. Dan dengan keislamannya, ia yakin bahwa Allah lah yang paling mengenal hamba-Nya. Karena ia beriman pada sifat keesaan Allah dalam hal rububiyah/penciptaan. Ia meyakini bahwa Allah lah satu-satunya khaalik (Pencipta). Segala sesuatu selain pencipta berarti makhluk (ciptaan), termasuk diantaranya manusia.

Maka, seorang muslim meyakini bahwa perspektif yang digunakan dalam memandang, memahami, dan menyikapi hal ini, homoromantic, adalah perspektif Allah yang dituangkan dalam firman-Nya (Alquran) dan dijelaskan utusan-Nya (Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam). Kedua hal ini menjadi sumber agama Islam.

Bagaimana Islam memandang homoromantic?

 Allah telah menetapkan bagi seluruh makhluknya, standar dan batasan-batasan yang menjadi indikator normal seseorang/sebuah makhluk. Lantas, apa indikator normal Allah bagi manusia? Allah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 1

“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan dari jiwa yang satu itu Dia menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Dia memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak”

Ayat ini menceritakan penciptaan Hawa yang berasal dari tulang rusuk Adam. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas tentang penciptaan Hawa tatkala Adam merasa tidak tentram di surga sendiri. Sehingga, Allah ciptakan Hawa untuk menentramkannya.

Dalam ayat yang lain, surat Ali Imron ayat 14, Allah berfirman,

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak”

Para ulama menggunakan ayat ini sebagai dalil pembahasan bahwa mencintai dunia termasuk fitrah manusia. Dalam ayat ini, disebutkan bahwa seseorang (laki-laki) memiliki kecenderungan terhadap wanita.

Rasul shalallahu ‘alahi wa sallam, seorang rasul namun tetap berstatus hamba, merupakan manusia yang Ia utus sebagai teladan seluruh umat manusia. Entah ia laki-laki, perempuan, orang Arab, beragama Islam, beragama selain Islam, terlepas dari itu semua, Ia adalah teladan bagi seluruh manusia. Perhatikanlah apa yang ia shalallahu ‘alaihi wa sallam ceritakan tentang sisi kemanusiaannya,

“Diberi rasa cinta padaku dari dunia yaitu wanita dan wangi-wangian dan dijadikan penyejuk mataku dalam shalat”[2]

Demikianlah Allah menciptakan manusianya. Allah tetapkan standar kewajaran, kelaziman, kenormalan, manusia adalah mencintai lawan jenisnya. Seorang laki-laki sepatutnya mencintai perempuan, dan seorang perempuan mencintai laki-laki. Bila ada manusia yang berada di luar standar tersebut, artinya ia berada pada kondisi tidak wajar, tidak lazim, tidak normal.

Maka, homoromantic dalam perspektif Islam, perspektif Allah, perspektif Sang Pencipta, merupakan sebuah kondisi yang tidak normal bagi seorang manusia.

Mengapa ‘keunikan’ ini dipermasalahkan?

Pertanyaan di atas merupakan poin kritis dari pembahasan di berbagai forum tentang bahaya homoseksual. “Selama seorang tidak melakukan homoseksual, kenapa itu (homoromantic) harus dilarang?”

Pada beberapa pembahasan LGBT, kerap disebut sebuah istilah aseksual. Aseksual merupakan orang yang tidak tertarik atau tidak memiliki ketertarikan terhadap kegiatan seksual[3]. Ada sebagian yang berpendapat bahwa seorang homoromantic bisa jadi aseksual, sehingga muncullah pertanyaan –atau pernyataan seperti di atas.

Memang, pertanyaan di atas mengandung poin kebenaran. Karena yang menjadi permasalahan adalah homoseksualnya –in syaa Allah kami bahas pula homoseksual nanti. Tetapi, perlu diperhatikan dan ditinjau kembali, apakah kondisi yang demikian (homoromantic yang aseksual) menjadi kepastian bahwa homoseksual tidak mungkin terjadi? Apa yang menjamin bahwa ia tidak akan terjerumus dalam perbuatan dosa homoseksual? Padahal Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan

Sesungguhnya Hati dinamai ‘al-Qalb’ karena mudah berbolak-balik, dan sesungguhnya perumpamaan hati itu seperti bulu yang berada di tanah lapang, menempel di batang pohon, yang dibolak-balikkan oleh angin”[4]

dalam sabdanya yang lain

Sungguh, hati anak Adam (manusia) itu sangat (mudah) berbolak-balik daripada bejana apabila ia telah penuh dalam keadaan mendidih.”[5]

Jika ada yang merasakan gejala homoromantic selama sekian tahun dan ia merasa aman dari timbulnya dorongan homoseksual, perlu kiranya kita mengingat pelajaran dari sebuah kisah di zaman bani israil (kisah israilyat) tentang Barshisha, sang ahli ibadah[6].

Singkatnya, Barshisha adalah seorang ahli ibadah yang dititipkan seorang gadis oleh tiga saudaranya untuk sebuah keperluan. Sebagian riwayat mengatakan bahwa ia sudah berada dalam ketaatan ibadahnya selama puluhan tahun. Awalnya, barshisha amat tegas dalam menjaga interaksinya dengan sang gadis. Ia menjaga jarak, pandangan, dan segala bentuk interaksi terhadap sang gadis. Namun, iblis dengan pengalamannya ribuan tahun memiliki tipu daya yang tak kalah maut. Selangkah demi selangkah, keteguhan iman dan sikap Barshisha luluh. Ia melonggarkan batasan dirinya, yang berujung pada sebuah dosa besar, perzinaan, dengan sang gadis. Gadis itu pun hamil. Kemudian, Barshisha pun membunuh anak dan sang gadis. Terakhir, ia menutup hidupnya dengan bersujud kepada setan ketika meminta pertolongan agar diselamatkan dari hukuman mati penguasa setempat.

Demikianlah Barshisha, seorang ahli ibadah yang terperdaya oleh tipu daya iblis. Renungan berikutnya adalah siapakah kita sehingga kita yakin dan merasa aman? Apakah kita ahli ibadah sehingga aman dari tipu dayanya? Barshisha dan pengalamannya telah merespon jawaban kita. Apakah kita ahli ilmu agama yang juga senantiasa jernih pikirannya? Siapa yang menjamin bahwa kita mampu menjaga diri dari tipu daya iblis?

Sekiranya ini merupakan kekhawatiran yang berlebihan, maka perlu kita sadari bahwa kekhawatiran terhadap kebaikan lebih baik daripada merasa aman dari keburukan. Kita lebih patut merasa khawatir terhadap keimanan kita daripada merasa aman dari tipu daya iblis. Mengapa? Karena orang yang merasa khawatir akan senantiasa menjaga diri, sedangkan orang yang merasa aman akan melonggarkan pertahanan dirinya.

Maka selayaknya kita berhati-hati terhadap peringatan nabi dan mengambil pelajaran dari umat-umat sebelum kita. Sudah selayaknya kita berhati-hati terhadap hal-hal yang menggiring kita menuju dosa besar tersebut. Sudah sepatutnya kita tidak meremehkan perkara ini, ketidak-laziman meski sebatas ‘preferensi’.

Bagaimana dengan homoseksual?

Homoseks merupakan sebuah dosa yang tidak diragukan keharamannya. Logika paling sederhana dalam perbuatan ini adalah zina –meski keduanya berbeda dan akan dijelaskan lebih lanjut. Karena, hubungan intim yang dihalalkan dalam Islam hanya ada karena dua sebab: menikahinya atau memilikinya sebagai budak. Allah berfirman dalam surat Al-Mukminun ayat 5 dan 6,

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela”

Sedangkan, Islam tidak mengatur syariat pernikahan sesama jenis. Maka bagaimana bisa perbuatan ini menjadi halal ketika perantara untuk menghalalkannya tidak pernah ada? Bahkan, para ulama mengatakan bahwa homoseks lebih keji dibandingkan berzina. Karena, meskipun zina menyelisihi syariat Allah, zina tidaklah menyelisihi tabiat manusia (fitrah yang ditetapkan Allah sebagaimana disebutkan di atas). Sedangkan homoseks menyelisihi syariat sekaligus tabiat manusia.

Allah menyampaikan melalui lisan Rasul-Nya bahwa Ia subhanahu wa ta’ala melaknat perbuatan ini. Dari ibnu abbas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

“Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Luth”[7]

Beliau menekankan perkara ini dengan mengatakan sebanyak tiga kali.

Allah menjelaskan apa yang diperbuat oleh kaum nabi Luth dalam firman-Nya surat Alaraf ayat 80 hingga 81:

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya. ‘Mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah (keji) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelum kalian? ‘Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampui batas”

Ayat di atas juga menjawab jika ada yang bertanya “Jika tidak bisa menikahinya, apakah boleh melakukannya (hubungan seksual sesama jenis) sekiranya memiliki budak?”. Jawabannya tidak sebagaimana dilarangnya perbuatan Luth. Ayat-ayat di atas juga menjadi dalil bahwa perbuatannya sendiri telah terlarang, terlepas apapun kondisinya.

Para Sahabat dan para muridnya mencela dan menggambarkan betapa buruknya perbuatan ini.

Mujahid berkata : “Orang yang melakukan perbuatan homoseksual meskipun dia mandi dengan setiap tetesan air dari langit dan bumi masih tetap najis”.

Fudhail Ibnu Iyadh berkata : “Andaikan pelaku homoseksual mandi dengan setiap tetesan air langit maka dia akan menjumpai Allah dalam keadaan tidak suci”.

Artinya, air tersebut tidak bisa menghilangkan dosa homoseksual yang sangat besar yang menjauhkan antara dia dengan Rabbnya. Hal ini menunjukkan betapa mengerikannya dosa perbuatan tersebut.

Konsekuensi homoseksual

Konsekuensi dari perbuatan dosa ini amatlah besar dan tidak main-main. Diriwayatkan oleh Ahlus sunan dan disahihkan oleh Ibnu Hibban, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

“Siapa saja di antara kalian mendapati seseorang yang melakukan perbuatan kaum Luth maka bunuhlah pelakunya beserta pasangannya”

Pada saat menjadi Amirul Mukminin (pemimpin umat muslim), Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu pernah menerima sebuah surat dari seorang di daerah Arab yang mengaku melakukan perbuatan Liwath (disetubuhi dari dubur) atau homoseks. Kemudian, Abu Bakar meminta nasihat kepada para shahabat. Maka yang paling keras perkataannya dari mereka ialah Ali bin Abi Thalib yang berkata

“Tidaklah ada satu umat pun dari umat-umat (terdahulu) yang melakukan perbuataan ini, kecuali hanya satu umat (yaitu kaum Luth) dan sungguh kalian telah mengetahui apa yang Allah Subhaanahu wa ta’ala perbuat atas mereka[8], aku berpendapat agar ia dibakar dengan api.”

Lalu, Abu Bakar menulis kepada Khalid bin Walid untuk membakar lelaki itu. Sementara Ibnu Abbas mengatakan,

“Lihat tempat yang paling tinggi di kampung itu. Lalu pelaku homo dileparkan dalam kondisi terjungkir. Kemudian langsung disusul dengan dilempari batu”.

Sebuah nasihat

Allah telah memberikan batasan-batasan kepada makhluk-Nya agar mereka dapat hidup secara bahagia, sehat, aman, dan dengan seluruh kebaikan yang Ia siapkan. Ia tetapkan aturan berupa perintah dan larangan beserta balasan bagi orang-orang yang menjalankan maupun melanggarnya.

Demikianlah Allah telah melarang perbuatan homoseksual. Ia ta’ala juga telah menyebutkan konsekuensi dan hukuman bagi orang-orang yang melanggar ketetapan yang telah ia tetapkan. Hukuman di dunia yang demikian tegas dan azab pedih di akhirat kelak telah menanti orang-orang yang melanggar dosa besar ini.
Sudah sepatutnya kita merasa takut dan khawatir atas hal-hal yang dapat menggiring kita menuju lubang kebinasaan itu. Termasuk diantaranya adalah menyimpan perasaan atau hasrat yang dapat membuncah sewaktu-waktu. Maka, kami menasihatkan kepada seluruh saudara kami untuk tidak memelihara, dan membuang perasaan atau preferensi ‘berbeda’ itu. Bahkan, cobalah untuk mulai mencintai lawan jenis anda sesuai fitrah manusia namun tetap dalam koridor syariat Allah. Cobalah untuk mengikuti ketetapan standar yang telah Ia tetapkan. Cobalah untuk mengikuti dan masuk ke dalam batas normal yang Ia tetapkan bagi hamba-Nya.

Tetaplah tersenyum, duhai saudaraku 🙂

Kolom ini saya khususkan untuk Anda, saudara seimanku yang sedang berjuang dan berusaha mengikuti fitrahnya agar memerbanyak ketaatan pada Allah seperti menikah dan memiliki keturunan yang salih atau salihah.

Sebagian di antara saudara mungkin pernah bertanya “Mengapa Allah menciptakanku dalam kondisi seperti ini?

 Saudaraku, ingatlah firman Allah dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”

Sejatinya, segala kondisi yang Allah ciptakan bagi hambanya adalah untuk menguji keimanan dan kesabaran seorang hamba. Pertanyaan di atas senada dengan pertanyaan “Mengapa Allah menciptakan keburukan, kemiskinan, kejahatan?”. Semua adalah untuk menjadi ujian bagi hambanya.

Ketahuilah, bahwa setiap orang pasti Allah uji. Setiap orang, duhai saudaraku. Tak satupun ada yang tidak diuji.

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”[9]

Hanya saja, bentuk ujian setiap orang berbeda. Ada orang yang diuji melalui penyakit/kecacatan fisik, penyakit hati, kemiskinan, akal yang pendek, keluarga yang tidak harmonis, emosi yang tak stabil, karir yang kandas, dan lainnya. Setiap orang diuji, namun dalam bentuk yang berbeda-beda. Dan ketika Allah mengujimu dengan ujian ini, tidak dengan ujian-ujian lain, artinya Allah tahu dirimu mampu bersabar dan melampauinya. Ingatlah pernyataan Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 286

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya”

Dirimu tidak sendiri. Percayalah, banyak orang yang merasakan ujian seperti dirimu. Dan banyak pula yang berjuang dan mencoba mengobati penyakit ini. Ada sebagian yang menyerah dan berkata “Be proud of yourself! Be yourself”. Maka saya katakan “Be proud of your DECISION! Be what you decide to be!”. Allah memang menciptakan kita dalam kondisi yang terbaik untuk kita. Namun, bukan berarti sempurna. Banyak hal yang harus kita perbaiki. Dan memutuskan serta berjuang untuk memerbaiki diri adalah pilihan Anda! Anda ingin menikah dan menyempurnakan setengah dari agama, memiliki anak cucu dan menikmati harmonisnya berkeluarga, menghabiskan usia tua sambil mendengarkan curhatan dan gelak tawa mereka, itu semua pilihan Anda!

Bersemangatlah! Ingatlah janji Allah melalui rasul-Nya, bahwa semua penyakit ada obatnya. Sebagaimana sabdanya shalallahu ‘alaihi wa sallam,

Untuk setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat tersebut sesuai dengan penyakitnya, penyakit tersebut akan sembuh dengan seizin Allah[10].

Hanya perkara waktu, obat tersebut ditemukan ataukah belum. Bersujud cairan, makanan, terapi, atau yang lainnya. Hanya perkara waktu, anda dapat merasakan nikmatnya sehat.

Untukmu, ‘Aktivis fitrah’

Terakhir, ingin saya sampaikan kepada beberapa teman, penulis, atau penggiat yang penuh semangat ‘menyeru pada fitrah’. Saya menyebut mereka ‘Aktivis fitrah’

Untukmu, teman-temanku aktivis fitrah.

Ingatlah bahwa Allah memerintahkan kita untuk bersikap adil kepada siapapun. Janganlah kebencian kita terhadap sebuah dosa membuat kita bersikap tidak adil dan menzalimi pelaku dosa. Jangan pula sebuah dosa membuat kita mengambil hak seseorang diluar ketetapan Allah. Karena sungguh, kezaliman itu akan menjadi kegelapan di hari kiamat kelak. Sebagaimana peringatan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam

Hati-hatilah kalian dari kezaliman karena sesungguhnya kezaliman itu adalah kegelapan di hari kiamat.” [11]

Saudaraku, tanggung jawab kita adalah menyeru secara bijak dan indah. Adapun menghisab dan menghakimi, itu adalah hak Allah. Nasihati ia secara lembut. Janganlah mencela, melaknat, menghardik, tanpa terlebih dahulu mencari tahu dan memahami secara utuh sebuah permasalahan beserta tinjauan syariatnya. Ingatlah nasihat Rasul shalallahu ‘alaihi wa salam yang disampaikan oleh ummul mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha

“Sesungguhnya kelembutan itu, tidaklah terdapat pada sesuatu kecuali ia akan membaguskannya, dan tidaklah ia dihilangkan dari sesuatu kecuali ia akan menjelekkannya.”[12]

Untukmu, teman-temanku ‘aktivis fitrah’.

Berupayalah untuk konsisten dan konsekuen terhadap perkataan dan perbuatanmu. Jika dirimu membenci sebuah dosa, pelakunya, dan orang-orang yang mendukungnya, maka konsistenlah dengan sikapmu dan ketetapan Allah tanpa membeda-bedakan suatu dosa. Jangan Anda tak terima dengan seorang artis yang mendukung homoseksual, tapi membiarkan atau membedakan sikap ketika ada orang lain yang mendukung perbuatan dosa yang lain. Apalagi, jika ada orang lain yang mengatakan dan merayakan perbuatan kufur seperti kelahiran anak Tuhan. Sungguh, kesyirikan lebih patut untuk kita takuti dan benci. Tak sepatutnya kita ikut memeriahkannya sebuah perbuatan yang tidak diampuni Allah.

Kita memang bukan malaikat yang tak memiliki nafsu berbuat dosa. Bukan pula bersikap ‘sok malaikat’ dengan mendukung dan mengapresiasi setiap perbedaan. Tapi bukan berarti harus ikut-ikutan setan dengan mendukung sebuah kemungkaran.

Nasihati ia dengan bijak dan halus. Sekali lagi, karena tugas kita adalah untuk mengingatkan dan menyampaikan, bukan menghakimi.

Semoga Allah memberikan kita kekuatan dan keteguhan untuk senantiasa melakukan perbaikan dan konsisten di atasnya, menjaga kita dari makar setan dan tipu daya iblis, menjaga kita dari pedih dan abadinya siksa neraka, serta memertemukan kita di kebahagiaan yang abadi, surga. Aamiin

Apabila ada kebaikan itu dari Allah, adapun kesalahan murni dari saya dan setan.

Wallahu A’lam bis showab

Oleh: Masandi Rachman Rosyid,

Kepala Departemen Syiar dan Kajian Islam Strategis (SKIS) FSI FEB UI 2015

Referensi:

www.urbandictionary.com diakses Senin, 29 Juni 2015, pukul 21.00 WIB

http://almanhaj.or.id/content/2107/slash/0/gay-lesbian-homoseksual/ diakses Senin, 29 Juni 2015 pukul 21.05 WIB

http://www.konsultasisyariah.com/orientasi-seksual-homo-harus-dihargai-menjawab-suara-jil/ diakses 2 Juli 2015 pukul 06.30 WIB

http://kisahmuslim.com/kisah-nabi-adam-alaihis-salam/ diakses Rabu, 2 Juli 2015 pukul 10.00 WIB

http://rumaysho.com/keluarga/bersetubuh-yang-halal-1788.html diakses Jumat, 3 Juli 2015 pukul 21.06 WIB


Catatan kaki:

[1] http://www.urbandictionary.com

[2] Hadis riwayat. An Nasai no. 3939 ,dinilai hasan shahih oleh Al-Albani

[3] http://www.urbandictionary.com

[4] Hadis riwayat Ahmad, dalam Shahihul Jami’, no. 2365

[5] Hadis riwayat Ahmad, no. 24317

[6] Ibnu Katsir dalam tafsirnya dan al-Bidayah wa Nihayah Juz II

[7] Hadis riwayat Nasa’i no. 7337, dalam As-Sunan Al-Kubra IV/322

[8] Alquran surat Hud ayat 82-83 ”Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke awah (Kami balikkan) dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu. Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim”

[9] Alquran Al Ankabut ayat 2

[10] Hadis riwayat Muslim

[11] Hadis riwayat Muslim

[12] Hadis riwayat Muslim, no. 2578

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s