Visitasi ke IKOPIN Jatinangor!

Saat itu, matahari masih terlihat dekat dari ufuk timur. Tak biasanya saya berangkat kuliah sepagi itu. Jam digital telpon genggam saya menunjukkan 05.55 WIB. Hari itu adalah hari yang spesial bagi kami, mahasiswa FEB UI mata kuliah koperasi kelas Pak Abdillah. Hari itu, kami akan melakukan kunjungan ke sebuah institut yang mendedikasikan kurikulum pendidikannya pada koperasi, Institut Koperasi Indonesia (IKOPIN).

Kami –sekelas sepakat berkumpul di kampus Widjajanitisastro FEB UI pada pukul 06.00 WIB dan berangkat bersama. Perjalanan yang ditaksir menempuh tiga hingga empat jam mendorong kami untuk berangkat sepagi mungkin, menghindari kemacetan dan mengejar kelas yang dijadwalkan mulai pukul 10.00 WIB. Namun, pada realisasinya, kami baru berangkat pukul 06.30 WIB. Kami berangkat menggunakan kendaraan mobil. Ada setidaknya 5 mobil yang digunakan untuk membawa 33 mahasiswa jaket kuning itu. Pembagiannya seperti apa? Sporadis. Siapapun langsung masuk ke dalam mobil selama mobil masih terlihat cukup untuk dipadati.

Perjalanan kami berjalan lancar sesuai rencana. Kami lolos dari kemacetan dan tak ada hambatan berarti. Namun, ada satu prediksi yang kami meleset jauh: waktu tempuh. Estimasi 3 jam itu salah. Kami baru berhasil menginjakkan kaki di IKOPIN pukul 11.00 WIB, empat jam tiga puluh menit habis di perjalanan. Bukan perjalanan yang mudah tentunya, terutama bagi para driver yang belum sarapan karena buru-buru ke kampus FEB sebelum pukul 06.00 WIB, dan saya salah satunya. Empat jam mengebut dengan perut keroncongan menjadi harga bagi pembelajaran lintas kampus ini.

Semua rasa lelah itu menumpuk di pundak, pungung, dan –tentunya lambung yang keroncongan. Namun, ada efek magis yang muncul saat kali pertama kami mendarat di kampus IKOPIN. Hawa sejuk dan luasnya pemandangan kampus IKOPIN seketika menyulap rasa lelah sepanjang perjalanan menjadi semangat pembelajaran. Secara tiba-tiba, semua pegal di pundak dan lapar menghilang. Hanya ada satu hal yang terpikir begitu sampai di bagian depan –semacam tulisan selamat datang: “Ini luar biasa!”.

Tanpa berlama-lama kami langsung diarahkan menuju ruang auditorium. Ruangan itu tidak terlalu besar. Mungkin berukuran 10×5 meter. Mirip salah satu ruangan kelas di gedung A lantai 1. Pada saat kami masuk, sudah hadir di tempat pembicara –berlatar letter U tiga orang yang wajahnya baru kami kenali. Dua orang perempuan dan satu laki-laki. Tanpa mengulur waktu, kelas langsung dibuka oleh salah seorang ibu tersebut.

Kegiatan diawali dari sambutan oleh Bu Lilies, BKW Koperasi. Bu Lilies memperkenalkan dua orang yang bersamanya dari tadi. Perempuan yang berdiri di sebelahnya adalah ibu Suwarni, seorang pengajar juga dengan spesialisasi hukum koperasi. Satu laki-laki di sisi yang lain adalah Bapak Agianto Probo, direktur utama program studi manajemen IKOPIN. Setelah perkenalan, bapak kami, Pak Abdillah Ahsan, memberikan sambutan. Ada satu kutipan yang membekas bagi saya “Ember mencari sumur, bukan sumur mencari ember”. Ya, saya menyadari bahwa selayaknya ilmu itu dicari. Bukan ilmu yang menghampiri.

Materi dimulai dan disampaikan oleh Bu Lilies seorang diri. Pak Agianto tidak ikut memberikan materi. Karena, saat itu waktu menunjukkan 10 menit menjelang azan jumatan. Beliau harus menuaikan salat Jumat. Namun, sebagai musafir, kami mengambil keringanan untuk menjalankan salat zuhur sebagai ganti salat jumat.

Bu Lilies memulai materi dengan memutarkan video yang dibuat International Cooperative Association (ICA) mengenai profil/informasi umum mengenai koperasi di dunia. Kemudian menjelaskan banyak tentang profil KPSBU, Koperasi susu, di Lembang. Koperasi ini termasuk 100 besar koperasi di Indonesia. Secara garis besar, beliau banyak mengenalkan status dan perkembangan koperasi ini. Mulai dari operasional produksi susu, pengelolaan keuangan dan permodalannya, hingga komentar beliau mengenai industri susu pada umumnya.

Setelah mengenalkan KPSBU kepada kami, beliau juga mengenalkan salah satu koperasi wanita terbesar di Indonesia, Setia Bakti Wanita Budi di Surabaya. Masih menggunakan powerpoint, beliau menceritakan bagaimana perkembangan koperasi yang dijalankan oleh para ibu-ibu ini.

Di tengah pemaparan materi, Bu Lilies memersilahkan mahasiswa bertanya. Saya pun menggunakan kesempatan ini untuk memuaskan rasa penasaran saya. “Sebetulnya saya penasaran Bu. Kira-kira, ada tidak ya koperasi sukses yang dipunggawai oleh para bapak-bapak? Saya sering mendengar koperasi ibu-ibu. Tapi jarang sekali mendengar koperasi bapak-bapak. Ini kira-kira ada fenomena apa bu ya? Apa ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam pengelolaan koperasi?” tanya saya. Bu Lilies tertawa singkat, kemudian menjawab “Ya entah ya. Saya juga tidak tau pastinya. Apa mungkin karena ibu-ibu pada dasarnya lebih bersifat kooperatif, saya juga tidak tahu”. Suasana diskusi menjadi semakin ramah.

Secara keseluruhan, beliau mencoba menerangkan betapa sebetulnya koperasi menjadi pilihan kegiatan ekonomi yang menguntungkan sekaligus bermanfaat. Kerap beliau menekankan “Koperasi tak hanya menguntungkan ya, ini juga bermanfaat kan?”. Beliau banyak menjelaskan dan membuktikan bahwa dengan koperasi, banyak pengangguran yang terserap. Kendati demikian, profit atau keuntungan juga bukan berarti ditinggalkan. Omset bisa mencapai miliar per tahunnya, seperti koperasi susu di Lembang tadi.

Poin kedua yang saya tangkap dari pemaparan beliau adalah betapa sumber daya manusia menjadi perhatian penting bagi perkembangan koperasi. Sempat beliau sampaikan bahwa bagian yang perlu dibenahi dari koperasi bukanlah sistemnya, namun sumber dayanya. Beliau juga menceritakan pengalamannya saat mengelola koperasi. “Uang itu bisa dibolak-balik. Tapi orang? Menghadapi anggota yang maunya modal doang di koperasi, itu yang susah” tuturnya. Beliau menutup cerita tersebut dengan mengatakan “Makanya ada pendidikan koperasi. Biar jelas anggota perannya apa saja”.

Insight ketiga yang saya dapatkan adalah bagaimana seorang wanita memilih mendedikasikan karir hidupnya –pendidikan dan pekerjaannya, untuk mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan, koperasi. Saat itu, saya melihat sosok nyata dari seorang ibu pejuang koperasi. Perempuan yang menempuh studi akademis koperasi S1 dan S2 nya di koperasi, lalu melanjutkan kegiatan akademisnya sebagai dosen –meski sambil menjadi praktisi di bidang koperasi. Saya salut dengan beliau. Saat itu, terlintas di benak saya “Pasti memang ada sesuatu di koperasi ini. Tidak mungkin seseorang begitu passionate terhadap suatu hal jika hal tersebut tidak istimewa”.

Pembelajaran tak lebih dari 120 menit itu memberikan beberapa insight bagi saya tentang koperasi. Kami mengakhiri kunjungan kami dengan melakukan foto bersama di bagian depan kampus IKOPIN. Akhirnya, jaket kuning kami pernah merasakan sejuknya hawa dingin Kota Jatinangor, di kampus ekonomi kerakyatan, Institut Koperasi Indonesia

10969

Suasana sebelum kelas dimulai, santai

10964

Mahasiswa (mencoba) mulai fokus ke pemateri, Bu LIlies

Foto sekelas bersama Bu Lilies :)

Foto sekelas bersama Bu Lilies 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Visitasi ke IKOPIN Jatinangor!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s