Tatapan Pertama

“Gaji pertama itu disedekahkan aja. Biar berkah. In syaa Allah rejeki nambah”

“Gaji pertama ayah, dulu disimpan. Buat maskawin nikah ayah sama ibu. Haha”

“Gaji pertama itu buat bayar utang. Kalo lo mati masi ada utang, tetep aja utang lo belom lunas”

Banyak nasihat dan opini orang-orang tentang penggunaan pertama dari suatu hal yang berkesan bagi mereka. Salah satu contoh yang sering digunakan –dan kugunakan di atas, adalah gaji pertama. Ada berbagai macam cara seseorang menggunakan atau memerlakukan gaji pertama. Ada yang memerlakukan secara spesial, ada pula yang biasa. Yang memerlakukan spesial pun memiliki alasan berbeda-beda. Ada yang menggunakan perhitungan matematis dalam menggunakannya, ada pula yang memutuskan sebatas ‘prasangka’ atau kepuasan batin yang ingin dicapai.

Aku pun merasakan hal yang sama. Hari ini, aku baru menerima kacamata baruku. Sebetulnya sudah beberapa minggu yang lalu kacamata ini kubeli. Namun, baru hari ini benda berlensa dua itu sampai ke tanganku. Ada kejadian unik yang kualami –atau kupikirkan saat aku mengambil kacamata baruku itu. Kacamata itu kuambil di sebuah gerai di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Kota Depok.

Sesaat setelah kuserahkan nota pembayaranku, pegawai berbaju hitam di gerai tersebut sigap mengambilkan sebuah goodie bag plastik dari bawah meja. Dibongkarlah satu per satu isi tas plastik berukuran sedang itu. Pada pungutan terakhir, keluar sebuah kotak berwarna abu-abu yang kuduga berisi kacamataku. Kotak itu kemudian dibuka dan muncullah kacamata yang sudah hampir sebulan kutunggu. Pegawai tersebut langsung bertanya “Mau dipakai sekarang Mas?”.

Aku diam sejenak. Entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang membuatku tak ingin langsung menggunakannya. Aku berpikir sejenak, “Mau dipakai langsung gak ya? Atau disimpan dulu?”. Saat itulah, aku merasa seakan sedang mendapat gaji pertamaku. Suasana ‘mau diapakan nih, penggunaan pertama’.

Tentu saja, ini dua hal yang berbeda. Namun, aku ingin menciptakan sebuah kesan untuk hal ini. Aku ingin membuat memori untuk hal ini. Mungkin, memang sudah melekat dalam diriku kebiasaan menciptakan atau memberi efek lebih untuk hal-hal yang kusukai –sebagian temanku dari fakultas psikologi pernah menyebutnya ‘significance’.

Saat itu, aku berpikir untuk menggunakan kacamata ini pada kali pertama dalam rangka membaca. Aku ingin menggunakannya untuk hal yang bermanfaat, lebih spesifiknya berpahala. Karena aku teringat, bahwa setiap hal kelak akan dihitung. Dan aku ingin kelak menjawab bahwa aku menggunakan kacamata ini untuk berbuat kebaikan.

Kembali, aku terdiam. Aku mulai memikirkan. Apa sejatinya yang kuharapkan dari penggunaan kacamata ini? Apa sejatinya yang ingin kudapat dari tatapan pertama melalui lensa ini? Bukankah, pertama, kedua, ketiga, maupun kesekian kalinya juga semuanya akan dihitung? Bukankah, pertama maupun terakhir, semua juga akan ditanya?

Mungkin, ada kebahagiaan atau ketenangan yang dirasakan pada saat kita melakukan hal yang kita rasa tepat, benar, atau sebatas menyenangkan di awal, saat pertama. Namun, selayaknya kita ingat, bahwa akan ada akhir dari semuanya. Dan bukan hanya bagaimana kita menggunakannya di awal, tapi juga bagaimana menggunakannya di akhir. Atau bukan bagaimana harapan di ujung kelak, tapi juga bagaimana kita memulainya sejak saat ini. Bukan hanya gaji yang kita maknai penggunaannya, tapi juga yang lain. Karena setiap yang kita miliki, bisa menjadi sebab kebahagiaan yang abadi. Atau, menjadi penyesalan yang tiada arti.

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” Alzalzalah ayat 7 dan 8

kotak abu-abu

kotak abu-abu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s