Cinta, Kanvas, Pelangi

Jika dunia itu ibarat kanvas, aku katakan cinta adalah salah satu warnanya

Jika duniamu hanya diwarnai oleh cinta, sungguh kelak matamu akan lelah melihat kejemuan

Kau punya banyak warna untuk mengkreasikannya. Kau bahkan punya banyak kuas untuk mewarnainya. Kaupun bahkan bisa memilih bagaimana cara mewarnainya berdasar teknik memolesnya.

Kurasa, tak ada seniman yang mewarnai kanvasnya hanya dengan satu jingga, atau satu merah, atau satu kelabu. Hanya seniman berdarah dewa yang mengerti keindahan satu warna. Hanya mereka yang memilih satu warna. Tapi diriku manusia, yang dengan batasan logika dan cintanya berusaha mengerti -dan menikmati warna dalam dunia.

Kadang biru terasa membebaskan. Kadang merah terasa berani. Kadang putih terasa suci. Kadang kelabu terasa ragu. Entah warna itu yang dengan senang hati bercerita, atau hati kita yang dengan egois menginterpretasi?

Satu warna di satu senja, begitu menggoda: merah

Satu warna di satu fajar, begitu bercahaya; putih

Ada kala, satu warna terasa begitu sempurna. Ada kala, kita menyadari bahwa dunia tengah menanti. Menanti sang pelukis melengkapi baris-baris yang kosong. Ruang-ruang itu menanti, warna lain melengkapi pelangi.

Kanvasmu masih bersih, ayo kita warnai lagi. Kanvasmu seakan menanti, menanti semburat pelangi


gambar dari sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s