Begal: Dosa Besar yang lagi Nge-trend

meme Depok Kota Begal

Baru kemarin malam, jarkoman tentang penangkapan dua orang begal Depok mampir ke handphone saya; dan barusan, saya menemukan sebuah berita baru dari sebuah website tentang pembegalan yang terjadi di daerah Limo, Depok, Sabtu (31/1/2015) dini hari kemarin. Kawan, itu hari sabtu kemarin loh. KEMARIN BANGET –kalau kata anak ‘gaul’.

Fenomena pembegalan ini seakan menjadi tren bagi masyarakat Depok. Ada yang berperan sebagai penjahat, ada pula yang –terpaksa berperan sebagai korban. Bagaimana tidak, hanya dalam satu bulan terjadi tiga kali pembegalan di kota berjuluk Kota Belimbing ini. Bahkan, Depok mulai ‘dikenal’ dengan ciri khas baru: Kota Begal. Tapi, bukan itu yang ingin saya bahas disini

Sekali lagi, fenomena pembegalan seakan menjadi sebuah tren. Seakan ‘kegiatan’ ini merupakan perbuatan ringan yang bisa terjadi kapan saja dimana saja tanpa ada konsekuensi –yang berat. Tahukah anda, bahwa dalam Islam, pembegalan (dalam pembahasan ini pembunuhan dengan sengaja) merupakan sebuah dosa besar yang konsekuensinya amat banyak, panjang, dan berdampak besar?

Dosa besar

Memang para ulama berbeda pendapat tentang jumlah dosa besar. Ada yang berpendapat tujuh, tujuh puluh dan tujuh ratus. Ada pula yang mengatakan bahwa dosa besar adalah semua perbuatan yang dilarang dalam syariat semua para nabi dan rasul.

Pendapat yang paling kuat tentang pengertian dosa besar adalah segala perbuatan yang pelakunya diancam dengan api neraka, laknat atau murka Allah di akherat atau mendapatkan hukuman had di dunia, sebagaimana penjelasan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhumaa dalam tafsir Ibnu Jarir

Konsekuensi membegal (membunuh dengan sengaja)

Ketika seseorang membegal/membunuh orang lain dengan sengaja, ada tiga hak yang terlibat disana: hak Allah, hak korban, dan hak wali (keluarga) korban. Sebagaimana penjelasan Imam Ibnu al-Qayyim (Dinukil dari Hasyiyah ar-Raudhul Murbi’, Abdurrahman Qosim, 7/165)

Pertama, hak Allah

“Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya ialah Jahanam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (Surat Annisa ayat 93)

Dalam ayat ini, Allah mengancam keras pelaku pembunuhan sengaja. Allah mengancam hingga 4 ancaman disebutkan sekaligus: Jahannam, menjadikannya kekal didalamnya, kemurkaan-Nya, dan laknat-Nya. Kita berlindung dari azab-Nya.

Jika ada yang memerkarakan “lantas, jika yang dibunuh bukan seorang mu’min bagaimana?”, orang tersebut tetap mendapat ancaman sebagaimana sabda Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam

“Barangsiapa yang membunuh orang kafir yang memiliki perjanjian perlindungan (mu’ahad), maka dia tidak akan mencium wangi surga. Sungguh, wangi surga itu tercium sejauh jarak empat puluh tahun.” (HR. Bukhari 3166)

Hubungan/haknya dengan Allah ini bisa gugur hanya jika sang pelaku secara serius bertaubat kepada Allah, sebagaimana firman-Nya

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (Surat Annisa ayat 48).

Kedua, hak korban

Sengketa ini tentu tidak bisa diselesaikan di dunia. Korban pun belum bisa memaafkan –karena dia sudah meninggal. Sengketa ini akan diselesaikan di hari kiamat. Korban dapat menuntutnya di hari kiamat kelak. Sebagaimana Dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sengketa antar-manusia yang pertama kali diputuskan pada hari kiamat adalah masalah darah.” (HR. Bukhari 6533 dan Muslim 1678)

Dalam hadis lain, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Orang yang membunuh dan korban yang dibunuh akan didatangkan pada hari kiamat dengan menenteng kepala temannya (pembunuh) – dalam riwayat lain: Dia (korban) membawa orang yang membunuh, sementara urat lehernya bercucuran darah – dia mengatakan: ‘Ya Allah, tanya orang ini, mengapa dia membunuh saya’.” (HR. Ibnu Majah 2621 dan dishahihkan al-Albani).

Ketiga, hak wali korban (keluarga yang menjadi ahli waris)

Wali korban memiliki tiga pilihan: qisas (nyawa balas nyawa), diyat (denda), atau memaafkan tanpa bayaran

Wali korban boleh meminta qisas, nyawa balas nyawa, atas dasar firman Allah dalam surat Albaqarah ayat 178:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu untuk melaksanakan qisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh….”

Jika ada salah satu diantara ahli waris yang memaafkan si pembunuh agar tidak diqisas, maka hukuman qisas ini menjadi gugur –mengingat qisas tidak bisa dibagi-bagi. Selanjutnya, si pembunuh wajib menunaikan pilihan kedua, yaitu diyat. (Fikih Sunah, 2/523).

Diyat dalam kasus pembunuhan ada 2:

  1. Diyat Mukhaffafah (diyat ringan). Diyat ini berlaku untuk pembunuhan tidak sengaja atau semi sengaja.
  2. Diyat Mughaladzah (diyat berat). Diyat ini berlaku untuk pembunuhan sengaja, ketika wali korban membebaskan pelaku dari qishas.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang menjadi wali korban pembunuhan, maka ia diberi dua pilihan: memilih diyat atau qisas.” (HR Bukhari 2434 & Muslim 1355).

Besar diyat mughaladzah menurut madzhab Syafiiyah dan salah satu riwayat dalam madzhab Hambali senilai 100 ekor onta, dengan rincian: 30 onta hiqqah (onta betina dengan usia masuk tahun keempat), 30 onta jadza’ah (onta betina dengan usia masuk tahun kelima), dan 40 onta induk yang sudah pernah beranak satu yang sedang hamil. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 21/51).

Pada dasarnya, diyat dibayarkan dalam bentuk onta. Namun jika tidak memungkinkan untuk membayar dengan onta, diyat bisa dibayarkan dengan uang senilai harga onta dengan kriteria di atas.

Pilihan ketiga, wali korban memaafkan tanpa bayaran.

Dan bentuk pemaafan ini Allah sebut sebagai sedekah bagi keluarga yang memaafkan. Alla berfirman,

“Barangsiapa yang melepaskan (hak qisas)-nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya.” (Surat Almaidah ayat 45).

Beda antara qisas dengan diyat ketika digugurkan.

Ketika salah satu ahli waris menggugurkan qisas, maka hukuman qisas menjadi gugur, sekalipun ahli waris yang lain tidak memaafkannya. Karena qisas tidak bisa dibagi.

Berbeda dengan diyat, ketika salah satu ahli waris menggugurkan diyat, kewajiban bayar diyat tidak menjadi gugur seluruhnya, selama masih ada ahli waris lain yang menuntut diyat. Hanya saja, sebagian kewajiban diyat menjadi gugur.

Taubat seorang pembegal, awal perjalanan sang ulama

Kendati demikian, bukan berarti seorang pembegal telah pupus harapannya untuk bisa memeroleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Tak ada yang pernah tau bagaimana Allah membolak-balikkan hati dan menyisipkan hidayah dari sela-sela cerita kehidupan makhluknya. Itu pula lah yang terjadi kepada Fudhail bin Iyadh rahimahullah, seorang ulama besar generasi tabi’in (murid para sahabat Rasul), murid dari sahabat Yahya bin Said Al-Anshori Radhiyallahu ‘anhu.

Imam Adz-Dzahabi memuji beliau: “Al-Fudhail adalah seorang yang zuhud dan termasuk ulama besar di Masjidil Haram Makkah. Dia adalah salah seorang yang tsabit (kokoh) yang disepakati ketsiqahannya (sangat terpercaya) dan keagungannya”

Secara ringkas, Fudhail bin Iyadh dahulu dikenal sebagai seorang perampok dan begal yang ditakuti. Ia tak butuh rekan atau kawanan untuk melakukan aksinya.

Di suatu malam, Fudhail keluar dan berniat hendak merampok. Di perjalanannya itu, ia bertemu dengan sekelompok kafilah pedagang. Sebagian pedagang berkata kepada sebagian yang lain: ““Jangan masuk ke desa itu, karena di depan kita terdapat seorang perampok yang bernama Fudhail.”

Fudhail yang mendengar percakapan itu pun gemetar. Ia tak menyangka bahwa sedemikianlah manusia merasa takut dan terzalimi akibat perbuatannya. Fudhail pun berkata, “Wahai sekalian manusia, aku al-Fudhail. Silahkan kalian lanjutkan perjalanan. Demi Allah, aku akan berusaha untuk tidak bermaksiat kepada Allah selamanya”. Inilah titik perubahan dari hidupnya. Kehidupannya sebagai seorang pembegal berhenti disini

Diriwayatkan dari jalur lainnya, dikatakan bahwa Fudhail menjamu mereka dan mengajak mereka bertamu ke rumahnya. Malam itu, ia berkata “Kalian aman dari al-Fudhail.” Lalu Fudhail pun keluar untuk mencari rumput untuk tunggangan mereka. Saat ia kembali, ia mendengarkan seseorang sedang membaca,

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَانَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلاَيَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ اْلأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (Q.S. Al-Hadiid: 16)

Ia menjawab, ”Benar, demi Allah, sudah tiba waktunya.” Ia pun mulai menangis dan beristighfar. Inilah saat Fudhail bertaubat atas segala dosa yang telah ia ukir sekian lama.

Pembegalan merupakan sebuah dosa yang tak diragukan lagi berkonsekuensi besar di sisi Allah. Bahkan, ada tiga hak yang harus ia penuhi tatkala seorang bermaksiat dengan dosa besar ini. Kendati demikian, pintu taubat tidaklah tertutup bagi orang-orang yang mengharap ampunan Allah. Setiap saat bisa menjadi titik perubahan bahkan awal sebuah kemuliaan sebagaimana yang dialami Fudhail bin Iyadh rahimahullah

Semoga Allah melindungi kita dan keluarga kita dari keburukan kejahatan ini, serta senantiasa menjaga kita dari terjerumusnya kita ke dosa besar ini. Wallahu a’lam bis showab


Artikel rujukan:

http://megapolitan.kompas.com/read/2015/02/01/18153691/Meme.Depok.Kota.Begal.Beredar.Polisi.Minta.Jangan.Sebarkan.Keresahan

http://megapolitan.kompas.com/read/2015/02/01/07304761/Perempuan.Jadi.Korban.Komplotan.Begal.Motor.di.Depok

http://khotbahjumat.com/hukum-membunuh-dengan-sengaja/

http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/jangan-bunuh-saudaramu.html

Pengertian Dosa Besar

http://alsofwah.or.id/cetaktokoh.php?id=158

http://kisahmuslim.com/taubatnya-fudhail-bin-iyadh/

gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s