Pendidikan, Penting kah?

Ini kesekian kalinya aku memutuskan untuk menghabiskan sarapan minggu pagiku bersama orang asing. Bagiku, menjadi sebuah kebahagiaan bisa bertemu dan berbincang tentang hal baru bersama orang baru. Pagi ini, aku sarapan di sebuah kos-kosan yang garasi rumahnya disulap menjadi warung makan.

Sebenarnya, beliau bukan orang yang asing-asing amat. Sudah kesekian kali aku makan dan bertemu dengannya disana. Tapi, belum sekalipun kami bertukar nama untuk saling mengenal. Meminjam istilah anak psikologi, aku menyebut beliau sebagai familiar stranger. Orang yang kita kenali ciri-ciri mereka -bisa dari beberapa aktivitas tapi sejatinya kita tidak mengenal mereka. Beliau adalah Pak Kosim. Entah tulisannya Qosim atau Kosim, aku tak menanyakannya. Aku tahu namanya pun dari gerombolan anak yang memanggil beliau “Pak Qosim, mau bayar”. Ya, beliau adalah pemilik tempat makan tersebut.

Bisa dikatakan sebenarnya aku makan seorang diri. Beberapa pembeli yang sempat singgah akhirnya pulang dengan satu kata yang sama “Yaah” setelah tahu nasi uduk andalan Pak Qosim sudah habis terjual. Akhirnya, aku menikmati suap demi suap lontong sayur bersama keheningan.

Tapi, bukan menjadi kebiasaanku untuk duduk berdiam diri. Selalu ada rasa gatal untuk bisa mengenal dan berinteraksi dengan orang, terutama orang yang belum aku kenal. Alhasil, aku pun membuka pembicaraan. Tak ku ingat dengan pasti awal pembicaraan kami seperti apa. Dimulai dari basa-basi tentang warung makannya, daerah asal Pak Qosim, rencana liburan akhir tahun ini, hingga akhirnya merambah ke pendidikan.

“Dulu saya di Pekalongan cuma sampai kelas 3 SD mas. Terus sudah ikut orang ke Jakarta” katanya

“Ooh, iya pak. Saya juga pernah dengar kalau jaman dulu itu SD aja sudah termasuk hebat pak ya?” tanyaku

“Wah iya mas. Dulu orang nggak kepikiran buat sekolah. ‘Ngapain sekolah? mending bantu orang tua cangkul ke sawah’ gitu kata ayah saya. Lagian, dulu mengurus padi harus benar-benar mas mengurusnya. Kan panen cuma 2 kali setahun. Jadi kadang kalau padi bermasalah, kita bisa sehari makan sehari nggak” Kata Pak Qosim.

Saat itu, aku mulai memikirkan tentang pentingnya dan urgensi pendidikan. Tak salah juga jika orang tuanya mengarahkan Pak Qosim untuk membantunya mencangkul. Kalau padinya tak terurus, bisa-bisa mereka tak makan? Ini urusan bisa merambat ke hidup-mati nih

Aku mencoba menggali kenapa dorongan untuk melanjutkan pendidikan di zaman ini begitu besar jika dibandingkan tahun 1965 -Pak Qosim melewati masa SD nya pada masa-masa Gestapu. Hingga akhirnya, aku menemukan sedikitnya ada dua alasan:

Pertama, karena tidak ada dukungan maupun tuntutan dari orang tua. Orang tua merupakan sosok yang paling berwenang mengatur -juga mengarahkan tentunya kehidupan kita semasa kecil. Pada tahun 1965, tidak semua orang tua mengenyam pendidikan. Tak heran jika tidak semua orang tua menekankan pentingnya pendidikan. Sebagian tidak merasakan dampak/benefit dari pendidikan, karena mereka sendiri tidak merasakan pendidikan. Ditambah, mereka sudah memiliki tuntutan hidup yang memakan masa-masa tersebut. Mereka sudah merasakan secara nyata benefit dari hidup mencangkul. Maka, hilanglah sudah angan-angan untuk ‘mengeksperimenkan’ anaknya dan mencari tahu apa itu pendidikan.

Kedua, adanya perubahan tuntutan kehidupan. Kehidupan dari masa ke masa memiliki tantangan dan kebutuhan yang berbeda, termasuk pendidikan. Di tahun ini (abad 20), pendidikan merupakan tuntutan sosial. Pendidikan sudah menjadi salah satu indikator status sosial masyarakat. Zaman dahulu, orang merasa biasa ketika tidak menamatkan atau mengenyam bangku sekolah. Ada yang lebih ‘nyata buahnya’ daripada belajar di bangku sekolah. Tapi, hal itu tidak berlaku lagi di masa kini. Orang tua akan merasa malu jika tetangganya mengetahui anaknya tidak sekolah. Sang anak pun merasa bangga jika dia punya prestasi di sekolah. Bahkan, tak sedikit yang menjadikan sekolah sebagai indikator kekerenan atau gengsi pribadinya.

Gelar sarjana juga menjadi persyaratan minimum untuk bisa memeroleh pekerjaan. Terlepas dari perbedaan jumlah kesempatan kerja antara abad 19 dan abad 20, pendidikan sudah menjadi salah satu tolak ukur untuk melihat kapasitas seseorang. Orang yang punya keterampilan takkan punya kesempatan untuk menunjukkan kebolehannya pada interviewer jika mereka tidak lolos tahap initial selection (Organizational Behavior Fifteenth edition, 2013)

Pendidikan memang sudah menduduki tempat penting dalam kehidupan sosial di zaman sekarang. Semua orang sepakat tentang pentingnya dan keharusanan anak-anak untuk mengenyam pendidikan -terlepas dari ada yang memutuskan anaknya jadi untuk bersekolah atau tidak.

Akan tetapi, pernah kah kita menanyakan pada diri kita bahwa mungkinkah selama ini kita menyempitkan pandangan kita bahwa pendidikan semata-mata adalah sekolah? Adakah terbesit di pikiran kita bahwa mendidik anak tidak (hanya) melalui sekolah, atau bahkan tanpa sekolah?

Kalau memang pendidikan adalah sekolah -dan hanya sekolah, kira-kira sekolah seperti apa ya yang harus ditempuh oleh anak-anak kita nanti? Di tahun 2014 ini saja, sarjana strata 1 sudah diobral kemana-mana. Maka, gelar seperti apa yang harus anak-anak kita koleksi untuk bisa ‘survive‘ dan ‘diakui’ di tengah masyarakat?

Sebelum kutemukan jawaban itu, kusadari telpon genggamku berbunyi. Pesan singkat temanku mengingatkanku pada laporan akhir semester yang harus kucetak siang ini. Aku pun menutup obrolan pagi itu dengan berterima kasih dan berpamitan dengan Pak Qosim.

Advertisements

2 thoughts on “Pendidikan, Penting kah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s