Pratamax

Malam itu, aku membawa ibuku menyusuri Jalan Margonda Raya di kota Depok. Aku berselancar bersama ibuku ditemani Aira, Jazz biru kesayanganku. Saat itu, aku melihat Aira mengedipkan matanya berusaha mencuri perhatianku. Ia berbisik padaku bahwa ia merasa haus. Akupun meminta izin pada ibuku untuk mampir membelikan Aira minuman.

Setibanya kami di warung, seorang pelayan berbaju merah telah berdiri menyuguhkan sebuah senyuman. Singkat ia menyapa “Selamat malam bapak, mau pesan apa?”. “Pratamax seratus gram mas ya” jawabku singkat. Saat itu juga ibu menoleh ke arahku dan dengan lembut bertanya “Ooh, Pratamax ya nak. Memang kenapa Pratamax? Kenapa bukan Bensan aja?”. Pratamax merupakan cairan energi bagi kendaraan sebagaimana bensan. Hanya saja, menurut Asosiasi Ahli Gizi Kendaraan (A2GK), Pratamax memiliki kandungan gizi yang lebih sehat daripada Bensan. Tentunya, harga Pratamax sedikit lebih mahal dari Bensan. Maklum saja, pemerintah telah menyiapkan subsidi bagi masyarakat ‘tertentu’ agar dapat membeli Bensan bagi kendaraan-kendaraannya dalam bentuk diskon harga.

Tatapan teduh ibu tak bisa membohongiku. Aku tau di sudut mata ibu tersimpan tanya bercampur ragu

Sejenak aku terdiam, mencari paduan kata yang paling indah untuk disampaikan kepada ibu. Aku tahu ibuku memiliki jantung yang lemah. Tak mungkin bagiku untuk beradu argumen dengannya. Lagipula, mana pantas seorang anak yang ketika masih janin menumpang di rahimnya, ketika lahir melalui kemaluannya, ketika kecil menyusu padanya, tapi semasa ia dewasa ia meninggikan suara apalagi mendebatnya.

Di tengah diam itu, tiba-tiba ada suara melengking dari knalpot butut memecah konsentrasiku. Ku lihat melalui kaca belakang mobilku dan kudapati sebuah sepeda motor tua masuk ke barisan antrianku. Tidak ada satu orangpun di restoran kecuali ia menyadari kedatangan pria paruh baya itu. Suara motornya memekakkan telinga, dan pakaiannya yang terlihat beberapa tambalan disana mencuri perhatian semua orang.

Setelah menatap beberapa detik ke sepeda butut itu, aku tertunduk dan tersenyum kecil. Aku menghela nafas lalu kuangkat wajahku. Kugenggam tangan ibuku dan tersenyum menatap wajah damainya. Sebuah senyum terindah untuk wanita terindah dalam hidupku.

“Ibu, Andi hanya takut. Andi takut kalau orang yang antri di belakang Andi ini sedang ditunggu keluarganya di rumah. Mereka menunggu kepulangan ayahnya yang membawa makan malam. Andi berpikir, bagaimana jika sang ayah sampai di rumah dan keluarganya mendapati bahwa dirinya tidak membawa sebutir pun nasi karena uangnya habis membeli Pratamax. Andi khawatir, anak dari bapak tersebut menangis kelaparan sebagaimana dulu Andi pernah menangis ketika ayah pulang tengah malam dari kantor tanpa membawa oleh-oleh. Andi berpikir, diskon beberapa ribu yang diletakkan pemerintah di Bensan bisa mereka gunakan untuk membeli makan. Kira-kira, kalau Andi beli Pratamax, besok kita masih bisa makan nasi kan ya bu?

Senyum anggun ibu menjawab pertanyaan retoris dariku. Pelayan berbaju merah tadi melambaikan tangan meminta perhatian. Pembayaran sudah kami lakukan. Bersama Aira, sekali lagi kami membelah Jalan Margonda Raya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s