Coklat Hangat

hot_cocoa_dairyfree

Segelas coklat hangat merupakan sahabat terbaik di pagi hari. Ketika embun pagi mulai muncul dan dingin pagi mulai menyapa kulit, dia datang menghangatkan dan mengisi perut yang mulai kembung diterpa angin.

Awalnya ia panas, sehingga hanya tangan yang bisa bergaul dengannya. Lidah kita harus bersabar dan menunggu giliran untuk bisa merasakan indahnya hubungan itu. Ketika panasnya mereda dan memasuki level ‘hangat’, kita baru bisa memiliki dan menikmati seutuhnya. Hangatnya bersahabat dengan kulit, nikmatnya dapat memanjakan lidah, dan dia seutuhnya menumbuhkan kebahagiaan di pagi hari.

Mata yang bahagia mulai menatapi bangunan-bangunan dan hutan-hutan di sekelilingnya. Tangan mulai asik menari di atas papan ketik. Dan telinga mencoba meneliti suara-suara angin yang mencoba menyapa. Tanpa terasa, sahabat lama kita kehilangan kawan-kawannya. Ia berdiam sendiri dan mulai kehilangan hangatnya. Ia mulai mendingin dan keelokan rasanya mulai terasa berbeda.

Saat itulah, sifat manja dari dalam diri mulai angkat bicara “Ah, sayang sekali dirimu tak hangat lagi. Dirimu begitu memikat tatkala hangat berhiaskan uap-uap putihmu. Sekiranya dirimu hangat untuk selamanya”

Coklat hangat ini tak jauh berbeda dengan semangat dalam diri kita. Kadang ia terlalu ‘panas’, sehingga hanya sebagian dari diri ini yang menikmati. Akal jernih kita tak bisa berkompromi dengan semangat yang terlampau panas itu. Keputusan dan perbuatanpun tak melibatkan pertimbangan yang matang. Kenikmatan seutuhnya belum kita rasakan.

Ketika semangat tersebut tinggi tapi dalam batas kendali, saat itulah kenikmatan tertinggi hadir. Aktivitas yang kita jalankan terasa menyenangkan, dan jalannya lancar karena penuh pertimbangan. Kita berharap agar kita bisa selalu seperti ini.

Namun ketika ia mulai ‘dingin’, kenikmatan itu berkurang. Perjalanan mulai dihiasi dengan keluhan-keluhan. Mulai diselingi pertanyaan-pertanyaan “Kenapa begini ya? Ah sudah malas, tak enak lagi”. Tapi kita menyadari, kita ingin ‘hangat’ kembali. Karenanya kita berusaha menghangatkannya lagi.

Untuk mencapai titik hangat, terkadang kita harus menunggu, bahkan menahan diri. Dan di waktu lain, kita harus berusaha untuk bisa mencapai kondisi tersebut. Semua hal butuh waktu dan tenaga. Butuh proses dan usaha.  Bukan karena kebetulan, tapi kitalah yang harus menyadari dan mengusahakannya. Baik semangat untuk belajar, berkarya, berbagi, termasuk semangat untuk mencintai 🙂


gambar: http://katymcarter.com/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s