Aku, Kamu, (bukan) Kita

“Kalau aku meminjam matamu, aku sudah tau apa yang kamu lihat. Jadi kita gak akan ada interaksi atau feedback. Gak seru”

Kata-katamu seakan mencoba meyakinkanku bahwa kita memang berbeda, dan seharusnya berbeda. Bukan lagi tentang kita. Ini tentang aku, atau tentang kamu.

Mungkin, kita telah dibutakan oleh repetisi acara televisi yang menghiperbola dua muda-mudi di masa remaja. Dua orang yang merasa bahwa Tuhan sengaja menciptakan jari-jari mereka dengan sela agar diisi oleh seseorang yang lain. Dua orang yang merasa dua cinta harus berpadu jadi Satu

Tapi kadang mereka lupa, bahwa perpisahan itulah yang menjadikan mereka bisa bertemu. Perpisahan yang membuat mereka sadar bahwa ada jarak di antara mereka. Ada jarak yang membuat perasaan mereka teraduk-aduk karena ingin mendekat dan bertemu

Ada Perbedaan yang membuat mereka sadar bahwa di sekitar mereka ada orang lain. Perbedaanlah yang membuat mereka jadi berpikir dan mengerti tentang diri sendiri, tentang orang lain, dan tentang keberadaan mereka.

“Kamu ya kamu, aku ya aku, but understanding each other seems more comfortable”

Ya, kata-katamu menegaskanku bahwa bisa jadi memang tidak ada kata kita di dunia ini. Tidak pernah ada

Namun, jika memang Tuhan tak pernah menciptakan atau bahkan mengizinkan ada kita dalam kehidupan ini, apa salah jika aku berharap agar kamu ada dan tinggal di kehidupan (a)ku ?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s