Polisi Brengsek: Salah Siapa?

Hari ini saya menghadiri kuliah umum “Strategi Bareskrim dalam Mengatasi Masalah Kejahatan Bermotif Ekonomi di Indonesia”. Kuliah umum ini disampaikan oleh Kabareskrim Polri, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius.

Pak Suhardi membawakan materi ini dalam nuansa yang amat bersahabat, sarat dengan humor, namun tetap informatif. Menurut saya, penjelasan Pak Suhardi lebih banyak memuat fakta-fakta tentang kepolisian. Ketika saya mendengarkan, seakan saya berada dalam talkshow berjudul “Fakta-fakta Tak Terungkap tentang Kepolisian”.

Pak Suhardi mengawali materi dengan memberikan –atau lebih tepatnya meluruskan citra polisi di mata masyarakat. Beliau menjelaskan tentang besar dan kuatnya peran opini di masa kini. Pak Suhardi memberikan analogi sebagai berikut:

Ada sebuah keluarga berisi sepasang suami istri. Sang bapak anggap saja bernama Pak Vava sedangkan istrinya bernama Bu Lala. Keluarga ini tinggal di salah satu perkampungan di ibu kota.

Pada suatu siang, uang tabungan keluarga Pak Vava hanya tersisa seratus ribu rupiah. Bu Lala menyerahkan uang tersebut kepada Pak Vava untuk dbelikan makanan. Pak Vava pun mengeluarkan kendaraannya dan berangkat membeli makanan. Sayangnya, dalam perjalanannya Pak Vava melanggar rambu-rambu lalu lintas sehingga ditilanglah ia. Pak Vava yang sudah merasa lapar tidak mau ambil repot dan akhirnya memilih jalan ‘damai’ dengan pak polisi. Ternyata, negosiasi berjalan alot. Penawaran Rp 50.000 sebagai ‘biaya perdamaian’ ternyata ditolak oleh si bapak polisi. Pak Vava sudah mencoba mengatakan bahwa ini satu-satunya lembar uang yang ia miliki, tetapi pak polisi tetap tidak mau. Alhasil ‘anggaran perdamaian’ Pak Vava membengkak, ia harus merelakan Rp 100.000 untuk bisa melepaskan diri dari urusan tilangan ini.

Berhubung satu-satunya lembar uang yang dimiliki Pak Vava sudah melayang, Pak Vava memilih untuk langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Pak Vava meminta Bu Lala untuk menyiapkan makan siang meskipun seadanya.

Bu Lala pun bertanya “Uangnya kemana? Bukannya itu untuk beli makan?”.

“Uangnya ditilang polisi” jawab Pak Vava.

“Semuanya? Itu kan satu-satunya?” tanya Bu Lala. “Iya” kata Pak Vava singkat.

“Gila tuh, uang cuma tinggal seratus ribu masih aja diembat” ungkapnya. Rasa kesal dan kecewa membekas pada hati Bu Lala. Dan sebagaimana ibu-ibu pada umumnya, pengalaman –sekaligus rasa kesal itu Bu Lala bagi dengan teman-teman ngerumpi nya.

Bisa dibayangkan bagaimana citra yang muncul di mata ibu-ibu bahkan masyarakat setempat tentang kepolisian. Bisa dipahami jika kesimpulan yang muncul di benak orang-orang saat itu adalah: Kepolisian itu brengsek!

Hanya berawal dari opini satu orang, opini satu masyarakat bisa terbentuk. Dan hanya karena kesalahan satu orang, citra satu masyarakat (dalam hal ini kepolisian) bisa rusak.

Kalau kita perhatikan, sebenarnya ada poin menarik yang harus disadari. Dalam cerita di atas, sejatinya pelaku kesalahannya ada dua. Pak polisi yang menerima suap uang dari Pak Vava, dan yang kedua adalah Pak Vava sendiri karena telah melanggar lalu lintas –dan menyuap . Sayangnya, kesalahan yang diangkat di pembicaraan tadi hanyalah kesalahan pak polisi. Pada diskusi tadi, Bu Lala sama sekali tidak mengetahui atau menanyakan kesalahan yang dilakukan oleh Pak Vava. Sekiranya Bu Lala tau, bisa jadi Bu Lala akan menyikapinya dengan berbeda. Opini yang terbentuk pun bisa jadi berbeda.

Dari Analogi ini, ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik diantaranya:

Pertama, sudah menjadi keharusan bagi konsumen berita untuk bersikap kritis dan imbang dalam menerima pemberitaan. Ketika ia mendengar atau mencari informasi, ia perlu mengambil informasi dari kedua sisi baik yang pro maupun kontra. Tak hanya itu, konsumen berita perlu bersikap kritis dengan tidak langsung menelan opini maupun berita tanpa menimbang dan menguji kebenarannya, juga mendalami pokok permasalahannya. Sebagaimana kasus di atas, perlu masyarakat mencari tahu sebab Pak Vava ditilang. Masyarakat juga harus bersikap adil dalam bersikap terhadap orang lain. Dalam hal ini kepolisian, masyarakat tidak hanya mengutuk dan mengkritik kepolisian namun juga harus mengingat dan mengapresiasi kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan kepolisian.

Kedua, penting bagi seseorang utamanya akademisi untuk bersikap objektif dalam menilai. Jauhi sikap fanatis yang membela secara buta dan tidak mau tahu-menahu tentang kebenaran yang ada. Sikap fanatis ini, membela seseorang entah orang tersebut benar atau salah, sangatlah berbahaya. Sikap fanatisme ini bisa menjadikan seseorang berjalan ibarat robot atau kendaraan yang bisa disuruh atau disetir untuk mencapai tujuan tertentu oleh suatu pihak.

Selama ini, kita selalu merasa nyaman ketika menjadi penonton. Merasa cukup tahu dan pintar untuk mengkritik orang lain sesuka hati. Sejatinya, kita perlu menyadari bahwa banyak hal yang harus kita rubah dari dalam diri kita untuk memerbaiki orang lain. Bahkan, kesalahan itu bisa jadi bukan ada pada orang lain. Bahkan, kesalahan itu sejatinya tidak pernah ada. Yang salah adalah cara kita melihatnya. Kita yang salah dalam memaknainya, atau kita yang memaksakan makna idealitas sehingga kebenaran itu tetaplah salah di mata idealisme kita.

“Untuk dapat memerbaiki diri, kita tidak bisa resisten” -Kabareskrim Polri, Komjen Pol. Drs. Suhardi Alius

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s