Bukan Ramadan Terbaikku

Sebagaimana hidup kita punya akhir… Bulan Ramadan juga ada akhirnya kawan.

Sebagian dari kita mungkin sudah mulai menyesal. Mulai menyadari “Ramadan tahun ini bukan Ramadan terbaikku. Ramadan kali ini, aku begitu malas salat. Aku malas membaca Alquran, malas bangun di tengah malam, masih menikmati ghibah dan dusta”.

Sungguh kawan, bersyukurlah jika kita menyadarinya saat ini. Beberapa malam sebelum ajal Ramadan datang. Kita menyadarinya ketika Allah masih berbaik hati memberi kesempatan pada kita memerbaiki diri di malam ini. Masih di malam yang bisa jadi kita berada di malam lailatul qadr.

Ingatlah nasihat ibnu hajar rahimahullah :

“Wahai para hamba Allah, sesungguhnya Bulan Ramadhan telah bertekad untuk berangkat meninggalkan, dan tidak tersisa darinya kecuali sedikit hari, maka barangsiapa yang dari kalian yang telah berbuat baik di dalamnya hendaklah ia sempurnakan dan (sedangkan) siapa yang menya-nyiakannya maka akhirilah dengan kebaikan dan amalan pada akhirnya, maka gunakanlah darinya apa yang tersisa dari malam-malam dan hari-hari yang pendek, dan tinggalkanlah ia dengan amal shalih yang akan menjadi saksi bagian kalian di hadapan Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui dan lepaslah ketika berpisah dengannya dengan sebaik-baik ucapan salam.” [1]

Saudaraku..

Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang celaka sebagaimana yang tersebut dalam doa yang diucapkan oleh malaikat Jibril ‘alaihissalam dan diamini oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni (oleh Allah Ta’ala )” [2]

Bahkan, seekor kuda yang berpacu di lintasan balap akan mengerahkan seluruh sel dalam tubuhnya dan menguras habis semua energinya tatkala tuannya menandakan padanya “Garis finis sudah dekat, kita telah tiba di penghujung lintasan”. Maka jangan sampai kuda lebih pintar dari kita semua.

Maka, marilah saudaraku, kita akhiri Ramadan ini dengan khusnul khotimah. Kita akhiri Ramadan kali ini dengan happy ending. Mungkin, dua puluh sekian hari di Ramadan tahun ini telah kita sia-siakan. Telah menjadi debu yang tak lahirkan apa-apa kecuali penyesalan. Namun sungguh, kita masih memiliki beberapa waktu. Allah masih izinkan kita beribadah di sisa-sisa waktu Ramadan. Allah masih menerima taubat kita di bulan penuh ampunan ini. Karena Ia masih menerima taubat hamba-Nya hingga saat ruh telah berada di kerongkongan [3]

Wallahu a’lam bis showab


[1] Kitab Lathaif Al Ma’arif, hal: 216.

[2] HR Ahmad (2/254), al-Bukhari dalam “al-Adabul mufrad” (no. 644), Ibnu Hibban (no. 907) dan al-Hakim (4/170), dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Hakim, adz-Dzahabi dan al-Albani.

[3] “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama ruhnya belum sampai ke kerongkongan” Musnad Imam Ahmad (IX/17-18, no. 6160) tahqiq Ahmad Syakir, beliau berkata, “Sanadnya shahih”

Referensi :

http://muslim.or.id/ramadhan/istiqamah-setelah-ramadhan.html

http://almanhaj.or.id/content/765/slash/0/pasal-ketujuh-setelah-matahari-terbit-dari-barat-iman-dan-taubat-tidak-lagi-diterima/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s