Upah Minimum Regional (UMR) : Tidak Sesederhana Itu

Siang itu udara terasa begitu menyengat. Matahari memancarkan sinar -dan panasnya tanpa rasa sungkan. Kerah bajuku basah akibat keringat yang mengucur tetes demi tetes. Siang itu, aku berjalan menuju jalan kukusan teknik untuk mengambil pakaian cucianku. Aku berjalan melewati sebuah konstruksi yang masih berisik sejak beberapa minggu yang lalu. Konstruksi itu adalah sebuah proyek yang sedang dikerjakan oleh beberapa bapak berpakaian kaos singlet . Dari kerangkanya, aku menebak bahwa bapak-bapak itu sedang membuat sebuah bangunan.

Melihat bapak-bapak berbadan kekar dan kaya keringat itu, aku teringat penjelasan Pak Prodjo Sunartjanto S.E., M.Ak. dosen mata kuliah pengantar akuntansi 2-ku. Beliau pernah mengangkat isu lama yakni demo kenaikan upah minimum regional (UMR) sebagai bahan diskusi di kelas.

Upah merupakan salah satu komponen/variabel dalam perhitungan biaya produksi suatu perusahaan. Jika biaya produksi suatu barang naik, maka harga barang tersebut dapat meningkat. Dalam hal ini, jika gaji pegawai naik, biaya produksi akan naik. Itu artinya, harga barang tersebut akan naik. Ketika pemerintah menaikkan UMR, harga barang dapat dipastikan naik. Dalam skala nasional, itu artinya akan terjadi cost push inflation (inflasi akibat kenaikan biaya). Bahkan, sebelum UMR dinaikkan, inflasi bisa saja sudah terjadi akibat ekspektasi penjual tentang naiknya daya beli masyarakat (expected inflation) akibat naiknya UMR.

Ketika inflasi terjadi, pemerintah akan berusaha menahan laju inflasi menggunakan instrumen kebijakan moneter, yaitu suku bunga. Pemerintah akan meningkatkan suku bunga bank agar masyarakat lebih tergiur untuk menabung uangnya di bank daripada membelanjakannya. Secara sederhana, pemerintah berharap masyarakat akan berpikir “wah, mendingan nabung uang di bank. Duit hemat, bunganya juga tinggi!” Dengan demikian, uang yang beredar di pasar akan berkurang. Praktis, barang menjadi tidak laku dan terpaksa penjual memilih menurunkan harga barang.

Di sisi lain, kenaikan suku bunga juga menjadi pedang bermata dua. Ketika suku bunga naik, perusahaan akan kesulitan untuk mendapatkan tambahan modal. Karena, cost of borrowing dari bank (baca: bunga pinjaman) juga ikut meningkat. Dalam kondisi ekstrim, beberapa perusahaan bisa jadi memilih tidak meningkatkan kegiatan operasional atau bahkan memilih pindah keluar negeri yang memiliki bunga relatif lebih rendah.

Jika banyak perusahaan yang berhenti atau pindah keluar negeri, dapat dipastikan angka pengangguran akan meningkat. Banyaknya pengangguran juga dapat memicu naiknya tingkat kriminalitas. Dalam kondisi ini, mudah bagi negara lain untuk mengguncang suasana politik dan mengintervensi perekonomian negara.

Ketika perekonomian negara kacau, investor akan semakin menarik diri dari bursa investasi di Indonesia. Hal ini tentu mempersulit Indonesia untuk dapat melepaskan diri dari krisis dimensional.

Dari sudut pandang mikro, tuntutan kenaikan UMR ini juga bukan permasalahan temporer. Tuntutan ini bisa jadi menjadi tuntutan tahunan. Tahun ini, sebagian pendemo menuntut kenaikan UMR sebanyak 50%. Itu artinya, gajinya yang berikutnya adalah 150%. Pada tahun berikutnya, diasumsikan mereka akan kembali menuntut kenaikan sebesar 10%. Berarti, di tahun tersebut gaji mereka 10% lebih tinggi dari 150% saat ini. Singkatnya, ini akan terus berkembang ibarat bunga majemuk (compund).

Jika UMR dinaikkan tanpa ada perbaikan kualitas kinerja dari labour (tenaga kerja) yang ada, labour kita tidak akan berkembang karena tidak kompetitif. Efeknya, mereka yang semakin terpuruk dan tak mampu bertahan di era kompetitif ini akan memilih mengadu nasib di negeri orang lain (baca: menjadi TKI/TKW). Seakan menjadi wacana umum, kita sudah paham bagaimana kondisi dan perlakuan TKI/TKW kita di beberapa negara di luar negeri.

Kenaikan gaji buruh bukanlah masalah selama diiringi dengan kenaikan produktivitas kerja. Karena, tanpa meningkatnya kuantitas dan kualitas goods and services di Indonesia, masyarakat hanya akan merasakan kesemuan peningkatan pendapatan. Daya beli mereka sejatinya tidak berubah.

“Masalahnya cuma gaji, tapi tidak sesederhana itu ya ternyata?” Kutip Pak Prodjo saat mengakhiri kelas masa itu. Kini, aku sedikit memahami bahwa cerita orang lain bisa menjadi cerita kita juga. Keluhan bapak-bapak ini nanti bisa jadi berujung pada masalah besar yang berdampak pada kita juga. Ternyata, memang tidak sesederhana itu ya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s