Di Keabadian

Image

“Ku tunggu kau di keabadian…”

Mungkin, itu adalah lirik lagu paling manis yang pernah ku dengar. Setidaknya, sampai saat ini. Yang ku dengar, dan yang ku ingat..

Sudah sejak -entah kapan, aku jarang mendengarkan lagu. Entahlah, aku merasa aneh. Mungkin enggan, mungkin malu. Aneh jika aku yang seorang muslim lebih doyan mendengarkan lagu daripada mendengar rekaman bacaan Alquran. Mungkin aku malu, jika memori hapeku lebih banyak diisi lagu daripada rekaman surat-surat pendek. Malu jika aku menyempatkan diri mendengarkan lagu tapi tidak untuk firman-Nya. Malu jika lebih mau menghafal lirik-lirik lagu daripada ayat-ayatnya.. Setidaknya, seharusnya aku malu.

Lirik itu tiba-tiba terlintas di benakku siang itu, ketika aku melihat seorang nenek mengelus dahi seorang kakek yang terbaring lemah di ruang ICU. Nafas pria renta itu tersengal. Matanya tertutup sedang bagian ujungnya basah. Mungkin karna nyeri yang ia rasakan. Atau mungkin karna penyesalan.

Mungkin itu penyesalan di ujung hidupnya. Dari salah seorang ibu disana, kudengar bahwa pasangan lanjut usia itu dulunya bercerai. Semenjak perceraian itu, sang nenek tidak pernah lagi bertemu dengan mantan suaminya itu. Bahkan, hasrat untuk bertemu saja tidak ada katanya. Kudengar, perpisahan tersebut dikarenakan sang nenek tak kuat menahan rasanya dimadu.

Dari salah seorang wanita paruh usia disana, aku tahu bahwa sang kakek telah menginap di ruang serba steril itu lebih kurang selama seminggu. Ada yang aneh kata wanita tersebut. “Bapak ini aneh ya” katanya sambil menunjuk dengan jempolnya secara sembunyi-sembunyi. Aku pun menoleh sambil mengerutkan dahi. “Denyut nadi dan pernafasannya nggak stabil. Cenderung drop malah. Orang seusia beliau seharusnya sudah nggak kuat. Tapi apa ya, kayaknya beliau itu semacam nungguin sesuatu gitu. Atau ada orang yang belum rela sama bapak”.

Saat itu aku paham. Bukan paham, menerka lebih tepatnya. Mungkin memang itu yang sang kakek lakukan. Ia menunggu. Ia terus menahan nyeri di kakinya karena ia menunggu. Mungkin, ia ingin menyampaikan sesuatu. Mungkin, ia ingin meminta maaf kepada wanita tua mantan istrinya tersebut. Ia mungkin terus menunggu kehadirannya. Sekadar untuk menatap matanya dan meminta maaf atas segala kekurangan yang pernah ia lakukan. Apa kira-kira pesan yang ingin disampaikan oleh lisan yang hanya bisa bergetar itu. Apa..

Saat itulah, secara tiba-tiba lirik manis itu terlintas. Aku hanya bisa menebak bahwa mungkin, pertemuan yang dikehendaki oleh sang kakek bukan disini nek. Tapi disana, nanti…

Manis memang. Manis sekali kata-kata itu. Ingin lisan ini bisa mengucapkannya suatu hari nanti. Untuk dia yang namanya tertulis untukku. Untuk dia, tulang rusukku..

Yah, tapi tetap saja. Semanis apapun kalimat itu, lirik tetaplah lirik. Tak lebih dari sekadar rangkaian kata yang dibuat oleh manusia.

Justru, seharusnya kita bertanya. Keabadian apa yang dimaksud? Di keabadian mana dirimu menanti? Taukah dirimu, apa yang menanti di keabadian itu? Tahukah dirimu, perjalanan apa yang harus ditempuh menuju dan di keabadian itu?

Sumber foto : http://3.bp.blogspot.com/-iwPPphZa8uc/Ta6V2ZMi-YI/AAAAAAAAAHU/8bpDx5W_XB4/s320/sepi.jpg

Advertisements

2 thoughts on “Di Keabadian

  1. Reblogged this on Hibatullah Mario and commented:
    A friend of mine from Indonesia who writes beautifully, although in Indonesian. Please enjoy his writing for those who are capable to read and understand Indonesian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s