Titik Hitam Bernama IP

Malam ini terasa begitu indah. Baru saja kulahap potongan daging terakhir yang ada di garpuku. Hampir satu tahun aku menunggu untuk bisa menikmati steak tenderloin cordon blue yang selalu kusuka. Setahun merantau ke ibu kota membuatku jarang menyantap makanan mewah semacam steak di rumah makan bertajuk Inggris. Makan malam ini terasa lengkap dengan hadirnya kedua orang tua dan dua saudaraku. Ah, indah sekali malam ini.

Malam ini aku benar-benar dimanjakan. Aku yang dulunya ketika masih SMA di Bandung bersama keluarga biasa menyetir mengantar mereka, kini bisa duduk manis di kursi belakang. Kakakku menawarkan diri untuk menyetir. Dia tau betul kalau aku yang baru saja pulang dari merantau ini masih kaku jika harus memegang kemudi. Satu tahun waktu yang cukup lama untuk membuatku lupa cara mengemudi yang baik dan benar. Baik sekali dirimu kak! Terima kasih.

Malam itu terasa begitu lengkap. Makan malam nikmat, suasana hangat bersama keluarga, dan pulangnya duduk santai di mobil. Kini, aku terbaring di kamar menatap langit kamar yang amat kurindukan. Aku masih hafal bekas air yang pernah bocor di salah satu bagian atas kamarku. Sepertinya ayah menggantinya seminggu yang lalu, sebelum kepulanganku ini. Semua terasa lengkap sebelum aku mengangkat telefonku yang berdering. Seketika terdengar tangisan dari Rizka, sahabatku dari Tangerang yang juga berkuliah di FE UI bersamaku. Kami biasa belajar berkelompok dengan 3 sahabat lainnya.

“mir, kacau mir” aku dengar dengan pasti isak tangisnya.

“kacau kenapa riz? Ada apa?”

“semuanya ancur mir. Ancur. IPku mir..”

“Ooh, indeks prestasi? hm.. Tenang riz, kamu uda tau IP nya Saka?” Aku mencoba menghibur Rizka. Siang tadi aku menerima sms dari Saka kalau dia dan teman-temannya mendapat nilai jelek di satu mata kuliah yang berbobot 6 sks.

“Yaiyalah mir! Gimana sih kamu?!” Aku paham kalau Rizka amat sedih.

“Iya Riz, sabar. Kesabaran itu pada hentakan pertama. Begitu kan sabda nabi?”

Aku tidak mendengar apapun selain isak tangis yang belum hilang.

“Iya Riz, aku paham. Coba deh baca Alquran, biar tenang. Coba buka surat Alankabut. Baca ayat-ayat pertamanya. Sedikit aja gapapa”

Aku masih tidak mendengar apa-apa. Tapi kini hanya terdengar nafasnya yang masih tersendat.

“Maaf ya Riz, kalo ucapanku gabisa menghiburmu. Karena yang memilih sedih atau senang itu sebenarnya kamu sendiri nantinya. Aku cuma bisa ngasih saran dan kata-kata penyemangat. Riz, semua orang pasti diuji. Ya kan? Kan Allah pernah berfirman ‘Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan ‘kami telah beriman’ dan mereka tidak diuji?’ . Sebenarnya kita beruntung, Allah cuma menguji kita lewat IP. Kita gak diuji dengan Drop Out atau kasus lain yang bahkan melibatkan orang yang kita sayangi”

Aku mencoba memberi waktu kepada Rizka untuk memberi tanggapan, tapi nihil. Kali ini tidak terdengar apa-apa. Suara tangisnya pun sudah tidak ada. Mungkin sudah keluar semua air mata yang ada saat ini.

“Kamu gak sendiri kok Riz. Coba deh kamu tanya Saka tentang IP. Aku gamau buka aib orang lain. Aib orang banyak apalagi?” Kataku menutup diskusi ini. Aku rasa Rizka tidak berkenan lagi berbicara atau mendengarkan usahaku menghiburnya.

“Makasih banyak Mir. Aku emang lagi jauh sama Allah.. Emang Saka kenapa?” Tanya Rizka setelah hilang semua suara tangisnya.

“Wah, tanya sendiri aja deh. Itu aib orang, bukan hakku membuka”

Entah apa yang dipikirkan Rizka saat ini, ia kembali diam

“Maaf juga kalo motivasiku gabisa kayak motivasi menghibur yang penuh janji manis. Kita perlu sadar Riz, kalo ini semua sebenarnya tentang diri kita sendiri. Dan bagaimana cara kita memandangnya. Apakah kita mau bersyukur, ataukah ingkar” Cobaku memberi sedikit nasihat.

“Aku juga ngerasain kok Riz, aku nggak maksimal. Nilaiku bahkan masih ada yang belum keluar tadi sore aku buka di emailku. Masih nggantung nih. Lebih nyesek kaan?” Aku mencoba menghiburnya.

“Nilaiku juga belum semua itu Mir, tapi baru segitu aja ud jeblok gini nilainya. Apalagi kalau semua” Isak tangis Rizka mulai muncul kembali. Tapi sebelum tangisnya meledak, aku langsung membuka kartu trufku.

“Nggaklah Riz.. Eh, aku denger dari Saka kalau ada di angkatan kita yang dapet C di mata kuliah SKTP. matkul yang 6 sks itu loh. Aku yang denger aja mau nangis, apalagi yang dapet beneran ya” Aku mencoba menghibur Rizka kalau ternyata bukan hanya dia yang IP nya tidak memuaskan.

“Wah, nyesek ya” jawabnya terdengar mulai tenang walaupun singkat.

“Tapi yaudalah. Toh Sri Mulyani juga lebih dari 4 tahun. Pak Agus Marto juga belum tentu cumlaude. Bill Gates aja D.O. cuy!” kataku sambil bercanda.

“Hehe, iya deh iya. Thanks ya Mir” Aku bisa membayangkan Rizka mulai tersenyum.

“Aku cuma mau ngingetin. it’s not everything sis. Masih banyak nikmat yang harus disyukuri. Bukan bisa, tapi HARUS” tekanku.

“Keluarga, anggota badan, masuk UI, memiliki hati, dan yang terpenting adalah nikmat Islam. Ingat, kita disini juga gak selamanya. Sesukses-suksesnya cerita kita nanti juga hanya tinggal sejarah. Dan sesulit-sulitnya masa ini, nanti hanya menjadi kenangan” Tutupku ringkas.

“Hehe, iya Mir. Kamu bener banget. Aamiin. Makasih ya. Aku emang pada dasarnya sulit buat tenang. Udah bawaan dari kecil ini” Suaranya mulai terdengar mantap. Aku yakin ia sudah tidak menangis dan terlalu memikirkan IP nya tadii.

“Bukan sulit, cuma kurang terbiasa. Masalah itu banyak kok, ntar juga terbiasa. hehe. Ya maka dari itu, kita perlu berdoa. Berdoa kepada Dzat Yang Membolak-balikkan hati”

“Ya Mir, makasih banyak ya”

“Sama-sama. Ini hanya sebagian kecil Riz. Jangan sampai hanya munculnya sebuah titik hitam bernama IP mengaburkan mata kita dari lapang dan cerahnya warna putih yang ada di lembar kehidupan kita. Jangan sampai ujian kecil ini membuat kita lupa dari berbagai macam nikmat yang tak terhitung besar dan banyaknya”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s