Rawon Mana yang Lebih Enak?

Alhamdulillah. Pagi ini aku bisa merasakan sahur untuk puasa Arafah bersama keluarga. Setelah sekian lama kesulitan berpuasa di kos-kosan karena banyak sekali kendala, kini aku bisa berpuasa sunnah seperti yang aku impikan.

Aku bangun setengah jam sebelum azan subuh. Saat itu, ibu sudah berada di meja makan. Tiga mangkok besar berisi makanan berkuah telah hadir ditemani tiga gelas teh hangat. Usai bersiwak dan mencuci muka, aku mendatangi meja makan yang tampak menyenangkan. Maklum, aku tidak pernah menemukan meja makan yang penuh dengan makanan di kos-kosan. Jangankan penuh dengan makanan, meja makan saja tidak ada! Haha, dasar mahasiswa perantauan. Hidup mahasiswa. Hidup rakyat Indonesia.

Aku mengambil beberapa entong nasi kemudian menghampiri meja makan dimana ibu telah duduk rapi menungguku. Saat itu, aku melihat tiga mangkok besar. Dua mangkok yang kuahnya berwarna hitam dan satu berwarna merah. Mangkok berwarna merah itu berisi kikil sapi, aku yakin itu. Tapi yang aku bingungkan adalah dua mangkok berisi kuah berwarna hitam. Kenapa ada dua? Sama-sama hitam pula. Akhirnya aku bertanya pada ibuku “Mom, dua mangkok ini apa?”. “Ini rawon s*tan, yang ini rawon katering” jawab ibuku. “Lebih enak yang mana, mom?” Aku bertanya kembali. “Hmm, kalau mama lebih suka rawon s*tan”. Aku pun memilih rawon s*tan untuk menjadi sahabat sahurku. –Sahabat? Memangnya sahabat dimakan ya? Ya nggaklah. Becanda–

Ketika melahap sendok kesekian, tiba-tiba aku berfikir “Enak mana ya, rawon ini atau rawon katering? Ya lebih enak ini lah. Kan restoran yang menjual rawon s*tan ini produksinya khusus rawon. Mereka spesialisasi produk di rawon. Kalau katering kan semua makanan dipelajari. Tidak ada menu khusus. Jelas lebih enak rawon ini lah seharusnya!”. Aku memikirkan hal itu sepuluh menit setelah suapan pertama mendarat di lidahku. Memang, menurut penelitian yang pernah aku baca di internet, perlu waktu sekitar 10-15 menit bagi seseorang untuk memulihkan kesadarannya secara penuh. Kata salah seorang temanku “Mengumpulkan nyawa” , haha. Selesai sahur, aku salat subuh di masjid dan kembali ke rumah.

Nah sekarang, mari berpikir lagi. Sebenarnya, ngapain juga ya aku menanyakan hal itu? Secara logika, mereka yang menfokuskan diri tentu memiliki keunggulan tersendiri daripada mereka yang tidak. Tapi, nggak mesti juga sih yang lebih fokus lebih unggul. Banyak faktor lain juga kan? Kalau hanya dari satu faktor, nanti dikira sesat pikir (baca: materi mata kuliah MPKT di Universitas Indonesia). Ooh, aku tau! Orang yang menfokuskan diri pada suatu bidang, akan lebih unggul pada bidang tersebut jika dibandingkan orang yang tidak menfokuskan diri pada bidang itu, dengan asumsi ceteris paribus ! Hehehe. Enjoy guys !

*Ceteris paribus adalah sebuah asumsi yang umum digunakan dalam analisis ekonomi, yang berarti semua hal lain sama. Asumsi ini digunakan ketika mengidentifikasi hubungan antara dua variabel tertentu [1]

sumber :

[1] http://www.kamusbisnis.com , diakses Senin 14 Oktober 2013 pukul 05:31 pagi WIB

Advertisements

2 thoughts on “Rawon Mana yang Lebih Enak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s