Konsekuensi Mencinta

Alhamdulillah. Setelah sekian lama nggak nulis blog, akhirnya sekarang bisa nulis lagi. Hehehe. Lumayan sibuk mengurus tes masuk PTN. Tapi, alhamdulilah terbayar lunas. Aku diterima sebagai mahasiswa Universitas Indonesia fakultas ekonomi jurusan manajemen.

Oke langsung aja, aku mau cerita tentang libur lebaran kali ini.

Libur lebaran kali ini cukup istimewa, karena aku sambil lebaran aku harus menyiapkan segala urusan termasuk kepindahan tempat tinggalku yang dulunya di Surabaya, kini di depok tepatnya dalam Kampus UI. Keluargaku pun ikut menemani, sehingga libur lebaran kali ini aku dan keluargaku berlibur ke jakarta -lebih tepatnya depok lebih spesifik kos-kosanku.

Meski hanya sekitar 4 hari, pada libur lebaran ini aku mendapatkan banyak sekali pelajaran. Aku berjumpa dengan beragam orang. Tua, muda, kaya, sederhana, hedon, gaul, pendiam, banyak. Kujumpai banyak karakteristik, pengalaman, juga pandangan hidup orang-orang yang kadang berbeda bahkan bersilangan denganku.

Banyak sekali yang kupelajari, seperti pentingnya memahami dan memanfaatkan masa muda, menata pola pikir, menguatkan diri secara fisik maupun mental, dan salah satu yang paling kurasakan dalam perjalanan hidup yang baru beberapa hari ini kulewati adalah…… Konsekuensi mencinta

Cinta. Satu kata, berjuta makna. Satu kata, berjuta rasa. Ya, setidaknya dulu sesederhana itu pikirku. Tapi setelah aku lulus SMA, dinyatakan sebagai mahasiswa, berjumpa, mendengar, dan melihat langsung berbagai manusia, pandanganku berubah. Berubah jauh

Dulu, aku kira cinta itu sekedar rasa di dada. Menyesakkan, karena harus dipendam. Silahkan dikeluarkan, tapi dengan cara yang telah ditetapkan (oleh sang Pencipta). Cinta, rasa ingin bersama. Dekat dengannya, berbagi canda, tawa, suka, duka. Cinta, apa yang mereka sebut bila seorang laki-laki tak bisa berhenti memikirkan atau ingin selalu tau dan dekat dengan seorang wanita, bermakna juga sebaliknya. Ada pula sebagian tamanku mengatakan “Cinta? Ya segera menikah” dengan nada bercanda, ada pula yang dengan kesungguhan ia mengatakannya.

Kini aku semakin sadar. Cinta bukan itu. Iya, itu memang tanda dan gejala cinta. Aku akui, aku tak memungkiri. Karena aku pun pernah merasakan fenomena-fenomena itu. Tapi cinta tak sesederhana itu. Cinta berkonsekuensi. Cinta menuntut lebih daripada sekadar rasa ingin bersama, lebih dari sekedar momen ketika dua insan berkumpul bersatu. It’s more than that.

Kalau sekedar ingin bersama, baiklah. Mendekatlah dengannya. Duduklah tepat disampingnya. Berdirilah tepat di hadapan wajahnya. Lalu, apa kau sebut itu cinta? Setelah hal tersebut kau lakukan, cintamu telah terwujud? tercapai? Buatku, tidak. Siang ini, ketika aku pergi dari depok ke jakarta naik KRL (semacam kereta listrik) aku melihat sepasang kekasih muda. Mereka duduk di kursi KRL sedangkan aku berdiri di samping-depan mereka. Kulihat mereka sedang berbahagia. Duduk bersebelahan, satu tangan dari mereka saling bergenggaman, bahu sang perempuan bersandar di pundak sang laki-laki, dan beberapa gejala yang membuatku yakin 95% mereka sedang melakukan aksi yang umum disebut ‘pacaran’.

Keadaan itu kulihat berlangsung cukup lama. Bahkan, hingga sang perempuan tertidur di pundak ‘sahabat’ laki-lakinya itu -saking lamanya. Aku bukan iri atau dengki. Secara pribadi aku pun ingin bisa merasakannya, tetapi dalam kondisi yang berbeda. Aku hanya berfikir “Mas, kalau sudah gitu mau gimana? Mbak, habis ini mau apa?” Ya, aku rasa ini juga mungkin adalah buah cinta. Tapi, ayolah. Apa hanya sebatas ini yang disebut cinta? Apa hanya dengan aksi tersebut cinta itu telah usai, mencapai garis finis? Aku bertanya-tanya, apa hanya aku seorang yang berfikir bahwa bentuk kongkrit dan final cinta adalah keluarga? Dimulai dari dua orang pasutri, sepasang suami dan istri yang diikat secara halal atas izin Tuhannya, menjalani bahtera rumah tangga bersama, jatuh-bangun, suka-duka, tangis-tawa, lalu kehadiran buah hati mereka. Apakah hanya aku yang membayangkan itu?

Aku berpikir dengan idealitasku yang seperti itu. Tapi dalam proses kehidupan ini, aku belajar. Ya. Meski cinta tak sesederhana itu, ternyata cinta jaauh lebih kompleks dari yang aku duga. Tidak sekadar berkeluarga, tapi juga bagaimana ia membangunnya. Aku adalah seorang laki-laki. Tugas dan peranku jelas dan pasti. Menafkahi dan melindungi keluarga. Wahai pembaca yang juga sesama lelaki, mari bertanya kepada diri sendiri “Kalau mau mencinta, apa sekadar kumpul bersama? Mau hidup bersama kan? Sudah menyiapkan apa?” Benar juga lelucon salah satu iklan rokok dalam negeri “Bayarnya pakai daun”. Bagiku, itu merupakan sindiran halus namun mengena buatku. “Jika aku mencintainya, lantas mau apa? Berusahalah untuk mendapatkan dan memperjuangkannya. Tidak sekadar mengumbar kata dan angan-angan saja!” Itu teriakku dalam hati menggugah kesadaran diri.

Aku sadar, perjalanan ini masih sangat panjang. Banyak yang harus kupelajari dan kusiapkan. Jangan karena sekadar “Aku cinta!” lantas membuatmu hilang akal. Cinta itu berkonsekuensi. Bukan aku takut akan sempitnya rizki Allah, tapi memang masih banyak yang harus ditata. Sudah paham hak dan kewajiban seorang suami atas istri -dansebaliknya ? Sudah punya gambaran arah rumah tangga nanti mau dibawa kemana?

Cinta adalah satu karunia agung, maka harus cerdas cara menyikapi, menikmati, dan mensyukurinya. Ini hanya tulisan seorang pemuda di tengah perjalanannya. Pemuda yang mungkin kehabisan kesabaran dan kekuatan untuk memendam semua ini sendiri. Terlalu hijau nan dini, terlalu sombong untuk angkat bicara, terlalu dungu untuk menjadi guru. Tapi setidaknya, aku ingin berbagi meski hanya sebatas ini yang kumiliki. Baru sekian langkah ini yang kujalani. Baru sekian kejadian yang kulalui. Sekal lagi, aku hanya ingin berbagi.

Ini hanya idealitas sementara semata. Sesungguhnya, Dialah yang maha membolak-balikkan hati. Karena itu kita berdoa, semoga Ia menetapkan hati kita di atas jalan yang diridhoiNya, di atas jalan keselamatan, jalan terbaik, jalan yang paling ideal bagi makhlukNya. Aamiin. Wallahu a’lam

Advertisements

3 thoughts on “Konsekuensi Mencinta

  1. tulisanmu bagus sekali 🙂
    saya sangat tergugah membacanya. seharusnya orang-orang diluar sana yang terlalu mendewakan cinta kepada pasangan harus membaca tulisanmu ini.
    semoga kamu sukses ya karirnya dan orang yang kamu cintai itu saling membahagiakan denganmu dikemudian hari amin..

    • Alhamdulillah. Terima kasih dema atas apresiasinya. aamiin. semoga yang membaca maupun yang menulis bisa mengambil pelajaran dari tulisan ini. aamiin. semoga Allah berikan yang terbaik bagi kita semua. hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s