Awas! Tiga Bengkak di Bulan Ramadhan

Ini adalah evaluasi pribadi penulis dari masa ke masa, dari Ramadan ke Ramadan. Semoga bermanfaat utamanya bagi penulis sendiri, juga bagi pembaca. Berbagi bukan berarti telah sempurna.

Ada tiga hal yang perlu kita perhatikan dalam menyambut Bulan Ramadan, bulan penuh kebaikan. Tiga hal atau penyakit yang amat berbahaya jika kambuh di Bulan penuh keutamaan ini. Tiga hal yang perlu kita berupaya untuk menghindari atau mengobatinya.

Pertama kejahilan

Atau nama lainnya kebodohan. Sangat disayangkan ketika seorang muslim memasuki Bulan Ramadan hanya dengan bayangan sahur-puasa-buka-sahur-puasa-buka atau sekadar mengetahui “Bulan Ramadan bulan penuh ampunan” tanpa mengetahui betapa banyak kemuliaan dan keistimewaan lain yang ada pada bulan tersebut.

Ada pula orang yang telah mengetahui keutamaan dan keistimewaan bulan yang di dalamnya turun Alquran ini, namun tidak tahu bagaimana cara memuliakannya. Bahkan, keliru dalam upaya memuliakannya. Semangat telah membara, persiapan dan perbekalan sudah siap sedia, tapi dalam mengamalkannya kurang tepat caranya. Sehingga, yang terjadi adalah praktek ibadah yang tujuannya sejatinya mulia, namun salah caranya. Hal ini sangat disayangkan.

Karena sungguh suatu Ibadah diterima kecuali dengan dua syarat : Pertama ikhlas, hanya mengharapkan pahala Allah sesuai surat Al Bayyinah ayat 5 .

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama …”

Kedua ittiba’, yakni sesuai tuntunan nabi. Karena nabi bersabda

“Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada urusannya dari kami maka amal itu tertolak” (Riwayat Imam Muslim)

Maka, solusi bagi penyakit atau hambatan pertama ini tidak lain adalah bertanya. Sebagaimana yang telah nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan dalam salah satu nasihat bijaknya

“Sesungguhnya obat dari kebodohan itu adalah bertanya” (Riwayat Imam Abu dawud, dinilai hasan)

Tentunya kepada ahlinya kita bertanya. Jika kita sakit kepala, apakah kita akan bertanya pada insinyur? Tidak. Apakah kita akan bertanya kepada polisi? Tidak pula. Tentu kepada dokter kita bertanya. Bahkan, kita akan memilih untuk bertanya kepada dokter yang memang ahli atau spesialis di bidang penyakit kepala. Jika untuk urusan dunia saja kita begitu selektif, maka untuk urusan akhirat yang berdampak pada kehidupan abadi kelak tentu kita wajib untuk lebih selektif.

Kedua kemalasan

Hal ini juga bagi penulis pribadi adalah momok yang sangat berbahaya. Kadang seseorang telah mengetahui keutamaan suatu ibadah. Telah paham dengan baik tata cara melaksanakannya, tetapi penyakit “M” ini hinggap seketika. Sehingga, tubuh rasanya seperti dibelenggu. Badan terasa berat untuk menjalankan. Padahal sejatinya hal-hal itu tidak lain adalah tipu daya setan atau hawa nafsu yang kurang kita tundukkan.

Obat untuk penyakit yang ini yang pertama tentunya adalah berdoa. Bahkan, nabi saja hamba yang paling kokoh imannya pun berdoa agar terlindung dari kemalasan. Seperti berikut :

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.” (Riwayat Imam Bukhori)

Obat kedua adalah mengingat ganjaran dan pahala akan amal tersebut. Mengingat surga beserta isinya (termasuk sungai, buah-buahan, bidadari-bidadari di dalamnya, dll) juga bisa membangkitkan semangat dan mengusir kemalasan. Dan obat ketiga adalah berkumpul dengan teman sesama pejuang surga. Saling mengingatkan dan memotivasi. Dalam sebuah novel fiksi, penulis menemukan kalimat inspiratif yang kurang lebih bunyinya “Tanpa teman sejati yang menemani, kau takkan bertahan lama”. Meski sebenarnya banyak obat dan saran lain, tapi penulis cukupkan dalam tulisan ini dengan tiga poin tadi

Penyakit atau perkara terakhir, sekaligus yang paling vital dari hal-hal yang harus kita perbaiki adalah…….

Rusaknya keikhlasan

Ini adalah penyakit paling kronis. Karena kadang kita sendiri tidak menyadarinya. Khusus penyakit ketiga ini, penulis telah membuat artikel sejak tahun lalu. Bahkan, keikhlasan ini adalah artikel pertama yang penulis buat di blog ini. Sila cek di blog ini demi kesehatan iman kita.

Akhir kata, sesungguhnya seluruh kebaikan datangnya dari Allah, adapun kesalahan dan kelalaian maka itu datangnya dari penulis sendiri dan setan. Penulis juga berpesan kepada setiap pembaca agar tidak henti-hentinya dan tidak bosan-bosannya mengingatkan diri penulis ini, agar kebaikan yang ada dalam tulisan ini tidak sekadar kering di layar kaca tapi juga menjadi nyata. Mari saling mengingatkan, saling menguatkan barisan.

Hanya kepada Allah kami menyembah dan hanya kepada Allah kami mohon pertolongan. Wallahu a’lam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s