Menjadi Supir mungkin Menyenangkan

Siang ini aku salat jumat di masjid yang tak jauh dari rumahku. Sudah berulang kali aku salat disana, baik salat jumat maupun salat 5 waktu setiap harinya.

Pada khotbah jumat kali ini, aku merasa tema yang diangkat begitu tepat dengan isu-isu yang mulai menguap, yakni amanah. Khotib memberikan beberapa nasihat dan ditutup dengan salah satu kisah yang terjadi pada kepemimpinan khalifah Umar ibnu Khattab.

Selesai salat jumat aku langsung meninggalkan masjid karena ingin menyelesaikan beberapa urusan. Tapi langkahku terhenti sejenak ketika aku bertemu dengan seorang kenalanku. Ia berusia jauh lebih tua daripada usiaku. Sudah lama ia berprofesi sebagai supir pribadi. Kami hanya sempat saling memberi salam karena ia sedang bertugas. Ia pun langsung meluncur bersama seorang berpakaian rapi yang duduk menggenggam telpon di kursi belakangnya.

Setelah beberapa langkah dari tempatku berdiri tadi, pikiranku berpetualang. “Pak ini kesehariannya ngapain ya? Nganter tuannya ke tempat tujuan, terus nunggu tenguk-tenguk. Mungkin tidur, ndengerin hape atau radio, baca koran, tidur lagi, gitu terus sampai tuannya selesai dengan keperluannya. Baru pulang ke rumah. Di rumah kalau masih jam kerja tenguk-tenguk juga kali ya? Sampai diminta mengantarkan lagi k tempat lain. Tiap hari kayak gitu kali ya?” Awalnya aku mengira akan sangat membosankan dan tidak produktif jika hidupku harus diisi kegiatan rutin seperti itu.

Tapi setelah aku naik kendaraan, kini pikiran lainku angkat bicara. “Tapi kalau dipikir-pikir, sebenernya ya nggak buruk juga. Toh tinggal nganter bos ke tempat kerja, uda selesai. Kita mau ngapain aja setelah itu terserah kita kan? Asal pas bos butuh kita ada.  Berarti entah kita mau baca buku, ndengerin radio, hafalan Alquran, internetan (sempet mikir main saham. Tapi ada gak ya supir yang main saham?) , terserah kita. Bahkan, kita punya banyak waktu luang ! Sambil melakukan kegiatan yang kita inginkan, jam kerja (baca: gaji) tetap jalan. Kerja nggak banyak mikir, usaha nggak banyak tenaga”. Itu pikirku singkat. Kesimpulan awal,  jadi supir juga nggak buruk-buruk amat. Bahkan mungkin menyenangkan !

Kemudian timbul pertanyaan “Terus kenapa ya kok nggak banyak yang jadi supir aja?” Setelah beberapa saat berpikir, kudapatkan beberapa hal. Pertama gengsi. Ini yang sepertinya sulit dilobi oleh banyak orang -mungkin termasuk diriku. Dikira jadi supir nggak prestise? Mungkin bagi sebagian memang tidak. Tapi coba dipikir lagi, kerja buat apa sih. Cari penghidupan kan? Menurutku that’s the point. Asalkan tidak melanggar aturan agama, sah-sah saja. Bahkan sejatinya bekerja itu diniatkan ibadah, seharusnya begitu kan? Kedua masalah pendapatan. Tidak dipungkiri bahwa hal ini juga yang dipertimbangkan ketika memilih profesi bekerja. Tapi kalau sekiranya dengan menjadi supir kita bisa dapat penghasilan yang perbulannya cukup untuk membeli motor, masa ya nggak mau? Hehe -kebetulan kenalanku tadi mengantar tuannya dengan kendaraan sedan kelas satu di tipenya. Kalau keseharian pas mengantar pak SBY? Mungkin aja kan? Hehe

Di tengah perjalanan, aku mengumpulkan dan menata buah pemikiranku tadi. Bekerja apapun sejatinya tidak mengapa asal tidak melanggar rambu-rambu agama. Semua pekerjaan mulia ketika diniatkan ibadah dan halal caranya. Sejatinya ladang mencari nafkah yang halal itu banyak. Tapi yang sering menjadikan sedikit adalah gengsi dan keserakahan.

Aku tidak mengingkari hati. Aku ingin memiliki pekerjaan yang lebih dari layak dan mampu menghidupi serta memberi yang terbaik bagi keluargaku. Aku pun ingin memanjakan kedua orang tuaku kelak. Tapi tetap dengan cara yang sudah digariskan oleh pemilik langit dan bumi. Tetap tidak melupakan hakikat berusaha/bekerja itu tadi. Tidak melupakan hakikat kehidupan ini.

”  وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ ”

Kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya ?

Al-An’âm/6 ayat 32

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s