Monolog di Minimarket

Alhamdulillah. Hari ini luar biasa !

Sore ini, aku berenang bersama sahabat-sahabatku dari AseT / XII ipa 7 -tentunya hanya yang cowok- di SMA Al Hikmah. Sudah lama sekali aku tidak menghabiskan waktu bersama mereka. Sejak kepindahanku ke kelas Sosial, kami sudah jarang main atau nimbrung bareng. Paling mentok, futsalan di jam pelajaran olahraganya XII ipa 7. Setelah shalat magrib berjamaah di Masjid Al Hikmah, kami makan-makan bersama. Usai makan bersama, kami pulang ke rumah masing-masing.

Namun di akhir perjalananku ke rumah, aku menyaksikan sesuatu yang cukup mengejutkan.

Dalam waktu 5 menit, mungkin mobilku sudah mencapai rumah. Tapi aku memutuskan mampir ke salah satu minimarket dekat rumah sebelum meng-garasikan mobilku. Aku turun dari mobil, masuk dan bertemu sekitar 4 customer disana.

Aku mengambil sebotol minuman dingin. Tampak luarnya menarik, namun isi atau rasanya masih tergambar abstrak. Aku pun memutuskan untuk membeli minuman tersebut.

Aku melihat ada 3 orang sudah mengantri di meja kasir. Orang pertama adalah orang  etnis cina usia 30-an yang membeli rokok, minuman, dan beberapa peralatan rumah tangga. Orang kedua adalah seorang perempuan usia mungkin 20-an, ia membeli 2 kotak susu coklat dan sebuah sereal. Dalam hati aku berkata “Mungkin buat adiknya”. Orang ketiga adalah anak laki-laki usia puber. Mungkin usianya sekitar 13-15, usia anak SMP. Dia lebih pendek daripada aku. Menggunakan jaket berkantung kepala dan jeans lusuh sampai ke lutut. Namun ternyata dia tidak mengantri. Dia hanya sedang berdiri di sebelah meja kasir. Aku pun masuk ke antrian.

Penasaran dengan anak tersebut, aku memperhatikannya dalam-dalam. Kuperhatikan satu-persatu anggota tubuhnya. Di sekitar kulit matanya terlihat hitam, padahal aku yakin ia tidak sedang bercelak maupun sehabis dirias. Bibirnya hitam, aku langsung terpikir “Perokok? tidak-tidak. Belum tentu juga”. Belum sempat kuperhatikan penampilannya, antrianku dipanggil. Aku pun menyerahkan barang dan membayarnya.

Urusan belanjaku sudah selesai. Aku hendak berbalik dan langsung cabut pulang ke rumah. Namun sungguh tak kusangka, aku mendengar sebuah monolog dari penjaga kasir.

“Mild mas ya?” sambil mengambilkan bungkusan putih berisi rokok, tanya penjaga kasir itu. Anak laki-laki itu diam namun mengangguk mengiyakan.

Bocah ini jelas lebih muda daripada aku. Mungkin terpaut 3-4 tahun lebih muda denganku.

Hatiku rasanya seperti terpukul. Aku sudah tau dan sering mendengar anak SMP sekarang sudah tidak karuan. Tapi ini kali pertama aku melihat langsung, kelakuan anak usia belasan tahun membeli rokok.

Aku segera kembali ke mobil. Sempat pandanganku bengong saking terkejutnya aku. Namun aku tak habis pikir, bagaimana pula bisa seorang bocah tidak berkumis membeli rokok di minimarket ternama? Akhirnya aku kembali masuk dan bertanya pada tukang kasir.

“Mbak, disini beli rokok apa ndak ada usia minimalnya?” Tanyaku dingin sedikit menyindir. “Ada sih mas, 17 tahun sebenernya” Jawab penjaga kasir itu malu-malu.

Hilang sudah seleraku untuk bicara. Aku pun tak ingin memperpanjang dialog sehingga menarik perhatian orang-orang yang sedang antri disana. Kuputuskan untuk segera meninggalkan tempat itu.

Apakah memang hukum di negara ini sudah tidak bisa berdiri?

Apakah keadilan di negeri ini memang telah hilang?

Inikah perbudakan perekonomian?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s