Galau Kuliah ~ Maa Himmatuka?

Bismillahirrohmaanirrohiim

Yakin deh. Tiap anak SMA kelas 3 pasti mikirin masa depannya ntar. Dalam hal ini kuliah ya. Kalau di Smala (SMAN 5 Surabaya), sekarang sudah pada mikirin SNMPTN ‘Undangan’. Walau begitu, meski sudah 11 tahun lebih bersekolah dan menyandang predikat ‘Pelajar’, biasanya di penghujung kelas XII masih aja ada yang galau atau bingung mau kuliah dimana. Termasuk aku.

Sejak kelas XI, hatiku berbolak-balik bak warna daun di pohon mengikuti pergantian musim. Pernah pingin fokus belajar ekonomi syariah. Pernah juga mantap untuk mendalami ilmu ekonomi murni. Kadang mikir kuliah yang pure bisnis. Bahkan akhir-akhir ini sempat terlintas untuk tidak kuliah !

Memang, remaja tempatnya galau. Karena di masa-masa inilah, mulai ia melihat benang merah antara idealitasnya dengan realita yang ada. Setidaknya, begitulah yang aku rasakan. Oke, aku akan sedikit sharing buat teman-teman yang mungkin masih ada kebimbangan atau keraguan dari dalam diri masalah kuliah ini. Semoga bisa bermanfaat.

Beberapa minggu yang lalu, aku mengikuti psikotes di rumah salah satu temanku. Ibunya termasuk psikolog yang benar-benar peduli terhadap pendidikan di Indonesia. Setelah menunggu sekitar 2 minggu pasca pengerjaan soal -kayak ujian aja- Alhamdulillah hasilnya keluar. Aku mengetahui minat dan bakatku

Disana tertulis urutan bakatku, dari hal yang paling berbakat hingga yang paling minim. Disana aku menyadari, ternyata ada bakat yang sebenarnya seseorang memiliki tapi karena tidak dia eksplor, maka tidak ia gunakan. Ada pula yang seseorang tidak berbakat namun terus ia geluti. Sehingga perlu waktu lama dan jungkir-balik baginya untuk mencapai apa yang ia usahakan.

Dalam hasil tes tersebut banyak sekali isinya. Namun sedikit saja aku ceritakan, salah satu bakatku adalah Comunicator, Marketer, AmbassadorSingkatnya, aku ahli di bidang komunikasi. Menjadi pihak mediator atau penengah. Menjadi perwakilan atau duta dari sebuah organisasi. Aku pun ahli dalam menjelaskan atau mendeskripsikan sesuatu/seseorang baik dengan lisan maupun tulisan. Hal-hal tersebut juga terbukti dalam pengalamanku. Aku beberapa kali menjadi perwakilan dalam sidang, menghadap kepala sekolah, dan lain-lain..

Subhanallah wal Hamdulillah. Semua itu hanya karena kuasa dan rahmat Allah.

Setelah aku tau bakat dan minatku. Masuk sesi diskusi. Aku utarakan bahwa aku sudah mantap untuk kuliah di FE-UI. Karena berbagai pertimbangan. Tapi sejujurnya faktor terbesar adalah aku nyaman dan merasa cocok dengan kondisi belajar di UI. Aku pernah bermalam semalam disana dan ak merasa sangat nyaman. Dari yang diceritakan mbak mas pun tentang kondisi UI, bagiku terdengar ‘aku banget‘. Aku katakan aku sekedar bingung jurusan.

Ternyata, ibu temanku ini memberikan jawaban yang berbeda. Ia menyarankanku untuk tidak belajar di FEUI. Namun langsung ambil dan fokus ke dunia bisnis saja. Kami pun bertukar pikiran. Aku menceritakan tentang kondisiku dan beliaupun memberikan saran-saran yang amat dewasa dan bijak. Hingga waktu telah menjelang magrib, aku tau beliau cukup lelah. Maka langsung aku fokuskan pertanyaanku.

“Tante, saya daritadi masih kepikiran FE-UI karena saya nyaman disana. Saya merasa cocok dan ingin menjadi bagian dari itu..”

Maka beliau menjawab “Wan, kamu kuliah itu bukan karena kuliahnya. Tapi kamu nanti mau jadi apa. Kuliah itu membantumu mencapai tujuanmu. Bukan kuliah itu yang menjadi tujuanmu”

Mendengar itu seakan aku baru tersadar. Aku teringat kembali dengan mimpi-mimpi besarku. Cita-citaku selama ini.. Aku terlena dan melupakan apa yang menjadi tujuanku.

Aku pun mempertimbangkan semua saran dan pendapat yang pernah mampir ke telinga maupun mataku. Dan aku menyadari satu hal lagi. Bahwa hidup itu proses panjang -meskipun hidup kita belum tentu panjang-

Teman-teman, buat yang masih galau kuliahnya. Entah kuliahnya yang dimana, jurusannya apa, karena masih memikirkan jaraknya yang jauh, biaya, pergaulan, kemungkinan masuk, dan lain-lain.. Satu hal yang aku sadari betul dari pengalamanku tadi. Pentingnya bagi kita untuk menetapkan tujuan. Visi. Mimpi. Cita-cita. Karena dengan tujuan itu, kita akan mampu untuk memilih tujuan. In syaa Allah. Kita kenali dulu apa yang kita tujukan, yang kita cita-citakan. Lalu kita memilih jalan dengan diiringi doa.

Terakhir..

Wahai sahabatku, izinkan aku bertanya kepadamu..

”   Maa himmatuka ?   ”

”   Apa cita-citamu ?   “

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s