Gadis Penjual Koran

Bismillahirrohmaanirrohiim

Semangatku menggebu-gebu, meski perut keroncongan. Pikiranku terus berjalan meski mata dilanda kantuk. Malam ini aku pulang cukup malam, lebih malam dari biasanya. Setelah perbincangan panjang dengan dua saudaraku di kampus STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya. Saat itu jam menunjukkan pukul 20:20. Kuputuskan segera pulang. Mengingat sudah cukup malam, dan ini adalah malam minggu. Dimana umumnya (menurut orang di sekitarku) ini adalah momen saat seseorang menghabiskan waktu bersama orang yang dicintainya. entah keluarga, istri, siapapun.

Seketika kuingat, bahwa orang tuaku keduanya sedang di luar kota. itu berarti aku akan bermalam hanya dengan kakak dan adikku berdua. dan tiba-tiba aku mendapat chat via blackberry dari kakakku bahwa ia akan pulang malam karena mengerjakan tugas kuliahnya. Kuinjak pedal gas mobilku lebih dalam. Aku harus segera pulang. adikku seorang diri, menanti kedatanganku di rumah.

Aku berfikir, bagaimana caranya menghibur adikku. Meski sepertinya ia tidak akan marah dengan keterlambatanku, tapi aku ingin menghiburnya. Bagaimanapun aku salah meninggalkan adikku seorang diri di rumah pada jam segitu. Pikiranku buntu, akhirnya kuputuskan mampir ke salahsatu restoran fastfood di dekat rumahku. Aku tahu adikku suka makan roti dan ia sudah lama tidak memakannya. langsung aku gunakan fasilitas driv-thru yang ada.

Ketika aku hendak memesan kulihat ada seorang gadis penjual koran bertengger di dekat loket pemesanan. pakaiannya kumuh, wajahnya berdebu, tampak ia telah berjualan dari pagi. Sebagai seorang konsumen, tentu hal itu membuat kepuasan pelanggan menurun. Tapi saat itu aku memilih menggunakan kacamata sosial daripada kacamata bisnis. Setelah aku memesan dan membayar, aku mulai dialog dengan anak tersebut.

“Apa itu?” Tanyaku memulai

“Koran mas, ndak mau beli mas?” Jawabnya memelas

“Oh, isinya apa?” Aku memancingnya untuk lebih banyak bicara. dan secara tidak langsung mengajaknya untuk membaca.

“Ehmm, apa ya? Ini.. Aku tahu mas ! Aku bisa baca !” ketika ia berkata demikian, hatiku gembira. anak kecil ini tidak buta huruf dan ia suka membaca. Namun perasaanku berbalik (anak surabaya mengatakan : cegek) ketika gadis itu menambahkan “Ini koran” jawab gadis usia sekitar 10 tahun itu.

“Iya, itu koran. tapi isi beritanya apa?” jawabku lumayan cegek 

“Apa ya.. ndak tahu mas” jawabnya jujur

“yaah, kamu aja ndak tahu apa isinya. kok masnya disuruh beli?” “………” ia tidak menjawab.

“Kalau kamu waktu jual sambil njelasin ‘ayo pak, berita sepakbola hari ini. tim persebaya menang…’ kira-kira bapaknya bakal tertarik beli ndak ya?”. Mendengar itu matanya berbinar. Tampak ia terinspirasi. “Makanya lain kali dibaca dulu ya. kamu pernah tahu ada orang yang dapat uang 500 juta rupiah hanya dengan menjawab soal-soal? dan ia bisa menjawab karena ia banyak membaca koran” pupil matanya semakin melebar.

“Yasudah, korannya berapaan?” tanyaku

“tiga ribuan mas” jawabnya

“mahal banget, perasaan dulu surya seribuan” batinku. “oke, beli satu ya” Aku tahu yang ia butuhkan adalah penghidupan. ia tentu akan lebih mengingat saran-saranku kalau aku membeli dagangannya. “Semangat ya dik !” itu yang sudah tidak asing di telingaku. Aku mencoba memotivasinya sebagaimana mbak masku biasa mengucapkannya. Semangat ya dik !

Aku sedih melihat anak-anak yang masih kecil sudah harus menghabiskan masa kecilnya dengan berjualan koran di jalan. Sarapan debu dan polusi yang dapat berpengaruh bagi kecerdasannya (menurut yang pernah aku baca dan dengar). Sungguh menyedihkan. Usia muda, saat-saat menghafal ibarat mengukir di atas batu digunakan untuk menjual koran. sekedar menjual, tanpa tahu isinya. Minimal, aku berharap ia membacanya walau sedikit. Lebih minim, anak-anak itu harus bisa membaca. Jika membaca saja tidak.. Gak ngerti wis. Ndak tega mbayangin.

Akhirnya aku pulang membawa satu roti, lumayan supaya adikku tidak merasa sedih kakaknya pulang malam. Saat itu jam menunjukkan pukul 21:10. Sesampai di rumah, aku mendengar laporan dari pembantuku “Mas Dimas belum pulang mas. Tadi keluar sama Mas Rafi”. Dan aku ingat kembali, pagi harinya adikku berkata bahwa ia ingin bermain ke rumah sepupunya Rafi. Mungkin, malam ini ia menginap disana..

Daijobu daijobu. I’m fine. Kulkas masih ada

Surabaya, 6 Oktober 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s