Esai : Menuju Indonesia Emas

Bismillahirrohmaanirrohiim

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah yang telah melimpahkan rahmatnya sehingga kita masih bisa menghirup udara segar di tanah air kita tercinta. Tanah air Indonesia. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, seorang manusia dengan sosok paling ideal untuk dijadikan idola dan panutan.

Indonesia Emas. Sebuah tema yang sangat menarik bagi penulis. Sebuah harapan setiap insan bangsa Indonesia. Terlepas dari ‘Emas’ memiliki tafsir yang berbeda-beda bagi setiap orang, namun semua warga Indonesia mengakui bahwa salah satu momen emas yang pernah terjadi bagi bangsa Indonesia adalah detik-detik proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Sebuah sejarah emas yang tak akan pernah terlupakan.

Mengingat sejarah membuat kita bersemangat. Bangga dengan pencapaian para pendahulu kita. Namun perlu diingat kembali, bahwa itu adalah sejarah. Peristiwa nyata yang diakui oleh banyak orang dan terjadi di masa lalu. Kami garis bawahi, masa lalu. Lantas bagaimanakah Indonesia yang sekarang? Pantas kah predikat ‘Emas’ disandang oleh Indonesia yang sekarang? Mari kita menengok realita. Dari yang paling puncak, jejeran pemerintahan. Kasus korupsi tiada henti, suap-menyuap telah menjadi budaya. Lalu masyarakatnya, angka kemiskinan dan pengangguran masih tinggi. Kriminalitas masih menjadi keresahan warga. Dan yang paling mengenaskan adalah pemudanya, tonggak perubahan bangsa. Bagi remaja pada umumnya, sebuah aib bila tidak memiliki pacar. Tidak keren jika belum pernah mencicipi rokok dan alkohol. Seks bebas, narkoba, dugem, pulang malam, semua itu seakan telah menjadi budaya tersendiri bagi sebagian (dan penulis masih terus berdoa agar tidak semakin banyak) pemuda. Seakan hal-hal diatas adalah perkara yang lazim dan dibenarkan.

Kenapa disini penulis banyak mengomentari masalah pemuda? Tentu saja karena peran pemuda memiliki andil yang sangat besar bagi terwujudnya Indonesia Emas. Kembali kita menengok sejarah, bagaimana para pemuda yang terus mengejar kemerdekaan bangsa dengan penuh semangat hingga terjadilah peristiwa Rengasdengklok. Kita semua tahu jawaban siapa golongan yang bersumpah pada tanggal 28 Oktober 1945 untuk mempersatukan diri satu tanah air, tanah air Indonesia? Pemuda ! Bahkan seorang Ir. Soekarno melukiskan besarnya potensi para pemuda dalam pernyataannya yang cukup terkenal “Beri aku 100 orang tua, akan kupindah Gunung Semeru. Beri aku 10 Pemuda, akan kuguncang dunia !!” Sejarah telah banyak membuktikan bahwa pemuda adalah tonggak perubahan. Karenanya penulis berpendapat bahwa untuk mencapai cita-cita Indonesia Emas, yang wajib dan harus mendapat perhatian di urutan pertama, adalah pemuda-pemudanya.

Realita telah banyak menjelaskan bagaimana pola pemikiran dan perilaku para pemuda bangsa kita saat ini. Sedikit telah penulis sebutkan di atas. Namun sebenarnya permasalahan pemuda kita (baik dalam kategori sangat bejat, bejat, umum, baik maupun sangat baik) tidaklah banyak. Menurut penulis pribadi, permasalahan yang dihadapi kaula muda saat ini adalah satu.

Yakni menganggur. Pemuda saat ini, mereka banyak menganggur.

Mereka bingung bagaimana menghabiskan waktu luangnya. Bagaimana mengalokasikan semangat mudanya. Kekuatan diri yang sedang memuncak. Syahwat (hawa nafsu) yang sedang meledak-ledak. Mereka tidak memiliki arah bagaimana menggunakannya. Ibarat orang miskin yang tinggal di bawah jembatan dan biasa memakan makanan sisa, secara tiba-tiba ia kedatangan seorang dermawan yang memberinya uang sebesar satu Miliyar Rupiah. Pembaca bisa bayangkan bagaimana bingungnya orang ini. Mau digunakan seperti apa tidak mengerti. Bahkan sampai ada orang yang datang dengan tawaran baik ingin membantu mereka namun sebenarnya ingin memanfaatkan mereka.

Seperti itulah sebagian pemuda kita sekarang. Tak jarang pula penulis mendengar sebagian pemuda mengatakan “habis ini enaknya ngapain ya?” “Pulang sekolah nanti ngapain ya?” “ ”Bingung nih, lagi ngangggur”.Alhasil, tak sedikit diantara mereka yang akhirnya memilih menggunakan waktunya untuk cangkrukan di segala tempat, mencari perhatian dengan aksi-aksi heboh yang kadang membahayakan diri dan orang-orang di sekitarnya, mencoba hal-hal baru yang ia buta aka hal itu, dan kegiatan-kegiatan tidak bermanfaat lainnya yang banyak memunculkan keburukan daripada kebaikannya.

Masalah menganggur ini juga sebenarnya buah dari satu permasalahan yang jauh lebih utama dan penting. Yakni tidak mengetahui tujuan hidup.

Seorang pengemudi taksi pasti menanyakan tempat tujuan dari penumpangnya sebelum ia menjalankan mobilnya. Hal ini dilakukan karena secara naluriah, manusia akan berjalan menuju arah yang ia tujukan. Bergerak menuju apa yang ia tetapkan. Mendekat kepada apa yang ia inginkan. Pengemudi taksi tersebut baru bisa menentukan jalan mana saja yang akan ia lalui setelah ia mengetahui tujuannya dengan pasti. Seperti itulah kehidupan, seseorang yang tidak memiliki tujuan hidup yang jelas dan pasti, tidak akan mampu menemukan jalan hidup apa yang akan ia tempuh. Ia hanya akan berjalan tanpa arah, berputar-putar tak ada hentinya. Karena ia tak tahu kapan ia harus atau boleh berhenti. Penulis sering menanyakan pada teman-teman penulis “Cita-citamu apa nanti”. Beraneka jawaban bermunculan. Namun ketika kami menanyakan “Sudah sejauh mana persiapannya menuju hal tersebut” tak banyak yang bisa menjawab. Hanya senyum dengan model cengengesan yang sering penulis dapatkan.

Seorang pemuda haruslah memiliki visi hidup yang jelas. Tujuan hidup yang pasti. Dan mampu berita-cita dengan indikator yang ‘SMART’. Specific (jelas/akurat), Measurable (memiliki tolak ukur), Attainable (realsitis untuk dicapai), Relevant (sesuai dengan keadaan), Timebound (punya target waktu). Ketika ia memiliki visi, misi, serta tujuan hidup, ia tidak akan mau menghabiskan waktunya untuk perkara yang tidak bermanfaat. Ia tidak rela waktunya habis digunakan kecuali untuk perkara-perkara yang mampu membawanya pada tujuan yang ia inginkan. Sehingga ia tak lagi menjadi daun yang hanya mengikuti arus sungai. Ia telah memiliki dayung yang dengannya ia dapat memilih jalan apa yang akan ia tempuh. Tidak perlu ada kekhawatiran akan pemuda yang ‘coba-coba’. Karena ia merasa mencoba-coba hanya membuang waktu dan tidak berguna.

Dengan menjadi seorang yang visioner, akan terbentuklah mentalitas dan sikap yang dibutuhkan oleh seorang pemuda yang akan membangun Indonesia Emas. Perilakunya tidak lagi seperti remaja awut-awutan.  Cara berpikirnya lebih dewasa, bersikap lebih bijaksana. Kita bayangkan saja, bangsa ini memiliki 10 orang pemuda demikian yang peduli dengan nasib bangsanya. Insyaa Allah –dengan izin Allah Ta’ala- bangsa ini bisa berkembang dan mencapai Indonesia Emas bukanlah tidak mungkin. Apalagi jika seluruh pemudanya mampu bersikap demikian.

Terakhir, izinkan penulis merangkum sedikit. Untuk mencapai Indonesia Emas, elemen terpenting sekaligus kunci utama adalah subjek perubahannya yakni para pemuda. Sedangkan kita lihat pemuda kita sekarang bagaimana? Satu kata, mengenaskan (terutama dalam adab dan perilaku). Hal ini disebabkan karena kebingungan mereka dalam mengisi waktu luang, secara tersirat dapat dikatakan bahwa mereka banyak menganggur. Dan hal ini terjadi karena mereka tidak memiliki tujuan hidup. Jadi titik permasalahan utamanya adalah mereka tidak tahu tujuan hidup. Dan cara mengatasinya salah satunya adalah banyak mengadakan kajian ilmiah dan pemaparan mengenai hakikat kehidupan dari sudut pandang agama (karena hakikat kehidupan hanya dapat dijelaskan berdasarkan kitabullah. Bukan akal manusia yang beraneka ragam)

Akhir kata, penulis menulis esai ini untuk mengajak pembaca sekalian agar mau membuka pikiran, serta secara khusus untuk mengerjakan tugas pada lomba PHPRI SMA Negeri 5 Surabaya. Isi esai ini bukanlah murni pemikiran penulis, namun banyak di dalamnya pemikiran-pemikiran dan hasil diskusi yang telah sering dan sejak lama penulis bersama teman-teman penulis diskusikan di masjid An Nuur SMAN 5 Surabaya. Apabila ada kebenaran maka semata-mata karena hidayah Allah, apabila ada kesalahan maka itu datangnya dari kami dan setan. Wallahu a’lam

Masandi R. Rosyid

XII IS

8

SMA Negeri 5 Surabaya

Tahun Ajaran 2012-2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s